<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-37308236</id><updated>2011-12-11T14:07:16.811+01:00</updated><title type='text'>Elemen Kekosongan</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://elemen-kekosongan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37308236/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elemen-kekosongan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ayah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37308236.post-3483803986030114396</id><published>2007-05-02T13:40:00.001+01:00</published><updated>2007-05-02T13:40:33.572+01:00</updated><title type='text'>Kisah-kisah antar Ruang dan Waktu</title><content type='html'>"Ayah, buku apa ini?" tanya seorang pemuda kepada orang tua yang duduk dihadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, itu! Itu buku kumpulan tulisan oleh seorang. Isinya macam-macam, menghayal kemana-mana -- kadang melewati waktu dan ruang," jawab orang tua tersebut setelah sedikit melirik ke buku yang berada dalam genggaman pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boleh aku membacanya?" tanyan pemuda itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau mau? Kalau begitu silakan, tapi itu bukan suatu buku yang bagus," ucap orang tua itu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak apa-apa guru, saya 'kan belum punya banyak pengalaman. Jadi bagi saya, buku yang baik atau tidak, belum bisa saya menilai...," jawab pemuda itu rendah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangguk-angguk orang tua yang dipanggil ayah oleh pemuda itu, "Aku suka sikapmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu pun mulai membuka kisah pertama setelah memenpatkan dirinya di akar sebuah pohon besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Dua Hari Sebagai Komuter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari yang panas, dua hari yang biasa-biasa saja. Mungkin akan menjadi dua hari yang amat biasa apabila tidak terdapat seorang tua yang berinteraksi denganku dalam perjalan pulangku menggunakan Kereta Api Ekonomi Jakarta-Bogor. Mereka bukanlah sosok yang akan menimbulkan keinginan untuk memperhatikan apalagi berinteraksi dengannya. Akan tetapi keduanya tetap seorang insan yang juga memperhatikan sesamanya walaupun mereka kurang bahkan terlupakan oleh sesamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingatku, hari itu adalah hari Kamis. Cukup panas menurut kulitku. Mungkin hal ini disebabkan pula karena aku lama tinggal di Bogor dan Bandung. Baru kira-kira dua bulan kulakoni menimba ilmu kembali pulang pergi setiap hari Bogor-Jakarta. Mungkin kulitku menjadi lebih sensitif dewasa ini. Atau mungkin manja? Entahlah. Sepeminum teh botol setelah tengah hari kunaikkan diriku ke dalam sebuah Kereta Api Ekonomi yang menuju Bogor. Aku naik dari sebuah stasiun kecil di salah satu sudut Jakarta. Di depan sebuah pasar yang telah berubah seingatku. Tidak sama lagi dengan pasar di mana aku pernah makan nasi tim bersama nenekku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kereta cukup sepi. Banyak tempat duduk yang belum terisi. Kupilih tempat duduk yang menghadap ke sisi tempat aku naik. Kebetulan jenis gerbong yang kutempati adalah yang saling berhadapan pada kedua sisinya. Dengan demikian penumpang yang duduk pada sisi kiri akan berhadapan dengan penumpang pada sisi kanan dan dipisahkan oleh ruang yang cukup besar. Tentu aja apabila tidak terdapat banyak penumpang lain yang berdiri. Aku duduk di sisi kanan ke arah majunya kereta. Hampir dekat pintu masuk penumpang yang selalu tidak pernah ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal pertama yang membuatku mulai memperhatikan seorang tua adalah semi-dialognya yang diucapkan kepada seorang murid SMP yang mencoba-coba untuk melihat ke luar kereta pada pintu kereta yang terbuka. Sedangkan sang orang tua itu sendiri duduk di lantai pada pintu kereta yang terbuka tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lu, jangan belagu lu! Macem-macem aja! Jatuh baru tahu rasa lu!" Begitu katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serentetan kata-kata lain keluar dari mulutnya untuk memperingatkan murid SMP tersebut agar tidak mencoba untuk melihat-lihat keluar dan bergelantungan pada pintu kereta. Hanya senyum cengegesan yang diperlihatkannya untuk merespon ucapan orang tua tersebut. Dicobanya melongok keluar beberapa kali tanpa mengindahkan kemudian ia kembali ke bangku yang berseberangan dan bergabung kembali dengan teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu orang tua tersebut menggerundel beberapa perkataan dan kemudian diam. Badan yang bungkuk dan dekillah yang pertama kali tampak oleh penghilatanku saat ia berpindah dari lantai ke bangku yang kosong disebelahku. Sesaat ingin kugeser pantatku menjauhinya melihat penampilannya. Tapi hati nurani dan otakku merespon menghalangi refleksku, dan mulai kuamati dirinya. Dan mulai kulakukan monolog dengan diriku adakah alasan untuk berpindah tempat duduk hanya karena penampilan seorang tidak sesuai dengan keinginan kita. Setelah terjadi sedikit konfrontasi dalam benakku akhirnya kubiarkan diriku statis dan kutunggu perkembangan selanjutnya. Keingintahuanku berkembang pada karakter yang dibawa oleh seorang tua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, muncullah seorang penjual Aqua gelas dan Sari Jeruk gelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aqua, Aqua, lima ratus, lima ratus!" katanya, dan lanjutnya, "Jeruk seribu, jeruk seribu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aqua!" kata seorang tua tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berhentilah sang penjual mendekatinya. Terjadi sedikit dialog dan terjadilah transaksi antara segelas Aqua dan sekeping uang logam lima ratus rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih!" kata sang orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dijawab dengan senyuman sedikit bingung oleh sang penjual. Mungkin sudah langka pada jaman sekarang ucapan tersebut. Apalagi diucapkan oleh seorang tua yang terlupakan. Ini adalah tafsiran yang terbersit secara reflek dalam benakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu minumlah dengan nikmat orang tua tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah itu, muncullah seorang penjual pulpen yang menawarkan barangnya seharga seribu rupiah. Kali ini cara menjajakan barang dagangannya hanya dilakukan dengan berbicara. Tidak dibagi-bagikan sebagaimana halnya pedagang sebelumnya. Harga yang sesuai dan bentuk pulpen yang menarik membuat sang orang tua tertarik untuk kemudian memanggil sang penjual pulplen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Satu seribu?" tanyanya antusias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, seribu," kata sang pedagang dengan penuh harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengeluarkan dompetnya, dibayarlah pulpen tersebut oleh sang orang tua. Dan kemudian ia mulai bercerita kepadaku mengenai murahnya pulpen tersebut. Di kampungnya, Mampang, pulpen seperti itu dapat dihargai dua ribu lima ratus rupiah. Dua setengah kali lebih mahal. Aku hanya tersenyum saat mendengarnya. Di saat itulah untuk pertama kalinya dapat kuamati sosoknya dari depan. Seorang tua dengan kulit kusam gelap dan berminyak berdebu. Wajah yang dipenuhi dengan kerut-kerutan kekerasan hidup. Sebelah matanya yang picak dan giginya yang jarang menambah kuat kekerasan hidup yang dijalaninya. Simpatiku untukmu orang tua di Kereta Ekonomi Jakarta-Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana hening yang hanya dihiasi oleh bunyi kereta dipecahkan oleh munculnya sepasang pengamen menggunakan seperangkat alat karaoke. Kuberikan kepada mereka sekeping uang lima ratus rupiah. Ternyata kemudian perbuatanku inilah yang membuat seorang tua tersebut bercerita lebih banyak tentang dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapak tinggal sendiri," katanya dengan suara yang kurang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak ada sodara. Nggak ada istri," katanya, "Dari pada bengong di rumah mendingan jalan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi bapak masih kerja. Begini-begini kerja dibayar orang. Nggak ngamen. Tadi masih muda-muda udah ngamen. Kalau duit sih cukup, di kantong ada. Mau makan bisa!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Banyak entu orang istri ngamen, suami enak-enakan nggak kerja, di rumah!" katanya dengan sedikit tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rejeki itu dari Tuhan, kalo mau kerja pasti dapat. Nggak perlu ngamen. Bapak sih nggak sampe apa lagi minta-minta!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kujawab dengan senyum dan anggukan serta ucapan, "Bagus, Pak!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kami terdiam. Ia kembali dalam lamunannya dan aku dalam lamunannya mengenai kebanggaan diri seorang tua mengenai pekerjaan yang dipilihnya. Ternyata di hati seorang tua, masih terdapat harga diri mengenai jenis pekerjaan yang dilakoninya. Uang bukanlah tujuan akhir. Proses mencari uang juga dipikirkannya, walaupun mungkin secara sederhana saja. Dasar inilah yang membuatnya tetap bekerja dengan tidak merendahkan diri, menurutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sampailah kereta tersebut di Stasiun Bogor. Sesaat sebelum turun, pamitlah aku padanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari pak!" kataku sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat ia tersenyum sekilas di sudut mataku. Semoga sukses dan selamat selalu seorang tua dalam Kereta Ekonomi Jakarta-Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan hari kedua lebih sederhana. Saat kuberikan tempat dudukku kepada seorang ibu dengan anak dalam gendonganya, kuputuskan untuk pindah gerbong dan mencari tempat duduk lain serta mencari suasana baru. Akhirnya kuperoleh sebuah tempat duduk dihadapan seorang tua. Sayangnya, ia tengah merokok suatu merek yang amat tidak menyenangnkan aromanya. Ingin kuminta dirinya untuk menghentikan kegiatannya, akan tetapi terbersit suatu hal. Mungkin saja ia sedang mengalami masa-masa sulit sehingga harus merokok seperti itu. Atau hanya rokok dengan jenis seperti itu yang dapat dimilikinya. Entahlah. Akan tetapi banyak hal yang akhirnya membuatku terdiam dan hanya berharap di dalam hati agar ia menghentikan kegiatannya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya pada suatu stasiun dimatikanlah rokoknya tersebut setelah habis dihisapnya. Bersyukurlah diriku. Dan kemudian terkantuk-kantuklah aku dan akhirnya tertidur. Tak terasa sampailah kereta di stasiun akhirnya, dan dibangunkanlah aku oleh dirinya, sang orang tua. Aku terkejut dan tersenyum seraya berkata, "Terima kasih, Pak!" Ternyata terdapat sisi lain dirinya yang masih memperhatikan orang-orang di sekelilingnya. Semoga engkau selalu dalam lindungan-Nya, seorang tua dalam hari kedua. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Kolaborasi dengan Dancewith -- 2003-08-22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm, biasa saja. Banyak kata-kata yang tak kumengerti, misalnya saja 'komuter'..," gumam pemuda itu. "Mungkin sebaiknya kubaca lebih lanjut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ein kleines Restaurant&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damals ging ich als kleines Kind mit meiner Familie ins Restaurant. Meine Mutter aβ gern Salat und Gemüse, aber main Vater aβ nur Fleisch und Fisch. Deshalb aβ ich alles (Salat, Gemüse, Fleisch und Fisch). Aber heute eβe ich lieber Suppe, Brot und Kartoffeln. Manchmal eβe ich Fisch und Fleisch. Jedes Wochenende eβe ich Salat und Obst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ich bin schon mal in ein indonesisches traditionelles Restaurant gegangen. Dort habe ich zum ersten Mal gutes orientalisches Essen gegessen. Das was letztes Jahr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seit dem habe ich mich an ein kleines indonesisches Restaurant erinnernt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Und dann habe ich mit meinem Freund darüber diskutiert. Dann habe ich einen kleinen alten Laden um die Ecke zwischen Erstenstraβen und Zweitenstraβen gekauft. Ich wollte den Laden in ein kleines Restaurant machen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aber heute habe ich kein Geld. Deshalb muss ich viel Geld sparen, um ein kleines Restaurant zu machen. Das ist mein Traum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Zusammenarbeit mit Gnud D -- 2003-09-03&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ein Schriftsteller werden möchten&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ein heiβer Tag war es. Schon lange hat es nicht geregnet. Zum ersten Mal habe ich hier diese Geschichte geschrieben. Ein Problem hatte ich und ich konnte dafür keine Lösung finden. Ich wolte gern ein Schriftsteller werden und möchte es noch immer, aber ich konnte noch keine richtige Gramatik und keine richtigen Wörter auf Deutsch schreiben.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dann habe ich in einem Buch in einer Buchhandlung gelesen, daβ man immer wieder schreiben soll, obwohl man viele Fehler macht. Das has mich den Mut gegeben, weiter zu screiben. Danach habe ich diese Geschichte geschrieben. Ich habe schon den Name des Schriftstellers von dem Buch vergessen, aber an seinem Rat erinnere ich mich noch immer. Ich danke ihm für diesen Rat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Zusammenarbeit mit Gnud D -- 2003-09-27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Die Mülleimer werden schwer gefunden&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jetzt ist es Mittag und hier stehe ich am Fenster in diesem Zug. Es ist heiβ und feucht. Ich bin zu müde, um auf den nächsten Zug zu warten, deshalb steige ich in diesen Zug ein, obwohl er schon voll ist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gestern haben wir mit dem Lehrer über dem Müll in dem Deutschunterricht diskutiert. Und dann sehe ich heute, daβ die Leute fast immer irgendwo Mü werfen. Sie machen die Umgebung schmutzig. Aber sie haben nicht immer Schuld daran, denn die Mülleimer sind schwer zu finden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Die Gemeinde soll mehr Mülltonnen machen, finde ich. Ich denke, daβ jede Leute saubere Stadt leben. Finden Sie auch?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Zusammenarbeit mit Gnud D -- 2003-10-06&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga kisah pendek dengan cepat dibaca pemuda itu. Cepat karena ia tidak mengerti bahasa yang dituliskan. Lalu ia pun membaca lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertepuk Sebelah Tangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terinsipirasi dengan Senopati Pamungkas-nya Arswendo Atmowiloto :p - di mana dalam novel ini terdapat jurus Tepukan Satu Tangan yang merupakan pemahaman Eyang Sepuh terhadap Kitab Bumi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ilmu segala ilmu itu adalah Tepukan Satu Tangan, di mana satu tangan lebih terdengar daripada dua tangan. Di banyak negara diberi nama berbeda, tetapi intinya sama. Pasrah diri secara total"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta adalah masalah yang memusingkan. Semua tahu orang dan mengerti mengenai cinta akan tetapi sekaligus semua orang tidak mengerti bagaimana cinta itu sebenenarnya. Bukankah hal ini menjadi suatu paradoks? Mungkin. Akan tetapi hal itulah yang dapat dikatakan. Boleh setuju boleh juga tidak. Banyak contoh mengenai hal ini dan rasanya tidak perlu disebutkan satu per satu bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rayi Na Rani adalah salah satu contoh figur sosok wanita yang mungkin dapat mewakili sebagian kelompok dalam masyarakat, mengenai bagaimana sulitnya ia memperoleh cinta, cinta dalam arti yang sebenarnya ia inginkan. Penampakan fisik tidak ada yang kurang dari dirinya, begitu pula dengan caranya mengekspresikan diri. Ia mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Tidak ada yang kurang darinya. Sehingga saat teman-teman mereka menemukan pasangannya dan kemudian menikah, ia masih tetap sendiri dan terus menekuni jalan hidup dengan kesibukan pekerjaannya. Hal itu pula yang menjadi tanda tanya bagi rekan-rekan mereka, mengapa ia belum pula menemukan atau ditemukan oleh pasangan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dikatakan tidak ada yang jatuh cinta atau menyatakan suka dan ingin membina hubungan dengannya, pernyataan itu salah besar, karena ia telah berkali-kali mengalami pernyataan 'suka' dan 'sayang' yang kadang-kadang dirasakan tidak atau kurang berkenan di hati. Dan penolakan-penolakan yang dilakukan membuatnya merasa semakin sepi dan sendiri. Pada dasarnya ia menolak bukan karena adanya kekurangan dari yang menyatakan, akan tetapi hanya saja ia tidak merasakan adanya 'cinta' kepada yang menyatakan. Ia tidak merasakan "kehangatan" ataupun perhatian. Hanya kekaguman semata yang dirasa. Dan dasar ini belum cukup kuat untuk menumbukan rasa sayang untuk membalas atau menerima pernyataan-pernyataan sayang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang cukup ironis adalah bahwa apa yang diimpikan seorang Rayi Na Rani sebenarnya adalah sangat sederhana. Ia ingin menjadi seorang istri dan ibu dari anak-anak yang diperolah dari seorang lelaki yang dicintai dan mencintainya. Serta sedikit memiliki usaha sampingan yang dilakukannya di rumah sambil merawat anak-anaknya serta menunggu sang suami pulang dari kantor. Sederhana bukan. Dan hal itu bukanlah merupakan sesuatu yang muluk-muluk dalam era globalisasi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dengan melajunya sang waktu, di mana hanya Ia yang dapat menghentikannya, bertambahkan usia dirinya. Dan semakin tekun dan tenggelamlah ia dalam pekerjaan dan hobi-hobi di luar jam kerjanya. Yang semakin ditekuni, dan semakin memberikan posisi yang tinggi dalam pekerjaan dan juga struktur sosial. Dan mungkin juga akan membuat banyak para pemujanya menjadi semakin tidak percaya diri karena hal ini, walaupun belum dapat dipastikan tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang kadang sering terjadi adalah - dengan berlalunya waku - muncul pengagum-pengagum dengan usia yang jauh lebih muda. Yang dengan sangat percaya diri menyatakan atau mengisyaratkan adanya perhatian. Dan ini tentu saja hal ini dirasa kurang cocok, karena kedewasaan atau pemanjaan dan perhatian dalam arti mengemong yang diinginkan bukan saja tidak diperoleh, malah harus diberikan apabila menerima kasih sayang dengan seseorang yang jauh lebih muda usianya. Kadang dengan jengkel Rayi Na Rani berujar dalam hati, "Pada kemana nih, cowok-cowok tua, memangnya udah pada habis apa, sehingga gue harus dinyatain terus ama daun muda!" Sambil kadang tersenyum dan juga meringis dalam hati. Kalau dia menghitung-hitung, sudah 7-8 kali pernyataan dari kaum muda, di berbagai kota yang disinggahinya dalam perjalanan hidupnya, yang ditolaknya dengan berbagai alasan. Dan terakhir dengan menggunakan alasan bahwa sebenarnya ia telah mempunyai seseorang di dalam hati, akan tetapi sang pujaan hati sedang menunaikan tugas sebagai seorang tentara di medan perang. Sehingga ia harus menunggu dengan tiada kepastian. Setelah satu atau dua kali, alasan-alasan penolakan dapat dengan mudah mengalir untuk menutupi kebohongan-kebohongan yang disertai dengan ucapan manis yang tidak menjanjikan apa-apa seperti, "Udah kita temenan aja ok? Nanti gue bantuin deh cari ce yang seumuran elo," atau "Udah elu jadi adik gua aja, ocre!" Yang sebenarnya ucapan-ucapan tersebut merupakan pisau yang menikam hati sang pemuja dan juga sang pengucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sosok seorang Rayi Na Rani. Seorang wanita karir yang tegar, yang hanya mendambakan seorang yang lembut, penyayang, dapat memanjakan dirinya, tidak terlalu mengekang, dapat dipercaya, dapat berperan sebagai ayah, kakak, adik dan yang pasti kelak sebagai suami. Dengan tegar ia langkahkan kakinya terus menelusuri hidup ini, sambil sang waktu dengan tanpa belas kasihan terusmenerus mengurangi waktunya sedikit demi sedikit. Tetapi Rayi percaya bahwa, suatu saat nanti akan muncul seorang satria - mungkin seorang Senopati Pamungkas - yang menuntaskan kesedihannya dengan melamarnya sebagai istri untuk membesarkan anak-anaknya. Sampai saat itu tiba, Rayi Na Rani akan selalu berbesar hati dan bersemangat bekerja dan melakoni hidup dengan sebaik-baik cara yang dapat dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buat apa sih tanya-tanya tentang masa lalu gue!" kata Rayi Na Rani suatu waktu sebagai jawaban atas pertanyaan salah seorang pemujanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ga ada yang perlu diceritain!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalo elu suka ama gw, elu harus mau nerima gua apa adanya, ok!" katanya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum yang dapat menjatuhkan siapa saja. Senyum yang sebenarnya sering disalah-artikan oleh banyak pengagumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, terkadang terasa sepi juga hati seorang Rayi Na Rani di kala tiada kesibukan yang ditekuninya, atau di kala akhir minggu di mana belum ada rencana untuk melakukan aktivitas apa pun. Dan pada saat-saat seperti itulah teringat dirinya akan para pemuja-pemujanya dan juga seorang dua yang benar-benar pernah singgah di hatinya, akan tetapi kemudian berpisah karena tidak adanya kecocokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hal yang paling dibenci seorang Rayi Na Rani adalah pengandaian. Dia sama sekali kesal apabila tiba-tiba saja tersirat dalam pikirannya, "Bagaimana ya, rasanya kalau gue dulu jadian ama dia, terus sekarang pasti ..." "Bull shit, semua itu!" batinnya, "Orang tidak boleh terjerat dalam masa lampau dan pengandaian-pengandaian yang membuat akan tetapi tidak memberikan pengharapan." Dan kemudian seperti biasa yang dilakukannya adalah melakukan motivasi diri bahwa 'apa yang terjadi adalah merupakan hasil dari keputusan yang telah dipilihanya. Jalan hidup yang telah diambilnya. Dan ia harus hidup hidup dengan konsekuensi ini' dan sama sekali tidak boleh mengeluh. Setelah itu biasanya 'menari'-lah dirinya dalam kesendiriannya melakukan jurus-jurus kegemarannya sampai dirinya tenggelam dalam atmosfer yang penuh konsentrasi ketenangan. Sampai akhirnya rasa lelah, kepuasan dan ketenangan diperolehnya kembali, untuk kemudian beristirahat dan kembali pada keesokan harinya membuka lembaran baru dengan penuh semangat. Dan kembali mengarungi hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu waktu di masa lampau, salah seorang yang pernah ada di hatinya. Memutuskan untuk berpisah darinya disebabkan oleh suatu idealisma yang harus dijalani. Dan seorang Rayi Na Rani dapat mengerti akan hal itu. Dan perpisahan pun terjadi. Tanpa tangis. Tanpa kesedihan. Dan juga nanti janji untuk suatu saat akan bertemu kembali dan membina lagi tali kasih yang pernah sementara waktu terjalin. Sempat beberapa saat Rayi Na Rani termenung kosong, hari-hari setelah kejadian tersebut. Dan hal itu tetap berlangsung kendati pun kesibukannya sehari-hari tidak berkurang, atau cenderung bertambah. Karena pikirnya, dengan kesibukan kesedihan dan kesepian dapat dilawan. Dan setelah beberapa saat berada dalam keadaan tersebut, tersadarlah ia, bahwa ia harus kembali bangkit. Kesepian dan kekosongan - bukan kesedihan - yang dibiarkannya meresak ke dalam tulang, darah dan daging sanubarinya harusnya dibilas dengan semangat untuk terus berharap akan datangnya kebahagiaan yang barus. Yang datang untuk kemudian tidak akan lagi meninggalkannya. "Rasa kesia-siaan ini harus dihilangkan" pikirnya, akan tetapi tentu saja dengan cara yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai saat itulah seorang Rayi Na Rani sering memotivasi diri, melakukan hal-hal yang dapat membuatnya merasa beruntung bahwa sebenarnya bisa aja ia berada dalam keadaan yang lebih menderita dengan kesedihan mendalam yang menyertai. Ia bersyukur bahwa dirinya telah disadarkan bahwa waktu akan terus bergulir, entropi akan selalu bertambah dan kebahagiaan akan selalu datang. Dan ia percaya itu. Jika ada yang bertanya, bagaimana ia bisa seyakin itu. Ia akan menjawab dengan cukup sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Elu tahu cahaya kan?" katanya sambil tersenyum,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gak ada yang lebih cepat dari cahaya - dan dalam teori walaupun bergerak dengan laju c - cahaya itu tetap dapat dibelokkan oleh gravitasi." Kemudian lanjutnya, "Orang dapat mengamati hal ini saat terjadinya gerhana matahari total."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan mengamati perubahan posisi bintang-bintang di langit." Ucapanya dilanjutkan dengan gaya menerangkannya yang khas, yang dapat membuat orang berjam-jam bicara kesana kemari dengannya, "Jadi jika cahaya yang sedikian cepat aja bisa dibelokkan oleh gravitasi, kenapa kebahagian dan cinta yang abstrak tidak bisa diperoleh dengan pengharapan dan keyakinan akannya?" ujarnya sambil mengakhiri dengan amat manis dan diplomatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, begitulah seorang Rayi Na Rani, mudah membuat orang jatuh hati akan tetapi begitu susah digapai. Dan Hanya sedikit orang yang bener-benar pernah singgal di dalam hatinya. Untuk kemudian kembali pergi meninggalkan kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rayi Na Rani mempunyai beberapa sahabat yang dikenalnya sejak masa kuliah dulu. Mereka-mereka inilah yang dapat mengerti bagaimana dirinya sebenarnya. Akan tetapi dengan berlalunya waktu, semakin bergeserlah titik massa persahabatan mereka karena karir menuntut masing-masing orang untuk melanglang buana menimba ilmu, berkarya, menjalankan tugas serta melakukan hal-hal lain. Sekarang sahabat-sahabatnya itu berada di berbagai penjuru dunia, seperti: Bandung, Yogyakarta, Kln, Agra, Enschede, Paris, Yokohama, St. Petersburg, Hannover dan Queen - dan terima kasih untuk dunia maya - sehingga sang Rayi Na Rani masih dapat berhubungan dengan sahabat-sahabatnya. Walaupun hanya sepersekian waktu yang ada dalam sehari. Itu pun karena adanya perbedaan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila boleh dikatakan, sahabat terdekatnya mungkin adalah Bayu. Samasama belajar Tai-Chi dari Om Tjia sejak SD, SMP dan SMA, kemudian melanjutkan kuliah di perguruan tinggi yang sama walau mengambil bidang studi yang berbeda. Bayu hampir selalu ada di mana Rayi Na Rani berada. Hal ini mungkin karena kemampuan Bayu untuk menempatkan diri di samping Rayi, kadang sebagai sahabat, kadang sebagai teman dan kadang sebagai saudara. Dan satu hal yang menjadi pantangan Bayu, dan hal ini pun diketahui Rayi, adalah jatuh cinta kepada Rayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu pernah suatu saat berujar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rayn, " begitulah panggilan sayang Bayu kepada Rayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Elu tau kan bahwa gw sayang banget ama elo? Dan gw selalu akan sayang ama elo. Maka itu gue nggak pernah mau jatuh cinta ama elo."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gue tahu kok. Tahu banget. Itu kan elo banget." kata Rayi sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selalu care ama gue, bahwa kadang lebih care ke gue dari ke diri elo sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emang kenapa sih, kok tiba-tiba ngomongin itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak, hanya ngebayangin aja kalo suatu saat elo jadian ama seseorang..." lanjutnya, "Gue ga punya orang buat disayang lagi dong?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Rayi Na Rani dan Bayu masih duduk di bangku SMA dan mereka sama sekali tidak akan menyangka bawah hubungan mereka akan menjadi lebih serius. Saat itu yang terpikirkan adalah selalu bersama, membuat masing-masihg bahagia. Bahwkan dengan kadang-kadang saling menjodohkan atau mencarikan kecengan untuk masing-masing. Bila teringat akan masa-masa itu, sering Rayi Na Rani tersenyum sendiri. Indahnya masa lalu bersama seorang sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saat duduk di bangku kuliah semester terakhir bekenalannlah Rayi Na Rani dengan Wahyu, seorang seniornya yang sering membantunya dalam mengerjakan tugas akhir. Hal ini terjadi karena kebetulah, mesin yang akan digunakan oleh Rayi Na Rani dalam penelitian sebagai bagian dari tugas akhirnya dikelola oleh Wahyu, yang merupakan pula orang pernah menyatakan rasa sukanya kepada Rayi Na Rani pada suatu saat setelah masa OS berlalu. Biasa, cilok saat OS. Perkenalan Rayi dengan Wahyu yang kemudian berlanjut dengan mengantar pulang dan menjemput sebelum bekerja bersama-sama dalam laboratorium sedikit meregangkan hubungan Rayi Na Rani dengan Bayu. Hal ini pun didukung oleh kesibukan Bayu yang sering ke lapangan untuk mengumpulkan data-data sebagai dasar mengapa ia memilih suatu judul tertentu sebaga topik penelitiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata orang, kebersamaan yang terus menerus dan didukung oleh suasana bisa menumbuhkan cinta. Dan itu memang benar. Sangat eksak. Mungkin seperti halnya F = ma-nya hukum kedua Newton. Di mana cinta F akan tumbuh apabila ada kebersamaan a yang bergantung waktu (bertambah atau berkurang) dan suasana m yang mendukung. Suasana bisa diciptakan atau pun dimusnahkan. Akan tetapi sebagai konsekuensinya, untuk menciptakan atau memusnakannya diperlukan suatu pengorbanan (energi - red.) seperti halnya E = mc2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa pertengahan pengerjaan tugas akhir, Rayi Na Rani akhirnya menerima perasaan suka dan sayang Wahyu, yang bertubi-tubi diungkapkannya siang dan malam. Saat mengambil data dan makan siang. Secara langsung ataupun melalui e-mail. Ia merasa yakin, bahwa inilah orang yang tepat. Inilah orang yang akan selalu menyayanginya. Selalu ada untuknya. Selalu akan memanjakannya, dan memperhatikannya. Perasaan ini pun mengalahkan logikanya, bahwa mungkin saja hal ini hanya akibat dari suatu suasana sesaat belaka. Rayi Na Rani merasa dirinyalah orang yang paling bahagia. Oh, indahnya saat itu. Dunia pun tersenyum melihat kegembiraan kedua insan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan nun jauh di sana, di tanah Cendrawasih, si sebuah Manokwari, seorang Bayu - yang menjadi legam karena seringnya tercabik-cabik teriknya sang Mentari - sedang tekun-tekunnya melakukan penelitiannya dan ia sama sekali tak menyadari perubahan yang telah terjadi pada sahabatnya. Harapannya hanyalah, ingin cepat-cepat kembali ke kota Parahyangan, kembali ke dekat sahabatnya untuk kembali tertawa dan bercanda ria. Melalui hari-hari dengan penuh kebersamaan dan persahabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yu, kenalin ini Wahyu. Asisten gue di Lab. Sistem. Kita udah jadian lho!" kata Rayi Na Rani seperti biasa dengan candanya yang riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jad..jadian..?" kata Bayu, seakan tidak percaya apa yang sedang diucapkan oleh sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya. Udah lama. Klo g salah, sebulan sesudah kamu ngambil data ke Manokwari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gue sebenernya mo kasih tahu elu, tapiWahyu bilang nanti aja buat surprise."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadinya, gw baru kasih tahu sekarang. Kasih selamat dong gue!" kata Rayi Na Rani sambil mengansurkan tangannya ke arah bayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ingat saat itu, ada rasa bersalah muncul dalam hati Rayi Na Rani. Ia ingat betul bagaimana ekspresi muka Bayu. Dengan memaksakan senyum dan perkataan yang manis, Bayu pun mengucapkan selamat. Sungguh besar dikau sahabatku, selalu saja engkau perhatikan aku walaupun itu menyakitimu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hari itu. Bayu masih sering menghubungi Rayi Na Rani akan tetapi tidak sesering dulu. Bayu tahu diri, karena sahabatnya telah memiliki seseorang yang sudah pasti akan mendominasi hari-harinya. Jadi hubungan antara Rayi dan Bayu beransur-angsur menjadi biasa-biasa. Tak ada lagi tawa canda lepas, cerita-cerita khayalan tentang masa depan, tentang negeri Utopia, tentang kemajuan Teknolog ala Start Trek, conpiracy ala X-File dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan waktu pun berlalu. Bayu mendapat pekerjaan untuk menangani suatu permasalah yang Rayi Na Rani sendiri tidak mengerti walau telah dijelaskan oleh Bayu. Queen adalah kota tujuannya. Dan ia akan bekerja di sama sesuai dengan kontraknya selama 4-5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sahabat telah pergi. Dan sang kekasih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepergian Bayu bukanlah merupakan suatu masalah bagi Rayi Na Rani karena ada Wahyu di sisinya yang selalu siap untuk membantunya dalam segala hal. Walaupun kadang-kadang dirasakan hal tersebut terlalu mengekangnya. Ia tidak lagi bebas. Tidak lagi bisa melakukan semua yang dia inginkan. Seperti halnya waktu ia masih sendir dan Bayu ada di sisinya. Akan tetapi hal itu dapat diimbangi dengan pemanjaan yang diberikan Wahyu. Perhatian dan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, ternyata ekstrapolasi peristiwa ke masa depan tidak seperti yang kita harapkan. Es gibt immer in der Zukunt etwas, das man berhaupt nicht vermutet oder hofft, nicht wahr (Di masa depan selalu terdapat sesuatu yang tidak diduga atau diharapkan, ya nggak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyu belum siap untuk menikah dengan Rayi Na Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dikatakannya pada suatu malam, setelah mereka menonton konser musik akustik di suatu sasana budaya di kota Parij van Java. Rayi Na Rani benarbenar kecewa dengan ucapan itu. Ia sudah membayangkan bahwa setelah perkenalannya dengan orang tua Wahyu dan Wahyu dengan orang tuanya, jenjang pernikahan akan cepat menjemputnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan Wahyu cukup klise. Aku belum siap. Sabar ya, sayang. Dua-tiga tahun lagi. Sekarang kita kerja dulu, kumpulin modal. Saat itu bayu sudah 2 tahun bekerja di suatu perusahaan mobil terkemuka di Surabaya dan Rayi Na Rani sedang menunggu hasil akhir wawancara pada suatu perusahaan farmasi di Rengas Dengklok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan-perkataan yang diucapkan malam itu mengubah segalanya. Tiada lagi harapan untuk lekas-lekas menikah. Tiada lagi mimpi indah untuk cepat menimang bayi yang lucu, yang selalu menangis. Dan yang paling diimpikannya, bayi tersebut sangat mirip ayahnya. Sehingga saat ayahnya belum pulang, dan rasa rindu telah menerjang. Diciumilah sang buah hati dengan lembut dan rasa sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpisahan tanpa pertengkaran. Perpisahan yang amat penuh dengan logika dan diplomasi. Tanpa pelukkan dan ciuman di kening. Tanpa janji untuk bersua kembali. Tanpa apa-apa. Hening. Sepi. Dan angin pun berhenti berhembus seakan-akan tiada lagi perbedaan tekanan udara di berbagai tempat. Seakanakan di mana-mana menjadi isobar. Dan waktu pun terhenti. Di dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak. Keindahan itu belum saatnya datang untukku," batin Rayi Na Rani. Dan saat panggilan wawancara datang, dan menyatakan ia diterima untuk mulai bekerja bulan depan. Rayi langsung menghubungi perusahaan tersebut. Ia menyatakan bahwa siap untuk mulai bekerja minggu depan. Semakin cepat semakin baik. Pikirnya. Jauh dari kota ini, kota yang mengingatkan akan pupusnya suatu impian indah. Pupus bersama orang yang dicintainya. Pernah dicintainya. Dan pernah diharapkan untuk menjadi pendamping hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rayi pergi tanpa pamit kepada Wahyu. Walaupun ayah dan ibunya telah berpesan, "Nduk, pamitlah walau sepatah dua patah kata!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiada alamat ditinggalkannya. Rayi Na Rani sementara waktu pun hilang dari kehidupan Wahyu. Kemudian, sementara berevolusi menjadi selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama didengar dari seorang kenalannya, melalui e-mail, bahwa Wahyu telah bertunangan dan akan menikah dengan seorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada penyesalan. Tiada kemarahan. Hanya ada sedikit kesedihan, kapankah waktu tiba. Menemui kebahagiaan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaran baru dibuka. Suatu waktu muncul seorang Adrian. Simpatik, lucu dan ambisius dan amat terbuka. Sama-sama di bagian pemasaran. Samasama menekuni Tai-Chi. Walaupun kota kecil Rengas Dengklok mempunyai beberapa perguruan Tai-Chi. Dan Rayi Na Rani serta Andrian mengikuti salah&lt;br /&gt;satu diantaranya. Di sana lah mereka pertama kali bersua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya seorang Adrian itu biasa-biasa aja. Dari sosok, okelah, seorang cewek pasti akan merasa aman apabila berada di dekatnya. Posturnya mirip tentara. Sebagai hasil latihan fitness. Tampang, boleh dikatakan biasa-biasa. Seperti kebanyakan. Oleh sebab itu lah, pernah suatu saat setelah perkenalan, Rayi Na Rani lupa kalo itu adalah Adrian. Karena saat mereka bertemu kembali bukan di tempat latihan, melainkan di kantor sebagai pegawai baru bagian pemasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai, Rani!" panggil seseorang saat Rayi Na Rani hendak menghempaskan diri ke dalam bangku kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai juga!" balasnya, seperti biasa. Ramah ke setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gimana sejak kemarin lusa, udah baikan belum tungkai mu?" kata seseorang itu dengan ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tungkai? Oh, udah, udah baikan. Eh kok elu tahu sih tungkai gue keseleo?" tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, sorry, btw elu teh ... Adrian, Masya'Allah, elu ngapain di sini?" serunya, "lagi nengokin gua?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, eh nggak deng!" balasnya, "Gue kerja di sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kerja? Sejak kapan?" balas Rayi Na Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sejak hari ini." katanya penuh dengan senyum, "Ok, kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, mereka berdua bagai tidak dapat dipisahkan. Saat rapat, makan siang, latihan Tai-Chi dan juga dinner. Rayi Na Rani benar-benar merasa kan kembalinya kebahagiaan, seperti pada suatu waktu di masa lalu. Di mana ia pernah mengalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candle light dinner. Konser musik Jazz. Latihan berdua di taman. Ngudak-ngudak buku bekas di pasar loak. Berjam-jam berdiri membaca buku di Gramedia. Belanja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian selalu ada di mana dan kapan diperlukan. Di saat ia lelah setelah jam kantor, tawa dan candanya seakan-akan merupakan pemulih tenaga yang memberikan kesegaran. Saat iya sakit, perhatian dan kasih sayangnya membantunya untuk cepat pulih untuk kembali beraktivitas. Tiada hari, jam, menit bahwa detik yang tidak terisi oleh Adrian. Adrian seakan-akan merupakan cairan kehidupan yang mengalir dan mengisi relung-relung kesepian dan kekosongan hatinya. Membangkitkan kembali gairan dan khayalannya untuk membina hubungan dengan seseorang. Seseorang yang akan selalu ada di sampingnya, selalu memperhatikannya, memanjakannya. Seseorang yang sangat ... Adrian. Tentu saja, hanya Adrian bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indahnya hari-hari pun berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai tiba kembali fase kehidupan yang menjengkelkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpastian kembali menyerang seorang Rayi Na Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah satu tahun hubungan mereka berlangsung. Dan sudah satu pula belum ada tanda-tanda kepastian bahwa hubungan mereka berlanjut kepada bentuk ikatan yang didambakan Rayi Na Rani. Sampai suatu saat, ketakutannya kembali menghantui. Akankah hal itu kembali? Membuat kekecewaan lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali seorang Rayi Na Rani menanyakan hal itu kepada kekasihnya Adrian mengenai bagaimana kelanjutan Adrian. Setiap kali pula, curahan dan kasih sayang Adrian semakin berlimpah-limpah menderanya, sehingga seorang Rayi Na Rani pun terlena, menikmati kebahagiaan dan melupakan kembali pertanyaanya. Perasaannya membutakan pikirannya. Kasih sayang yang bertubitubi menghilangkan keraguannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi saat ia sendiri, setelah sholat dan siap akan tidur. Pikiran itu kembali mengusik batinnya. Pernyataan yang diharapkan akan dikeluarkan Adriannya tidak kunjung tiba. Keragu-raguan kembali menyerangnya. Mengelisahkan dan kadang membawa temannya sang mimpi buruk untuk mengganggu tidurnya, bahwa sang kekasih akan kembali meninggalkannya. Meninggalkannya hanya untuk suatu alasan lama yang klise. Belum siap. Belum waktunya. Tunggulah saatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dua tahun pun berlalu. Dengan hubungan yang masih dipenuhi curahan kasih sayang, pemanjaan dan romantisme. Dan juga dipenuhi dengan kekuatiran akan ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun pun menjadi tiga tahun. Dan keadaan yang sama tetap bertahan. Seakan enggan menginggalkan seorang Rayi Na Rani. Seakan senang membuatnya tidak tenang. Menghanyutkannya dengan candu kasih sayang dan perhatian, sekaligus membuatnya gelisah dengan ketidakpastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayang, gue mau bicara nih!" katanya dengan mimik sungguh-sungguh, "Kapan ada waktu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa lucu mendengarkan perkataan tersebut dari seseorang yang sudah sedemikian dekat di hati dan selalu mengisi setiap detik dari kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu perasaan tidak enak menyelinap dan berkembang dalam hati seorang Rayi Na Rani. Dan hal itu pun terbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat terdiam dan hidangan makan malam pun telah habis. Suasana menjadi amat hening. Keromantisan restoran di puncak bukit seperti halnya suatu Peak Cafe pun tidak dapat menggugak keheningan yang mencekam. Keheningan di mana seakan-akan tidak lagi terdapat kehidupan. Tidak lagi terdapat vibrasi. Benar-benar suatu keheningan mutlak, benar-benar nol Kelvin dalam emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan amat diplomatis Adrian pun menerangkan, bahwa dirinya telah dijodohkan oleh orang tuanya dengan seseorang. Yang kebetulan merupakan teman masa kecilnya. Dan ia tidak keberatan karena ia pun pernah mencintai teman masa kecilnya itu. Dan selama berhubungan dengan Rayi Na Rani, perasaannya selalu mendua. Hatinya belum dapat menentukan siapa yang akan akan dipilihnya sampai suatu waktu telepon orang tuanya lah yang menjatuhkan vonis, siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya. Selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Rayi Na Rani pun tak mampu mengucapkan kata-kata. Walaupun tiada air mata yang tercurah, akan tetapi hatinya menangis. Firasatnya telah mengisyaratkan akan datangnya hari ini. Akan kembalinya cerita lama. Kembalinya kekosongan yang mencengkeram jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari belangsung kembali seperti biasa, seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Adrian telah minta berhenti bekerja, karena ayah calon istrinya menawarkan pekerjaan dalam bidang marketing farmasi yang dapat dilakukannya setelah ia menikah. Dan ia tidak menolak tawaran itu. Proses pamitan yang kosong, penuh dengan basa-basi. Penuh dengan kasih sayang dan perhatian kosong dapat dilakoni seorang Rayi Na Rani dengan baik. Dengan senyum yang mengembang, pelukan dan kecupan pipi diberikannya untuk sang bekas kekasih. Tanpa ada perasaan apa-apa. Kosong. Tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rapat, seminar, latihan dan curahan-curahan kasih sayang dari para pemujanya, serta latihan rutin Tai-Chi, kembali mengisi hari-hari seorang Rayi Na Rani. Dalam menghapi pujaan dari para penggemarnya yang kembali muncul setelah mereka mengetahui bahwa seorang Rayi Na Rani kembali lagi sendiri, diatasinya dengan amat cantik. Dilakukannya dengan cara yang diplomatis. Sehingga tak seorang pun akan sakit hati, walaupun ditolaknya. Mereka tetap giat untuk saling berlomba mendapatkan dirinya. Memperoleh cintanya. Memperoleh hatinya. Dan Rayi Na Rani kembali menikmati hal itu. Membiarkan dirinya terbuai dalam curahan kasih sayang para pemujanya. Curahan perhatian. Walaupun ia belum memikirkan untuk membalasnya. Ia membiarkan dirinya menikmati dan menikmati. Sedikit balasan dan ucapan yang mengambang, makin membuat mereka semakin menggebu untuk merebut perhatiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kala perhatian-perhatian semu itu tiada. Kala waktu seakan berhenti. Kala sendiri di akhir minggu atau di malam hari. Teringatlah Rayi Na Rani akan sahabat masa kecilnya. Sahabat yang pernah singgah di hatinya sebagai sahabat. Seorang yang memperhatikannya dengan kasih sayang yang murni, dengan tanpa ada maksud pribadi. Seorang yang sangat menyegarkan dan menenangka, seorang sang Bayu. Yang sedang jauh di sana, melaksanan tugas pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih ingatkah dia akan diriku?" batin Rayi Na Rani, "Masih sayangkah dia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alangkah nyamannya bila ia ada di sini," khayalnya. Dan ia kembali teringat perkataan sang sahabat yang belakangan ini semakin memberikan makna pada perjalanan hidupnya. Semakin dimengerti olehnya. Semakin jelas dan terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Persahabatan yang melebihi cinta!" kata Bayu, saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Persahabatan yang melebihi cinta!" balas Rayi Na Rani, sambil menjabat erat tangan sahabatnya dan kemudian memeluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu begitu indah dikenang. Begitu lekat di dalam ingatan. Di manakah engkau sekarang sahabat. Hanya engkau yang paling mengerti diriku. Serta memahamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih sahabatku. Kuingin kembali mengulang saat-saat indah bersamamu. Mengisi hari-hari tanpa kegelisahan. Ketenteraman berada di sisimu. Bukan kenyamanan dan kemanjaan yang bergelora. Bukan curahan kasih sayang yang menggebu-gebu. Hanya ketenangan. Kenyamanan. Halus. Lembut dan menenteramkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih sahabatku. Aku benar-benar kehilanganmu, sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deutschland, Musim Dingin 2004 - 2004-04-20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa air mata pemuda itu sedikit meleleh. Dapat ia sedikit merasakan kesepian yang dirasakan oleh tokoh dalam cerita itu. Setelah membetulkan duduknya, ia pun mulai lagi membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu matahari telah lewat titik kulminasinya, tapi tak berarti bagi sang pemuda yang duduk di bawah pohon rindang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Kaki Telah Melangkah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;""Nicht immer denken!" sagte Tatsumotos Brüder, als Capt. Nathan Algren beim Schwerttrainieren wieder velierte, "Zu viel Bedenken!" - von Last Samurai (Tom Cruise, Ken Watanabe)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;""Nicht immer denken!" sagte Joachim, als ich zum ersten Mal Aikido probierte."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karl termenung memikirkan hal-hal baru yang telah dilakukannya beberapa hari belakangan ini. Terlalu banyak hal-hal baru yang terjadi dalam kurun waktu yang singkat. Ia telah meninggalkan kotanya untuk merantau di tanah asing ini. Di mana ia sendiri kadang-kadang bila membayangkan, masih tidak bisa percaya bagaimana ia bisa sampai terdampar di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaannya yang lama, sebagai pegawai sebuah perusahaan jasa informasi, telah pula ditinggalkannya, karena di tempat asing ini ia mendapatkan tawaran yang lebih menggiurkan. Gaji yang lebih besar dan fasilitas untuk mengembangkan diri yang lebih lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang paling tidak bisa dibayangkannya adalah bahwa ia telah pula meninggalkan sahabat karibnya di kota di mana mereka dilahirkan dan tumbuh bersama. Karl kadang berpikir apakah ini sebenarnya alasan mengapa sampai ia pergi dan bekerja di sini. Apakah benar hal itu yang ia inginkan atau hanya untuk menghindar karena ia tidak bisa melihat sahabat karibnya berbahagia di samping orang yang telah dipilihanya. Orang yang bukan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karl tidak bisa memberikan jawaban, walapun pertanyaan tersebut diajukannya sendiri. Senyum getir tersungging di sudut bibirnya sesaat dan kemudian hilang kembali. "Mungkin memang benar kata orang", katanya dalam hati, "bahwa kepada dirinya sendiri pun orang belum bisa terbuka." "Mengenal diri sendiri?", kekehnya dalam hati, "Omong kosong!" "Membohongi diri sendiri, itu baru benar!" katanya kepada dirinya sendiri sambil mengingat-ingat segala hal yang telah dilakukannya dalam rangka kepergiannya ke sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ingat dengan jelas saat-saat terakhir bertemu dengan sahabat karibnya Katanja. Saat di mana Katanja mengenalkan kekasinya. Karl ingat betul bagaimana ekspresi keterkejutannya, bagaimana kekakuannya menjabat tangan kekasih sahabat karibnya. Dan bagaimana kekikukannya dalam berbincang-bincang dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian ia pergi tanpa pamit secara langsung kepada Katanja. Hanya sebaris kalimat dalam e-mail yang dikirimkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semoga sukses selalu dan berbahagia. Sahabatmu selalu, Karl"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sahabatmu selalu!" batinnya, bisakah ia selalu menjadi sahabat dari Katanjanya, yang tela memiliki orang lain dalam hidupnya, yang tidak lagi pernah memintanya datang hanya sekedar untuk berbincang-bincang. Atau menelopon hanya untuk bergurau atau sekedar mengingatkannya untuk makan siang atau sholat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waktu telah berubah Karl dan mungkin Katanja juga sudah berubah," kata suara di dalam kepalanya, "ia mungkin sahabatmu, tetapi ia telah memiliki seseorang. Apa yang kamu bisa harapkan dari hal ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karl kembali termenung, "munkinkah hal itu benar?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah seseorang menemukan pendamping hidup, tidak diperlukanlah lagi orangorang lain, selain sang kekasih. Di dalam dunia ini hanya mereka yang ada. Hanya mereka yang berarti. Orang-orang lain, teman, sahabat dan kenalan hanya merupakan pemain figuran yang tidak perlu diingat atau diperhatikan keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin iya, mungkin juga tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karl kembali tidak bisa menjawab. Atau mungkin memang tidak perlu dijawab. Langkah yang telah diambilnya tidak memiliki jalan balik. It is a point of no return. Dan ia tidak menyesali. Hanya rasa sepi. Sendiri. Sunyi yang ada dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Karl pun kemudian mengela hapas, bangkit dan melangkahkan menuju entah kemana kakinya membawa, hanya sekedar untuk menghabiskan hari ini. Tak terasa ia melantunkan sebuah puisi - yang ditemukannya tidak sengaja di internet - menari bersama hantu yang menurut penulisnya adalah ungkapan untuk orang yang sedang berlatih gerak sendirian. Akan tetapi Karl berpendapat lain. Menurutnya, puisi itu menceritakan orang yang biasa menari bersama pasangannya, akan tetapi walaupun kemudian pasangannya pergi meninggalkannya dan ia tetap menari. Sendiri. Menghibur diri. Who knows?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Die vergange Eingebung beibringt mir,&lt;br /&gt;wie man benehmen soll.&lt;br /&gt;Das Gefuehl von Unabhaengigkeit beibringt mir,&lt;br /&gt;wie man lieben und sich kuemmern soll.&lt;br /&gt;Und undenlicher Hoffnungsstrahl beibringt mir,&lt;br /&gt;wie man mit der Konsequenzen&lt;br /&gt;wegen Waehlen ueberleben&lt;br /&gt;und um das Leben zum Leben kaempfen soll.&lt;br /&gt;Alles erinnert mich immer,&lt;br /&gt;wie ewig Freundschaften statt Liebe sind."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The inspiration from the past,&lt;br /&gt;it tells me how to behave.&lt;br /&gt;The feeling of independence,&lt;br /&gt;it tells me how to love and to care.&lt;br /&gt;And the never end ray of hope,&lt;br /&gt;it tells me how to live along&lt;br /&gt;with consequences because choices and to fight for life to live.&lt;br /&gt;All always remember me,&lt;br /&gt;how friendships instead of love eternal are."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Renungan masa lalu&lt;br /&gt;mengajarkan bagaimana berkelakuan.&lt;br /&gt;Rasa kemandirian&lt;br /&gt;mengajarkan bagaimana mencintai dan melayani.&lt;br /&gt;Dan berlimpahnya cahaya harapan&lt;br /&gt;mengajarkan bagaimana terus hidup&lt;br /&gt;dengan konsekuensi pilihan hidup&lt;br /&gt;dan berjuang dalam hidup untuk hidup&lt;br /&gt;Semuanya selalu mengingatkan,&lt;br /&gt;bagaimana kekalnya persahabatan melebihi cinta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deutschland, Musim Dingin 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin bingung sang pemuda. Tadinya ia mengharapkan tulisan-tulisan selanjutnya akan semakin jelas. Sayangnya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta Kampret&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qantum Dot--Duh, cinta itu adalah masalah yang lebih rumit dari Quantum Dot. Soalnya cinta itu adalah masalah kehidupan sedangkan Quantum Dot hanya ada pada dunia ambisi. Tertawalah! Karena memang patut ditertawakan. Gejolak jiwa muda, kadang membuat hidup ini ceria, kadang malah menggiring diri masuk dalam lubang perangkap sendiri. Perangkap hati. Pilihan yang sulit dilakukan. Di sini sayang, di sana suka. Realistis malah menjadi musuh utama yang ingin sekali dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arie, seorang mahasiswa pasca sarjana seni dunia renik sedang berjuang menetapkan hatinya yang belakangan hari ini gundah. Bukan karena pelajaran intuisi kuantum yang mempuat pusing, akan tetapi dua insan, yaitu Julia dan Amanda. Dengan istilahnya sendiri, Arie menetapkan sepihak bahwa Julia adalah domestic patner dan Amanda dan dirinya sedang menjalani serious relationship.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan saat ia menghadiri seminar internasional "Penerimaan Publik terhadap Seni Dunia Renik Terdistorsi" di Kobe, Jepang, bertemulah ia dengan Yumi. Salah seorang peserta seminar. Dan tanpa sadar Arie menetapkan Yumi dan dirinya sedang dalam distance relationship.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya batasan geografis tidaklah sulit bagi Arie untuk membagi cintanya kepada ketiga insan tersebut. Masing-masing rela menerima frekuensi curahan kasih yang sedikit karena beranggapan ia sedang sibuk dengan kuliahnya. Suatu pengertian yang menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi bukankah seorang pecatur mahir harus pula mendapat lawan yang sebanding? Demikian pula kawan kita Arie. Secara tak sengaja Amanda terpilih bersama beberapa teman-temannya untuk mewakili perusahaan mengadakan pameran di Düsseldorf, Jerman. Dan tentu saja kesempatan ini tidak disia-siakannya untuk bertemu dengan Arie, sang kekasih. Dan yang amat kebetulah orang tua Julia tinggal di kota yang sama. Kemungkinan Julia ada di kota tersebut pada setiap akhir minggu amat besar. Pusing tujuh keliling diperolehnya. Dan mungkin karena penatnya, Arie mengambil jalan untuk memperoleh solusi dengan melakukan curhat ke Yumi mengenai hal itu. Akan tetapi dengan pengandaian-pengandaian, bahwa yang mengalami hal tersebut adalah temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pun berlalu dan Arie semakin terlarut dalam jadual-jadual ketat pencurahan kasih sayang kepada ketiga hatinya: Amanda, Julia dan Yumi. Hanya waktu yang dapat mengawasi sampai mana kesanggupan Arie melakukan kehidupan seperti itu, bahkan di sela-sela kesibukannya merampungkan tesis paska sarjana-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...&lt;br /&gt;jangan main api, bila takut terbakar,&lt;br /&gt;jangan main air, bila takut basah,&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;yang menanam,&lt;br /&gt;akan menuai,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil kolaborasi dengan Kumara dan Imran.&lt;br /&gt;Deutschland, Musim Dingin 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu sedikit tersenyum saat membaca tulisan terakhir. "Ini tentu yang dimaksud dengan kerangka cerita," gumammnya, "mungkin menarik apabila kerangka ini dikembangkan lebih lanjut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahinya berkernyit saat melihat tulisan selanjutnya yang dituliskan dalam bahasa asing yang ia tidak kenal. Tapi ia berusaha untuk terus membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Der Drache&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ich drehte meinen Kopf nach links und dann wider nach rechts. Es tat mir immer noch weh, wenn ich das machte, seit dem letzen Kampf des Krieges gegen die vereinigen Ländern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nach dem Krieg musste man wieder normales Leben wieder weiterführen, wie man früher gemacht hatte. Und ich bin war ein Beamter, dann musste ich als Beamter wieder arbeiten. Hier in diesem dunkelen und feuchten Raum von Abteilung 673-JON-1 des Verteidigungsministerium von dem Land Prankpurt-ketoprak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nun konnte ich mich aber nicht mehr entspannen, weil man alle renovieren musste, was man beim Krieg zerstört hatte. Wir mussten uns beeilen, alle in ordnung zu bringen. Oder wurde es anderen Krieg geben, der von der Armut, dem Hunger, der Kranke, dem Opfer herrührte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Scheiße!" rief ich im Herz, als Das Telefon plötzlich klingelte, während ich beim Gedanken war.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fei Hung, Wong, Abteitulung 673-JON-1, guten Morgen," antwortete ich unbegeistert. Ich vermutete, dass es nur anderer Chef war, der neuen Befehl erteilen wollten. Das bedeutete mir neue Arbeit. Und es war egal, ob meine laufende, jetztige Aufgaben schon erledigt oder nicht sind.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Guten Morgen Herr Wong, hier ist Wiro von Abteilung 212-GEN-1" rief berühmter Ton da drüben von anderer Seite erstauntlich.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Da du ja, Wiro," antwortete ich fröhlich, "Was gib's denn da?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Es gibt keine besonderes. Es geht tja nur darum..," sagte Wiro unwahr-scheinlich.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Um was meinst du?" antwortete ich ungeduldig, und bestimmt sehr begeistert.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Na ja, wie soll ich das sagen?", war er still, und dann sagte er weiter, "Es geht um die Bombe!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Die Bombe? Welche Bombe meinst du?" reagierte ich panic, weil es noch meine Aufgabe war, die Bombo aufzuschreiben.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Die Bombe, die bei Syes Gurke ist" redete er weiter, "Es ist noch nicht vorbei. Ich habe Information, dass es noch viele von der gibt. Und die werde aktiviert, wenn wir die erste deaktiviert werden."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Woher weisst du das, wenn ich fragen darf," frage ich unangenehm, weil normaleweise konnte man nicht wissen, wer der Geheimdienst war.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ich kann nur dir seinen Kode sagen" antwortete er vorsichtig, "Man nennt ihn als 007."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Es gab lange Ruhe inzwischen, bevor wir davon wieder redeten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Also, du Wiro," sagte ich langsam und entspannend, "Darf ich mit ihm reden, dem Geheimdienst?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dann gab es wieder keinen Ton zwischen uns.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Na ja..," sagte er wieder unwarhscheinlich, "Ich habe ihn versprochen, dass ich niemals jemanden mit ihm treffen lasse."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Verstehe, kein Problem Kumpel!" antwortete ich, als ich schon die Antwort wusste.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wills du die Informatio, die du mir gegeben hast, offiziel melden, or nur 'of the record'?" fragte ich langsam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ich will das offiziel machen, weil es sehr wichtig für die Leute in der Nähe, aber kannst du denn die aufscreiben, dass die von Unbekannte kommt?" fragte er weiter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eigentlich ja, das kann ich machen" antwortete ich sicher, "aber man kann nicht die Aktion von der Bombe-Abteilung erwarten, weil unbekannte Information niedrige Priorität haben wurde."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ich wieß es, und das sagte 007 auch," raunte er fast unhörbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lassen wir uns das Thema wechseln, was denks du?" sagte ich plötzlich, weil die Atmosphere nicht mehr angenehmen war.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wie geht's deiner Familie?" fragte ich ihm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Es geht immer gut nach dem Krieg. Nun haben wir fast ganz normales Leben. Der Garten fehlt noch," antwortete er erstaunlich.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Schön das zu hören," kommt der Satz von mir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Und wie bei dir, ist alles in Ordnung?" fragte er mir zurück.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alles ist in Ordnung, und besonders auch die Kinder," antwortete ich.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nach dem Gespräch kam ich wieder zur Gedanken, was es mir noch heutzutage fehlte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaltblütige Geschichte war es.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wiro saß entspannt wieder, nachdem er den Fei Hung anrief. Das Problem war schon gelöscht. Das kam von dem Geheimdienst 007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Er dachte noch daran, wie es war, als 007 mit ihm telefonisch davon redete. Es war eine Stunde lang, und es war sehr spannend, wie er in richtigem Krieg wäre.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Du bist Wiro, richtig!" sagte jemand mit schwerer und tiefer Stimme, als er von Dunkelheit käme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ja, ich bin Wiro. Und wer ist das?" antwortete er unsicher, weil er die Stimme nicht kannte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"007 bin ich," antwortete er kurz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wenn da du bist, was ist die Katasthrope von unserer Tage, wobei wir gegen gefärhlichen irgenjemand zusammen kämpfen?" fragte er langsam und vorsichtig.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Da gab es nur eine Katastrhope. Sie war 'Kolor Ijo'," antwortete er sicher, wieder tiefer und sogar mit schrecklihcem Ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Als der Mann das sagte, hörte ich, dass wie ich in die Vergangenheit zurück-gezogen würde, wo es den Schrei von den Opfern gab, die von Kolor Ijo getötet wurde. Der Schrei war in einer Videoaufnahme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sechsundzwanzig Frauen lagen auf dem Flor eines Hauses. Die waren Ge-schwister: Oma, Tante, Muter, Tochter, Nichte und Enkeltochter. Die feierten gerade. Und dazu bestellten sie die Gastronomie von einem Restaurant mit drei Mitarbeiter, unter der der Kolor Ijo sich versteckte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eigentlich gab es schon eine Warnung oder besser besser wenn mah das als Vorhersage nannte. Die kam von der Frau Mantili Madangkara, eine Psycholog-in-Chemikerin, die mit Psychopath und Chemie arbeitete.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Die Frau sagte, dass es jemand ist, der frisch vom Gefängnis freigellasen wurde. Er war vermutet noch nicht ganz gesund, aber die Arzt konnte nicht prüfen, dass er nocht ein Irrer war. Er passte alle Prüfungen und Messungen. Und mit einer Empfehlung konnte er normal arbeiten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Er war so fleißsig. Er kam immer mit guten Ideen. Und eine von denen war eine Party von weibliche Geschwister auf dem Land fern von den Leuten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eine Family war gefangen, und bestellte die Angebot. Mit der ganzen weiblichen Geschwister fuhren die zum Tod, zur Sklaverei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Er tötete seine Mitarbeiter nicht, aber er machte die Aktion vor der, dann kommen die zur Verrücktheit für immer. Die sind noch beim Asyl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Die Anruf von 007 erinnerte ihn immer daran, und auch diese Mal, obwohl es um die Bombe statt kalblütiger Mörder von Kolor Ijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aber es war jetzt vorbei. Er sagte dem Fei Hung das Bescheid weiter, obwohl es noch unoffiziell war. Er wollte einfach gleich nach Hause gehen, die Family in der Arme zu nehmen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ich werde nich kommen," sagte Der Drache den Herrn von ihm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dann mussen Sie sterben," antwortete einer von denen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dann machen Sie. Sterben Sie mich einfach," beantwortete er wieder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danach kam eine Kugel durch der Luft in die Brust. Schnell and zwar sofort kam der Drache um das Leben, weill er 'in Aktion' nicht mehr wollte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alle waren da stehend zur Erinnerung der Gruppe EBBE 2004 und Kolaboration mit Wong Fei Hung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ende -- 2005-01-29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sedikit frustasi, pemuda itu kemudian menarik napas dan mulai dengan tulisan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akiko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah seorang anak, Akiko namanya. Ia seperti anak-anak pada umumnya, penuh ceria, lucu, dan tidak membosankan. Sejak bangun tidur sampai mau tidur lagi ada saja kelakuannya seakan-akan tidak pernah kehabisan energi, hal itulah yang membuat orang tuanya gemes dan ingin menggisangnya. Oh ya, selain itu ia juga mudah makannya. Atau kalau boleh dikatakan, amat mudah sehingga siapa pun yang menyuapinya akan sangat senang. Mungkin sifat ini merupakan sifat turuanan, terutama dari ayahnya yang gemar menggali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu waktu, ia bermain-main putar-putar sendiri sambil terus mengoceh. Dan tak lama kemudian akhirnya ia berjalan dengan terhuyung-huyung karena pusing. Akan tetapi seperti tidak ada kapok-kapoknya, Akiko terus melakukannya lagi dan lagi, walaupun sudah diberitahu bahwa hal itu dapat membuatnya pusing. Anaknya memang benar-benar top deh! Orang tuanya sampai tidak tahu harus berkata apa lagi. Dan yang dapat dilakukan hanyalah tersenyum sambil terus memperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tuh pusing, kan!” kata bunda. Akiko hanya tertawa sambil terus mengoceh dengan bahasa planetnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah dia pusing atau hanya bercanda, lalu katanya, ”Wa wa wa wa,” sambil terus berjalan ke sana kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan pergi ke negeri impian ”Jerman” sudah aku persiapkan sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Aku sangat senang karena tak lama lagi aku akan bertemu lagi dengan ayah Akiko, setelah sekian lama kami berpisah. Mungkin ada 9 bulan lamanya. Ketika itu umur Akiko baru 3 bulan. Dalam waktu yang tidak lama, keperluanku dan Akiko sudah aku atur sedemikian rapi dari yang hal kecil sampai yang rumitpun sudah kupersiapkan. tentu saja semua aku lakukan tidak sendiri, dibantu dengan oma dan opa Akiko. Lama juga persiapannya, sekitar dua bulan itupun masih ada saja masalah, tapi aku sangat bersyukur karena ALLAH selalu membantuku, sehingga akhirnya selesailah dan kamipun dapat berangkat dan akhirnya berkumpul kembali. Ayah, bunda dan Akiko buah hati kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencet-pencet Tombol. Akiko memiliki beberapa kegemaran, yang salah satunya adalah memencet-pencet tombol. Entah itu tombol lampu, komputer atau pun TV. Semua digemarinya untuk ditekan-tekan. Apalagi apabila perbuatannya tersebut menghasilkan perubahan yang dapat ditangkap panca inderanya, misalnya suara, cahaya&lt;br /&gt;dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu waktu Akiko kaget sendiri saat sedang melakukan kegemarannya, yaitu waktu ia mematikan lampu di ruang tidur. Sesaat setelah tombol lampu yang terletak di lantai dipencetnya, keadaan menjadi gelap gulita dan ia pun kemudian menangis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Deedaa, deedaa!” panggilnya kepada sang bunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Akiko tidak boleh takut, lampunya hanya mati saja,” kata sang bunda menerangkan dan kemudian menunjukkannya dengan menyalakan dan kemudian mematikan lampunya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya itulah, setelah tahu kalau hal itu tidak menakutkan dan berbahaya, kembalilah Akiko melakukannya. Dan pada suatu waktu lampu tersebut mogok untuk nyala kembali alias mati beneran. Walaupun itu bukan seluruhnya akibat perbuatan Akiko. Melainkan karena lampu itu juga sudah lama tidak diganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tombol Berbahaya. Ternyata selain menekan tombol-tombol yang tidak berbahaya, Akiko pernah pula melakukan perbuatan yang cukup berbahaya, yaitu ia memutar tombol kompor listrik (Elektroherd – auf Deutsch), di mana saat itu bunda dan ayahnya tidak menyadari. Untung saja tidak terjadi apa-apa karena uap akibat sisa-sisa minyak yang tertumpak di atas pelat pemanas Elektroherd cepat terlihat, sebelum tangan bunda atau ayah keburu menyentuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apiici..!” katanya, saat diberitahu bahwa hal tersebut berbahaya. Itu adalah ungkapan Akiko untuk meminta maaf atas perbuatannya. Sejak Akiko telah memiliki kemampuan memutar tombol Elektroherd, bunda dan ayah menjadi lebih hati-hati dan lebih sering memeriksa tombol-tombol tersebut setelah meninggalkan dapur. Hanya untuk berjaga-jaga agar kejadian tersebut tidak terulang lagi dan dapat menyebabkan&lt;br /&gt;hal-hal yang berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isyangkar dan Over and Over Again. Percayak tidak, jika Akiko telah memiliki beberap lagi kegemaran, selain Schnappi das kleine Krokodil tentunya. Coba tebak? Lagu tersebut adalah Isyangkar yang dinyanyikan oleh Mustafa Sandal dan Gentleman serta Over and Over Again yang dinyanyikan oleh Nelly dan Ted McGraw Setiap satu dari kedua lagi tersebut diputar di TV, bergoyanglah Akiko. Dengan kadang-kadang tangannya diputar-putar pergelangannya atau diangkatnya seluruh lengannya ke atas. Tak jarang pula diputar-putar badannya. Lucu sekali melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandi dan Main Pancuran. Akiko sangat tidak suka mandi karena suatu waktu pernah hampir terpeleset dalam bak mandi (bathtup atau Badewane) dan kemudian ditangkap bunda sehingga tidak terjatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Akiko sayang, mandi yuuk!” kata bunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Waaahhh, waahhh!” tangis Akiko apabila terus dipaksa, setelah sebelumnya menolak dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan acara mandi menjadi suatu acara yang amat merepotkna karena Akiko meronta-ronta tidak mau dibasuh dengan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi pada suatu waktu bunda menemukan bahwa Akiko senang main pancuran&lt;br /&gt;(shower) saat mandi dan lupa untuk berteriak-teriak dan meronta-ronta. Oleh karena itu kemudian hari berkatalah bunda kepada Akiko,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Main pancuran yuk!” sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Heg!” kata Akiko, yang berarti ”iya bunda” dan bergeraklah ia dengan semangatnya ke kamar mandi sebelum untuk kedua kalinya diajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pecah dan Jatuh. Karena seringnya Akiko melempar atau menjatuhkan barang-barang sehingga menimbulkan suara keras dan kadang-kadang merusak barang-barang tersebut, bunda menasehati agar hal itu dilakkukan karena nanti barangnya dapat pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Cah!” kata Akiko, suatu saat. Dan bunda dan ayah tertawa, karena yang dimaksudnya dalah jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Akiko mengasosiasikan bahwa ”jatuh” itu sama dengan ”pecah”. Untuk sementara bunda dan ayah membiarkannya karena tentulah amat sulit menjelaskannya pada anak seumur Akiko mana yang merupakan proses dan mana yang merupakan akibatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuh Gigi dan Sariawan. Masa yang paling menyedihkan bagi bunda dan ayah Akiko adalah saat Akiko sedang tumbuh giginya dan sekaligus sariawan di daerah dekat tumbuh giginya. Untuk menyuapi Akiko bunda harus berhati-hati agar tidak mengenai bagian yang sakit, yaitu bagian bawah kanan agak tengah mulutnya. Lain rasanya, karena biasanya Akiko makan dengan ”menggali” (amat lahap). Saat-saat tersebut Akiko menjadi sangat sensitif dan manja. Selain itu yang paling membuat sedih adalah bahwa Akiko ingin makan atau mengemil, ia tidak dapat melakukannya karena mulutnya sakit dan ia kemudian menangis. Bunda dan ayah sedih sekali saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaket Coklat Tua. Ada sebuah benda yang amat tidak disukai oleh Akiko. Siapa pun yang memakai jaket coklat tua tersebut entweder ayah oder ibu, Akiko tidak menyukainya. Pernah suatu waktu Akiko sedang tidak enak perasaannya dan tidak mau digendong ayah, padahal ayahnya sedang kangen sekali. Kemudian terpikir oleh ayah apakah itu disebabkan oleh jaket coklat tua tersebut. Maka jaket coklat tua tersebut dilepaslah oleh ayah dan digantungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ayah ini nah, gr!” kata bunda dengan tertawa, ”Emang anaknya aja lagi ga mau digendong ayah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tuh mau kan?” kata ayah dengan gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata memang Akiko benar-benar tidak suka jaket coklat tua itu. Entah apa alasannya. Mungkin suatu saat setelah ia besar dan masih ingat akan hal itu, barulah ada penjelasannya. :) —&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* menggisang: mencium dengan gemas (dari bahasa Banjar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* menggali: makan dengan amat lahap dan banyak, seperti halnya kuli atau tukang becak (pekerja fisik) yang seakan-akan menggali nasinya saking lahapnya makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* bahasa planet: bahasa anak balita yang belum dapat dimengerti oleh orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** Hasil kolaborasi dengan Milinding di awal tahun 2005 Deutschland -- 2005-02-03&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini bagus," ucap pemuda itu puas. Kepuasan saat menemukan cerita yang cocok dengan keingingan hatinya saat itu. Ia lalu melanjutkan bacaannya dengan membuka halaman berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atraktor Kelam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atraktor kelam, sang pengambil keputusan. Pengadilan virtual yang telah dilaksanakan dan dipercaya beratus-ratus tahun untuk menggantikan pengadilan biasa ternyata selama beberapa puluh tahun belakangan ini memiliki kecenderungan untuk menghasilkan keputusan-keputusan yang amat biner atas kasus-kasus yang ada, yaitu bersalah atau tidak bersalah. Tanpa mempertimbangkan aspek-aspek yang mendorong terjadinya kasus tersebut. Seorang mahasiswa perguruan tinggi bidang informatika hukum virtual, Pferiuk X secara tidak sengaja mencermati hal ini karena adanya email gelap yang nyasar ke dalam mailboxnya. Tantangan-tantangan dihadapinya saat ia mengajukan topik tugas akhirnya Kegagalan Metoda Samar Pengambilan Keputusan dalam Pengadilan Virtual, datang tidak hanya dari kalangan akademisi akan tetapi juga dari kalangan teknokrat. Dengan berbekal semangat dan integritas serta dukungan dari kaum underground yang menjadi korban kepincangan keadilan digital, berusaha Pferiuk X untuk menggali informasi dan memaparkannya kepada publik mengenai ketidakstabilan sistem pengadilan digital mereka saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era Keputusan Digital. Jauh setelah metoda samar (fuzzy logic) diperkenalkan oleh Dr. Lotfi A. Zadeh dari University of California, Berkeley dalam era tahun 60-an, kepercayaan orang-orang akan keunggulan metoda ini untuk mengadakan logika diantara bilangan biner '1' dan '0' atau 'benar' dan 'salah' atau 'ya' dan 'tidak', semakin tinggi. Terlebih setelah suatu kasus dicobakan dalam model simulasi Pengambilan Keputusan Digital dengan menggunakan superkomputer IBM Blue Gene/L di Rochester, USA. Dengan menggunakan milyaran data dari seluruh dunia sebagai kasus pembanding, dari berbagai kultur budaya dan hukum adat, serta berbagai algoritma rumit yang memasukkan aspek-aspek yang mungkin terpikirkan oleh para pakar dari berbagai bidang hukum, simulasi tersebut dijalankan untuk menentukan kesalahan bagi para pelaku dalam kasus Pencurian Spektakuler oleh keluarga Mayonari. Dalam persiapan perampokan terkenal tersebut para pelaku berkolaborasi dengan berbagai pihak dan kemudian menggunakan hasilnya untuk membangun suatu koloni hibrida (hybrid) manusia, mesin dan tumbuhan yang di kemudian hari ternyata bermanfaat untuk mengatasi 'bencana alam besar' dan menyelamatkan banyak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan menggunakan pengadilan digital untuk kasus ini adalah mengingat jumlah pihak terkait yang sangat banyak dan internasional serta belum adanya hukum-hukum yang mengatur akan efek-efek 'baik' di kemudian hari yang dapat menjadi hal yang meringankan hukuman. Selain itu, bahwa pencurian dilakukan secara sistematis dan berkala selama kurun waktu 20 tahun sehingga hampir boleh dikatakan baik nasabah maupun bank yang bersangkutan tidak mengalami kerugian, karena setelah beberapa saat jumlah yang diambil dikembalikan, berdasarkan pembagian keuntungan yang diperoleh dari keuntungan diseminasi awal pembangunan koloni hibrida tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir tahun 2120 digunakan secara resmi di muka bumi Pengadilan Virtual sebagai implementasi pengambilan keputusan yang dilakukan secara digital. Sejak saat itu orang tidak perlu lagi pergi ke pengadilan karena sidang dapat dilaksanakan secara on-line dan keputusan akan diberlakukan secara instan. Kasus-kasus kejahatan diklasifikasikan berdasarkan berbagai macam kategori dan cross reference dibangun sebagai basis data multi lingua dan kultur. Semua informasi tersebut dapat diakses secara terbuka oleh siapa saja untuk kasus-kasus yang telah dijatuhkan keputusannya. Dengan ini diharapkan keterbukaan akan memberikan peringatan buat bad guy untuk tidak mencoba-coba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila sebelumnya dalam persidangan biasa, para pemeran persidangan perlu hadir dalam ruang dan waktu yang sama, maka dalam sistem pengadilan virtual ini, semua dilakukan secara on-line. Dengan menggunakan sistem penerjemah juri dan hakim dapat diambil dari tempat yang amat berjauhan dan secara acak sehingga mustahil dapat terjadi kebocoran informasi dan apabila terdapat, masih dipersulit oleh faktor geofrafis untuk diintimidasi secara langsung. Untuk itu perlu terlebih dahulu dilakukan perancangan sistem peradilan virtual secara agak detil sehingga dapat digunakan sebagai atmosfer dalam mengalirkan cerita yang sarat dengan istilah-istilah teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh yang terpikirkan baru beberapa kelompok dan tokoh, yaitu: Pferiuk X sang penggali informasi, kaum underground para korban ketidakadilan digital, keluarga Mayonari para penguasa sistem informasi, kaum hibrida yang amat minor dalam sistem hukum, Weiß Einstein, cucu buyut Virtuel Enstein sang pencipta Program Pengadilan Virtual, yang memiliki source code asli dari program tersebut dan orang-orang yang berlaku sebagai akademisi, teknokrat, budayawan dan kaum meta fisika informasi – yang memiliki kemampuan menyimpan informasi dalam bentuk energi dalam makhluk hidup. Kelompok terakhir diduga merupakan orang-orang yang sadar lebih dulu mengenai kepincangan sistem peradilan digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik. Peliknya proses penggalian informasi yang disebabkan oleh luasnya ruang lingkup yang harus dicermati merupakan atmosfer utama cerita ini. Orang harus dapat menentukan algoritma yang tepat agar informasi dapat digali secara efesien dan tepat. Mungkin adanya kepentingan pribadi seperti jatuhnya keputusan yang tidak adil secara nalar terhadap salah seorang sahabat Pferiuk X dapat memacunya untuk menggali informasi lebih dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lompatan Teknologi. Apabila diperlukan dapat dilakukan penggunaan teknolog-teknologi hitam (black technology) seperti 'warp', 'jump in time', 'teleport', 'anti-gravitation' dan lain-lainya asalkan dapat membangun cerita menjadi semakin imaginatif dan kaya. Akan tetapi tidak memusingkan atau menyesatan dan membuatnya malah menjadi tidak menarik. Setting Waktu dan Tempat —- Untuk mudahnya waktu diletakkan di masa depan dari saat ini (2005) dan di suatu daerah yang belum ada atau yang telah ada dengan terlebih dahulu melakukan survei geografis melalui internet agar terlihat agak riil (tidak mengada-ada).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Hasil kolaborasi dengan Milinding dan Elkariza, Deutschland, 12.3.2005) -- 2005-03-12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya yang menjadi pusing karena banyak kata-kata yang ia tidak mengerti tercantum dalam tulisan terakhir. Tapi ia tidak menyerah dan terus membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air Terjun Meluap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lupa lelaki itu kapan mimpi itu diperolehnya sebagai bunga tidur. Sudah lama. Sudah lama sekali. Kenangan itu muncul kembali saaat istrinya menceritakan mimpinya yang penuh dengan air, seperti banjir bandang yang timbul akibat tsunami. Seperti terlihat di dalam televisi saat kota-kota di propinsi Aceh tergenang oleh air laut yang bercampur dengan air sungai. Membawa segala macam benda, hidup dan mati bersamanya. Mengalir ke sana kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Air di mana-mana," kisah sang istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat cerita mimpi sang istrilah, teringat kembali lelaki akan mimpinya, yang juga menceritakan tentang air yang meluap dari suatu air terjun, menggenangi kota dan bangunan di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah di suatu tempat di suatu negara di suatu planet pada suatu waktu, terdapat suatu kota yang indah. Dibangun dan ditata sedemikian rupa asri dan selaras dengan alam sekitarnya. Udara bersih dan kicau burung memenuhi atmosfer, memberikan rasa nyaman pada orang-orang yang tinggal di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa namanya kota itu. Akan tetapi ada satu bagian kota yang bener-benar mengagumkan. Bagian tersebut dibangun persis di sebelah suatu air terjun yang tinggi, sehingga orang-orang dapat menikmati keindahan air terjun itu setiap saat. Percikan air yang jatuh dari ketinggian, terbawa oleh angin membuat udara menjadi segar dan nyaman. Bahkan di siang hari yang sedang panas-panasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu gedung bertingkat yang megah yang berfungsi sebagai tempat tinggal dibangun di atas sungai tepat diseberang air terjun. Orang-orang yang mampu secara finansial dapat menempati gedung tersebut yang memiliki pemandangan utama air terjun dan sungai lebar di depannya. Gedung itu sendiri bila dilihat dari atas langit berbentuk agak elips atau lonjong telur sebagai ganti persegi atau kotak sebagaimana lazimnya suatu gedung bertingkat. Hampir dua ratusan lantai terdapat di dalam gedung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemilik hunian tersebut memiliki masing.masing balkon yang berarah ke air terjun tersebut. Bagian lain yang tidak mengarah ke air terjun, digunakan untuk tempat berjemur, karena tidaklah mungkin berjemur di hadapaan air terjun yang membuat udara menjadi lembab. Di dalam balkonnya masing-masing para pemilik hunian dapat menikmati air terjun dan percikan airnya secara privat tanpa gangguan dari pengunjung yang harus berjejal-jejal berdiri di suatu pinggiran sungai untuk dapat menikmati air terjun dan udara segarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas dari air terjun dan apartemen bertingkat hampir dua ratus tersebut dapat ditemui suatu taman, yang merupakan pusat kegiatan anak-anak bermain dan ibu-ibu pengasuhnya yang melingkari suatu kolam dilengkapi dengan beberapa patung dan air memancur di tengahnya. Terutama di sekitar waktu makan siang, berkumpul orang-orang di sekitarnya. Teman-teman sekantor, ayah dengan anak dan istrinya, orang-orang tua dan lain-lain. Merek memanfaatkan waktu makan siang untuk bersama-sama berbincang dan mengisi perutnya. Bermacam-macam hidangan dibawa oleh orang-orang tersebut, dari yang sederhana seperti sandwich dan biskuit sampai rantangan yang berisikan beefsteak dan gado-gado ataupun sayur asam. Tempat yang meriah dan sederhana, serta rapih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi itu tidak menceritakan lagi bagaimana lebih lanjut landsekap dari bagian kota tersebut. Hanya sampai di situ. Imaginasi sang pemimpi mungkin yang membatasinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana, sang lelaki yang juga ada di sana, yang sedang dalam perjalanan menuju taman, selepas kerja di kantornya, untuk makan siang bersama anak dan istrinya, sedang menuruni suatu tangga di muka taman yang berseberangan dengan lobby gedung kantornya, ingin berhenti dan memandangi air terjun tersebut. Dari tangga tersebut dapat orang melihat apartemen dengan hampir dua ratus lantai dan air terjun itu dengan jelas, bahkan buih-buih air dan udaranya, yang tampak kadang-kadang bergemerlap membiaskan sinar matahari yang kebetulan jatuh pada sudut yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba terbersit suatu firasat bahwa ada yang aneh dengan gelembung-gelembung air dan udara di sekitar air terjun tersebut. Perasaan seperti melihat keruhnya air secara tiba-tiba di dalam sungai yang jernih, yang menandakan bahwa di hulu telah terjadi banjir bandang. Banjir yang membawa informasi berupa kekeruhan air yang samar-samar, akan tetapi makin lama makin kerap dan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semacam "kekeruhan" tersebut dilihatnya pula pada gelembung dan buih-buih air terjun. Dan tiba-tiba dengan suara yang menggemuruh, memecah air melebihi tinggi air terjun itu, dan runtuhlah sebagian lereng yang biasa dialiri air, sehingga volum air yang biasa terjatuh menjadi tiba-tiba mengganda dan menggila. Dan sudah pasti langsug mengenangi sekitarnya, dan merobos gedung dengan lantai hampir dua ratus itu, bagai saringan. Masuk air dari depan dan keluar dari belakang, membawa penghuni dan barang-barangnya serta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepanikan melanda orang-orang yang sama sekali tidak menyangka hal itu akan terjadi, air di mana-mana. Semua benda hanyut. Benda hidup atau mati, atau yang tadinya hidup. Sang lelaki hanya bisa melihat dengan lutut gemetar dan tangan menggigil dingin di atas tangga tersebut. Tangga yang terletak pada dataran yang masih cukup tinggi untuk segera dapat dicapai oleh air meluap dari air terjun tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi syukurlah air kemudian kembali surut, karena memang tidak terlalu banyak terdapat jumlah air di atasnya, sehingga hanya satu gelombang yang dapat menyapu, dan kemudian seakan-akan kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua air kembali ke sungai di bawahnya, bergegaslah lelaki itu dengan panik mencari anak dan istrinya, di tengah-tengah kebingungan orang-orang yang sama-sama kehilangan orang-orang yang sedang bersama atau akan ditemuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun mereka tidak ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya lelaki itu memutuskan untuk menuju suatu telepon umum atau semacam telepon umum dan memasukkan kartu identitasnya ke dalamnya. Tak lama kemudian muncul di layar beberapa opsi yang dapat dipilihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian memilih opsi untuk mencari keluarganya. Setiap orang di dalam kota tersebut dibekali dengan kartu identitas yang berfungsi sebagai sumber sinyal GPS, sehingga kapan saja dan di mana saja dapat di pantai dalam keadaan darurat. Dan lelaki itu menggunakan fasilitas tersebut muntuk mementukan lokasi anak dan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak dapat ditemukan," lapor alat tersebut, lanjutnya, "terdapat kemungkinan rusaknya beberapa antena penerima."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu sirini pun meraung-raung, menandakan adanya bencana. Sudah terlambat. Bencana sudah berlalu. Alarm pemberitahu bencara telat berfungsi dan orang-orang telah hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian lelaki itu bergegas ke gedung bertingkat hampir dua ratus itu, dengan harapan bahwa para penghuninya dapat selamat mengingat konstruksi-nya yang kokoh. Dan juga anak dan istrinya dapat ditemukan di sana, walau-pun ia tidak tahu lagi, di manakah sebenarnya ia harus mencari anak dan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya ia di lantai tempat tinggalnya, tidak ditemui seorang pun. Lanti itu bersih, seakan-akan suatu gedung baru yang hanya terdiri dari tiang-tiang beton, tanpa dinding. Lantai gedung itu menjadi seperti saringan. Hanya menampakkan lorong-lorong yang telah tercuci bersih oleh air yang lewat tadi. Di atas lantai masih menggenang air sebatas telapak kaki yang pelan-pelan menuruni tangga dan balkon. Gedung itu seperti susunan gelas yang dituangkan sampanye di atasnya. Pancuran sampanye gelas-gelas kristal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu kemudian bergegas pergi ke suatu tempat, saat lamunannya ter-sentak oleh panggilan di alat komunikasinya. Ia harus menuju suatu pusat pemantau untuk menghadiri rapat keadaan darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun keluar dari gedung berlantai hampir dua ratus itu, dan mengambil jalan menembus taman yang sekarang sepi, menaiki tangga tempat ia terpaku tadi, mengitari gedung kerjanya, dan kembali mnenuruni suatu lereng di balik bukit kecil di belakang. Dengan tak sabar dilompatinya suatu pagar kecil, ketimbang berjalan memutar melalui pintu halaman, dan sampailah di sebuat kantor yang dibangun di bawah tanah, mirip bungker, karena perlu untuk meredam sinyal-sinyal dari luar, agar sensor-sensor yang mengidentifikasi gerakan-gerakan bumi dapat menangkap isyarat samar-samar, tanpa terganggu oleh langkah kaki-langkah kaki orang yang berlalu-lalang ataupun kendaraan yang berseliweran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mengetuk dibukanya pintu dihadapannya, terlihat beberapa wajah yang telah dikenalnya hadir di sana. Mereka semua adalah ahli-ahli dalam bidangnya. Sehari-hari mereka bekerja kantoran biasa, akan tetapi pada saat-saat seperti ini mereka diperlukan untuk menangani bencana seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengamati grafik pantauan salah satu alat seismik yang diletakkan dekat dengan air terjun, terlihat suatu pola lonjakan yang memperlihatkan bahwa telah terjadi seauatu pada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurangi dulu isyarat itu dengan gangguan latar belakang..," kata seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah dilakukan," jawab sang penyaji. "Dan ini memang hasil akhirnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengagumkan," kata yang lain, "begitu banyak gangguan akan tetapi kita tidak tahu sebelumnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu karena mirip dengan pola latar belakang," kata yang lain, "sehingga jaringan saraf tiruan tidak dapat mengerti bahwa itu bukan gangguan latar belakang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan pula singkat berlangsungnya," kata seorang menambahkan, "dan kemudian menghilang. Lebih sempit dari rentang waktu untuk melakukan analisa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang terdiam dalam lamunan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi ada berita dari teknisi pemantai kartu identitas, bahwa pemancar yang rusak telah diperbaiki. Dan menurut hasil pindai, semua penghuni masih ada di lokasi, tidak ada yang hanyut jauh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak mungkin," desis lelaki itu, "saat aku di sana tidak banyak orang yang kulihat di taman. Di gedung bahkan hampir tidak ada orang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang tidak di sana, akan tetapi di kolam renang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di kolam renang?" tanya beberapa orang hampir berbarengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, di kolam renang, Orang-orang dari gedung pun hanyut ke sana. Belum diketahui apakah ada yang terluka atau tidak. Hanya saja hasil pindai menyatakan konsentrasi orang-orang ada di kolam renang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah, biarkan anggota tim penyelamat menjalankan tugasknya, kita juga punya tugas sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik," kata yang lain hampir serempak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian rapatlah mereka mengenai bencana yang baru terjadi, serta keanehan-keanehan yang menyertainya. Tentang betapa singkatnya hal itu terjadi dan bagaimana hal itu dapat secara lemah dideteksi akan tetapi luput dari prediksi jaringan saraf tiruan dan sistem pakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tak bisa meninggalkan pikirannya dari anak dan istrinya. Akan tetapi berusaha ia mengkonsentrasikan pikirannya. Ini adalah tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah rapat itu selesai, lelaki itu kembali mencari semacam telepon terdekat dan melakukan lagi pencarian istri dan anaknya melalui kartu identitas mereka. Dan kali ini ia mendapat jawaban positif, dan konfirmasi apakah ingin dihubungkan dengan mereka. Dengan tergesa dan gembira ditekannya tombol untuk menyatakan 'ya'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah jendela kecil muncul di layar dan terlihat lokasi di mana terdapat orang-orang yang hanyut berkumpul. Melalui suatu kamera di lokasi, ia dapat melihat anak dan istrinya di kerumunan orang-orang. Dan kemudian ia melihat mereka bergegeas menuju semacam telepon terdekat, karena adanya panggilan dari lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bunda," kata lelaki itu haru, "baik-baik saja, Bola juga?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik ayah," jawabnya terisak, "ayah di mana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di kantor pemantau gempa, habis rapat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngeri betul, ayah. Ada air bah. Kita hanyut. Bunda dan Bola sedang naik ayunan dan kemudian tersapu. Tapi kami tidak tenggelam. Orang-orang juga. Tidak ada yang tenggelam. Mengapung seperti gabus di atas air."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki diam mendengarkan cerita istrinya yang menegangkan mengenai ba-gaimana air bah dari air terjun itu datang tiba-tiba dan menghanyutkan semua. Mengerikan tetapi abenteuerlich, karena tidak ada yang tenggelam. Mirip wisata air bah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu mengucap syukur, bahwa anak dan istrinya baik-baik saja. Kemudian mereka bersepakat untuk bertemu di kolam renang saja. Lelaki itu yang akan mengayunkan langkah ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2006-03-16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini bagus, cukup jelas," katanya dalam hati. "Kuharap pula bagian selanjutnya.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papan bidai yang biasanya jelas tampak buram di hadapannya. Lelaki mengangguk-angguk menahan kantuk yang menyerang tak berperasaan, padahal ia sedang dalam proses pengambilan data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu menamakan dirinya Nein. Nein Arimasen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nein bekerja di suatu laboratorium di suatu institusi penelitian yang cukup bonafid. Pusat Penelitian Fisiologis Molekul. Keren betul judulnya, tapi Nein sendiri tidak begitu mengerti, karena ia kerja hanya sebagai seorang teknisi yang mengambil data dari sebuah alat dengan bantuan kompuer saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan yang dilakukan Nein cukup sederhana. Terdapat suatu -or (entah apa namanya, mungkin reaktor, incenerator, inkubator, kaltrol atau malah kompor), pokoknya ada suatu -or yang di dalamnya dicampurkan butir-butir kecil bahan yang kemudian diguncang-guncang ke atas dan kebawah menggunakan suatu -or yang lain (yang ini Nein ingat, vibrator namanya, tepatnya vibrator ke atas ke bawah, karena ada juga yang ke kiri dan ke kanan). Akibat diguncang-guncang itu maka butiran-butiran dalam, sebut saja kantor, dapat bergerak-gerak, kadang ke kiri dan kadang ke kanan. Gejala ini yang hendak di amati, kapan ia ke kiri, kapan ia ke kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat di kiri atau saat di kanan butiran-butiran tersebut sudah bergerak dalam kekacauan atau kaos, lalu kemudian tanpa alasan yang jelas ia dapat berpindah dari kacau di kiri menjadi kacau di kanan. Perpindahan yang tidak jelas ini disebut orang intermittens. Nein cukup lama menghapalkan kata tersebut sehingga dapat melafalkannya dengan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intermittens itu dapat diamati dengan menggunakan suatu kamera digital, mereknya Nein tidak tahu. Kamera itu tidak seperti kamera-kamera digital yang ada atau terdapat di handy, akan tetapi lebih kotak dan besar. Gambar yang dapat disampaikannya hanyalah hitam putih, untuk itu orang butuh komputer, karena hasil penangkapan disalurkan ke komputer lewat antar muka firewire (Nein lupa kode IEEE nya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasana suatu percobaan untuk mengukur intermittens dilakukan spesifik untuk suatu kekuatan dan kerap getar vibrasi yang berbeda-beda, untuk kemudian dibandingkan atau dicari korelasinya, antara kekuatan dan kerap getar dengan kebolehjadian munculnya suatu intermittens. Untuk itu Nein belum juga mengerti, walau Prof. Borokokok telah berulang kali menjelaskannya. Bahkan ia telah memberi Nein suatu ringkasan dari Vorlessungnya untuk dibaca. Akan tetapi tetap saja Nein tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data yang diperoleh adalah berupa rekaman gambar dari format H5 suatu standar untuk film tertentu. Dengan menggunakan piranti lunak yang dikembangkan oleh Suluz, seorang asisten Prof. Borokokok, tampilan butiran-butiran yang bergerak ke sana dan kemari dapat dilihat di layar komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi semaju-majunya teknologi, pasti ada saja kekurangannya, demikian pula dengan peralatan canggih di lab Nein, yang sudah dikonfigurasi sedemikian rupa otomatis, akan tetapi belum dapat menghasilkan hasil akhir yang justru diharapkan, yaitu berapa jumlah butiran yang sedang bergerak kacau di kiri dan berapa butiran yang sedang bergerak kacau di kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah Nein bekerja di sana, di salah satu laboratorium pada institusi Pusat Penelitian Fisiologis Molekul, karena pekerjaan tersebut tidak diminati oleh orang-orang pintar yang memiliki sederet gelar keilmuan. Tidak ada orang yang berminat. Akan tetapi Nein ya, ia dapat melakukannya, karena pekerjaan itu tidak memerlukan penalaran dan pemahaman yang terlalu tinggi. Hanya kesabaran yang diperlukan dan pula ketekunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi suatu data, bisa Nein menghabiskan dar 8 jam sehari sampai 5 hari dalam seminggu. Itu pun bergantung, seberapa teliiti deret waktu yang ingin dihasilkan. Bila diinginkan kasar terlebih dahulu untuk praduga, maka bisa cepat. Sehari, kadang setengah hari pun sudah selesai. Akan tetapi apabila diharuskan cukup teliti agar deret waktu tersebut dapat diintegral atau didiferensialkan, maka perlu Nein menghabiskan waktu di depan komputer sampai 5 hari kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya duduk di depan layar monitor, dan ketak-ketik, kiri-kanan, perhatikan butiran yang terbang ke kiri dari kanan dan ke kanan dari kiri, melewati suatu dinding pemisah di tengah-tengah kompor tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila sedang mengamat-amati itulah, datang serangan kebosanan yang menggila, sampai kadang-kadang tidak tertahankan, sehingga Nein bisa hampir tertidur di meja kerjanya. Atau kadang-kadang ia baca-baca atau surfen untuk menghilangkan kantuk, dan sudah pasti bosan yang menyertainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari ini Nein memperoleh tugas yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal pertama yang harus dilakukannya adalah mencari kombinasi butiran-butiran yang akan digetarkan seperti diinstruksikan oleh Prof. Borokokok melalui Inprof (Instruksi Profesor). Setelah memperoleh butiran yang dimaksud sesuai dengan ukuran yang dispesifikasikan, lalu Nein harus menghitunga butiran-butiran tersebut, sejumlah yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghitung jumlah butiran-butiran yang kecil tersebut (kadang sampai 1 - 2 mm diameternya) benar-benar menguji kesabaran Nein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai kemudian diambillah kompor oleh Nein. Kompor tersebut telah dibuat berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Antara lain adalah bahwa kompor tersebut harus sederhana, murah dan dapat berfungsi. Syarat yang sepertinya diajukan oleh banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memasukkan butiran-butiran tersebut ke dalam kompor, Nein mulai menyalakan listrik alat-alat yang terkait dengan kompor, seperti vibrator bergerak ke atas ke bawah, osiloskop, pemindai gerak, pengada daya listrik dan lampu penyinaran serta kamera firewire.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua disambung-sambungkan dan dicek apakah telah dicolok ke ke steker di dinding, mulailah Nein menyalakan satu per satu dengan urut-urutan tertenu. Nein tidak tahu apakah bila prosedur urut-urutan tersebut tidak ditaati dapat terjadi sesuatu yang berbahaya. Ia hanya mengikuti dan tidak mau mencoba-coba untuk berspekulasi hanya untuk memuaskan dahaga ingin tahunya saja. Taruhannya adalah omelan atau bahkan pekerjaanya. Lebih baik terlihat sedikit bodoh dan konservatif, dari pada terlalu agresif, penuh inisiatif akan tetapi riskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Nein. Hati-hati selalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dinyalakan osiloskop, pemindah gerak, pengada daya listrik dan lampu penyinaran, Nein mulai membuka suatu konsol di komputer untuk mengamati apakah letak obyek dan kamera telah cocok, sehingga memberikan gambar yang baik. Diketikkannya di konsol tersebut "coriander &amp;" dan ditekannya tombol 'Enter'. Sekejap kemudian muncul suatu jendela dengan banyak tabulasi. Perlahan dipilihnya tombol 'Start' dan kemudian 'View'. Jumlah gambar yang akan ditangkap adalah 300 gambar per detik. Cukup baik menurut Nein. Kemudian ia melihat jendela kecil yang terbuka, yang menggambarkan obyek yang ditangkap oleh kamera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyek tersebut terlihat agak gelap dan samar. Untuk itu Nein memutar tombol arus litrik yang menghidupi lampu, sehingga cahayanya bertambah terang. Cukuplah sudah. Ia harus bermain dengan lampu, dan tidak dengan kecepatan pengambilan gambar dari kamera, karena ia butuh jumlah gambar yang tinggi tidap detiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu ia mula memainkan pengaturan fokus dari kamera firewire tersebut. Diputarnya ke kanan, gambar semakin kabur, akhirnya dibalasknya ke kiri perlahan-lahan sampai terlihat gambar yang jelas, dan kemudian kabur kembali. Putaran dibalasnya, berulang bolak-balik, sampai ia puas memperoleh gambar yang cukup tajam atau optimal tajam dengan pencahayaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tunggu dulu, bagaimana apabila kecepatan kamera masih kurang, sehingga saat butiran bergerak terlihat kabur. Penataan ini masih untuk tuiran yang diam. Untuk itu Nein menyalakan penggetar atas bawah, dan melihat perlahan-lahan butira-butiran tersebut bergerak ke atas ke bawah dan ke kiri ke kanan, pokoknya kacau. Nein kemudian menekuni kembali layar monitor dan melihat bahw butiran-butira yang bergerak cukup tajam dan dapat diamati untuk saat analisa nanti. Cukuplah pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nein kemudian menutup piranti lunak aplikasi coriander dan mengetikan perintah 'vidtool', sebuah piranti lunak karya Suluz, yang dimodifikasi oleh Simik dan juga Nein sendiri (atas bantuan Simik). Banyak opsi yang harus dimasukkan Nein. Dan Nein sering lupa, oleh karena itu ditempelkannya sebuah kertas dekat monitor komputer untuk mengingatkan opsi-opsi apa yang harus dimasukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama buat tujuan file sementar 'exprot VIDEO_TMP=/video/nein/rekaman2938/'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya ketikkan 'vidtool' dengan opsi '/dev/video1394 rekaman2938.h5' yang masih harus diikuti oleh opsi-opsi '--gray', '--usetmp', '--c-vres 200', '--c-vres 308'. Oh ya terlupa berapa gambar dan berapa yang akan dibuang, yaitu '--frames 300000' dan '--drop 2'. Lalu ditekannya 'Enter'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanlah proses perekaman data yang terlebih dahulu dituliskan ke suatu file sementara dengan besar masing-masing 1 GB. Nein kemudian menjalankan semua alat-alat terkait, dan menunggu percobaan berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang harus ditunggu beberapa saat untuk melihat apakah fenomena yang diinginkan akan muncul, antara lain osilasi atau pemisahan. Bila tidak, vidtool harus dibatalkan, file-file yang terbentuk harus dihapus dan butira-butiran dibersihkan atau ditiup untuk mengubah humiditasnya, hal ini terutama untuk mecegak terjadinya listrik statis. Kadang pula butir-butir harus diganti baru, dan kompornya dibersihkan. Entah kenapa, dalam hal ini butir-butir tidak lagi bersifat lenting, harus digunakan butir-butir yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi Nein sayang untuk membuang butir-butir tersebut, yang ia lakukan adalah mencampurnya dengan yang baru, mengaduknya dan kemudian memisahkan sejumlah yang akan digunakan. Dengan asumlsi bahwa akan terdapat butiran lama dan baru, dan fenomena yang diinginkan umumnya muncul. Dengan cara itu butiran yang segar dapat diperoleh dengan tidak membuang butiran bekas pakai sama sekali. Apabila digunakan cara sekali pakai, maka kurang dari sepuluh kali percobaan, sudah harus dibelikan butiran baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini percobaan berjalan lancar. Nein tinggal menunggu sampai listrik statis muncul dan mengacaukan percobaan. Lalu meng-CTRL+C vidtool untuk masuk pada mode konversi file sementara. Suluz telah memrogram untuk menangkap peristiwa CTRL+C menjadi lompat proses, ketimbang membatalkan program secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela perekaman yang memakan waktu kira-kira setengah jam dan proses konversi yang sampai 4-8 jam, Nein kadang mengerjakan hal-hal lain. Mumpung lagi kenceng-kencengnya sambungan internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Nein sedang gandrung eBook dengan format Microsoft Reader. Walaupun itu propriatery, akan tetapi hasilnya dengan True Type Font memang benar-benar mempesona. Teman Nein, John Engray saja mengakuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah klik kesana kemari di Google, akhirnya tibalah Nein di Michisoft buatan Michael (karena piranti yang lain tidak bebas merdeka dari windows), yang membuatkan Reader Studio yang freeware (http://michisoft.com/). Disayangkan proyek tersebut berhenti Mei 2004. Dengan piranti ini Nein dapat mengkonversi tulisan Audinar Vi sehingga dapat dibaca di Microsoft Reader di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi Nein belum puas, karena masih belum bisa membuat kover dan daftar isi. Setelah ditelaah lagi ternyata ada Reader Studio beta dan yang sudah final. Di sana disebutkan bahwa mendukung juga gambar dalam format PNG selain JPG dan GIF dan juga daftar isi (hanya untuk file HTML). Hal ini membuat Nein makin bersemangat sambil menunggu konversinya vidtool.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi sayangnya Reader Studio tidak jalan di Linux menggunakan Wine. Dia bilang ada masalah dengan DOM XML-nya. Nein tidak mengerti itu. Lalu coba-coba baja spesifikasi OpenEbook (http://www.idpf.org/oebps/oebps1.2/download/oeb12-xhtml.htm) dan juga metadata di Dublin Core (http://dublincore.org/), malah makin bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya untuk sementara Nein menyerah, karena terlalu banyak waktu yang dibuang untuk mempelajari sesuatu yang bersifat hobit. Es lohnt sich nicht. Jadi Nein mencoba memanfaatkan Reader Studio Final secara maksimal dulu, tanpa mengoprek format XML dari spesifikasi OpenEbook. Salah satu yang berhasil dipecahkan adalah membuat page-break-after dengan CSS (http://www.w3schools.com/css/pr_print_pageba.asp), tapi untuk konversinya baru bisa dicoba di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu konversi yang dilakukan vidtool belum juga selsai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nein kemudian membuka halaman Wikipedia Indonesia yang dibuatnya mengenai Media Butiran, hal-hal yang dikerjakannya di dalam lab sehari-hari. Halam tersebut berlamat http://id.wikipedia.org/wiki/Material_butiran dan ia telah dikoreksi oleh *drew. Akan tetapi hari ini *drew tidak muncul, padahal Nein sedang mengajukan pertanyaan dalan forum diskusi dia, mengenai penggunaan gambar yang tidak public domain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk suatu gambar dari Physical Review Letter 90, 014302 (2003), Nein telah berkorespondensi dengan Prof. Dr. Ingo Rehberg dan memperoleh persetujuannya untuk menggunakan gambar tersebut, "Ja, Sie drfen die Bilder gerne benutzen. Viel Erfolg!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senang hati Nein menerima tanggapan yang positif. Tinggal menunggu komentar dari admin-admin Wikipedia Indonesia saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nein kembali menengok hasil konversi dari vidtool. Sudah setengah data yang ada hilang dan pindah ke SH-PO.h5 yang ukurannya semakin membengkak. "Kira-kira sebentar lagi," gumam Nein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nulis cerita dulu dah, dari pada ngantuk," kata suatu suara di kepala Nein. Dan menarilah jari-jarinya di atas tombol-tombol papan bidai, mengalirkan ide-ide yang liar bergentayangan di kepala. Liar tapi terkendali, jangan seperti kesurupan yang sedang meraja-lela di Indonesia, akibatnya banyaknya tayangan mistis untuk mengejar rating penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk urusan penulisan, Nein teringat sama filem Finding Forrester atau Forrester gefunden. Yang menyarankan untuk membiarkan jari-jari menari, dan jangan berpikir saat menulis cerita. I love that film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubrigens dan by the way, Audinar minta tolong ubah blognya ditambahkan script untuk bikin Snowflakes, keren, tapi bikin lambat :).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nein udah capek dan sekarang sudahn 19.46, mau ngebom dan pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai. Deutschland, 23.3.6 -- 2006-03-23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar-benar memusingkan," ucapnya tanpa sadar. Tapi ia masih memutuskan untuk terus melanjutkan membaca buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bis Terjungkal Balik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini lelaki yang tempo hari mimpi air terjun meluap, bermimpi hal lain lagi. Juga hal yang benar-benar khayal dan tidak fisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana mulanya, tapi tahu-tahu setting mimpinya adalah berada dalam satu bis dengan sang istri. Tapi tanpa sang anak. Mereka sedang bersama duduk dalam suatu bis yang besar, atau kelihatan besar, akan tetapi tidak ada orang lain kecuali mereka berdua. Dan apakah mereka saat itu sedang berlaku sebagai penumpang ataupun pengemudi juga tidak terlalu jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya begitu. Lelaki tersebut dan istrinya duduk dalam bis yang besar, yang sedang melaju, entah di atas jalan raya ataupun terbang. Entahlah. Dan yang anehnya tidak ada pemandangan ataupun hal-hal yang terlihat di sepanjang perjalanan tersebut. Waktu seakan-akan berhenti saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga tidak ada pembicaraan di antara lelaki itu dan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bisa masih berjalan. Cerita masih berlanjut. Dan mimpi masih mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin asumsi bahwa bis tersebut masih berjalan adalah adanya getaran-getaran yang terasa berasal dari tempat duduk dan kaki. Adalah normal bahwa bis yang sedang berjalan akan merambatkan getaran-getaran, kecuali saja suspensinya sedekian bagus, sehingga saat sedang berjalan di malam hari, orang sampai tidak dapat membedakan apakah bis itu sedang berjalan atau berhenti, bila matanya ditutup. Mungkin saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak dengan bis dalam mimpi lelaki itu. Lelaki itu bermimpi bahwa bisnya masih berjalan. Ia dan istrinya duduk di dalamnya, akan tetapi tidak melakukan apa-apa, dan tidak melihat apa-apa selain kesadaran bahwa bisnya sedang berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, bisnya sedang jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ya, masak itu saja. Membosankan bukan, apabila seseorang menulis cerita bahwa ia di dalam mimpinya sedang mengendari bis, dan kemudian bisnya sedang berjalan. Dan itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah dalam mimpi lelaki itu ada hal lain yang bisa diceritakan, jika tidak, mungkin saja kata-kata ini menjadi kata-kata terakhir dari cerita ini. Jangan. Masih ada kelanjutannya. Tak lama atau sebentar kemudian, atau keterangan waktu yang lain, melihatlah lelaki itu dan istrinya bahwa bis itu sedang berjalan di suatu jalanan yang terletak di atas tebing, dengan satu sisi adalah lereng dan satu sisi adalah jurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampakan itu membuat mereka menjadi ngeri, terutama lelaki itu, karena ia yang sedang bermimpi, sedangkan istrinya hanyalah tokoh yang muncul dalam mimpi itu. Untuk adilnya, katakanlah bahwa istrinya juga merasa ngeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdua merasa ngeri karena kemudian mereka sadar bahwa bis itu tidak ada pengemudinya. Jadi bis itu berjalan dengan sendirinya. Entah benar-benar tidak ada pengemudinya atau drive-by-wire.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut, maka sang istri mengambil inisiatif untuk mengambil allh kemudi, untuk memberikan rasa aman bahwa bis itu akan tetap berada di jalurnya dan bukan masuk ke dalam jurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi pengambilalihan kemudi tersebut tidak membawa banyak dam-pak yang berarti terhadap arah gerak bis itu. Bis itu makin bergerak menggila, salip kiri dan kanan di antara kosongnya jalan, membuat kedua penumpangnya semakin kebat-kebih hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya malang tak dapat tolak, untung tak dapat diraih, tibalah bis tersebut pada suatu jalan yang membelok tajam ke kiri, di mana sang istri tidak sempat membanting stir karena sebelumnya membelok ke kanan. Dengan laju yang cukup tinggi terbanglah bis tersebut bebas di udara, menuruni lereng tidak melalui jalan akan tetapi langsung memanfaatkan gaya tarik bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu, entah kenapa, masih sempat-sempatnya lelaki itu memarahi istrinya karena tidak dapat mengemudi dengan baik. Biasalah lelaki, kalau dirinya yang diserahkan untuk mengemudi, belum tentu ia dapat lebih baik dari seorang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian entah bagaimana, terjadilah sesuatu yang sama sekali di luar dugaan, baik lelaki itu maupun istrinya. Bis tersebut setelah secara tak sadar sang istri mengganti gigi mundur dan kemudian tekan gas, bis itu melayang kembali ke jalan dan selanjutnya berjalan mundur. Seperti waktu yang diputar kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai. -- 2006-03-26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangguk-angguk pemud itu saat bagian yang baru terbaca selesai. Matahari tampak tidak lagi terik. Ia meluruskan kakinya, sedikit melemaskan tubuhnya dan mulai membalik halaman selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulat dan Paman Pengetuk Dinding&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulat, begitulah ia sering dipanggil Bulat oleh orang tuanya, karena wajahnya yang bulat segar dan menggemaskan, adalah seorang anak kecil yang tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah apartemen di daerah Marten, kota Dortmund, Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana terdapat banyak Haus yang memiliki puluhan Wohnung. Ada Haus dengan dua puluh Wohnung, bahkan ada yang sampai lima puluh Wohnung. Oleh karena itu tidaklah orang dapat mengetahui siapakah tetangga sebelah dindingnya apabila berada di rumah sebelah, apalagi yang berada di rumah belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulat tinggal bersama kedua orang tuanya, Aya dan Ana. Ia tinggal di sebuah Haus berbentuk U yang di tengahnya ada taman kecil tempat anak-anak penghuni Haus itu berkumpul dan bermain. Taman itu tidak tampak dari luar. Orang baru akan melihatnya, setelah melewati sebuah kelokan yang menuju tempat parkir di dalam. Bulat tinggal di salah satu Wohnung yang terdapat dalam sudut Haus berbentuk U tersebut. Dan di belakang Haus tersebut terdapat Haus lain yang terdiri pula dari puluhan Wohnung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana ceritanya, suatu hari Bulat "berkenalan" dengan Onkel Ketukan Dinding (Ongkel Klopfende-Wand). Saat itu Bulat sedang sedih karena mainannya hilang, dan ia berdiam diri di kamarnya sambil terisak, mengingat-ingat di mana terakhir kali ie meninggalkan Etee (sebuah boneka Eisbär).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia terisak, terdengan suara ketukan lamat-lamat di dinding, "tuk.. tuk.. tuk." Seperti seakan-akan menanyakan, "ada apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulat pun berhenti terisak, dan berusaha mendengarkan, kalau-kalau ketukan tersebut berulang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi tidak terdengar apa-apa. Oleh karena itu, Bulat tiba-tiba mempunyai ide untuk melakukan ketukan pula, "tuk... tuk..," ketuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunyi sebentar, dan kemudian terdengar jawaban, "tuk!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulat tertawa, lupa pada kesedihannya. Dan ia mengetuk lagi sambil berucap, "Siapa di sana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuk... tuk. tuk...., tuk!" jawab ketukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, aku tidak mengerti," jawab Bulat sambil kembali mengetuk sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketukan itu kembali terdengar, dengan nada yang berbeda-beda, kadang pelan, kadang keras. Dan kadang lambat, kadang cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulat tidak mempedulikan, apakah ia atau seseorang yang mengetuk itu saling dapat mengerti, akan tetapi ia membalas ketukan itu pula kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai saat itulah, apabila Bulat tidak sedang mendapatkan Aya dan Ana, yang keduanya harus bekerja, untuk bercerita mengenai kegembiraan atau kesedihannya, ia menceritakannya pada Onkel Klopfende-Wand melalui ketukan-ketukan. Entah bagaimana, Onkel Klopfende-Wand dapat mengerti dan menjawab ketukan-ketukan tersebut, sehingga seakan-akan ia dan Bulat dapat berkomunikasi dengan lancar. Dan Bulat tidak pernah memikirkan atau mencoba untuk mengetahui siapakah sebenarnya orang yang mengetuk-ketuk di balik dinding tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Bulat pulang dari sekolah dan ingin cepat-cepat bertemu dengan Aya dan Ana. Ia ingin memberitahukan hasil tulisannya yang mendapatkan nilai terbaik di kelas. Tulisan itu merupakan tugas sastra, dan dalam kesempatan itu Bulat menceritakan tentang kehidupan seorang keluarga yang terdiri dari seoranga ayah, ibu dan anaknya. Persis seperti keadaan dirinya sendiri. Akan tetapi dalam cerita itu, mereka tinggal di suatu negeri yang jauh, di mana masih terdapat hal-hal yang menakjubkan seperti hewan-hewan purba dan sihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi alangkah kecewanya Bulat setibanya sampai di rumah, karena tiada seorang pun di rumah. Aya dan Ana walaupun telah pulang, akan tetapi harus pergi lagi untuk mengurus sesuatu, hal itu dapat diketahuinya dari catatan yang ditempelkan di pintu lemari pendingin di dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bulat sayang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana dan Aya ada urusan sebentar. Makan saja dulu, tak lama kami kembali. Di Mikrowelle sudah ada makanan kegemaranmu, tinggal dipanaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluk dan cium,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana dan Aya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulat sedih. Diletakkannya hasil karangan yang akan ditunjukkannya di atas meja dapur. Di atas tulisannya itu terdapat catatan oleh gurunya, yang menyatakan bahwa ia boleh dikatakan memiliki bakat untuk menulis, dan diharapkan untuk diperhatikan di rumah. Akan tetapi untuk saat ini siapa yang akan diperhatikan. Aya dan Ana sedang tidak di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan malas-malasan Bulat kemudian memanaskan makanannya, dan kemudian membawanya ke kamar tidur, ia akan makan sambil mendengarkan radio. Mencoba tidur sehabis makan, untuk menghilangkan kekecewaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia berbering mendengarkan lagu "Bad Day" yang dilantunkan oleh Daniel Powter, ia mendengar ketukan samar-samar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah Onkel Klopfende-Wand," serunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Onkel," panggilnya sambil mengetuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuk!" jawaban yang muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku punya cerita hari ini"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuk.... Tuk. Tuk!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau mendengarnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuk!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegaslah Bulat kembali ke dapur untuk mengambil tulisan yang diletakkannya tadi di meja. Setelah kembali duduk di atas tempat tidur, lalu berceritalah Bulat pada Onkel Klopfende-Wand mengenai karya tulisnya yang diberikan nilai bagus. Ia mengisahkannya dengan melakukan ketukan-ketukan dan juga sambil membacakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada ketukan balasan. Mungkin Onkel Klopfende-Wand sedang mendengarkannya dengan hikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah selesai bercerita, Bulat pun capai dan tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia bangun, ia melihat sebuah majalah baru ada di mejanya. Dan ia tahu itu pasti dari Ana dan Aya. Mereke telah pulang, dan meletakkan majalah tersebut dan juga mengambil piring bekasnya makan, serta karangannya, akan tetapi tidak membangunkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil setengah berlari, Bulat keluar kamar dan kemudian menuju dapur. Benar saja, di sana tampak Ana dan Aya sedang membaca karya tulis yang diletakkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bulat, bagus betul ini," kata Ana sambil menghampiri dan kemudian mencium dahinya, "Mmmmuah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, Aya bangga sekali Bulat dapat menulis seperti ini," timpal Aya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makasih Ana. Makasih Aya." lanjut Bulat, "Tapi sayangnya bukan Aya dan Ana yang pertama diceritakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, bukan kami? Memang sudah cerita ke siapa?" tanya Aya ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Onkel Klopfende-Wand," sahut Bulat tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Onkel Klopfende-Wand? Siapa itu?" tanya Bunda tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak tahu! Bulat cuman tahu dulu ada yang ketok-ketok di kamar, terus Bulat balas. Lanjut deh sampe sekarang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memangnya bagaimana cara Bulat berbincang-bincang? Ketak-ketok gitu?" tanya Aya penasaran, karena ia hanya dapat membayangkan kode morse yang digunakan dalam kasus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, g tahu ya!" jawab Bulat polos, "asal aja ketoknya, atau cerita, nanti dia balas kok?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aya dan Ana tersenyum mendengar cerita Bulat, walapun mereka belum sepenuhnya percaya. Jangan-jangan itu hanya khayalannya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian diskusi pun berlanjut. Aya dan Ana menjelaskan bahwa mereka tadi pergi ke dokter kandungan. Dan dari hasil pemeriksaan diperoleh berita bahwa Bulat akan memperoleh adik. Tak dapat ditahankan gembiranya, lalu Bulat memeluk Ana dan Aya, dan masih ditambah dengan mencium dan mengelus perut Ana, yang saat itu tentu saja masih belum terlihat membulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tok.. Tok!" terdengan ketukan yang cukup keras di dinding, yang mengakibatkan Bulat terbangun dari tidurnya. Dengan masih menggosok-gosoknya matanya, Bulat kemudian balas mengetuk, "Tukkkk!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunyi sebentar. Akan tetapi kemudian, "tuk, tuk, tok!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulat bingung, apa maksudnya Onkel Klopfende-Wand. Biasanya ia yang bercerita, akan tetapi saat ini tidak. Onkel Klopfende-Wand yang lebih dulu mengetuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba terbersit suatu pikiran, mungkin Onkel Klopfende-Wand ingin memberi tahu sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada sesuatu, Onkel?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tok!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tok, tuk, tok...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulat bingung. Sulit mengertikan arti ketukan-ketukan tersebut. Akhirnya Bulat mencoba-coba berbagai kata-kata yang kemudian dijawab dengan selalu dua ketukan. Mungkin artinya "tidak" atau "bukan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya saat ia mengatakan, "telepon?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengarlah, "tuk!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Telepon?" sahut Bulat, "ada apa ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan agak bingung kemudian Bula keluar dari kamarnya dan menghampiri pesawat telepon yang terletak di ruang keluarga. Dan di sana ditemukannya keadaan di mana pesawat teleponnya tidak dalam keadaan sebagaimana mestinya. Pantas malam itu Bulat tidak mendengar adanya telepon berdering. Biasanya minimal ada satu telepon dari Oma dan Opa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulat hampir melonjak kaget saat telepon tiba-tiba berdering saat ia meletakkan gagangnya pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan takut-takut Bulat mengangkat telepon dan menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bulat di sini, malam," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bulat, ini Oma, susah betul masuknya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya Oma, tadi teleponnya masih terbuka, jadi tidak bisa dihubungi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, gitu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa Oma?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada apa-apa, cuman pengen denger suaramu saja." Oma memang kangenan banget sama Bulat. Ia suka sekali menanyakan kabar Bulat. Dan walaupun kabar yang sama diulang-ulang, tidak bosan Oma mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi Oma ini kan udah tengah malam, kok masih nelepon sih? Nggak tunggu besok pagi aja?" kata Bulat kasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, mana Oma bisa tidur sebelum nelepon kamu, Bulat. Kangen sih!" sahut Oma dengan gaya ABG-nya. Oma itu walaupun udah tua, tapi gaya bicaranya kalau dengan Bulat masih seperti anak ABG. Lain halnya kalo bicara dengan orang-orang lain, dipasangnya gaya sangar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicaralah kemudian Oma dan cucunya Bulat, yang diakhiri dengan peluk dan cium lewat telepon dan ucapan selamat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untung ada Ongkel Klopfende-Wand," gumam Bulat. "Kalau tidak, bisa-bisa Oma nggak tidur semalaman."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulat tertawa kecil kalau melihat kekangenan Oma terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih Onkel," kata Bulat saat sudah masuk kembali ke dalam selimutnya, "selamat bobo!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuk...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kisah Bulat dan Onkel Klopfende-Wand-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Onkel: paman&lt;br /&gt;- Haus: rumah (umumnya lebih dari satu lantai) yang ditinggali banyak keluarga / orang&lt;br /&gt;- Wohnung: rumah (umunya satu lantai) yang ditinggali satu keluarga / beberapa orang&lt;br /&gt;- Eisbär: beruang salju&lt;br /&gt;- Mikrowelle: alat masak microwave&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kolaborasi dengan Doodlez Milinding -- 2006-08-08&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan langsung pemuda itu membaca lanjutannya, sudah terlarut ia dalam kisah sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulat dan Ulang Tahun Oma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu adalah suatu pagi yang berudara dingin dan berlangit mendung, saat mana Bulat belum beranjak dari tempat tidurnya. Jam weker sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu, akan tetapi hal itu belum juga membuat ia bangun dan bergegas pergi ke kamar mandi seperti yang biasa ia lakukan apabila jam wekernya telah berdering nyaring. Entah mengapa, pagi itu Bulat malas sekali untuk bangun pagi. Ditambah lagi dengan cuaca dingin dan hari masih agak gelap. Membuatnya enggan untuk meninggalkan peraduannya dan masih asyik dengan bantal dan selimut tebal yang membungkus tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat terdengar suara Aya memanggil putri kesayangannya dari ruang makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bulat.., ayo bangun..! Sudah siang, nanti kamu terlambat ke sekolah," teriak Aya membangunkan Bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya.. ya.., sebentar lagi," jawab Bulat malas sambil membenamkan lagi kepalanya ke dalam bantal segi empat bergambar SpongeBob, tokoh kartun kesayangannya. Bantal itu merupakan hadiah ulang tahunnya dari Oma ketika ia berumur lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Ana pun masuk ke kamar Bulat dan duduk di pinggiran tempat tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat pagi, sayang," sapa Ana lembut sambil membuka bantal yang menutupi muka Bulat. Lalu ia mengusap rambut putrinya yang masih menutupi wajahnya hingga terlihatlah muka Bulat yang masih malas membuka mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pagi, Ana," jawab Bulat tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa Prinzessin Ana-Aya hari gini masih malas bangun yaa...," gurau Ana sambil membuka selimut tebal Bulat lalu sedikit menggelitik perut Bulat. Mau tak mau Bulat pun bangun, tapi hanya sebentar. Ia merebahkan dirinya kembali ke atas kasur empuknya, setelah tiada lagi serangan kelitikan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ana.., Bulat masih ngantuk, lima menit lagi yaa...," tawar Bulat dengan mimik yang manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Loh kok menawar, ayo dong sayang.., kami sudah dari tadi sudah menunggumu di bawah untuk sarapan pagi bersama, kasian Aya nanti ke kantornya telat," Ana memohon agar putrinya mau cepat bangun dan bisa sarapan bareng seperti biasa mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya Ana-ku sayang, tapi Ana ke bawah dulu yaa... nanti Bulat menyusul," jawab Bulat seraya memeluk Ana manja dan mencium pipi ibunya. Bulat sudah tahu kalau nanti dia mengulur-ulur waktu lagi ibunya pasti akan banyak berbicara panjang lebar dan pagi itu sudah tentu bukan waktu yang tepat untuk beradu argumen dengan Ana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai membersihkan dirinya Bulat segera mengganti baju mandinya dengan baju sekolahnya, lalu ia merapikan buku-bukunya yang belum sempat ia bereskan dari tadi malem setelah ia belajar. Selesai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas ransel warna birunya, ia bergegas pergi ke ruang makan. Di sana ia sudah ditunggu oleh Aya-Ana untuk sarapan pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pagi Aya, pagi Ana," sapanya penuh ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pagi sayang," jawab mereka hampir bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengoles roti tawarnya dengan selai kacang, Aya bertanya pada Bulat tentang tidur malamnya dan menanyakan keadaannya. Dengan roman yang lucu Bulat menjawabnya dengan sangat antusias apa yang menjadi buah tidurnya malam tadi. Diskusi pagi itu penuh keceriaan dan tawa, walaupun udara dingin masih menyelimuti dan rintik-rintik hujan mulai turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu sudah menunjukkan pukul 06.15, tiba saatnya Aya dan Bulat untuk pergi beraktivitas. Hari itu Ana mendapat jatah cuti kerja sehari, jadi hari itupun ia tidak ikut serta dengan mereka. Sambil mengantarkan ke depan pintu rumah, Ana berpesan pada bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pulang sekolah nanti, Bulat langsung pulang ke rumah yaa...., hari ini Oma ulang tahun," kata Ana sambil mencium kening putrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah..., hari ini tanggal berapa?" tanya Bulat agak surprise juga mendengar kabar bahwa hari itu Oma berulang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tanggal 11 Oktober, iya sudah, sekarang kamu berangkat tuh Aya sudah menunggumu di mobil," kata Ana buru-buru karena Aya sudah menglakson beberapa kali tanda harus segera berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh iyaa..., Bulat lupa ini sudah tanggal 11 Oktober yaa...., aduh kenapa aku jadi pelupa begini," kata Bulat sambil memegang jidatnya lalu berlari ke arah mobil yang siap meluncur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam mobil, Bulat melambaikan tangannya pada Ana. Ibunya membalas dan berpesan dengan sedikit berteriak karena bunyi deru mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hati2 Bulat, Aya.... I love you," kata Ana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Too....," jawab mereka singkat dan kemudian berlalu. Ana menatap sampai mobil yang dinaiki orang-orang yang dicintainya lenyap di balik tikungan sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam di tangan tangan Bulat telah menunjukkaan pukul 12.50. Betapa girangnya hati Bulat karena tak lama lagi ia akan pulang dan menyiapkan kado ulang tahun buat Oma tercinta. Tiba-tiba Ibu Mulan, guru bahasa, menegur Bulat sehingga ia tersadar dari lamunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bulat, apakah kamu sakit?" tanya Ibu Mulan tiba-tiba sambil menghampiri meja Bulat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh.. oh.. ee..., tidak bu," gagap Bulat menjawab karena kaget. Ibu Mulan sudah ada di depannya. Ia sama sekali tidak tahu sejak kapan Ibu Mulan berada di sana. Langsung saja wajahnya memerah malu, karena ketauan lagi melamun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf bu, saya kurang memperhatikan," kata Bulat dengan muka menunduk dan merasa bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya sudah, sana kamu pergi ke belakang dan cuci muka!" perintah Ibu Mulan pada Bulat. Bulat pun mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya. Pelajaran berlanjut lagi setelah Bulat keluar dari kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air dingin pun membasuh mukanya, tampak kini wajahnya kembali segar. Sambil bercermin ia menyesali dirinya sendiri, kenapa hal ini musti terjadi, ini sangat memalukan, katanya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama bel berbunyi tanda waktu belajar telah usai. Banyak anak-anak berhamburan keluar dari kelas. Bulat masih mencatat beberapa ringkasan dan tugas-tugas yang ditinggalkan Ibu Mulan di papan tulis. Tulisan-tulisan yang tertinggal waktu ia pergi ke belakang untuk mencuci mukanya. Ibu Mulan masih berada di kelas. Ia melihat Bulat masih mencatat tugasnya. Ia pun menghampiri dan menanyakan Bulat kenapa hari ini Bulat tidak seperti biasa. Sambil membenahi buku-bukunya, Bulat bercerita, bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Oma tersayangnya. Dan ia bingung ingin memberikan hadiah apa buat Omanya nanti dan belum menyiapkan sesuatu yang istimewa buat Oma karena baru mengetahuinya tadi pagi dari Ana ketika akan pergi berangkat sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi itu yang membuatmu banyak melamun?" tanya Ibu Mulan menegaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya bu, maafkan saya," kembali Bulat merasa bersalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, tidak..., lain kali jangan ulangi lagi yaa.... Oh ya, sampaikan salam selamat ulang tahun untuk Oma tercinta kamu, semoga panjang umur dan sehat selalu," kata Ibu Mulan yang berubah menjadi baik dan bersahabat, bahkan ibu guru itu pun kemudian banyak menceritakan pengalamannya dulu, ketika ia masih kecil. Saat ia juga sangat dekat dengan Omanya. Dan ketika Omanya berulang tahun ia memberikan sebuah kotak yang berisi gambar-gambar coretan tangannya yang dikumpulkan oleh Ibunya dari sejak ia berumur dua tahun. Omanya sangat senang dan terharu, saat ia membuka kado itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang Oma Ibu, sudah tiada dan sampai sekarang kenangan dengan Oma tercinta tetap melekat di hati Ibu," kata Ibu Mulan mengakhiri ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa suasana siang itu jadi begitu akrab. Bulat sangat senang mendengar cerita Ibu Mulan mengenai kedekatannya dengan Omanya, yang hampir mirip dengan Bulat yang juga dekat dengan Oma dan Opa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah Ana sedang menyiapkan kue ulang tahun buat Oma. Bulat yang sudah pulang sejak tadi, tidak ikut membantu Ana. Ia sibuk mencari-cari apa yang bisa dijadikan kado buat oma nanti. Hampir seluruh isi lemari di kamarnya dikeluarkan semua. Tak terkecuali isi laci dan kardus-kardus. Akan tetapi ia belum menemukan sesuatu yang surprise buat Oma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Bulat pergi ke gudang, di sana ia juga membongkar banyak tempat, kardus, lemari, dan lain-lain untuk mencari barang-barangnya waktu ia masih kecil. Bulat sangat sibuk hingga lupa makan siangnya. Ana yang dari tadi masih menghias-hias kue ulang tahun Oma, merasa sedikit aneh dengan kelakuan anaknya yang sibuk mencari-cari sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bulat, makan dulu Nak, nanti kamu sakit", kata Ana rada kuatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya Ana, sebentar lagi Bulat makan. Ini Bulat lagi mencari barang-barang Bulat", jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang kamu cari?" tanya Ana sambil menghampiri Bulat ke gudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ana, di mana Ana simpen barang-barang Bulat waktu kecil", tanya Bulat, yang tentu saja membuat Ana tak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barang-barang apa?" tanya Ana masih dipenuhi tanda tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barang-barang Bulat ketika Bulat masih kecil," jawab Bulat agak senewen karena dari tadi yang dicari belum juga ketemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh..., itu Ana simpen di lemari Ana, memang buat apa kamu mencarinya?" tanya Ana menyelidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada deh... Ana, surprise...," sahut Bulat lega, karena ternyata yang dicarinya bakal ketemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menghabiskan makan siangnya, Bulat bercerita panjang lebar mengenai hari itu, apa yang terjadi di sekolahnya dan tentu saja juga cerita tentang Ibu Mulan yang juga dekat dengan Omanya. Ana mendengarkan cerita Bulat sambil membereskan dapur yang berantakan karena membuat kue ulang tahun tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ana, kue ulang tahunnya cantik banget ya, pasti Oma seneng tuh. Dan warnanya, warna kesukaan Oma, merah muda..." Bulat memuji kue ulang tahu bikinan Ana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, apalagi kalo yang membuatnya kamu, Oma mungkin lebih suka. Oma kan sayang kamu," kata Ana sambil tersenyum dan melihat Bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yaa..., tapi Bulat...", kalimatnya tidak diselesaikan, karena ia malu belum bisa membuat kue atau memasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ana, boleh Bulat masuk kamar Ana-Aya sekarang? Bulat mau mencari barang-barang Bulat waktu masih kecil", katanya mengalihkan pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana pun mengangguk. Langsung saja Bulat melesat menuju kamar ayah-bundanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kamar Ana-Aya, bulat sudah membongkar semua perabotan kecilnya yang disimpan Ana. Tapi nampaknya Bulat kembali kecewa karena yang ia harapkan tidak ada. Semua barang-barang waktu kecilnya hanya berupa baju, selimut, sepatu, kaos kaki, dan lain-lainnya. Tapi yang dicarinya tidak ada. Dan Bulatpun mulai terlihat sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara deru mobil memasuki halaman rumah Bulat yang masih basah karena hujan tadi siang. Aya pulang sedikit terlambat karena harus terlebih dulu ke supermarket untuk membeli sesuatu. Titipan Ana juga, kado buat Oma. Wajah Aya tampak ceria sore itu. Memasuki rumah seperti biasa ia menyapa penghuni rumahnya, Bulat dan Ana, sambil membawa belanjaan langsung ke dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ana.. Bulat.. di mana kalian? Kok gak ada orang di rumah?" tanya Aya sambil membuka sepatunya. Tidak seperti biasa suasana rumah yang ditemuinya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar Aya mendapati putrinya sedang menangis di atas tempat tidur Ana-Aya. Sambil menyapanya, Aya bertanya ada apa dengan Bulat. Bukankah hari itu Oma berulang tahun, jadi seharusnya ia senang karena ia akan bertemu dengan saudara-saudara sepupunya dan juga Oma dan Opa. Mendengar itu semakin pecahlah suara tangis Bulat. Sambil memeluk Aya, Bulat bercerita. Menurutnya Ana tidak sayang padanya karena catatan-catatan Bulat waktu kecil tidak pernah dikumpulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana yang waktu itu baru saja selesai mandi, begitu mendengar cerita putrinya pada ayahnya, menjadi amat terharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ulang tahun Oma berlangsung meriah walaupun sederhana. Tamu-tamu yang datang meliputi keluarga dan tetangga-tetangga dekatnya. Oma memang omanya Bulat, dapat ia melihat kesedihan di mata cucunya itu. Di dapur Oma bertanya pada Ana, mengapa cucunya tidak ceria seperti biasanya. Mengenai apakah ada masalah di rumah tadi sebelum berangkat ke sini. Ana pun menjelaskan alasan kenapa cucu Oma itu berubah menjadi pendiam. Tersenyum Oma mendengar alasan yang dikemukakan mantunya itu. Setelah perbincangan di dapur itu, Oma beranjak menuju kamarnya di lantai atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak di ruang tengah Aya sedang asyik mengobrol bersama tamu-tamu Oma sambil menikmati jamuan makan malam. Sedangkan Bulat nampak berkumpul bersama saudara-saudara sepupunya menonton acara anak remaja yang sedang digandrungi saat itu di TV, sambil memakan makanan dan minuman ringan. Acara ulang tahun ini cukup meriah. Tampak Onkel Yunas adik dari Aya nampak tertidur kecapekan di atas sofa Oma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian pesta pun usai. Aya mengantarkan tamu-tamu Oma sampai di depan pintu. Hanya Bulat sekeluarga dan keluarga Om Yunas yang masih tinggal, saudara-saudara yang lain pamit bersama-sama dengan pulangnya tetangga-tetangga, dikarenakan rumah mereka yang jauh. Rumah Bulat walaupun di kota lain, paling dekat dengan rumah Oma di antara saudara-saudara sepupunya. Sedangkan Om Yunas tinggal di kota yang sama dengan Oma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulat kemudian mencari Ana ke dapur. Ana yang saat itu sedang asyik berbincang-bincang dengan Tante Hera, istri dari Om Yunas, begitu melihat putrinya di depan pintu dapur langsung menggapainya untuk mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa, sayang? Kamu capek?" tanya Ana saat Bulat telah sampai dan menyenderkan kepala padanya. Dielus-elus sayang rambut putrinya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enggak Ana, Tante Hera perutnya udah gendut ya... kira-kira kapan ya, dede baby-nya datang," tanyanya asal. Tak tahu apa yang harus diucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan pun berlanjut. Tante Hera pun menceritakan persiapan-persiapannya menanti kelahiran bayinya. Bulat lumayan terhibur atas cerita mengenai kelucuan bayi-bayi. Walaupun kadang hal itu mengingatkannya kembali pada kesedihannya semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira pukul dua belas lewat tengah malam, Bulat dan keluarga pamit pulang karena besok masih harus pergi sekolah dan Aya-Ana pergi ke kantor. Tante Hera dan Om Yunas berencana memang akan bermalam di sana. Oma memeluk Bulat erat-erat. Bulat mengatakan maaf karena tidak sempat membawa kado buat Oma. Mendengar itu Oma hanya tersenyum dan mengatakan bahwa kedatangannya sudah cukup membuatnya bahagia daripada sebuah kado. Kemudian Oma memberikan oleh-oleh sebuah kotak segi empat berpita biru pada Bulat. Kotak yang sedari tadi berada di belakang punggungnya. Bulat terlihat bingung dengan apa yang diterimanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi Oma.., bukankah Oma, yang ulang tahun yang harusnya menerima kado ini, bukannya Bulat," kata Bulat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, tapi ini Oma sudah siapkan sejak jauh-jauh hari sebelum Oma akan berulang tahun," kata Oma sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terimalah sayang, ini buatmu, dan semoga kamu menyukainya yaaa..., ayo dong cucu Oma kok cengeng begini, mana senyummu berikan sekali buat Oma, biar Oma tak akan melupakannya malam ini", canda Oma yang membuat Bulat menjadi tersenyum malu, lalu memeluk manja Oma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih, Oma..., nanti aku akan buatkan kue kesukaan Oma tapi buatanku sendiri dan aku berjanji ingin belajar pada Ana", kata Bulat penuh semangant. Bangkit keceriaan di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya.., sekarang pulanglah, cepatlah tidur, kado itu nanti aja setelah sampai rumah baru kamu buka, jangan nakal, pintar-pintarlah belajar, nurut sama Ana-Aya!" Nasehat Oma yang serasa sudah hapal di luar kepala oleh Bulat. Setiap kali Bulat berkunjung ke Oma, saat akan pulang ia selalu mengatakan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya Oma," jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi cucu dan nenek itu saling berpelukan, seakan-akan keduanya tidak ingin berpisah malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah perjalan pulang Bulat berkata pada Aya juga Ana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aya dan Ana, bolehkah aku malem ini tidur bersama kalian?" tanya Bulat penuh harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa nggak bobo sendiri di atas, Bulat takut..??" tanya Ana dengan wajah yang sudah mengantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bulat mau nonen ya..., sama Ana," kata Aya sedikit meledek Bulat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"IIIhh.. Aya, Bulat kan sudah gede," Kata Bulat sambil memonyongkan bibir mungilnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, iya..., tidurlah nanti bersama kami", kata Ana mencairkan suasana malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih Ana, Aya jelek weeeek...," kata Bulat sambil mencium pipi Ana lalu menjulurkan lidahnya ke Aya. Aya pun membalasnya dengan kilikan di pinggang. Suasana malam itu menjadi cair dan cerita. Aya berkata bila nanti sudah tiba di rumah Bulat pasti sudah digisangnya habis-habisan. Bulat tertawa, dia sudah membayangkan bagimana Ayanya akan menggelitikinya dan mencium gemas padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas tempat tidur mereka bertiga pun mulai bersiap-siap untuk tidur. Semua saling mengucap selamat tidur. Ana dan Aya mencium kening sang buah hati yang berbaring di antara mereka. Tak lama kemudian Aya sudah terdengar mengorok dan Ana juga sudah terlihat sudah tidur. Akan tetapi Bulat masih belum dapat memejamkan matanya. Masih teringat ia akan kotak segi empat berpita biru yang tadi berikan Oma kepadanya. Akhirnya ia bangun dan berjalan menuju meja TV, ke tempat di mana ia meletakkan kotak berpita biru oleh-oleh dari Omanya itu. Ia sudah tidak tahan ingin melihat isinya, padahal Ana tadi berpesan agar besok saja membukanya, karena saat ini sudah hampir dini hari dan Bulat kudu bobo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pita yang membalut kotak itu perlahan ia tarik, sambil duduk di atas bangku kayu yang terletak di sisi tempat tidur. Ia pun membuka pelan kotak itu dan mulai menjenguk isinya. Ada sepucuk surat di atas jilidan kertas-kertas yang tampak sudah menguning dimakan usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dear Cucuku yang manis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini Oma sangat bahagia sekali, bisa melihat semua orang-orang yang Oma sayangi datang ke ulang tahun ini, termasuk kamu tentu saja. Jangan sedih lagi ya... Oma jadi ikut sedih kalo cucu Oma yang cantik ini murung tidak ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By The Way... (pada saat membaca bagian ini Bulat tersenyum, karena gaya bahasa Oma seperti ABG saja) ini adalah kumpulan surat-surat dan coret-coretan tanganmu ketika kamu masih kecil. Anamu sangat rajin sekali mengirimkan perkembanganmu dari waktu ke waktu, sejak kamu masih berumur 1 bulan hingga sekarang kamu sudah berumur 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu di rumah Oma belom mempunyai telepon seperti sekarang ini yang bisa menghubungimu kapan saja kalo Oma kangen. Sekarang kamu jangan sedih lagi ya... Oma jadi sedih kalo mukamu murung seperti tadi. Oma sayang kamu. Met bobo dan mimpi yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;peluk cun dari Oma"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa meleleh air mata Bulat dan jatuh di atas surat Oma. Bulat terharu membaca surat itu. Kemudian ia membuka kertas-kertas yang penuh coret-coretan yang tidak beraturan itu sambil tersenyum-senyum sendiri. Coretan-coretannya semasa kecil. Ia teringat kembali kenangan masa kecil yang penuh kasih sayang Aya dan Ana, juga Oma. Ingatannya kembali ke masa lalu, sesuatu hal yang amat tak dapat ia lupakan adalah saat mencoret-coret dinding-dinding rumah Aya-Ana. Di kamar tidurnya sampai sekarang masih terdapat sisa-sisa hasil-hasil karyanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulat kembali ke tempat tidur, sambil kemudian mencium Aya dan Ana. Ia membisikkan sesuatu di telinga Ana. Ana yang tadi terlihat tertidur lelap, ternyata hanyalah pura-pura belaka. Lelehan air mata Ana membasahi bantal putihnya saat putrinya mengecup dahinya. Terharu ia melihat putrinya dan kenangan-kenangannya dalam wujud coretan-coretan itu. Keduanya pun saling berpelukan dan kemudian tertidur hingga pagi yang cerah menyapa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Prinzessin: puteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dede baby: adik bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Nonen, ronen: merogoh nenen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Gisang: mencium dengan gemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kudu: harus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bobo: tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Cun: cium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- Kolaborasi dengan Doodlez Milinding -- 2006-08-15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terharu pemuda itu. Kisah dua terakhir benar-benar menyentuh hatinya. Ia yang tidak terlalu ingat mengenai keluarganya merasa kisah-kisah itu bisa mengisi kekosongan batinnya saat ini. "Sebaiknya kuteruskan membaca buku ini," gumammnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Maya dan Nyata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari pada hari yang lain. Nein Arimasen, orang itu tampak tidak senang dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh seorang wartawan di kantornya. Wartawan itu bernama Si Ingin Tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Nein," katanya, "mengakulah bahwa Anda ini tidak lain adalah Andi Muhammad. Saya telah menelusuri sejak keberadaan anda di internet. Dan lagi buku-buku anda dijual pada toko online yang sama, di mana buku-buku Andi Muhammad pun dijual."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu, Nein Arimasen hanya dapat menghela napas, lalu jawabnya, "Pak Si," begitulah panggilan akrab Si Ingin Tahu, "jika saya menjual buku-buku saya secara online di toko yang juga menjual buku-buku J.K. Rowling, apakah berarti seorang Nein Arimasen itu juga seorang J.K. Rowling? Tidak, bukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau itu, ya.. jelas tidak!" sanggah Pak Si cepat, "tapi untuk kasus anda ini unik. Hanya beberapa nama yang muncul di toko online itu. Dan saya yakin, berdasarkan riset saya bahwa anda adalah juga Andi Muhammad."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"No comment untuk itu," jawab Nein, "seorang pengarang berhak toh, untuk tetap menggunakan nama penanya. Biarkan orang itu eksis. Jangan dikait-kaitkan dengan saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah karena orang itu, Andi Muhammad, memiliki haluan yang berbeda dengan anda, sehingga anda tidak mengakui dirinya sebagai diri anda?" tanya Pak Si keukeuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Si," akhirnya mengeras suara Nein, tak sabar ia akhirnya, "kita telah kenal sejak lama. Sejak saya meminta tolong pada Pak Si untuk membantu meresensikan karya-karya saya, sehingga pembaca dapat mengenalnya. Akan tetapi bukan dengan alasan bantuan itu sehingga Pak Si berhak memaksakan kehendak Pak Si untuk memperoleh berita mengenai orang itu, anu, siapa namanya tadi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Andi Muhammad..," jawab Pak Si cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, orang itu yang saya maksud," ucap Nein, "tak lazim pula nama itu di telinga saya. Bagaimana pula saya bisa pake nama pena itu, bila itu benar saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi.., anda mengakuinya?" tanya Pak Si penuh harap. Bila hal ini benar, dapatlah ia berita hangat untuk malam ini bagi korannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan, itu hanya ilustrasi," jawab Nein, masih dengan nada jengkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut ruangan, Dancewith Ghost tampak tersenyum-senyum sendiri. Ia yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan itu, tak dapat menyalahkan Pak Si seratus persen. Ada benarnya mengapa Pak Si sampai curiga pada Nein bahwa ia adalah orang yang dimaksud Pak Si. Terlalu banyak kebetulan belaka. Untung saja dirinya tak ikut dikait-kaitkan. Ia juga menjual buku-bukunya pada toko online yang sama. Memang ada beberapa orang yang menjual buku di sana. Akan tetapi produk yang paling banyak memang dua orang itu. Jadi jelas mengapa 'kebetulan' mengarah ke mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah jika demikian," lanjut Pak Si, "mari kita omongkan soal novel yang akan anda tulis." Akhirnya Pak Si mengalah, walaupun di hatinya masih gondok bahwa misinya untuk menembak Nein dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang sudah dipersiapkannya, tidak berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, itu baru betul," jawab Nein kembali antusias. Lalu jelasnya mengenai novel yang akan dituliskannnya, yang berisikan lanjutan dari novel sebelumnya, dikemas masih dalam setting waktu dan geografis yang sama, akan tetapi dengan alur yang lebih sederhana dan cepat. Beberapa pembaca memberikan umpan balik, bahwa novel terakhirnya terlalu rumit dan meloncat-loncat dalam aluran waktu. Perlu pembaca serius untuk dapat mengertinya. Pembicaraan itu pun berlanjut sampai matahari telah tenggelam dari kaki langit sebelah barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Si pun pamit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yo.., Nein..," tanya Dancewith, "boleh dong gua tahu, sebagai teman, apa bener itu si orang itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Heee...! Jangan mulai lagi dong," rengut Nein. "Udah cukup gua hari ini ketemu Pak Si. Ditembak dengan pertanyaan-pertanyaan ga beralasan itu. Masih untung dia g menulis dugaannya di korang. Bila iya, makin banyak tembakan ke gw, deh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sorry, bro!" jawab Dancewith, "cuman becanda. Jangan dimasukan ati ya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nein hanya mengangguk. Di persimpangan Jalan Gajah dan Tikus, mereka berpisah. Nein menuju utara sedangkan Dancewith menuju selatan, pusat kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, setelah bersih-bersih, makan dan menenangkan diri. Nein pun membuka PC-nya, ditujunya suatu situs yang hanya diketahuinya sendiri dan beberapa orang. Termasuk di dalamnya orang yang namanya dituduhkan sebagai dirinya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama muncul sebuah pesan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagus...! sasaran telah tampak. Orang-orang sudah mulai mencurigaimu. Terus berupaya membentuk kecurigaan. Sesuaikan dengan rencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Master Kenobi"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nein tersenyum membaca itu. Master telah tahu kunjungan dan juga tuduhan Pak Si. Hal ini memang direncanakan, agar jangan sampai dugaan mereka mengarah pada orang yang sebenarnya. Lebih baik salah sasaran, sehingga tokok sebenarnya masih dapat bergerak bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menulis berbagai hal, merinci apa-apa yang ditanyakan Pak Si tadi, Nein pun mematikan komputernya. Master tahu kunjungan Pak Si, karena itu seperti perkiraannya semula. Akan tetapi ia perlu pelaporan dari Nein untuk detil-detil yang terjadi. Nein puas. Ia telah melaksanakan tugas yang diberikan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diputuskannya untuk tidur. Hari telah larut. Pekerjaan kantor, biarlah besok saja dilanjutkan. Walau sudah kadung dibawa pulang, tak ada selera ia membereskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidur merupakan obat yang baik. Obat bagi ketegangannya tadi siang. Besok, entah tugas apa lagi yang diberikan Master padanya. Di harus fit dan siap. Setiap saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kapan halusinasi ini akan berakhir. Selama nafsu-nafsu masih merajalela dan dipupuk keinginan membuta. Entah nanti. Mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25-9-2006 -- 2006-09-25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hah!! apa maksudnya ini?" ucap pemuda itu dan lalu ia teringat akan perkataan ayahnya saat ia menemukan buku ini. Ia pun kemudian mengangguk-angguk. Memang benar perkataan ayahnya, Seh Pratahu, bahwa buku itu bukan buku yang bagus. Mungkin dari penuturan dan ceritanya yang meliar ke sana-kemari, ayahnya menilainya sebagai buku yang kurang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi bagaimanapun, tidak mudah menulis sebuah buku," ucapnya pada dirinya sendiri. "Mungkin baik bila aku gunakan buku ini sebagai kerangka atau sumber ide untuk cerita yang ingin aku tulis suatu saat nanti."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera ia berlari ke ayahnya untuk mengembalikan buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kisah pun berlanjut untuk dituliskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37308236-3483803986030114396?l=elemen-kekosongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elemen-kekosongan.blogspot.com/feeds/3483803986030114396/comments/default' title='Kommentare zum Post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37308236&amp;postID=3483803986030114396&amp;isPopup=true' title='3 Kommentare'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37308236/posts/default/3483803986030114396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37308236/posts/default/3483803986030114396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elemen-kekosongan.blogspot.com/2007/05/kisah-kisah-antar-ruang-dan-waktu.html' title='Kisah-kisah antar Ruang dan Waktu'/><author><name>Ayah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37308236.post-6859375987519981746</id><published>2007-03-16T18:47:00.000+01:00</published><updated>2007-05-01T17:35:15.550+01:00</updated><title type='text'>Menari Bersama Air</title><content type='html'>"Ini yang namanya pantai, tepi daratan..," ucap seorang pemuda pada dirinya sendiri sambil berdiri memandang gulungan-gulungan kecil ombak yang saling susul dan bertumbuk burai. Pemuda baru saja tiba dari perjalannya dari arah utara menuju pantai tersebut yang terletak jauh di selatan. Batas dari tlatah tersebut dengan lautan. Pantai Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa jari-jemari kakinya yang telanjang bermain-main dengan pasir-pasir pantai. Melesak dan tergores halus. Tanpa terasa ia berjalan perlahan sampai kedua kakinya tercapai oleh sisa-sisa ombak yang kadang sampai kadang tidak ke tempat ia berpijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pemuda itu, batas darat dan air sebenarnya sudah pernah ia alami. Ia tidak asing dengan air, akan tetapi bukan air yang bagai tak bertepi seperti sekarang. Lautan. Melainkan ia pernah tinggal bersama orang tuanya di sebuah pulau di tengah danau, jauh di utara sana. Pulau di puncak Gunung Berdanau Berpulau. Sebelah utara dari Padang Batu-batu. Yang terakhir ini baru saja dilewatinya beberapa saat yang lalu. Tempat yang pula di sana hatinya tertambat dan menjadinya tujuan untuk kembali berlabuh. Tepatnya tiga tahun dari saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaga pemuda itu, setelah puas melamun dan menikmati keindahan ciptaan Sang Pencipta, mulai mencari-cari dengan matanya kalau-kalau ada orang untuk ditanyakan. Ia pergi ke pinggir lautan ini untuk mencari suatu kelompok yang disebut Suku Pelaut. Orang-orang yang hampir sepanjang hidupnya tinggal di laut. Bukan hanya melaut tapi benar-benar hidup di atas air. Dari mereka hendak dicarinya ilmu-ilmu beladiri tinggi, seperti dipesan oleh orangtuanya. Ilmu yang cocok dengan jenis tenaga yang telah dilatihnya. Tenaga Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Padang Batu-batu Telaga telah mendapat dua orang guru yang mengajarkan ilmu pedang menggunakan pedang panjang, Ilmu Pedang Panjang dan ilmu berkelahi tangan kosong yang berisikan gerakan-gerakan menyebet dengan telapak tangan serta tangkisan dan bantingan. Guru yang pertama adalah Walinggih, yang mengajarinya dua jurus pokok, yaitu Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi dan Sabetan Tunggal Menuai Dua. Sedangkan dari guru keduanya, Arasan ia memperoleh dua jurus pula, yaitu Menebang Kelapa dan Berkelit Membanting Padi, gerakan-gerakan yang diturunkan dari kegiatan keseharian orang-orang yang hidup dari bercocok tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbekal Tenaga Air yang telah diturunkan oleh ayah dan ibunya, Ki dan Nyi Sura, Telaga dapat dengan mudah menyelami dan mempelajari gerakan-gerakan yang diajarkan oleh kedua guru berikutnya selama berada di Padang Batu-batu. Tapi ia belum merasa puas. Selain belum benar-benar merasa cukup, juga orang tuanya menganjurkan ia mencari orang-orang Suku Pelaut, memohon menjadikan dirinya murid dan mempelajari gerakan-gerakan beladiri mereka yang memang khusus dibuat untuk pengamal ilmu Tenaga Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ia melihat setitik kecil sesuatu berlayar di pinggir horison mendekat ke arah pantai di sebelah kanannya. Perlahan-lahan titik tersebut membesar dan terlihat semakin jelas. Sebuah perahu nelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegas ia setengah berlari menuju ke pantai tempat perahu tersebut hendak berlabuh. Bila ada nelayan mendarat, pasti tak tahu dari sana ada perkampungan. Dan di perkampungan nelayan adalah tempat yang baik untuk mulai bertanya mengenai Suku Pelaut yang menjadi tujuannya sampai ke pantai ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat perahu yang ditujunya mendarat, Telaga menjadi terkejut saat mendapati bahwa perahu tersebut dikemudiakan oleh seorang gadis. Gadis tersebut tampak cekatan dalam menggulung layar untuk kemudian melompak keluar dan menarik perahunya sendiri sampai cukup jauh dari batas air laut. Setelah itu ia mulai membereskan barang-barang tangkapannya dari laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaga yang baru kali ini menyaksikan seorang nelayan perempuan, hanya bisa terpaku melongo. Tak sepatah kata pun terlontar dari mulutnya. Ia hanya memandang kagum dan membisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis tersebut dengan cekatan dan sigap setelah membereskan perahunya dan mengangkat hasil tangkapannya dari laut, bergegas berlalu dari situ. Ia tidak memperdulikan tatapan Telaga yang masih berdiri tak jauh dari sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, harus aku ikut dia..," tersadar Telaga dari kekagumannya. Ia pun kemudian beranjak untuk mengikuti langkah gadis tersebut yang tidak saja cepat tetapi juga lebar-lebar. Bukan langkah kaki gadis-gadis kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira tiga ratus langkah dari tempat perahu gadis itu ditambatkan, setelah melalui semak-semak dan pohon-pohon kelapa serta nyiur, sampailah mereka di suatu lapangan agak terbuka. Tak jauh di depan sana tampak semacam pintu gerbang yang terbuat dari dua buah pohon kelapa yang hidup. Digantungi berbagai pernik untuk melaut dan terpampang nama desa itu, Tepi Darat Selatan. Suatu nama yang menandakan desa itu berada di bagian paling selatan dari daratan itu, setidaknya menurut para penghuninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah gadis tersebut berlalu dari pintu desanya, Telaga menjadi ragu untuk terus mengikuti. Ia adalah orang asing, tamu tepatnya, yang belum tahu harus menuju ke mana di desa tersebut. Mengikuti gadis tersebut sampai ke rumahnya adalah tidak baik. Belum mereka berkenalan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ia memutuskan untuk tidur dulu malam itu di luar desa, baru besok pagi ia akan berkunjung ke sana. Hari sudah menjelang senja, matahari tampak sudah mulai menghilang di ujung barat pantai. Telaga mencari-cari matanya, sampai menemukan sebuah batu karang yang dinaungi oleh beberapa pohon kelapa yang agak membungkuk. Tempat yang cukup baik untuk bermalam. Cukup terlindung dari angin. Ia pun membuka perbekalannya, makan dan setelah itu mulai beristirahat di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama ia pun mulai terlelap dibuai angin semilir yang mengalun lembut di sela-sela karang yang membelakanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena kurang pengalaman atau karena saking lelahnya, Telaga tidak waspada sehingga ia tidak menyisakan sedikitpun kesigapan untuk segera terbangun apabila ada suara-suara mencurigakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini pemuda yang tadi mengikutimu, Mayiya?" kata suara seorang tua yang terdengar agak serak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, kakek! Pemuda ini," jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tampaknya tidak bermaksud jahat," ucap orang tua itu lagi sambil mengamat-amati Telaga yang tertidur pulas, meringkuk miring dan juga mendengkur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum tentu, mungkin belum muncul saja aksinya," ucap gadis itu. Rupanya sedari tadi Telaga memperhatikannya dengan kagum, ia sudah tahu dan merasa tidak nyaman. Akan tetapi karena tidak ada siapa-siapa di antara mereka kecuali pasir dan air laut, Mayiya memutuskan untuk segera pulang ke desangnya. Lebih aman di sana. Setelah sampai ke rumahnya lalu ia melaporkan hal ini kepada kakeknya, Pelaut Ompong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan terlalu curiga, tidak baik!" ucap kakeknya si Pelaut Ompong kemudian. "Jadi apa maumu sekarang, apabila engkau masih mencurigai pemuda itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita tangkap dan ikat saja, kakek! Besok baru kita tanyai," usul cucunya itu. Suatu usul yang terdengar kasar dan asal-asalan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu engkau yang tangkap dia," goda kakeknya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, kakek!" rengek sang cucu manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, baik, aku tangkap dia. Tapi awas ya, kalau engkau yang salah, engkau harus minta maaf kepadanya. Mengerti!" jawab kakeknya tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dara itu mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dengan perlahan kakek itu melangkah ringan, saking ringannya tapak kakinya tidak berbekas di atas pasir yang diinjaknya. Jadi apabila Telaga tidak dalam keadaan tidur pulas pun, sudah sulit untuk mendengar kedatangan mereka, apalagi saat ia benar-benar merasa aman dan lelap istirahatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm, cah.., cahh.., kalo tidur itu sebaiknya tengkurap! Biar gampang notoknya...," gerutu kakek itu saat telah berada di samping Telaga yang masih tertidur dengan posisi miring meringkuk memeluk kantung perbekalan dan juga lututnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di punggung saja kayaknya, masih terbuka..," ujar kakek itu kemudian. Lalu Pelaut Ompong itu pun segerah perlahan mengusap punggung Telaga, sampai ia merasakan sebuah jalan darah yang dicari, dan... "Tukk!!!" jempolnya memijit pelan. Tubuh Telaga tampak sedikit tersentak tapi pemuda itu tidak terjaga. Mungkin tubuhnya sedikit bereaksi secara reflek terhadap aliran tenaga totokan itu, tapi tidak cukup kuat untuk menolak dan membangunkan orangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah, kek?" tanya dara itu kemudian, memecah keheningan yang hanya terisi oleh deburan ombak dan gemerisikan angin di sela-sela daun kelapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah! Sekarang kamu yang bawa, Mayiya!" perintah kakeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu mengangguk. Lalu dengan sigap ia mengambil barang bawaan Telaga, menyatukannya dalam kontong dan memanggul sang pemuda. Bobot Telaga seakan-akan tiada berarti bagi gadis itu, walaupun tingginya hampir sama dengan Telaga. Bila saja Telaga sadar mungkin ia bisa merasa malu, dipanggul sedemikian rupa oleh seorang gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan malam itu pun berlalu dengan tenangnya. Mayiya tenang karena pemuda yang diduganya punya maksud jahat terhadap dirinya telah ditangkap dan disekap di ruang kecil di belakang rumah sana. Sedangkan Telaga tenang kerana tidak tahu apa-apa, bahwa tempat tidurnya telah berpindah tempat. Hanya Pelaut Ompong yang masih agak tertegun saat membantu membawakan barang-barang pemuda itu. Sebilah pedang panjang. Mirip dengan pedang seseorang yang pernah dikenalnya dulu, jauh di sebelah utara. Pedang itu dibungkus kain-kain dan kulit kayu dan digunakan sebagai tongkat. Bila ia tidak memegang sendiri, mungkin masih dikiranya itu adalah tongkat. Dengan itu, Pelaut Ompong menjadi lebih berhati-hati. Mungkin saja dugaan cucunya benar, pemuda itu bukan orang biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kukuruyukkkk!!! Kukuruyukkkk!!!" suara satu dua ayam jago memecah kehehingan pagi. Didahului dengan sepercik cahaya pertama dari ufuk timur, ayam-ayam pejantan itu berdulu-dulu meneriakan kabar bahwa hari baru telah datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Agggghhhh!!!" ucap merdu seorang gadis yang menggeliat. Ia tampak manis dengan rona merah wajahnya yang masih kusut akibat tidurnya. Mayiya baru saja bangun dan sempat bermimpi soal pemuda yang dipanggulnya kemarin. Saat ia benar-benar tersadar, langsung ia bangkit dan menuju ruang tengah rumahnya, hendak bertanya pada kakeknya apa yang kemarin itu benar-benar nyata atau hanya mimpi belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pagi, Mayiya!" sahut kakeknya yang sudah duduk di ruang tengah dengan ditemani kepulan kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayiya tidak segera menjawab karena mulutnya terasa tersumbat. Di samping kakeknya tampak seorang pemuda sedang meniup-niup gelas kopi yang ada di dalam tangannya. "Huuuhh!! Huhhh!! Masih panas...," ucapnya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakek, itu.... dia...?" ucap Mayiya pelan sambil menunjuk sang pemuda. Pemuda yang dipanggulnya kemarin malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, nak Telaga? Nak Telaga ini cucuku, Mayiya. Dia yang minta engkau tadi malam diperlakukan secara 'istimewa'," ucap Pelaut Ompong dengan gurau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah merona tampak pada muka Mayiya. Malu sekali ia. Orang yang "ditangkap"-nya tampak tenang-tenang saja, sudah bangun dan malah sedang menemani kakeknya minum kopi. Dan ia sendiri... masih belum merapikan rambutnya. Bergegas ia kembali menghilang dalam kamarnya, menyibakkan kain penutup ruangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hahahahaha...!" kakek Mayiya tampak tertawa puas. Senang ia menggoda cucunya. Memang hubungan antara kedua orang itu, cucu dan kakek, benar-benar akrab. "Itulah cucuku, nak Telaga. Ayo jangan sungkan-sungkan, bila sudah dingin langsung saja dihirup. Nanti siang, minuman dan masakan yang lebih enak, buatan Mayiya lebih enak dari buatanku, bisa engkau nikmati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaga yang tak tahu harus mengucap apa, hanya mengangguk-angguk saja. Sambil perlahan diambilnya ubi bakar yang disajikan dan menguyahnya pelan-pelan. Sambil tak lupa tetap meniup-niup kopi yang sekarang sudah mulai agak dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ceritakan soal Walinggih! Bagaimana kabarnya sekarang?" tanya Pelaut Ompong kemudian. Benar seperti dugaanya, pemuda itu ada kaitannya dengan Walinggih, seorang yang pernah dikenalnya dulu. Seorang pengguna pedang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kunyahan ubi bakar dilancarkan dengan kopi yang dihirupnya. Telaga pun mulai menceritakan mengenai keadaan Walinggih, sampai terakhir ia bertemu dan pamit untuk melanjutkan merantau ke arah selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi engkau ingin mencari Suku Pelaut?" tanya gadis itu kepada seorang pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya. Tahukah engkau di mana mereka bisa ditemui?" tanya pemuda itu balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku pernah mendengarnya dari kakek, bahwa mereka itu sulit dicari. Hidup benar-benar di tengah laut dan jarang merapat. Hanya saat-saat tertentu saja mereka merapat. Benar-benar 'orang laut'," jawab sang gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adakah yang bisa menunjukkan di mana aku bisa mencari mereka?" tanya pemuda itu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggulah sampai kakakku, Mayayo, pulang! Ia banyak tahu. Bahkan dengar-dengar ia pernah bertemu dengan salah seorang dari mereka. Ia diselamatkan dari amukan badai oleh mereka dan diantar pulang ke darat karena perahunya telah hancur," cerita gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangguk-angguk pemuda itu mendengar penjelasan sang gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh.., Telaga..," ucap gadis itu lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya... Mayiya..?" jawab sang pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Soal waktu itu..., aku...," ucap sang gadis dengan wajah tersipu malu. Merona merah wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, tak usah dipikirkan. Engkau bisa daja benar, bahwa aku adalah orang jahat yang hendak menunggu tengah malah untuk menyelinap menyerangmu. Itu sudah tindakan bagus. Paling tidak engkau tidak melukai aku sebelum bertanya," jawab pemuda itu sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku... minta maaf!!" ucap gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak ada yang perlu dimaafkan, hanya kesalahpahaman saja," jawab sang pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih!!" berkata gadis itu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayayo, kakak Mayiya, masih membutuhkan waktu kira-kira beberapa minggu sebelum kembali ke desa itu, Tepi Darat Selatan. Jadi selama menunggu Telaga diajar oleh Mayiya dan kakeknya Pelaut Ompong hal-hal mengenai laut. Kalau-kalau Telaga harus berlayar seorang diri dan bertahan hidup di tengah laut. Dari cara mencari ikan, menghemat tenaga sambil berendam di sisi perahu, menyuling air laut untuk minum dan mengobati sengatan matahari dan juga ubur-ubur serta ular laut. Banyak hal yang diajarkan oleh kedua orang itu kepada Telaga. Jarang mereka mendapat kunjungan orang luar, dan orang luar yang tertarik dengan penghidupan mereka. Kepada Telaga mereka menjadi amat terbuka dan menceritakan banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai balasan Telaga mengajarkan Mayiya, karena Pelaut Ompong sudah merasa terlalu tua untuk belajar, ilmu-ilmu yang dimilikinya. Salah satunya adalah ilmu pedang panjang dan jurus-jurus beladiri tangan kosong warisan Arasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayiya yang cerdas dapat dengan mudah mencerap apa-apa yang diajarkan. Bahkan teman-temannya, baik laki-laki maupun wanita menjadi bersemangat dan ikut berlatih. Telaga menjadi tamu yang amat diterima di sana. Membuat suasana desa itu menjadi ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini yang disebut Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi...," ucap Telaga sambil menunjukkan gerakan-gerakan yang bersalto balik, menyerang dengan pedangnya dan tidak terjatuh, melainkan melenting kembali ke tempat pijakan tadi ia melompat. Suatu serangan yang sulit diduga oleh lawan yang belum tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikarenakan pedang panjangnya hanya satu dan anak-anak muda yang lain ingin ikut juga berlatih, akhirnya dibuat pedang-pedangan dari bambu yang ditengahnya diisi oleh pasir besi, agar beratnya menyerupai berat pedang panjang. Jurus-jurus pedang panjang hanya bisa dilakukan apabila pedang yang digunakan cukup berat dengan titik beratnya berada di pertengahan ujung dari pedang. Bagi yang tidak tahu dan ingin meniru tanpa tahu seluk-beluk pedang yang digunakan, tidak akan berhasil. Apalagi menggunakan pedang biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukanlah desa atau kota atau kumpulan komunitas lain bila seorang baru yang datang, mendapat banyak perhatian dan tidak ada yang tidak senang. Ada seorang pemuda, Wassa, yang telah lama menaruh hati kepada Mayiya. Ia menjadi tidak senang dengan kedatangan Telaga yang tampaknya dekat dengan pujaan hatinya. Ia menjadi gusar terbakar api cemburu, walaupun ia sendiri belum pernah menyatakan maksud hatinya kepada sang gadis. Wassa memang berniat untuk mengatakan apa isi hatinya, tapi untuk itu ia hendak menunggu Mayayo, sang kakak dari Mayiya. Di kampung itu ada adat bahwa pernyataan suka dan ada niat untuk meminang harus dikatakan kepada wakil dari yang hendak dipinang. Dalam ini Mayayo adalah wakil dari Mayiya. Pelaut Ompong, sang kakek telah berpesan akan hal itu kepada Wassa. Sebagai orang tua dari ayah Mayiya dan Mayayo ia wajib menikahkan cucu-cucunya, tapi menerima pernyataan ingin meminang Mayiya adalah kewajiban Mayayo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ombak yang bergulung-gulung tinggi, berkejar-kerjaran dalam angin, berlomba-lomba datang, menghantam perahu dan menjatuhkan airnya ke atas geladak kecil tersebut. Seorang pemuda dengan tabah tampak masih berusaha menurunkan layar perahu kecilnya, mengurangi kuasa angin atas perahunya. Kekuatan pengaruh air atas biduknya tak dapat ia reduksi, kecuali harapan dalam hati kepada Sang Pencipta, agar ia masih dapat pulang dengan selamat ke kampungnya. Tampak lelah sudah wajah sang pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampungnya, Tepi Darat Selatan. Kakeknya, Pelaut Ompong. Adiknya, Mayiya. Berkelebat cepat semua apa-apa yang ada di dalam angan. Apa ini tandanya orang yang menjelang maut? "Tidak!!" ucap pemuda itu membantin. "Ini belum berakhir! Selama masih ada nafas, tak akan ia menyerah!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera setelah semangatnya pulih, ia teringat pada ujar-ujar dari para tua-tua, bahwa dalam keadaan badai menggila dan berangin, ikatkan diri pada tiang perahu. Jangan sampi jauh dari satu-satunya pelampung kehidupan di tengah lautan. Segera dengan tali yang dapat digapainya, dililitkan dirinya kepada tiang layar perahu kecilnya. Dililitkannya berkali-kali. Satu, dua, tiga.., entah sampai berapa kali putar. Sebanyak-banyaknya, sampai ia sendiri berdiri lemas. Basah, kedinginan dan lelah. Dengan topangan ikatan tali itu, ia masih bisa berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ombak yang bergulung tinggi, datang seakan tak hendak berhenti. Bertubi-tubi dan silih-berganti. Perahu diombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Dibolak-balik sesuka hati. Untuk saja ada konstruksi, yang membuat perahu dapat tegak kembali. Bila tidak, sudah pasti, sang pemuda bagi ikan-ikan menjadi sarapan pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran yang perlahan menghilang menyambut sang pemuda. Tertunduk kepalanya lemas. Bak orang yang telah tiada nyawa. Pasrah biarkan diri dipermainkan gelombang laut tiada iba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi memang hari itu bukan hari akhir bagi Mayayo, sang pemuda yang terikat di tiang perahu. Alam berangsur-angsur mulai melunak. Menaruh iba dan berbaik hati. Angin meredup dan gelombang berangsur-angsur mengecil. Laut lalu menjadi tenang. Amat tenang seakan-akan hampir tiada angin bertiup. Suatu kontras yang amat sangat, bila dibandingkan dengan keadaan beberapa saat sebelumnya. Kuasa Sang Pencipta, sosok dari mana seluruh isi alam ini berasal, yang kuasanya bertebaran di mana-mana. Hanya sayang kita kadang kurang menyadarinya sehingga sering terlupa untuk bersyukur dan mengharap dengan tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan matahari pagi mulai menampakkan sinarnya dari arah biasanya. Kaki langit sebelah timur tampak bersinggungan dengan lautan sejauh mata memandang. Sinar temaram kuning mentari peralahan-lahan mulai menjadi semakin cerah. Ia muncul untuk menghantarkan kehangatan kepada seluruh lautan dan penghuninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hiattt!!!" teriak seorang dara dengan lantangnya. Dengan gerakan yang lincah dan menawan ia melompat ke sana-ke mari di atas balok-balok kayu yang terapung-apung di tengah laut tersebut. Balonk-balok yang satu sama lain diikat dengan tali sehingga tidak dapat saling menjauh atau mendekat. Balok-balok tersebut diikat membentuk jaring kotak-kotak yang di keempat ujung jauhnya ditancapkan pada sebuah pelampung besar yang dijangkarkan ke dasar laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun terlihat balok-balik tersebut mengapung, akan tetapi tidaklah terlalu besar beban yang dapat ditampungnya. Oleh karena itu orang yang berlompatan di atasnya harus hanya hinggap sebentar untuk kemudian berpindah pada balok yang lain. Jika tidak, sudah dipastikan yang hinggap di atasnya akan tenggelam. Ini adalah salah satu bentuk latihan ilmu meringankan tubuh yang dilatih di tengah-tengah laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dara tersebut dengan busana ringkas berwarna biru muda, warna yang dominan di daerah yang didominasi oleh air, tampak tak kenal lelah berlompatan sana-sini sambil menyabetkan tangan dan kakinya. Sabetan yang bukan sembarang sabetan, melainkan sabetan dengan penuh tenaga. Kesiuran angin tampak di sana-sini, di permukaan air yang telah terkena hawa pukulan dan tendangannya. Tampak segumpal air yang lebih putih dari sekelilingnya, menggumpal dan mengapung perlahan untuk kemudian menghilang. Bongkahan es. Ya, ilmu yang dilatih dara tersebut berkaitan dengan penggunaan Tenaga Air. Ia dapat memanipulasi air dengan hawa pukulannya sehingga menjadi dingin, dan sampai membeku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Plok-plok-plok!!" terdengar tepukan tangan seorang tua yang berdiri tidak jauh dari sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dara berjubah biru muda tersebut sudah terlihat menggiriskan dengan pukulan serta tendangannya yang mampu mendinginkan air laut sampai menjadi bongkahan kecil es, ditambah pula ilmu meringankan tubuhnya yang mampu membuatnya "terbang" di atas air dengan bantuan balok-balok kayu yang terapung, lain pula dengan orang tua itu. Ia tampak berdiri seenaknya, dengan kedua kaki dipentang, di atas air. Sebenarnya tidak benar-benar di atas air, karena apabila diperhatikan tampak bahwa di bawah kedua kakinya, di bawah permukaan air di bawah tubuhnya, tampak segumpal es besar. Bongkahan yang menyanggah dirinya sehingga tidak tenggelam dan seakan-akan terapung atau dapat berdiri di atas permukaan air. Es sebesar satu dua gajah dan dalam siang yang seterik ini? Kemampuan yang tidak boleh dibuat main-main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, kakek!! Masak sudah latihan hari ini?" rengek dara itu manja kepada orang tua yang ternyata adalah kakeknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak mengeluarkan sepatah kata pun orang tua itu lalu menunjuk ke suatu arah di tengah laut, tak tampak apa-apa di sana. Tapi perlahan muncul sebuah titik yang semakin lama semakin jelas. Sebuah perahu. Perahu kecil dengan tiang layar yang doyong miring. Perahu yang jelas-jelas tampak telah didera badai dan dipermainkan ombak laut yang ganas. Pada tiangnya tampak seorang pemuda terikat. Diam. Wajahnya yang pucat dan bibir membiru, menandakan ia sedang dalam keadaan yang kurang baik. Pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakek, apa yang harus kita lakukan?" tanya dara itu saat ia dan kakeknya telah tiba di atas perahu yang terombang-ambing dengan sang empunya terikat pada tiang perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang kakek hanya menggerak-gerakkan tangannya. Dara tersebut kemudian mengangguk mengerti. Lalu ia mengeluarkan sebuah keong dari saku bajunya, meliuk melengkung dan berwarna hitam mengkilat. Keong Pemanggil. Suatu alat yang digunakan dengan ditiup, untuk memanggil bala bantuan apabila terjadi suatu peristiwa yang membutuhkan pertolongan dari kerabat atau kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian tampak sebuah titik dari arah berlawanan perahu yang terombang-ambing tadi datang. Titik tersebut perlahan-lahan menjadi semakin besar dan memecah menjadi tiga buah. Tiba buah perahu yang bergerak dengan cepat atas bantuan dayung-dayung yang berumlah empat buah, dua di masing-masing sisinya. Selain itu masih ada dua orang di depan dan belakang yang mengerak-gerakkan tangannya mengendalikan air di depan dan belakang perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang didepan menggerakkan tangannya ke depan sehingga di depan perahu mereka terbuka lubang yang cukup dalam akibat angin pukulannya, sedangkan yang dibelakang mendorong air dengan luasan yang lebih lebar, tidak membuat lubang akan tetapi mendorong perahu ke muka. Gerak mereka berganti-ganti dan dibantu dengan para pendayung yang menyibakkan air ke belakang. Paduan tenaga yang membuat perahu mereka bergerak dengan amat cepat. Seakan-akan seperti perahu yang memiliki "ilmu meringankan tubuh" di atas air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian ketiga perahu tersebut telah merapat ke perahu yang terombang-ambing tadi. Sang pemuda yang pucat dan tak sadarkan diri telah dibuka ikatannya oleh sang dara dan dibaringkan di atas perahu, beralaskan gumpalan layar pada kepalanya. Perahu dara dan sang kakek serta ketiga perahu yang baru datang melingkar mengelilingi perahu yang tadi terombang-ambing. Semua orang tampak mengamati pemuda yang masih saja tak sadarkan diri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang baru datang itu tampak menggerak-gerakkan tangannya dengan cepat. Kakek sang dara juga membalaskan dengan isyarat-isyarat yang tak kalah cepatnya, ingin mengatakan bahwa, "Perahu ini harus ditarik ke pantai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan-rekannya yang baru datang itu mengangguk-angguk setuju, kemudian mereka melemparkan tali dan mengaitkannya pada perahu sang pemuda yang masih pingsan itu. Mengikatnya pada empat bagian dan kemudian ke perahu mereka masing-masing termasuk si kakek. Setelah ikat-mengikat selesai, kelima perahu itu segera melaju dengan cara yang sama seperti mereka datang. Di sini terlihat bahwa sang kakek memiliki kemampuan lebih tinggi dari yang lain. Dengan hanya sendiri ia dapat melajukan perahunya selaju ketiga perahu yang lain. Cucunya hanya berdiam di depan perahu sambil mengamati pemuda yang masih pingsan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan mereka akhirnya berhenti pada sebuah bentuk yang mengapung di tengah-tengah air. Bukan pulau bukan pula perahu. Mungkin lebih tepat dikatakan perahu, akan tetapi dengan ukuran dan bentuk yang tidak lajim. Besar dan luas dan juga ditumbuhi oleh tanam-tanaman. Bukan pulau karena dapat berpindah-pindah. Para penghuninya menamakan Desa Terapung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima perahu tersebut, empat yang menarik dan satu yang ditarik melabuh pada satu sisi Desa Terapung. Pada sisi tersebut sengaja dibentuk mirip pantai sehingga perahu-perahu dapat merapat dan ditarik pada bidang yang miring, sebelum disangkutkan pada suatu kaitan dan diikat. Segera kelimat perahu tersebut telah dilabuhkan dan diikat dengan rapi, mencegahnya lepas dan hanyut ke lautlepas. Bagi mereka perahu adalah suatu alat yang penting untuk hidup di tengah laut. Daerah yang hanya terisi oleh air dan langit di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu tampak membuka matanya. Ia merasa menggigil dan pening. Tiba-tiba ia teringat saat-saat terakhir kesadaran masih ada di kepalanya. Ya, di tengah laut, di atas perahu dan dihantam badai dan hujan. Segera ia bangung dan menyadari bahwa ia sedang berbaring di dalam sebuah kamar yang bersih dan terang. Bajunya juga telah berganti dengan baju lain yang kering dan nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ia dapat berpikir lebih jauh di mana ia berada, tiba-tiba tampak sebuah pintu, satu-satunya pintu pada ruangan itu, terbuka. Sesosok orang tampak masuk dan tersenyum padanya. Seorang gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana keadaanmu?" tanya gadis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh.., aku..? Di mana aku? Bagaimana.. bisa..? Badai itu...," ucap pemuda tersebut yang masih tampak bingung dengan keadaannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis tersebut berkata menenangkan, "Jangan terburu-buru untuk mengingat! Istirahat sajalah masih banyak waktu. Lebih penting untuk memulihkan kesehatanmu. Ini makananmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu mengangguk. Dan benar, ia merasakan bahwa sekujur tubuhnya sakit-sakit dan juga tak mampu untuk bertahan lama dalam berbicara. Terasa tanpa tenaga. Mungkin akibat demam yang dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisa makan sendiri?" tanya gadis itu setelah melihat wajah yang pemuda yang masih pucat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu mengangguk mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini kuletakkan makananmu. Campuran bubur dan ikan. Baik untuk tubuh yang masih demam dan lemah. Makanlah! Pelan-pelan saja. Jika bisa habiskan," ucap gadis itu sambil meletakkan makanan dan minuman yang ia bawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa nama tempat ini?" tanya pemuda itu setelah ia memperoleh agak sedikit tenaga setelah beberapa suap bubur dan seteguk teh hangat dicernanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Desa Terapung," jawab gadis itu pendek. "Istirahatlah dulu!" katanya kemudian setelah melihat bubur dan teh yang dihidangkannya telah habis berpindah ke perut sang pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu kembali menangguk. Kali ini ia tidak lagi bertanya-tanya dan segera merebahkan badan dan menutup matanya. Berusaha untuk beristirahat, memulihkan tenaganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Desa Terapung..," kata-kata tersebut masih terngian-ngiang di telinga dan kepalanya saat ia kemudian terlelap. Rupanya di dalam bubur tersebut diberikan sejenis ramuan yang membuat pelahapnya menjadi mengantuk. Hal ini dengan tujuan agar membuat tubuh lebih cepat pulih dengan banyak beristirahat. Tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang pemuda tampak berdiri berhadapan di tengah-tengah nisan-nisan batu yang tersebar tak beraturan. Di kejauhan terdengar deburan ombak samar-samar. Saat itu tengah hari lewat sedikit. Bayang-bayang benda mulai kembali menampakkan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi hanya karena itu engkau menantangku untuk berkelahi, Wassa?" tanya pemuda pertama yang beridiri gagah dengan badan tegap dan berotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawannya yang juga tak kalah gagahnya hanya mengangguk pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi...," ucap pemuda pertama itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak usah banyak alasan! Jika engkau takut, katakan saja, Telaga!" ucap Wassa dengan senyum agak mengejak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takut, kata itulah yang membuat Telaga hampir tidak dapat berpikir jernih. Ia tidak suka kata itu, apalagi jika kata itu dilemparkan orang kepada dirinya. Ia hanya melihat tidak ada alasan untuk berkelahi dengan pemuda di hadapannya ini. Pemuda yang hanya cemburu karena ia dekat dan tinggal serumah dengan Mayiya dan kakeknya, Pelaut Ompong. Suatu alasan yang picik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Telaga sempat mengeluarkan kalimat lain, Wassa telah bergerak dan memukulnya lurus. Kaku dan keras. Pukulan yang hanya diisikan oleh tenaga kasar dan dilakukan oleh orang yang tidak mengerti banyak ilmu bela diri. Suatu serangan tanpa pertahanan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mudah Telaga menggeser sebuah kakinya ke belakang dan menghindari pukulan itu. Ia belum ingin menjatuhkan pemuda lawannya itu, walau hatinya juga sudah mulai panas akibat ejekan lawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi melihat pukulannya dapat dielakkan degan mudah, wajah Wassa menjadi semakin merah gelap. Segera ia menarik serangannya yang luput itu, melanjutkan dengan tendangan lurus ke arah kepala Telaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali tendangan itu dapat dielakkan dengan tipis oleh Telaga yang hanya memiringkan sedikit kepalanya dan membiarkan kaki tersebut kehilangan daya dorongnya dan terhenti dengan sendirinya di udara karena telah terentang habis. Sebenarnya Telaga dapat dengan mudah menangkap kaki itu dan menekuk lalu membanting Wassa dengan mudah. Berbekal jurus Berkelit Membanting Padi hasil ajaran gurunya Arasan, ia dapat segera melihat kedudukan lemah dari posisi Wassa. Suatu celah yang benar-benar tepat untuk dimakan oleh jurus tersebut. Tapi kembali Telaga hanya berdiam diri. Ia masih ingin melihat sejauh mana Wassa punya kemampuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulang-ulang Wassa menyerang dengan beringas. Serangan kasar dan membabi-buta. Berulang kali pula Telaga dengan mudahnya mengelak. Tidak hanya mengelak bahkan mengelak dengan tipis dan hanya pada saat-saat terakhir. Suatu elakan yang seakan-akan berbicara bahwa kepandaian Wassa belum ada cukup untuk dikeluarkan baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu waktu yang cukup untuk memasak nasi pun telah lewat. Jika Telaga masih tampak segar dan sigap, adalah Wassa yang sudah terlihat lelah dengan keringat bercucuran di mana-mana. Wajah, dada, pungguh dan lehernya telah basah olehnya. Napasnya pun terlihat mulai terengah-engah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Telaga... jangan engkau menghindar... terus...!! Ayo lawan... aku!!" ucap Wassa yang diselilingi dengan napasnya yang bersambung dan putus. Terengah-engah sekali tampaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaga yang tadinya merasa agak dongkol kepada pemuda lawannya itu menjadi merasa kasihan. Pemuda yang telah dibutakan cintanya kepada Mayiya. Padahal ia tidak tahu apakah apakah sang gadis membalas cintanya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wassa, kita sudahkan saja hal ini. Tak ada gunanya," ucap Telaga perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun mendongkol Wassa tidak dapat berkata apa-apa. Lelah sudah pemuda itu. Tenaganya terkuras habis hanya untuk memberikan pukulan dan tendangan kosong. Serangan-serangan yang tidak pernah mencapai tubuh Telaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun terduduk lelah. Sedih. Dan termenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaga yang merasa tidak enak bahwa kedatangannya ke tempat ini menyebabkan pemuda itu teracuni pikiran cemburu, mencoba untuk membantu. Sudah dilupakannya perkataan Wassa yang mengatakannya takut tadi sehingga ia terpancing emosinya untuk melayani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sama sekali tidak tertarik pada Mayiya," ucap Telaga sambil duduk di samping pemuda yang sudah tempak tak bertenaga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebersit semangat dan juga kebingungan tampak terlihat sejenak di matanya. Lalu katanya, "Tapi aku sering melihat engkau dan dia..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku 'kan menumpang di sana. Lucu jika orang yang menumpang di rumah orang lain, akan tetapi tidak berinteraksi dengan yang punya. Bukan begitu?" tanya Telaga balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassa hanya tersenyum malu. Tapi masih ada rasa penasaran dalam hatinya. Ia kemudian lanjut berkata, "Aku melihat bahwa Mayiya tampak kagum pada kemampuanmu mengayunkan pedang panjang dan juga bersilat. Aku merasa ia sudah jatuh cinta kepadamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ini sudah bertunangan, Wassa. Dan aku tidak akan mencoba-coba untuk tertarik dengan gadis lain selain tunanganku," jelas Telaga. "Bila engkau merasa bahwa bersilat dengan pedang panjang dan tangan kosong bisa menarik perhatian seorang gadis, mari sini aku ajarkan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau mau mengajarkan aku ilmu silat itu...? Setelah aku hampir mati-matian ingin menghajarmu?" tanya Wassa tidak percaya akan tawaran yang diajukan oleh Telaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaga menganggguk, lalu katanya, "Ini semua hanya salah paham. Dengan ini kita jadi bersahabat. Atau engkau tidak mau bersahabat denganku, Wassa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak!! Tidak!!" sahut Wassa cepat, "Sudah tentu senang sekali bersahabat denganmu, Telaga. Seorang berilmu dan juga ramah. Aku senang sekali!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah kalau begitu. Nanti malam kita bertemu lagi di sini. Aku rasa, untuk suatu kejutan, baiknya kita latihan diam-diam. Biar nanti Mayiya tahu setelah engkau mahir. Bagaimana?" usul Telaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassa mengangguk setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di samping itu, aku juga tertarik dengan tempat ini," katanya sambil mengedarkan pandangan, melihat berkeliling pada nisan-nisan batu yang tersebar tak beraturan itu. Tampak kuno dan beberapa sudah terguling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pemakaman kuno ini? Ada cerita menarik mengenai tempat ini. Nanti kuceritakan," ucap Wassa yang sudah merasa gembira bahwa ia akan diajari ilmu beladiri oleh Telaga. Sudah lupa ia akan kekesalannya tadi. Sudah menjadi sahabat rupanya mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya kemudian bersama-sama berjalan menuruni bukit kecil itu. Menuju desa Tepi Darat Selatan. Sekarang mereka berjalan berdua bagai seorang sahabat, tidak seperti semula yang terisi dengan rasa curiga dan ketidaktahuan. Perkelahian yang barusan terjadi membuat keduanya menjadi akrab satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin pun berhembus perlahan, menyisir lembut daun-daun nyiur. Gembira akan persahabatan dua manusia yang baru saja terbentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pernah dengan kata Fibonacci?" tanya Wassa seusai Telaga mengajarkan beberapa gerakan beladiri dan juga latihan kuda-kuda yang cukup melelahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum," jawab Telaga singkat. Ia tertarik pada ucapan Wassa tadi siang, saat mereka masih belum bersahabat bahwa ada cerita menarik di balik posisi nisan-nisan yang terlihat tidak beraturan di pemakaman kuno di atas bukit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alkisah ada dua orang dari Tlatah Bharat (India), yaitu Gopala dan Hemachandra, yang tidak secara sengaja menemukan suatu keteraturan. Mereka sedang memasukkan barang-barang ke dalam kantong. Ditemukan bahwa barang-barang yang berbeda ukurannya dapat memenuhi kantong dengan sangat pas seperti barang-barang yang berukuran sama," cerita Mayayo. "Seratus tahun kemudian para pengujar dari tlatah lain mempelajari hal tersebut dengan lebih tekun dan berhasil merumuskan aturannya, yang dinamakan deret Fibonacci."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menarik, tapi apa hubungannya dengan makam ini? Eh, sebelummya tunjukkan dulu bagaimana keteraturan yang engkau maksud dalam cerita itu! Aku sama sekali belum mengerti," ucap Telaga penuh ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassa merasa bangga bahwa Telaga yang dikaguminya dalam ilmu beladiri masih merasa tertarik dengan ceritanya mengenai keteraturan pemakaman kuno ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perhatikan angka-angka berikut ini!" ucap Wassa sambil menuliskan sederat angka-angka di atas tanah menggunakan potongan ranting kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O I I II III V VIII XIII XXI XXXIV LV LXXXIX CXLIV CCXXXIII CCCLXXVIII DCX CMLXXXVII&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai di sini saja, selebihnya aku tidak hapal," ucap Wassa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaga kemudian mengamati akan tetapi ia tidak melihat keteraturan dari angka-angka yang baru saja dituliskan oleh Wassa. "Masih belum mengerti," katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perhatikan bahwa suatu bilangan, setelah bilangan ketiga, adalah hasil penjumlahan dua bilangan sebelumnya," ucap Wassa memberi petunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, benar!!" ucap Telaga kemudian yang setelah menghitung-hitung, dan benar menemukan apa yang diucapkan oleh Wassa. Benar sampai bilangan terakhir yang dituliskan oleh Wassa, CMLXXXVII. "Menarik!" ucapnya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening sejenak. Wassa membiarkan Telaga menikmati keteraturan dari hal baru yang baru saja dijelaskan. Lalu terdengar Telaga bertanya, "Dan hubungannya dengan pemakaman kuno ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersenyum Wassa mendengar itu. Ceritanya ternyata membuat Telaga amat tertarik. Dinginnya udara malam di bukit itu tidak dapat menghalangi dua pemuda itu untuk berlalu dari sana. Yang satu bersemangat untuk bercerita dan yang satu bersemangat untuk mencari tahu apa cerita di balik pemakaman kuno itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Wassa menceritakan bahwa pemakaman kuno itu dibagi menjadi delapan bagian. Tapi tidak delapan luasan yang sama besar, melainkan delapan daerah berbentuk bujur sangkar yang sisi-sisinya mengikuti ukuran delapan angka pertama derat Fibonacci. Batas dari kedelapan bujursangkar tersebut ditandai dengan nisan batu yang tinggi. Sedangkan nisan-nisan lain yang lebih kecil berada di dalam kedelapan daerah bujursangkar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangguk-angguk Telaga mendengar penjelasan tersebut. Dibalik ketidakteraturan yang sekilas terlihat itu, ternyata tersembunyi suatu keteraturan yang mengagumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di balik itu..," ucap Wassa dengan penuh kemisteriusan, "terdapat rahasia ilmu beladiri tinggi, yang sayangnya tidak ada orang sampai saat ini berhasil memecahkannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sungguhkan? Ceritakan tentang hal itu!" pinta Telaga ingin tahu. Rahasia, apalagi berkaitan dengan ilmu beladiri tinggi, membuatnya benar-benar tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayangnya aku juga tidak banyak tahu. Pelaut Ompong, kakek Mayiya yang paling mengetahui di kampung ini. Coba tanyakan kepadanya," jawab Wassa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian keduanya menyudahi latihan dan juga cerita mengenai pemakaman kuno tersebut. Keduanya akan bertemu kembali di tempat itu untuk meneruskan latihan dalam beberapa hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa engkau ingin tahu cerita mengenai pemakaman kuno di atas bukit itu?" tanya Pelaut Ompong saat mereka sedang menikmati sarapan pada suatu pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya dengar dari Wassa, bahwa ada keteraturan Fibonacci terkait dengan pembagian pemakaman itu. Dan di balik itu malah ada rahasia ilmu silat tinggi," jawab Telaga jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hahaha..! Anak muda selalu ingin tahu sesuatu yang berkaitan dengan ilmu silat. Waktu aku seumurmu juga demikian," berkata Pelaut Ompong arif. "Bahkan, sampai kami-kami saat itu menggali sana-sini untuk mencari-cari di mana letak kitab silat tersebut dikuburkan. Jika ada nisan-nisan yang tidak lagi tegak, itu karena pernah kami geser dan tidak kokoh kembali dikuburkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan penjelasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi paman tidak menemukan kitab silat itu?" tanya Telaga kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami tidak berhasil menemukannya," jawab Pelaut Ompong. "Hanya lelah-lelah dan rasa dongkol yang kami peroleh saat itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika memang kitab itu tidak ada, mengapa bisa ada cerita mengenai hal itu?" tanya Telaga kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang yang menceritakan berita itu.., hmmm..., tunggu dulu..!" ucap Pelaut Ompong yang tampak memikirkan suatu nama yang sudah lama tidak diingatnya itu, "benar-benar lupa aku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak ada sirat kecewa pada wajah Telaga mendengar hal itu. Jika Pelaut Ompong tidak bisa menceritakan lebih jauh ketimbang cerita Wassa, berarti tidak banyak informasi yang bisa diperolehnya. Jadi, mungkin saja cerita mengenai ilmu silat tinggi di balik keteraturan dalam pembagian pemakaman kuno di atas bukit itu hanyalah suatu isapan jempol belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin itu hanya isapan jempol, ya paman?" ucap Telaga kemudian kepada Pelaut Ompong dengan nada putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaut Ompong hanya tersenyum dan tidak menjawab lebih jauh. Ia membiarkan sang pemuda tenggelam dahulu pada kekecewaannya akan ketidaktahuannya akan cerita lebih lanjut mengenai pemakaman kuno di atas bukit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, karena tidak ada janji untuk melatih Wassa dan juga pemuda-pemudi di desa tersebut, Telaga beristirahat lebih cepat. Ia tidak menemukan baik Pelaut Ompong maupun Mayiya di rumah mereka, rumah di mana ia menumpang tinggal. Sejenak dirasakannya suatu keanehan, akan tetapi cepat rasa itu dihapuskannya. Ia orang baru di rumah dan juga di kampung itu. Bisa jadi ia tidak banyak tahu kegiatan orang-orang di sana, sehingga kemungkinan mereka baik-baik saja. Mungkin mereka melakukan hal-hal yang mereka tidak ingin bagi tahu kepada Telaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia merebahkan diri di ruangan tempat ia biasa beristirahat, tiba-tiba ia melihat sebuah catatan ditempelkan dengan pisau di langit-langit. Secara reflek ia tersentak dan berdiri, melompat meloloskan pesan tersebut dari langit-langit dengan mencabut pisaunya. Sebuah pesan pendek tertera di atas kertas tersebut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika ingin tahu rahasia di balik pemakaman kuno di atas bukit, datanglah ke sana tiga malam lagi saat bulan benar-benar gelap. Jangan beritahu siapa-siapa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada tanda-tangan di bawah pesan itu. Suatu pesan yang dikenal sebagai surat kaleng. Bisa berarti suatu kabar benar bisa juga palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdebar-debar Telaga saat setelah membaca pesan tersebut. Mungkin ini petunjuk yang dicari-carinya. Segera ia menyembunyikan pesan itu di balik pakaiannya dan juga pisau yang digunakan untuk menancapkan pesan itu tadi di balok kayu langit-langit rumah itu. Segera ia berpura-pura tidur sambil pikirannya bergerak kemana-mana, membayangkan apa yang akan dihadapinya dan siapa yang akan ditemuinya di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama ia mendengar Pelaut Ompong dan Mayiya pulang. Segera ia mengatur napasnya semakin teratur dan pelan, agar terlihat ia sudah tidur dan tidak terjadi apa-apa. Sementara itu pikiran sang pemuda semakin liar dan berkecamuk macam-macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama beristirahat pula Pelaut Ompong di samping sang pemuda dan Mayiya di kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malampun semakin larut. Angin masih berhembus lembut di kejauhan, membelai lembung daun-daun pohon kelapa dan juga ujung-ujung rerumputan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa hari itu, sebelum hari yang dituliskan dalam surat tanpa pengirim itu datang, Telaga masih bimbang apa ia harus meninggalkan pesan atau tidak kepada Pelaut Ompong dan Mayiya, karena masih merasa agak curiga pada pengirim pesan tersebut. Lagi pula ia masih orang asing di desa itu. Tidak tahu ia siapa yang mengiriminya pesan tersebut dan apa yang akan dihadapinya di sana, di atas bukit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari pun berlalu dengan cepat. Dan malam ini adalam malam di mana bulan sedang gelap-gelapnya. Saat untuk pergi ke bukit, ke tempat di mana pemakaman kuno tersebut berada. Pergi mencari tahu rahasia di balik pemakaman kuno tersebut, jika pesan tanpa pengirim itu benar adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam baru menjelang tiba. Setelah bersantap malam dengan Pelaut Ompong dan Mayiya, Telaga minta diri untuk beristirahat. Kedua orang pemilik rumah merasa agak sedikit aneh karena tidak biasanya Telaga buru-buru minta beradu, biasanya ia malah tidur paling larut setelah berbicara ngalor-ngidul dengan Pelaut Ompong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu ada apa dengan Telaga?" tanya Pelaut Ompong pada cucunya, Mayiya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enggak ada apa-apa, kek. Memang kenapa?" tanya balik Mayiya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu Telaga, kok masih hari ini sudah minta diri. Tumben." jawab sang kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin ia capek sedari tadi pagi melatih anak-anak muda beladiri," tebak Mayiya. Ia baru memperhatikan perubahan kelakuan Telaga saat kakeknya bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, mungkin juga," jawab kakeknya. "Kalau begitu, kita istirahat juga saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, kek. Tapi sehabis saya bereskan ini cucian piring dan bekas makan kita tadi," jawab cucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Mayiya membereskan bekas-bekas makan, di mana sang kakek tampak mengepul-kepulkan rokoknya menunggu cucunya selesai. Setelah itu mereka berdua pergi tidur. Sang kakek di samping Telaga dan Mayiya di kamarnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu bulan benar-benar pada titik terendahnya. Langit benar-benar gelap. Dan secara kebetulan angin sedang tenang-tenangnya, membuat malam itu gelap dan lengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah seorang pemuda yang sedari tadi tidak dapat tidur. Ia menunggu sampai dengkur orang di sebelahnya benar-benar teratur. Tapi waktu itu tak kunjung tiba. Sang kakek yang tidur di sebelahnya tampak masih bolak-balik mencoba terlelap, mungkin udara malam tanpa angin membuatnya sedikit kegerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hampir-hampir tertidur, Telaga mendengar bahwa dengkur orang di sebelahnya telah teratur. Begitu pula orang lain di ruang sebelah, Mayiya. Untuk benar-benar meyakinkan ia menunggu sebentar untuk kemudian mengendap-endap beranjak keluar. Dengan hati-hati ia melangkah agar jangan sampai menerbitkan bunyi yang dapat membangunkan kedua orang dalam rumah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ia berada di luar rumah. Malam tanpa bulan. Untung saja masih ada bintang-bintang yang tidak tertutup awan yang memberikan sinarnya untuk menerangi padangan saat itu. Setelah membiasakan matanya pada keadaan yang gelap itu, Telaga pun beranjak menuju suatu arah. Arah di mana suatu bukit berada, yang di atasnya terdapat suatu pemakaman kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak sulit Telaga berjalan terseok-seok akibat gelapnya malam. Hampir ia terjatuh pada suatu parit di luar desa. Untung saja refleknya bagus sehingga dapat segera menarik kakinya dan mencari pijakan lain. Jika tidak, bisa memar-memar ia terhantam pinggiran parit yang terbuat dari tanah dan batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjalan beberapa saat, tahulah Telaga bahwa ia telah tersasar. Akibat parit tadi ia jadi kehilangan konsentrasi untuk memperhatikan arah ke mana ia harus berjalan. Dan tiba-tiba awan menutup langit sehingga ia sama-sekali buta dalam kegelapan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdebar-debar jantung Telaga. Ia memikirkan apa yang harusnya ia lakukan. Menunggu awan menghilang atau menyalakan obor yang ia bawa. Kemungkinan kedua dapat menyebabkannya terlihat oleh orang yang berjaga. Kemungkinan pertama bisa lama datangnya, dan ia tidak tahu apakah orang yang menantinya di pemakaman kuno di atas bukit itu akan selalu berada di sana atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ia sempat menyalakan obornya, tiba-tiba terdengar suara lirih yang hampir-hampir tidak terdengar bila tidak memiliki pendengaran yang tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan nyalakan api, ikuti arah berlawanan dengan deburan ombak. Bukit ada di sana..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merinding sedikit buluk kuduk Telaga. Orang yang menantinya telah tahu ia kesasar dan memberi petunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah rasa terkejutnya pulih, ia pun mengikuti petunjuk orang tersebut. Perlahan mendengarkan dengan baik dari mana bunyi ombak berdebur. Setelah yakin, ia pun mengambil arah berlawanan. Perlahan, meraba-raba sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saat ia tersandung sebuah batu setelah merambah agak menanjak, awan pun tertiup angin sehingga bintang-bintang kembali menampakkan sinarnya. Telaga kemudian memperhatikan batu yang membuatnya tersandung, segera ia melihat bahwa itu adalah sebuah batu nisan tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sudah hampir berada di sana. Pemakaman kuno di atas bukit terlihat hanya beberapa tombak lagi jauhnya. Nisan yang tersandung oleh kakinya rupanya tergeletak agak jauh dari lokasi pemakaman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa langkah kemudian di tempuhnya. Sekarang ia telah berada di sana. Di tengah-tengah pemakaman kuno, tempat yang sering ia gunakan untuk melatih Wassa. Suasana tampak lengang. Tak ada seorang pun kecuali dirinya. Juga tak tampak orang yang membisikanya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepi. Dan Telaga pun menunggu dalam kesunyian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaga telah berada cukup lama di pemakaman kuno di atas bukit tersebut. Sunyi. Kecuali dirinya ia tidak merasa ada siapa-siapa di sana. Sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu, dua, tiga kali waktu yang cukup untuk menanak nasi telah lewat, akan tetapi tidak ada suatu pun terjadi. Sedikit gelisah ia menunggu. Suasana yang terlalu sepi, kecuali deburan ombak di kejauhan serta gemerisik angin membelai daun-daun nyiur ang melambai, membuatnya sedikit tidak tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ia merasakan hawa dingin yang menusuk mengembang. Hawa dingin yang sekali dua kali pernah dirasakannya saat ia masih menuntut ilmu pada kedua orang tuanya di Pulau Tengah Danau di Gunung Berdanau Berpulau. Suatu hawa dingin yang umumnya dimiliki oleh mahluk-makhluk yang memiliki Tenaga Air secara alami. Jenis tenaga dalam seperti yang dilatihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hawa tersebut bertambah kuat semakin lama. Tak terasa tubuh Telaga menjadi menggigil. Mau tak mau ia harus mengerahkan tenaga dalamnya, merapalkan Tenaga Air, mengalirkan hawa hangat yang berputar perlahan dalam tubuhnya untuk mengimbangi hawa dingin tak wajar yang ia rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ia merasa sedikit nyaman, mulai Telaga mencoba-coba untuk memperhatikan, lebih tepatnya merasakan apa atau siapa yang menjadi sumber dari hawa dingin tersebut. Dengan berkonsentrasi ia mulai "membaca" dari arah mana datangnya hawa tak wajar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangkum aliran hawa dirasakannya berasal dari muka, menjurus ke sebuah pohon besar yang berdiri dengan angker di tengah kegelapan malam yang hanya dihiasi oleh bintang-bintang. Dengan perlahan dan hati-hati Telaga beranjak ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum belasan langkah ia melangkah, dan masih sejarah dua tombak dari tempat yang diduganya terdapat apa atau siapa penyebab hawa dingin tersebut, aliran hawa itu tiba-tiba hilang. Dan udara malam kembali terasa seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Telaga sempat berpikir lebih jauh, tiba-tiba serangkum aliran hawa kembali dirasakannya, kali ini dari arah kirinya. Menyambar dengan lembut, dingin, dan perlahan-lahan semakin kuat intensitasnya. Membuatnya kali ini menjadi lebih menggigil dari sebelumnya. Untuk itu bahkan ia sampai perlu memejamkan mata untuk berkonsentrasi menghalau hawa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi saat ia kembali memburu arah datangnya hawa tersebut, kembali keberadaannya menghilang dari pengamatan Telaga. Sunyi. Udara malam kembali terasa "hangat" seperti semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu waktu lama berlalu kali ini kembali datang "serangan" dari arah yang berbeda. Dan kembali berlaku hal yang sama, menghilang saat Telaga telah berhasil mengatasinya dan mencoba untuk mencari sumber dari hawa tersebut. Berkali-kali, dan juga kembali datang rangkuman hawa dingin dari arah yang sebelumnya telah datang. Akhirnya Telaga menyadari bahwa seseorang atau pun sesuatu mungkin sedang "menguji" dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, bila saya Telaga mengganggu ketengangan ki sanak," ucapnya pelan dan menghormat ke pada kegelapan di sekelilingnya, sambil tak lupa mengedarkan pandangan ke segala arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening tak ada jawaban. Tapi tak lagi datang rangkuman hawa dingin untuk beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bilakah ki sanak akan memunculkan diri?" ucapnya lagi, kali ini dengan dada agak berdebar-debar, menduga-duga apa atau bagaimana wujud dari sosok yang bisa membangkitkan hawa dingin sekuat itu dari jarah yang tidak dapat dirasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba seberkas angin menyambar perlahan dari belakangnya. Secara reflek Telaga berbalik, menghindar karena menyangka dirinya diserang. Dan di depannya, di udara, mengambang sebuah kain lusuh terlipat. Tampak di salah satu ujungnya corak-corak seperti tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menggapai kain lusuh tersebut, yang segera jatuh lunglai di telapak tangannya. Suatu demonstrasi pengendalian tenaga dalam dari jauh yang mengagumkan. Mengirimkannya hampir tanpa suara, menahannya bertahan di udara dan melepaskannya terjatuh dalam tangan Telaga tanpa menyakiti pemuda itu. Pengendalian tenaga yang mengagumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baca baik-baik pesan yang tertulis di sana. Kita akan bersua lagi nanti..," suatu suara lirih terdengar samar-samar, pelan, tapi jelas. Suara yang sama, yang memberinya tadi petunjuk saat ia tersesat dalam perjalanan menuju pemakaman kuno ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menunggu beberapa saat dan tidak ada apa-apa lagi, hawa dingin yang menyerang ataupun suara lirih yang memberikan petunjuk, Telaga pun beranjak dari sana kembali ke rumah Pelaut Ompong dan Mayiya. Hari pun sudah mulai mendekati fajar, ia harus cepat-cepat pulang atau nanti akan memperoleh hujan pertanyaan mengenai kepergiannya yang diam-diam ini pada malam hari. Sesuatu yang agak sulit dijelaskkanny kepada kedua orang yang telah amat baik menampungnya dalam rumah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinar matahari yang telah cukup tinggi, yang menerobos masuk ke dalam jendela ruangan itu, mengusik seorang pemuda yang sedang terlelap. Perlahan ia terbangun dan tampak berusaha mengingat-ingat sesuatu. Jelas tampak dalam raut wajahnya bahwa ia masih bingung di mana ia sekarang berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Desa Terapung...," tiba-tiba kata itu terucap oleh mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, itu kata-kata yang diucapkan oleh seorang gadis yang kemarin memberinya makan dan juga mengawasinya. Merawatnya dan memberikan apa-apa keperluannya. Ia tidak begitu ingat. Saat itu tubuhnya masih lemah dan istirahatlah hanya hal yang dapat dilakukannya. Dan itu pula yang diperintahkan oleh gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ia telah merasa lebih sehat tubuhnya. Minuman dan makanan yang disuguhkan kepadanya telah memulihkan tubuh sang pemuda yang lelah dan lemas akibat dihantam badai serta angin, sebelum ia ditemukan oleh seseorang di laut sana. Kapan dan bagaimana ia ditemukan pun ia belum tahu. Akan ia tanyakan nanti kepada orang-orang yang membawanya ke sini. Ke tempat yang ia tahu hanyalah dari nama yang disebut oleh gadis itu, Desa Terapung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun kemudian berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya. Kaku masih, mungkin akibat terlalu lama tidur setelah memakan penganan yang diberikan. Tapi ia merasa dirinya lebih segar dan bertenaga, tidak seperti saat ia pertama kali sadar. Terasa benar lemasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mencoba dan yakin bahwa ia benar-benar kuat untuk berdiri dan berjalan-jalan, pemuda itu bergerak ke sana-ke mari dalam ruangan. Melemas-lemaskan kaki dan tangannya. Tak lama mulailah ia bosan dan ingin keluar untuk melihat-lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibukanya pintu kamar tempat ia selama ini tinggal. Pintu yang terbuat dari kayu sederhana akan tetapi rapih pengerjaannya. Tak berbunyi. Menandakan yang membuatnya benar-benar memahami cara membuat pintu dan engsel yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tampak di depannya, sejauh mata memandang bangunan-bangunan kayu yang bersebaran di atas lantai yang juga terbuat dari kayu. Bentuknya yang kotak-kotak sederhana dan berwarna murni kayu, dengan dihiasi sedikit daun-daun kering dan jala-jala, menyajikan nuansa yang belum pernah dilihat pemuda itu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan ia mulai berjalan ke suatu arah. Sampai saat itu belum ditemuinya seorang pun. Ia pun kembali berjalan ke arah tersebut. Menyusuri jalan di antara bangunan-bangunan kayu tersebut. Jalan yang juga terbuat dari kayu. Semuanya serba kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ia sampai di ujung jalan itu. Membentang di hadapannya tampak air. Laut. Merebak sejauh mata memandang air lautan yang saat itu hanya berombak perlahan. Pertemuan antara "daratan" tempat ia berdiri dengan air di hadapannya, hanyalah berupa pinggiran kayu yang dipahat miring dan ujungnya terendam dalam air. Deburan ombak perlahan menyembunyikan dan memperlihatkan secara berganti-ganti ujung dari "pantai kayu" tersebut. Terkagum-kagum pemuda itu menyaksikan "pulau" tempat ia berada saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia tenggelam dalam lamunannya menikmati tempat tersebut, tiba-tiba sebuah lengan menepuk bahunya. Kaget pemuda itu karena kedatangan orang itu benar-benar tidak dapat dirasakannya. Memang benar-benar orang itu dapat menghilangkan keberadaannya, atau ia saja yang sedang melamun mengagumi keindahan dari tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang menepuknya hanya tesenyum melihat kekagetan sang pemuda. Lalu dengan isyarat tangannya ia meminta maaf telah mengagetkan. Lalu ia menunjuk ke satu arah di mana dari sana terdengar bunyi-bunyian dan tampak bahwa terdapat banyak orang berkerumun. Rupanya di sanalah orang-orang berada sehingga sedari tadi pemuda itu tidak berjumpa dengan siapa-siapa. Dengan mengikuti orang yang menepuknya tadi pemuda itu pun beranjak ke sana menuju orang-orang yang sedang berkumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana, di tengah-tengah orang yang membentuk setengah lingkaran, tampak sebuah mayat yang telah dibungkus dengan kain dan dimasukkan ke dalam kotak kayu berbentuk perahu. Peti mati bentuk khas Desa Terapung. Di sana tampak pula gadis yang memberinya makan. Ia berdiri bersama dengan orang-orang lain memperhatikan seorang dengan rambut dan jenggot yang panjang, yang tampaknya sedang memimpin upaca pemakaman tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua berjenggot dan berambut panjang yang duduk dekat mayat yang akan disemayamkan itu tampak menggerak-gerakkan tangannya. Kadang ke atas kadang ke bawah, lalu juga menunjuk ke arah orang-orang dan juga ke arah yang telah wafat. Mengangguk-angguk orang-orang yang "mendengarkan" wejangannya tersebut. Lalu setelah diam sesaat ia kembali menggerak-gerakkan tangannya. Dan akhirnya mempersilakan dua orang untuk menutup peti mati itu dan mengikatnya erat-erat dengan akar-akaran yang telah disediakan. Lalu delapan orang menggotong peti mati itu, membawanya sampai ke tepi air dan meluncurkannya ke dalam air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdebur pelan peti itu tampak sebentar terapung. Perlahan-lahan ia mulai tenggelam dengan mengeluarkan gelembung-gelembung udara. Kurang dari sepeminum teh, peti itu telah hilang dari pandangan mata. Hanya bayangannya yang terlihat samar-samar di dalam air, perlahan-lahan semakin kabur dan akhirnya lenyap sama-sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mati telah dikuburkan. Dikuburkan dengan peti yang berat di bawah air. Dibiarkan bersemayam dengan damai di dasar lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takjub pemuda itu melihat cara penguburan yang belum pernah dilihatnya. Ya, mungkin dengan tinggal di atas "pulau" buatan ini, tidak terdapat cukup tanah untuk mengubur orang yang meninggal. Untuk itu, laut adalah satu-satunya solusi. Bila sudah tentu tidak dibakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama orang-orang itu pun berbubaran. Tinggal beberapa orang di antara mereka, termasuk si pemuda, orang yang menepuk bahunya tadi dan sang gadis yang memberi sang pemuda makan. Ada juga orang-orang tua dan pemimpin upacara penguburan tadi. Baru sekarang mereka menyadari kehadiran sang pemuda. Orang yang membawa pemuda itu tadi ke sana menjelaskan dengan menggerak-gerakkan tangannya. Sang pemimpin upacara pun mengangguk-angguk. Lalu seorang dari mereka, yang kelihatannya dituakan, mengajak semua masuk ke salah satu bangunan kayu berwarna cerah tak jauh dari sana. Sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk pertemuan. Balai desa dari Desa Terapung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang pun duduk melingkar dalam ruangan besar itu. Dari luar terlihat biasa, ternyata di dalamnya lebih besar dari kelihatan dari luar. Mungkin dari warna di dalam yang lebih cerah. Padahal warna bangunan tersebut dari luar sudah cerah. Di dinding kayu yang membatasi ruangan tersebut dengan ruang di luarnya, tampak beragam hiasan menempel, gambar-gambar dan juga ukiran. Umumnya topik-topik yang terkait dengan isi laut dan air. Ada ikan, kapal, gurita raksasa, ikan paus dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kata-kata yang terucap. Pemuda itu, orang yang diselamatkan dari amukan badai, mulai bertanya-tanya, mengapa sedari ia datang, hanya dengan sang gadis ia berbicara. Dengan orang yang tadi menepuk bahunya pun ia tidak bertukar kata. Tapi ia mengerti kira-kira apa yang akan diungkapkan. Dan dalam pertemuan ini semakin besar tanda-tanya dalam dirinya. Benar-benar tak ada suara yang terucap, masing-masing orang hanya menggerak-gerakkan kedua tangannya ke sana-ke mari disertai mimik dan juga perubahan kernyit wajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang dari mereka menepuk tangannya dan menunjuk pada sang gadis. Orang yang ditunjuk mengerti. Ia mengangguk dan berangsur bangkit, dan menempatkan dirinya di samping pemuda, ke tempat yang segera diberikan oleh orang-orang yang tadinya duduk bersisian dengan sang pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis tersebut tersenyum padanya. Setelah mengangguk kepada orang tua-tua yang ada di sekitarnya, ia kemudian mulai membuka percakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa namamu?" tanyanya ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya bernama Mayayo," jawabnya. Senang rasanya ada yang bisa diajak berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya Akanamia," jawab gadis itu. Lalu ia memperkenalkan masing-masing tetua dan juga orang yang tadi memimpin upacara. Semua orang disebutkan namanya oleh gadis itu. Jumlah nama yang tidak akan diingat oleh Mayayo dalam sekali temu itu. Tapi tampaknya mereka tidak terlalu ambil pusing, tersenyum saat namanya disebutkan dan menepuk dada kiri mereka dengan telapak tangan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayayo pun mengikuti apa yang mereka lakukan. Mungkin itu salam untuk di antara orang-orang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu seorang dari mereka, orang yang sudah terlihat cukup tua, maju dan bercerita menggunakan gerak-gerak tangannya dan mimik muka yang berubah-ubah. Akanamia dengan perlahan mengucapkan apa-apa yang diceritakan oleh orang tua yang bercerita tersebut. Rupanya itu adalah budaya menceritakan sejarah kepada orang baru yang singgah di tengah komunitas mereka. Bila tidak ada orang baru, kebiasaan ini pun tetap dilakukan, dengan pendengar orang-orang sendiri. Dengan cara ini cerita mengenai mereka dan leluhurnya tidak hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka rupanya dalah orang-orang yang tidak dapat berbicara, sebagian dari Suku Pelaut yang sering disebut Suku Pelaut Sunyi. Sunyi karena tiada percakapan selain gerak-gerak tangan mereka Kesunyian yang diperoleh akibat suatu dan lain hal terkait dengan kebiasaan mereka yang tinggal seumur hidup mereka di atas laut dan tidak berkawin-campur dengan suku-suku lain sehingga variasi gen mereka tidak terlalu kaya. Tapi di luar kekurangan mereka itu, mereka memiliki kelebihan, yaitu dapat berkomunikasi dengan makhluk air melalu pikiran, yang membuat mereka mudah untuk memanen hasil laut berupa ikan dan tumbuh-tumbuhan. Selain itu terdapat pula, berkaitan dengan tempat mereka tinggal, kepandaian mengendalikan Tenaga Air dengan lebih alami karena cocok dengan susunan aliran hawa yang membuat mereka tidak bisa berbicara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangguk-angguk Mayayo mendengarkan penjelasan itu. Kakeknya, Pelaut Ompong, pernah bercerita adanya orang-orang yang hidup selamanya di atas air. Mereka-mereka itu disebut sebagai Suku Pelaut. Tapi belum pernah ia mendengar cerita bahwa ada Suku Pelaut Sunyi, bagian dari Suku Pelaut yang tidak bisa berbicara akan tetapi mahir Tenaga Air dan bisa berkomunikasi dengan makhluk-makhluk dalam laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cerita itu selesai, Mayayo diminta Akanamia untuk bercerita tentang dirinya. Sudah tentu atas permintaan orang tua-tua tersebut. Dengan perlahan Mayayo menceritakan perihal dirinya dan mengapa ia sampai teramuk badai. Kali ini Akanamia tidak "menerjemahkan", rupanya orang-orang itu hanya tidak bisa berbicara, tapi mereka dapat mendengar dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lupa setelah cerita Mayayo habis, beberapa dari mereka mengajukan pertanyaan ini-itu kepadanya. Sudah tentu dilakukan melalui perantaraan Akanamia. Cukup sulit juga ternyata kegiatan itu, terlihat bahwa kadang-kadang Akanamia bertanya balik dengan menggerak-gerakkan tangannya. Untung saja tidak ada pertanyaan aneh-aneh yang diajukan. Akhirnya selesai juga pertemuan itu. Orang-orang pun berbubaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang menghampiri Mayayo. Satu adalah Akanamia dan seorang lagi seorang tua, yang dikenalkan sebagai kakeknya tadi oleh gadis tersebut. Mayayo kemudian berterima kasih kepada kedua orang tersebut setelah mendengar bahwa mereka yang pertama menemukan dirinya dan memanggil rekan-rekan mereka untuk membawanya ke Desa Terapung, berikut pula perahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari kita makan siang!" ajak Akanamia setelah kakeknya memberi isyarat kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayayo mengangguk dan berjalan mengikut kedua orang itu. Kembali menyusuri lorong-lorong di antara bangunan kayu yang "tumbuh" di atas tanah berupa papan-papan kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikan bakar, sayur-sayuran hasil bercocok tanpa atau dengan sedikit tanah, dan bubur rebusan tulang dan sumsum ikan besar adalah menu makan siang itu. Tiga orang itu tampak mengelilingi hidangan yang disajikan dalam piring dan mangkok yang terbuat dari kayu dan perabotan dari tulang ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahap ketiganya menyantap apa-apa yang ada. Tidak terdengar percakapan kecuali kunyahan samar-samar. Begitulah makan yang baik. Berkonsentrasi, menyerap kenikmatan yang hanya sejengkal usianya, dari ujung bibir, dibaui hidung, sampai akhir lidah. Setelah itu tak ada lagi perbedaan rasa makanan yang hambar ataupun nikmat. Bila menyadari, proses memakan hidangan akan menjadi lebih sakral dan khidmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akanamia dan kakeknya tak lupa menjelaskan bagaimana makanan-makanan itu disiapkan. Sang kakek dengan gerakan-gerakan tangannya, yang kemudian dijelaskan dengan ucapan oleh cucunya, Akanamia. Mayayo mengangguk-angguk mendengarkan. Sebagai seorang nelayan ia telah banyak berkecimpung di laut dan makan-makanan ikan, tapi apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang Suku Pelaut ini, menambah sedikit-banyak pengetahuannya. Cara memasak yang lebih hemat energi, cara mengawetkan ikan yang lebih baik dan memanfaatkan tulang-tulang ikan untuk perabot makan dan lainnya. Bagi Suku Pelaut, pergi ke darat untuk mencari bahan-bahan dasar untuk perabot amat jarang dilakukan. Begitu kebiasaan leluhur mereka, begitu pula yang mereka lakukan tanpa banyak bertanya-tanya. Suatu kearifan orang-orang yang sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah engkau telah beristri?" tanya sang kakek itu setelah makan siang mereka selesai. Suatu pertanyaan yang diterjemahkan dengan muka merah padam oleh Akanamia, cucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum!" jawab Mayayo pendek. Nalurinya mengatakan ada yang "tidak beres" dengan pertanyaan ini. Orang yang baru kenal, memiliki cucu yang telah dewasa dan cantik, dan mengajukan pertanyaan seperti itu kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagus!!" ucap kakek itu kemudian. Untuk kata-kata pendek seperti "ya", "tidak", "bagus" dan "jelek" Mayayo telah diajari dan dengan cepat mengerti. Bahasa isyarat yang diajarkan tidak terlau sulit, hanya saja kembangannya yang banyak dan gerakannya yang cepat membuatnya tidak dengan mudah dapat mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akanamia juga belum," ucap kakek itu kemudian melalui perantaraan mulut kakeknya. Merahnya wajah sang cucu menjadi semakin jelas. Bila bisa terbakar, mungkin sudah terbakar wajah itu. Sudah memerah bahkan sampai ke lehernya yang putih dan jenjang. Ia sudah bisa merasakan ke mana akan arah pembicaraan ini selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening mengisi sesaat waktu di antara mereka. Kakek Akanamia yang telah banyak makan asam garam dunia masih menjajagi tanggapan Mayayo atas pernyataannya. Ia melihat sedikit banyak bahwa cucunya tertarik pada pemuda itu. Dan sekarang ia ingin tahu apakah terdapat juga hal yang sama dari pemuda itu kepada cucunya. Bila ya, amatlah menggembirakan karena ia juga suka akan sikap pemuda itu yang baik menurut pandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ingin menjodohkan cucuku dengan dirimu, Mayayo!" ucap kakek itu. Akanamia, sang cucu yang menjadi penerjemah sudah tentu menjadi kikuk sekali. Hampir-hampir ia salah menyampaikan pesan kakeknya. Sempat ia ditepuk oleh kakeknya pelan, yang tampak senyam-senyum kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bengon Mayayo mendengar itu. Ia telah dapat menduga hal ini, tapi terjadi banyak hal dalam beberapa hari belakangan ini. Ia terkena hantaman badai, tidak tahu berada di mana. Harus juga ia segera pulang, atau kakeknya dan adiknya kuatir, sedangkan ia belum tahu jalan pulang. Di luar itu ia malah ditawarkan untuk dijodohkan dengan cucu kakek yang duduk di hadapannya ini. Cucu yang menerjemahkan pesan-pesan sang kakek yang hanya bisa berisyarat tangan tapi tak bisa berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini..., aku..., eh..,!!" katanya tak jelas. Sudah tentu kakek itu tahu, setelah ia bercerita bahwa ia telah pula tidak berorang tua, dan hanya berkakek dan beradik. Jadi ia sendiri, sebagai seorang pemuda dewasa yang menentukan dia siapa ia akan menikah nanti. Tak lagi ada alasan untuk meminta persetujuan orang lain. Memerah wajah sang pemuda. Hatinya telah bicara, ia pun tertarik kepada Akanamia. Ya, siapa tak tertarik pada dara yang ada di depannya ini. Wajah dan cara berbicaranya yang menawan, juga sikapnya yang tidak dibuat-buat serta ramah. Tak perlu dua kali setiap pemuda ditawarkan kesempatan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika engkau tidak suka...!!" kata kakek tersebut dengan gerakan-gerakan tangannya. Berdebar-debar pula Akanamia saat menerjemahkan kalimat ini. Hatinya telah jatuh hati pada sang pemuda, dan ia tidak ingin mendapat jawaban yang berlawanan dari keinginan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak!! Bukan itu!! Saya suka... Akanamia..," ucap pemuda itu dengan agak bergetar. Mungkin ia tidak takut badai di lautan, tapi pengucapan rasa suka terasa lebih berat dari hantaman angin dan air ke atas diri dan perahunya. Lucu memang, mengucapkan isi hati kadang-kadang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bila demikian, engkau menerima...?" tanya kakek itu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangguk pemuda itu perlahan. Lalu ia tertunduk. Demikian pula dengan dara yang duduk di dekat kakeknya itu. Suara tawa kakek tersebut tanpa nada, hanya udara yang keluar masuk dengan cepat dari mulutnya menggema lirih-lirih. Senang ia bahwa cucunya mendapatkan seorang pemuda seperti Mayayo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi saya harus memberitahu dulu kakek dan adikku, tak bisa saya tiba-tiba membawa Akanamia ke sana..," ucap pemuda itu ragu-ragu. Ya, amatlah aneh. Ia hilang, terserang badai dan pingsan, tahu-tahu muncul kembali membawa seorang istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah tentu.., sudah tentu...! Itu bisa diatur. Engkau tinggalkan saja sesuatu tanda pada Akanamia dan janji akan menjemputnya kembali. Setelah itu engkau sendiri atau bersama pengantarmu bisa kembali dan membawanya ke desamu," ucap kakek itu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangguk Mayayo mengiyakan. Akanamia memandangnya dengan tersenyum bahagia. Tak terasa air matanya menetes. Andai ibu dan ayahnya masih hidup dan dapat melihat ini. Kakeknya kemudian memegang bahunya sebentar dan mengangguk-angguk puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari pun berlangsung dengan cepat bagi Mayayo di Desa Terapung. Persiapan kepulangannya dan juga untuk memberitahu keluarga akan perjodohannya dengan Akanamia. Tak lupa ia diajari beberapa Jurus Air dan juga pengolahan tenaganya, Tenaga Air. Itu adalah ilmu-ilmu khas yang dimiliki oleh anggota Suku Pelaut. Waktu beberapa hari itu tak cukup bagi Mayayo kecuali untuk menyerap dasar-dasar dari kedua ilmu tersebut. Untung saja ada sedikit bakat dan otaknya yang cerdas, membuat pemuda itu sedikit banyak dapat mengingat-ingat apa-apa yang telah diajarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih banyak waktu nanti untuk belajar lebih lanjut. Akanamia kelak sebagai istrimu akan dapat mengajarimu setiap hari," ucap kakek sang dara. Sekarang setelah isi kedua hari muda-mudi itu jelas, tak lagi jengah Akanamia menerjemahkan isyarat tangan kakeknya kepada sang pemuda, bahkan dengan muka yang gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Mayayo diajarkan pula cara-cara membaca cuaca tidak hanya dengan memperhatikan panas dinginnya udara, kencangnya angin serta riak gelombang laut, melainkan juga dengan kelakuan ikan-ikan di dalam air. Sudah tentu untuk itu ia harus mencelupkan kepalanya ke dalam air dan mengamati. Berbicara melalui pikiran tidak mudah diajarkan bagi orang-orang luar yang aliran darah dan hawanya tidak seperti orang-orang dari Suku Pelaut. Tapi walaupun demikian kakek Akanamia menjelaskan teorinya kepada Mayayo, kali-kali pemuda itu dapat merapalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa telah tiba saatnya untuk berpisah sementara. Dua muda-mudi, Mayayo dan Akanamia, merasa bahwa perpisahan itu akan berlangsung lama. Suatu hal yang wajar antara dua insan yang sedang menjalin kasih. Kakek Akanamia hanya memandang kedua insan yang sedang berbicara itu dengan tersenyum. Ia merasa tenang bahwa cucunya akhirnya memperoleh tambatan hati. Tidak mudah untuk mencari pasangan hidup di Desa Terapung untuk masa-masa ini. Orang-orang telah banyak yang menjadi tua. Anak-anak kecil baru mulai belajar berjalan. Tidak ada yang cocok untuk umur cucunya saat ini. Itulah salah satu kekurangan komunitas yang terpencil. Dengan keberaniannya dan hasil urun rembug, kakek Akanamia menjodohkan cucunya dengan orang luar. Ini bukanlah suatu kebiasaan koloni itu. Tapi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan melihat jumlah orang pada umur yang ada sekarang, kebiasaan lama untuk hanya menikah antar sesama mereka perlu sedikit diperlunak. Perlu ada kesempatan untuk orang-orang pergi atau masuk. Jika tidak koloni Suku Pelaut Sunyi akan dapat punah dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sendiri, begitulah yang dirasakan Mayayo saat ini. Baru saja dua orang dari Suku Pelaut Sunyi mengangatarnya dengan sampan mereka. Mendampinginya kanan kiri agar perahunya dapat melaju dengan cepat meninggalkan pulau terapung mereka. Tidak mudah bagi orang biasa untuk mendekati, masuk atau keluar dari pulau tersebut, Desa Terapung, tanpa dibekali pengetahuan khusus. Bisa mereka akan berkeliling-liling saja sampai kecapaian akibat arus putar di bawah permukaan air yang tidak terlihat. Arus putar yang memang sengaja dibuat untuk menjaga Desa Terapung dari pendaratan pihak-pihak yang tidak diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lepas dari arus putar tersebut, kedua orang yang berasal dari Suku Pelaut Sunyi itu melepaskan Mayayo untuk berlayar seorang diri. Berlayar kembali ke desanya. Bertemu dengan adiknya Mayiya dan juga kakeknya Pelaut Ompong. Ia membawa kabar yang menggembirakan bahwa ia telah berjodoh dengan seorang dari Suku Pelaut Sunyi, Akanamia. Seorang dara yang sejak awal pertemuannya dikagumi oleh pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa telah lama ia berlayar. Desa terapung telah tidak lagi terlihat, begitu pula dua orang pengantarnya tadi. Sekarang ia sendiri, seperti keadaanya beberapa hari yang lalu, sebelum dihantam badai dan ditemukan oleh Akanamia dan kakeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih perlu beberapa waktu lagi sebelum ia tiba di desanya. Tangkapan ikan yang hilang akibat dihantam badai telah digantikan dengan oleh-oleh dari Suku Pelaut Sunyi. Pasti orang-orang di kampungnya akan senang dengan oleh-oleh ini. Ia harap juga adiknya suka dengan hias-hiasan dari dasar laut yang merupakan rantaian mutiara yang khusus diberikan oleh Akanamia untuk calon ipar perempuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin pun perlahan bertiup kencang dengan riak air yang bersahabat, seakan-akan mengatakan bahwa "Gunakan aku untuk memacu perahumu melaju ke rumah!" Dengan sigap Mayayo membentangkan layarnya. Mengarahkan kemudinya ke arah pulang dan perahu pun melaju dengan lebih cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baru melaut?" tanya seorang kepada pemuda yang sedang menarik sampannya, mendaratkannya di atas pasir dan kemudian mengikatnya pada tonggak-tonggak kayu yang memang disediakan untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya!" jawab pemuda itu pendek. Ia tidak kenal orang yang baru menyapanya itu. Aneh, tidak biasanya ia tidak kenal seseorang yang berada di pantai dekat dengan desanya. Mungkin tamu orang-orang desa, pikirnya. Kemudian ia mulai menurunkan muatannya dari dalam perahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, tangkapan yang bagus dan juga hias-hiasan ini. Berdagang pula rupanya?" ucap orang itu lagi. Kali ini ada sesuatu yang tidak enak yang terkandung dalam nada bicaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda yang sedang menurunkan muatan sampannya ke atas pasir, merasa agak tidak nyaman karena orang tersebut benar-benar memperhatikan satu-satu barang-barang yang dikeluarkannya dari perahu. Apa orang ini tidak mengerti bahwa itu adalah urusan pribadi, sehingga mengamati sampai sedekat itu. Tapi tak lama kemudian semuanya jelas, memang ada maksud tidak baik di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau harus membayar pajak atas barang-barangmu ini!" ucap orang itu. Kali ini nadanya tidak lagi ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkejut pemuda tersebut mendengar hal ini. Sejak kapan ada pajak penangkapan ikan dan penukaran barang-barang di laut. Bila berdagang di pasar, barulah ada pajak. Itu pun pajak-pajak itu digunakan untuk membersihkan tempat sehabis berdagang dan memperbaiki gubug-gubug yang digunakan untuk menggelar barang-barang yang akan dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sejak kapan ada pajak?" tanya pemuda itu balik. Masih ramah dan sedikit bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sejak detik ini!" ucap orang itu dengan nada kurang ajar. Sambil tak lupa ia menyampirkan tangannya ke arah pinggang, di mana sebatang golok dengan pongahnya bertengger di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pemuda itu berpikir untuk bertindak, tiba-tiba datang beberapa orang dari arah semak-semak di pinggir pantai. Enam orang yang segera menghampiri mereka berdua yang baru akan bersitegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hahahaha!!" ucap seorang dari mereka. "Buat apa lama-lama, jika tak mau bayar, rampas saja barangnya!" Rupanya mereka adalah teman dari orang yang memamerkan goloknya itu. Orang yang ingin menarik "pajak" atas jerih payah orang dari melaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyam dan senyum kecongakkan dan tampak mengiasi wajah mereka. Ciri-ciri orang yang tidak jantang. Mengandalkan jumlah banyak dan senjata untuk memeras satu orang yang berada di tempat yang sunyi sehingga tidak bisa meminta bantuan kepada siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pemuda masih sedikit berpikir, melawan kelihatannya berat, walau bukan berarti tidak mungkin. Tapi bukan itu yang menjadi bebannya, melainkan harga diri. Ia tidak suka dilecehkan seperti itu. Dan sekali hal ini terjadi pada para nelayan, orang-orang ini pasti akan melanggengkan pemerasan mereka kepada orang-orang lain yang tinggal di sini. Ini yang ia tidak mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi kalian ini yang disebut orang Bajak Pantai. Para pemeras nelayan-nelayan yang baru saja melaut?" tanya pemuda itu tanpa takut sambil memperhatikan satu-satu bakal lawannya dan berpikir-pikir bagaimana cara melawan mereka tanpa merugikan dirinya. Ia pernah mendengar soal Bajak Pantai, yang tidak seperti Bajak Laut yang merampok kapal-kapal, orang-orang ini memeras para nelayan dan penghuni desa yang tinggal di tepi pantai. Orang-orang yang tinggal jauh di dari perlindungan para Paturan sehingga tidak bisa berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika engkau sudah tahu siapa kami, bagus itu! Jadi tinggal berikan saja barang-barangmu," ucap seorang dari mereka yang segera mengulurkan tangan hendak mengambil salah satu bungkusan milik si pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti dulu!" ucap sang pemuda pelan. Dayungnya telah diayunkan mencegah tangan itu menggapai barang-barang miliknya. Walaupun digerakkan perlahan tapi dayung itu menimbulkan sedikit angin. Tenaga kasar yang perlu diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi engkau ingin melawan?" ucap rekannya yang lain yang diikuti oleh seluruh kawannya meloncat mundur dan mencabut golok masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tujuh orang tampak mengelilingi pemuda itu dengan golok yang terhunus. Tidak ada lagi wajah-wajah ramah palsu yang tadi disajikan mereka. Sebenarnya mereka tidak ingin beramah-ramah, melainkan mencoba hanya untuk menghemat tenaga, kalau-kalau dapat memperoleh rampasan tanpa harus mengeluarkan keringat. Cukup dengan ancaman. Tapi sayangnya tidak berhasil dengan pemuda ini. Sekarang mau tidak mau mereka harus berlaga. Selain untuk mendapatkan hasil, perlu pula untuk menjaga keangkeran nama besar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wutttt!!" serangan golok seorang dari mereka dapat dielakkan dengan mudah oleh sang pemuda. Sementara bacokan golok yang lain terpaksa ditangkisnya dengan dayungnya, "Dheggg!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergetar tangan orang yang goloknya ditangkis, ternyata si pemuda memiliki tenaga kasar yang cukup besar sehingga dapat dengan mudah menangkis goloknya serta masih menggetarkan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wutt!! Plakk!!! Bleggg!!" bertubi-tubi hujan golok dan juga tendangan dijatuhkan oleh para Bajak Pantai kepada si pemuda nelayan itu yang mengelak, menangkis dan membalas dengan dayung kayunya, Perkelahian yang jelas-jelas tidak seimbang. Satu lawan tujuh dan golok lawan dayung. Bisa dipastikan si pemuda tak lama lagi akan bersimbah darah. Sebaret luka telah diperolehnya saat ia tidak cepat menghindar sehingga punggungnya kena sabetan golok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggigit bibir pemuda itu memantapkan semangatnya untuk terus berlaga. Luka yang mulai meneteskan darah dan memberikan perasaan perih itu coba untuk dia tahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Duggg!!!" dayung sang pemuda memakan salah satu kepala penyerangnya yang segera tersuruk ke atas pasir dengan kepala pecah. Rupanya walaupun tidak bisa bersilat dengan baik, pemuda itu mengenal beberapa gerakan yang mengalir dan tak terduga. Ia serang sana-sini dengan kacau, tapi kadang berurutan dan saling mengejar. Lawannya yang meremehkan tidak menyangka bahwa dayung tersebut dapat berbali arah dengan cepat dan menyerang balik dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hati-hati!!" ucap seorang lawannya memperingatkan rekan-rekan sesama pengeroyok sang pemuda. "Dia bisa juga sedikit-sedikit ilmu beladiri...!! Kurung rapat!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Telaga, itu Mayayo!" ucap seorang pemuda yang segera berlari-lari dengan disusul temannya yang dipanggil Telaga tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pemuda itu segera berlari cepat ke arah batas air dan pantai di mana pertarungan telah berpindah tempat. Mayayo yang dikeroyok dengan tubuh terluka sana-sini tampak berdiri dengan air telah merendam kakinya sebatas dengkul, yang terlihat menyulitkannya untuk mengelak. Tampak di pantai tak jauh dari sana seorang dengan kepala retak dan permukaan pasir yang memerah di bawah kepalanya tergeletak. Di tangannya tampak masih golok tergenggam erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada enam orang yang mengeroyok Mayayo. Yang dikeroyok sudah tampak kelelahan. Bibirnya tampak terkatup rapat menahan sakit akibat luka sabetan golok dan lebam pukulan serta tendangan. Saat ia melihat kedua orang yang datang, berucap ia "Wassa!!". Tidak kenal ia pemuda yang datang bersama Wassa. Tapi melihat adanya bantuan datang, naik kembali semangat bertarugnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi mendengar bahwa pemuda yang dikeroyok itu adalah Mayayo, kakak dari Mayiya. Telaga tak terasa tersenyum. Kejadian ini amat baik untuk menonjolkan kemampuan Wassa yang baru diajarinya dan juga sebagai kepedulian Wassa kepada orang-orang di desanya. Bisa jadi hal ini akan menjadi nilai yang baik bagi pemuda itu di mata kakak dari orang yang dicintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera kedua pemuda itu, Wassa dan Telaga, menceburkan diri dalam pertarungan. Segera jalannya bertarungan berpindah dari tadi berat ke kekalahan Mayayo menjadi seimbang. Mungkin lebih berat ke kemenangan pihak Mayayo andai saja ia tidak terluka dan Telaga tidak menahan serangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tangan kosong saja kedua pemuda itu dapat menahan serangan orang-orang Bajak Pantai yang menggunakan golok, tapi tidak mendesaknya. Pertarungan pun berjalan sedikit lama dengan kedudukan seimbang. Karena bertangan kosong, kedua pemuda yang baru datang itu tidak bisa mendesak terlalu dalam orang-orang yang bersenjatakan golok tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawan dari ketiga pemuda itu, begitu melihat adanya bala bantuan, menjadi kecut hatinya. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk memeras hanya di tempat yang sunyi. Sekarang hati mereka menjadi kebat-kebit kalau-kalau orang sekampung akan datang mengeroyok mereka. Begitulah watak yang pengecut, tidak berbanyak atau bersenjata, tak ada keberanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Telaga berbisik kepada Wassa, "Serang yang jauh darimu dengan loncatan belakang, ingat gerakan yang aku ajari!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangguk Wassa mendengar petunjuk itu. Dari hasil diskusi mereka saat berlatih di makam kuno di atas bukit mereka menciptakan gerak-gerak menyerang yang tak terduga. Menyerang orang yang jauh dan mengabaikan yang dekat. Sudah tentu Telaga tidak menceritakan sejujurnya bahwa ide itu datang dari orang yang ditemuinya seorang diri di sana. Sesosok wujud yang sama sekali belum dikenalnya. Kepada Wassa ia hanya mengatakan bahwa ide itu datang dengan memperhatikan keteraturan dari pemakaman kuno di atas bukit tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mendadak Wassa meloncat mundur saat serangan di sebelah kirinya kosong dan lawan yang dituju sedang menarik goloknya. Ia menyerang cepat dan mengejar. Lawan itu terkejut karena tak disangka dirinya yang berdiri paling jauh dari sang pemuda, malah diserang dan dikejar. Rekannya yang mencoba menyerang, dipapaki serangannya oleh Telaga. Sebenarnya bila Wassa cukup hati-hati dan melakukan gerakan dengan tipuan secara tiba-tiba, tak perlu Telaga membantunya. Ini karena Wassa belum begitu paham gerakan ini sehingga perubahan serangannya dapat terbaca oleh rekan sang lawan yang ditujunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Deggg!!!" pukulan Wassa masuk ke dada lawannya tersebut. Dan selagi lawannya itu terhuyung ke belakang untuk menghindar, Wassa terus merengsek maju. Ia membungkukkan tubuhnya sehingga bacokan ngawur lawannya yang dilakukan sambil menahan dadanya yang sakit lewat di atas kepalanya, lalu menyelinap di bawah tinggi bahu lawannya, mengait tangan yang tidak memegang golok, memutarnya dan melakukan bantingan dengan jurus Berkelit Membanting Padi. Gerakan yang diajarkan Telaga. Suatu ilmu tangan kosong yang diperoleh Telaga dari gurunya Arasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya Bajak Pantai itu terbanting di atas pasir dan pingsang. Tak bergerak-gerak. Gerakan yang cepat ini juga membungkamkan mulut rekan-rekannya yang semakin ciut nyalinya. Sudah dua teman mereka ditumbangkan. Belum lagi jika penduduk kampung datang. Dengan saling melirik antara mereka, orang-orang Bajak Pantai itu pun bersuitan dan segera ambil langkah seribu dari tempat itu. Tak lupa salah seorang dari mereka mengucapkan sumpah serapah dan juga ancaman kepada ketiga pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayayo segera terduduk letih. Dengan dipapah oleh Wassa dan Telaga ia didudukan di atas pasir, menyandar pada perahunya. Segera Wassa meminumkan air yang dibawanya di pinggang. Sunyi kemudian di antara mereka. Sementara kedua lawan mereka, yang satu mati dan yang satu pingsan, tampak tergeletak tak jauh dari sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu tampak riuh-rendah di kejauhan. Rupanya selain Wassa dan Telaga yang melihat dan terjun langsung ke perkelahian itu, ada pula orang desa lain yang melihat dan segera melaporkan hal ini. Berbondong-bondong orang dengan tongkat dan golok datang menjelang. Tajam juga intuisi para Bajak Pantai, sehingga melihat kedudukan yang tidak seimbang melawan Mayayo, Wassa dan Telaga, segera mereka mengambil langkah seribu. Jika telat mereka memilih keputusan itu, bisa jadi mereka sudah berbaring di atas pasir dan babak-belur dihajar orang-orang desa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakak!!" teriak Mayiya saat melihat kakaknya dipapah oleh Telaga dan Wassa. Menghambur gadis itu dalam rengkuhan kakaknya dan menangis sesenggukan. Ia tidak menyangka bahwa perkelahian di pantai yang disampaikan oleh seseorang sehingga para pemuda dan laki-laki bersama-sama ke sana, melibatkan kakaknya. Untung saja tidak terjadi apa-apa terhadap sang kakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Huss!! Sudahlah adiku, aku tidak apa-apa! Terima kasih pada kedua orang ini, terutama Wassa yang sudah membelaku sehingga para Bajak Pantai itu lari terbirit-birit," katanya sambil menunjuk pada Telaga dan Wassa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangguk dan memandang dengan penuh terima kasih Mayiya kepada kedua orang ini. Wassa yang dipandang seperti itu menjadi jengah dan berdebar-debar hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera Mayiya membawa kakaknya ke serambi rumahnya. Di sana telah berkumpul orang tua-muda yang segera berdatangan serta-merta mendengar kedatangan Mayayo dan juga perkelahian di pantai tersebut. Dengan cekakan Mayiya mengobati kakaknya. Membubuhkan luka sang kakak dengan ramuan dan membalutnya, setelah terlebih dahulu membersihkannya. Untung saja para Bajak Pantai itu adalah orang-orang kasar biasa, sehingga golok mereka tidak dibubuhi racun. Luka yang terkena racun dapat berbahaya sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lupa Mayiya juga menanyakan keadaan Telaga dan Wassa. Telaga mengatakan ia baik-baik saja, dan menunjuk ke pada Wassa yang terluka ringan. Dengan segera gadis itu mengobati sang pemuda yang ditunjuk, yang menjadi berdebar-debar dan bergemuruh dadanya saat gadis itu menyentuh dan mengobati lengannya yang luka tergores golok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaut Ompong tak ada di tempat. Ia sedang pergi ke desa lain untuk suatu urusan. Kemudian warga pun bubaran setelah mereka saling membicangkan soal penyerangan di pantai itu. Rasa-rasa cemas tampak dalam wajah mereka. Bila suatu saat mereka mendapat giliran, menjadi bahan pikiran masing-masing orang. Ada yang mengusulkan bahwa masalah ini harus dibicarakan sedesa dan dicarikan pemecahannya. Menangguk-angguk beberapa orang menyetujui usul itu. Dan dalam waktu dekat rencananya akan diadakah rembug desa untuk membahas hal ini. Setelah mengucapkan selamat datang dan semoga cepat sembuh kepada Mayayo, orang-orang pun mulai berpamitan, kembali ke rumah masing-masing dan meneruskan pekerjaan mereka yang tadi terhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian Pelaut Ompong pun pulang. Dengan gembira ia mendapati bahwa cucu laki-lakinya, Mayayo, telah tiba kembali di rumah. Perkara perkelahian di pantai tidak terlalu menyita perhatiannya melainkan jauh lebih senang ia mendengar bahwa Mayayo telah berjodoh dengan Akanamia dari Suku Pelaut. Tak lupa pula Pelaut Ompong menyampaikan maksud dari Wassa yang ingin meminang Mayiya. Tadinya Wassa bagi Mayayo adalah seorang pemuda biasa, akan tetapi setelah pemuda itu menolongnya dari serangan para Bajak Pantai waktu ia baru mendaratkan perahu, pandagangannya terhadap pemuda itu berubah banyak. Ia kagum akan sikap pemuda itu. Dengan segera ia menyetujui pinangan Wassa. Hanya waktu belum ditentukan kapan mereka berdua akan menikah. Mayiya yang merasa berhutang budi pada Wassa menerima bahwa pemuda itu menjadi jodohnya, terlebih setelah mendengar bahwa Telaga yang dikaguminya pun sudah bertunangan. Jadilah kebahagiaan pada keluarga Pelaut Ompong. Kedua cucunya akan segera menikah karena telah memiliki jodoh masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Telaga setelah orang yang ditunggu-tunggunya tiba, Mayayo, segera meminta keterngan perihal Suku Pelaut. Awalnya Mayayo tidak mau banyak bercerita mengingat Suku Pelaut tidak terlalu suka dikunjungi oleh orang tak dikenal. Akan tetapi mengingat bahwa Telaga pulalah yang mengajarkan ilmu beladiri kepada Wassa sehingga pemuda itu dapat menolong dirinya, bercerita pulalah ia. Bahwa Suku Pelaut umumnya memiliki tempat yang berpindah-pindah, dan ia secara kebetulan dapat bertemu dengan mereka. Ia saja yang telah berjodoh dengan seorang dari mereka, tidak tahu bagaimana cara mencari kediaman mereka. Ia hanya akan berlayar kembali ke tempat ia terakhir berpisah dari mereka dan menunggu tanda-tanda di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu Telaga pun semakin bersemangat untuk mencari tahu mengenai Suku Pelaut itu. Ia merasa keterangan lebih lanjut dari orang-orang di desa itu tidak dapat diperolehnya. Sudah saatnya ia melanjutkan perjalanan. Mungkin ke desa lain masih di sepanjang pantai. Jika ada satu hal yang memberatkannya adalah orang yang mengundangnya ke makam kuno di atas bukit itu. Sampai sekarang ia belum tahu siapa orang itu dan apa maksudnya. Pelaut Ompong dan juga Mayayo tidak bisa memberikan keterangan tambahan, bahkan setelah Telaga menceritakan perihal pertemuannya dengan suara tanpa wujud di sana. Keduanya hanya menggeleng-gelengkan kepala saat ia menceritakan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaga kemudian setelah melihat Mayayo sembuh dan para Bajak Pantai tidak lagi datang untuk membalaskan kekalahannya, minta diri. Pemuda dan pemudi yang telah sedikit banyak dilatih beladiri olehnya merasa cukup kehilangan karena telah tercipta keakraban di antara mereka. Yang paling merasa kehilangan sudah tentu Wassa. Ia merasa pemuda itu telah banyak membantunya sehingga ia sampai bisa merebut hati gadis yang dicintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilepas dengan rasa persahabatan Telaga pun berlalu dari desa yang bernama Tepi Darat Selatan itu. Beberapa orang sahabat telah diperolehnya di tempat itu. Tempat yang suatu saat akan dikunjungi kembali. Mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu paman! Itu pulau yang diceritakan Telaga, past!" ucap seorang dara kepada lelaki tua yang menyertainya, yang hanya mengangguk mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya terdiam saat langkah kaki mereka hampir menyentuh batas antara darat dan air. Sebuah danau yang luas dan indah, yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pula. Pulau yang menjadi tujuan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang bagaimana caranya menyeberang ke sana?" tanya orang tua itu perlahan, seperti berbicara kepada dirinya sendiri. "Engkau ada ide, Sarini?" katanya kemudian kepada dara yang ada di dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dara yang dipanggil Sarini itu hanya menggelengkan kepalanya. Ya, ia tidak tahu harus bagaimana menyeberang danau itu untuk mencapai pulau di tengahnya. Terpikir hanya satu jalan, yaitu berenang. Tapi ia masih ragu-ragu melihat jarak tempuh yang harus dilampauinya sebelum mereka mencapai pulau di tengah itu. Belum lagi apa-apa yang hidup di dalam danau itu, yang mungkin dapat menghambat penyeberangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari kita kelilingi dulu danau ini, paman Walinggih! Siapa tahu ada tempat untuk menyeberang," usulnya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua, sang paman Walinggih mengangguk setuju karena ia tidak ada ide lain yang lebih baik untuk dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun mulai menyusuri pantai di tepi bagian luar danau tersebut. Berjalan agak cepat, dan makin lama makin cepat. Kegembiraan akan keindahan tempat itu rupanya menulari sang dara dan sang lelaki tua, sehingga mereka memacu langkah mereka dalam mengelilingi pantai itu. Tak terasa akhirnya mereka tiba di tempat semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cape paman...., dan itu matahari sudah mulai hilang...," ucap Sarini sambil menunjuk ke arah barat. Di langit bagian tersebut tampak sinarnya sudah mulai menguning dan bertambah temaram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lebih baik kita mencari tempat untuk bermalam dulu," ucap Walinggih, "kelihatannya kita tidak dapat menyeberang sekarang. Mungkin ada nelayan atau orang yang suatu saat ingin menyeberang dan kita dapat meminta tolong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan-akan tahu kebutuhan mereka tiba-tiba dari arah daratan tampak dua orang berjalan sambil menggotong perahu mereka. Mereka rupanya ingin mencari ikan di danau itu pada malam hari. Mungkin ikan-ikan yang hanya muncul dalam gelap, pikir Walinggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera Walinggin menyapa mereka dan menyatakan maksudnya untuk minta diseberangkan ke pulau di tengah-tengah danau tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang nelayan yang baru datang itu tampak agak curiga terhadap Walinggih dan Sarini. Hal ini karena jarang sekali ada orang luar yang berkunjung ke danau itu, apalagi menyeberang ke pulau di tengahnya. Untuk itu berceritalah Walinggih tentang maksudnya dan juga perihal Sarini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, jadi anda berdua ini, tamunya Ki dan Nyi Sura?" ucap seorang dari mereka. "Baiklah kalau begitu, kami bantu menyeberang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalian tidak usah kuatir masalah penangkapan ikan, saya akan mengganti ongkos penyeberangan ini," ucap Walinggih ramah. Ia sudah amat berterima kasih ada yang akan membantunya menyeberang ke pulau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak!! Tidak!! Kami membantu dengan cuma-cuma. Ketiga orang yang hidup di tengah pulau itu telah cukup membantu kami. Kami ingin sekali membantu mereka kembali, dan saat ini adalah kesempatan kami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangguk-angguk Walinggih mendengar itu. Orang-orang desa yang masih mengingat jasa orang lain dan mau membalas budi. Andai saja orang-orang kota saat ini juga masih seperti itu, saling tolong-menolong dan membantu tanpa perhitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naiklah kemudian mereka berempat di atas sampan itu. Awalnya seorang dari nelayan tersebut agak kuatir perahu mereka akan tenggelam atau terbalik dikarenakan muatan yang berlebih. Umumnya perahu mereka hanya kuat mengangkut dua sampai tiga orang. Tapi alangkah herannya mereka bahwa perahu mereka tidak melesak ke dalam air seperti perhitungan mereka semula. Yang mereka tidak ketahui adalah bahwa Walinggih dan Sarini mengerahkan ilmu meringankan tubuh selama penyeberangan itu sehingga seolah-olah perahu kedua nelayan itu hanya mendapatkan tambahan bobot dua orang anak kecil saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari menyeberang itu berceritalah kedua nelayan tentang pekerjaan mereka dan ikan apa yang ingin ditangkap mereka hari itu. Dan benar seperti dugaan Walinggih semula, mereka mencari ikan yang hanya keluar pada malam hari. Ikan tersebut terutama keluar saat bulan bersinar. Entah mengapa sinar bulan menarik jenis ikan tersebut untuk berenang-renang dekat permukaan seperti halnya laron yang terbang mendekati nyala api. Untuk itu para nelayan akan memasak jebakan jaring yang membuat ikan tersebut mendekati permukaan karena sinar bulan, akan tetapi tidak melihat jaring yang dipasangkan. Suatu perangkap satu arah, ikan dapat masuk tapi tidak lagi dapat keluar atau berbalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua penumpang mereka mendengarkan cerita kedua nelayan dengan membisu. Samar-samar terdengar suara perut mereka minta diisi. Keduanya saling memandang dan tersenyum. Nelayan yang bercerita tidak mendengar karena sendang asiknya mendongeng sedangkan temannya sedang asik mengemudikan perahu yang bergerak perlahan ke arah pulau karena adanya arus di bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama sampailah perahu yang ditumpangi Walinggih dan Sarini ke pulau di tengah danau itu. Dengan sigap kedua nelayan yang membawa mereka mendaratkan perahu mereka dan mempersilakan mereka untuk mendarat. Keduanya sempat menanyakan apakah Walinggih dan Sarini ingin diantar kembali ke seberang setelah berjumpa dengan Ki dan Nyi Sura, akan tetapi kedua orang itu mengatakan bahwa waktu untuk itu tidak dapat dipastikan. Kedua nelayan tersebut kemudian mengangguk mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kata seorang dari mereka, "Ki dan Nyi Sura pasti juga memiliki sampan. Atau jika kalian ingin dijemput, apungkan saja sesuatu dan sertakan kertas di atasnya. Arus danau ini akan membawanya ke tempat kami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangguk mengiyakan Sarini dan Walinggih, walaupun mereka sebenarnya tidak terlalu mengerti bagaimana cara itu bisa menyampaikan pesan kepada nelayan yang tinggal di pinggir pantai danau itu. Tapi mereka tidak bertanya lebih lanjut melainkan menyimpannya dalam hati. Mungkin sebaiknya ditanyakan kepada kedua orang yang akan mereka temui di pulau itu. Setelah mengucapkan terima kasih, kedua nelayan itu pun kembali ke air untuk menangkap ikan yang tadinya merupakan tujuan mereka mendanau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, paman.., kita sudah di sini. Ke arah mana kita harus berjalan?" tanya Sarini kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walinggih mempelajari dulu rerimbunan yang ada di hadapannya, di belakang hamparan pasir putih yang sunyi akan tetapi bergemerlap oleh timpaan sinar bulan. "Mungkin ke sana," tunjuk orang tua itu pada sebuah jalan setapak yang terlihat samar-samar di balik rerimbunan rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul, paman! Saya tidak melihatnya tadi. Itu pasti jalan setapak yang akan membawa kita ke tempat orang tua Telaga," ucap gadis itu. Tak terasa ada rasa sungkan dan jengah. Ya, bagaimana tidak, ia akan bertemu dengan orang tua dari pemuda yang akan menikahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya kemudian beranjak dari sana dan mulai menyusuri jalan setapak yang mulai tampak ditumbuhi rerumputan sehingga tidak terlalu jelas terlihat. Keadaan jalan itu seakan-akan menceritakan bahwa ia sudah cukup lama tidak digunakan sehingga rumput-rumputan memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan menghapus jalur-jalur lindasan kaki yang tadinya ada. Untung tidak terlalu lama, jika tidak, harusnya Sarini dan Walinggih berjalan sambil membuat jalan setapak baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian sampailah mereka ke suatu tempat yang agak terbuka, tetapi juga telah dipenuhi rerumputan. Di sana berdiri sebuah saung. Akan tetapi sama dengan kondisi jalan setapak yang baru saja mereka lewati, kondisinya pun tak terurus. Terlihat telah lama tidak disentuh oleh tangan manusia yang menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paman, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sarini perlahan, "kelihatannya mereka tidak ada di sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, terlihat seperti sudah lama tidak ada orang di sini," jawab Walinggih mengiyakan. Tapi bila kedua orang yang ingin dikunjungi mereka tidak berada di tempatnya, mengapa kedua nelayan yang mengatakan kenal dengan mereka tidak mengatakan apa-apa tadi. Malah senang bahwa ia dan Sarini hendak berkunjung ke pulau itu. Pikirannya melayang ke mana-mana. Ada yang dirasanya tidak beres dan telah terjadi di tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba matanya melihat ke sebuah catatan yang terlihat sengaja disimpan di dinding saung itu. Agak terletak di sebelah dalam, sehingga orang yang tidak masuk tidak akan menyadari bahwa ada catatan di sana. Tidak diambilnya catatan itu melainkan hanya dibacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di gua dekat ceruk Sungai Batu Hitam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kata-kata lain. Mungkin pesan yang sengaja ditinggalkan bagi orang yang sudah tidak asing lagi dengan keadaan tempat ini, yang tahu di mana itu "Sungai Batu Hitam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari kita ikuti petunjuk ini," katanya kemudian kepada Sarini yang setelah diberitahu juga terlihat bingung. Sudah keadaan tempat ini yang tidak terurus ditambah dengan petunjuk yang asing bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya pun mulai mencari-cari di mana kiranya dari tempat itu bisa terdapat sebuah sungai, dan syukur-syukur dekat batu yang berwarna hitam, sehingga bisa saja adalah sungai yang dimaksud. Setelah lama mencari-cari, akhirnya gemerik air terdengar samar-samar. Keduanya pun berjalan ke arah sana dengan ditemani oleh sinar bulan yang cukup membantu mereka menemukan jalan dalam rerimbunan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ceruk yang digenangi air yang cukup lebar dan berwarna kegelapan berada di sana, di bawah sebuah sungai yang sebagian airnya merembes dan mengalir perlahan ke bawahnya. Sebagian lain mengalir menuju tempat lain dan menuju danau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika ceruk ini yang dimaksud dan sungai tersebut, maka guanya berada tak jauh dari ini," ucap Walinggih perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarini mengangguk-anggukkan kepalanya. Tapi matanya belum dapat menemukan di mana sekiranya sebuah gua dapat berada di tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba serangkum hawa dingin memembelai mereka sehingga tersentak dan menuju ke suatu arah, di mana dalam arah tersebut tampak sebuah lubang gelap dalam dinding batu hitam, dengan gemerlapan kemilau putih samar-samar terpancar dari dalamnya. Sebuah gua yang memancarkan sedikit sinar temaran dari dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu seharusnya gua yang dimaksud dalam pesan itu," ucap Walinggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya pun segera beranjak ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hati-hati, paman!" ucap Sarini saat mereka tiba di muka gua tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar, kita harus hati-hati!" ucap Walinggih mengiyakan. Ia tidak tahu siapa yang tadi mengirimkan serangkum hawa dingin sehingga mereka dapat mengetahui posisi gua ini. Siapapun orang itu, mereka berdua belum mengetahui maksudnya, tapi yang pasti ilmu kepandaiannya tidak boleh dianggap sepele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hati-hati mereka masuk ke dalam gua dan melalui beberapa stalaktit dan staklamit yang hampir membentuk tiang-tiang. Perlahan mereka menyelinap di antara tiang-tiang batu yang ada dan tetap hati-hati, sampai akhirnya mereka di suatu ruangan dengan langit-langit yang lebar dan tinggi. Di sana-sini tampak air perlahan menetes perlahan, mungkin rembesan air dari sungai yang mengalir di atas gua batu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana ditengah-tengah ruangan yang temaram disinari rerumputan dan tanaman yang bersinar dalam gelap. Tampak sesosok sedang duduk di hadapan dua buah gundukan berwarna putih pualam setinggi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan kedua orang itu, Walinggih dan Sarini, mendekati sesosok yang tampak sedang berkonsentrasi tersebut. Tak berani menganggu, keduanya pun duduk bersila dalam jarak setombak darinya dan menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening sejenak meliputi suasana di sana, menambah intensitas hawa dingin yang terasa mengisi dengan pekat udara di sekitar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalian mencari Ki dan Nyi Sura?" tanya orang itu perlahan sambil membuka matanya. Tampak bola matanya yang tidak seperti biasanya melainkan berwarna keputihan, seperti kulitnya yang pucat dan rambutnya yang seluruhnya telah memutih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, kami mencari mereka. Bisa tolong tunjukkan di mana mereka berada?" tanya Walinggih dengan sopan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu dengan raut muka sedih menunjuk kepada kedua gundukan berwarna putih yang "duduk" di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini.... mereke!!!" ucap Sarini yang tidak dapat menahan keterkejutannya demi melihat bahwa di balik pualam putih, yang ternyata adalah es, tampak samar-samar wajah seorang manusia. Dua buah manusia yang telah membeku. Ki dan Nyi Sura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau yang membuat mereka demikian??" ucap Walinggih yang segera siapa dengan gerakan siap mencabut pedang panjangnya. Walaupun ia tahu orang dengan kemampuan yang dapat membuat orang membeku seperti itu adalah di atas kemampuan dirinya dan Sarini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku adalah sahabat mereka...," ucapnya perlahan, "aku melakukan ini untuk mencegah mereka terluka lebih parah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terluka? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Walinggih yang sikapnya kemudian melunak demi mendengar jawaban yang jujur dari orang tersebut. Tak tersembunyi kepura-puraan dari cara orang itu berbicara dan mejawab pertanyaannya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka sedang melatih Tenaga Air tingkat tertentu, di mana mereka harus membolak-balik aliran darah mereka untuk menerobos titik-titik yang tersumbat. Tapi sayangnya terdapat kesalahan sehingga mereka terluka," jelas orang itu. Lalu lanjutnya, "pada saat-saat itu kebetulan aku kembali dan menemukan mereka dalam keadaan terluka dengan jalan darah terbalik-balik. Dengan membekukan mereka, untuk sementara mereka berada dalam keadaan aman. Tapi perlu dicari orang yang dapat mengobati mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walinggih dan Sarini mendengarkan penjalasan itu dengan penuh perhatian. Tak disangkanya kedua orang yang membeku tersebut sedang ditolong oleh sang sosok yang hampir berwarna seluruh tubunya keputihan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu setelah ditanya, Walinggih dan Sarini pun menjelaskan maksud kedatangan mereka untuk bertemu dengan Ki dan Nyi Sura. Tersungging senyum di wajah pucat orang itu demi mendengar kabar gembira yang dibawa oleh kedua pengunjung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu katanya, "Ah, kalian membawa kabar baik. Tentunya kedua sahabatku ini akan gembira sekali, jika saja mereka dapat mendengarnya." Wajahnya kembali muram demi ia menyelesaikan kalimatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang yang duduk bersila di hadapannya tampak diam. Tak tahu harus berbuat apa. Keheningan pun kembali menyeruak di antara mereka berlima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa lama pembekuan ini bisa dilakukan?" tanya Walinggih kepada orang yang terlihat seluruh tubuhnya hampir berwarna putih tersebut, yang mengaku bernama Rancana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak tahu," jawab Rancana pendek. Ia hanya melakukan apa yang diminta oleh kedua orang temannya itu untuk menghambat luka dalam tubuh mereka. Melakukan olah tenaga yang mereka ajarkan sehingga dapat membekukan tubuh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan engkau dapat melakukannya sendiri, terus-menerus?" tanya Walinggih kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak juga," ucapnya pelan, "proses ini juga membahayakan diriku sendiri. Tapi beberapa hari lagi mereka sudah tidak perlu dibantu. Pembekuan mereka akan langgeng selamanya apabila suatu tahap mati suri telah tercapai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya kemudian terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Warna putih pada tubuhmu juga akibat penyaluran tenaga untuk membekukan mereka, betul begitu?" tanya Walinggih kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rancana hanya mengangguk. Dugaan Walinggih benar adanya, bahwa efek samping dari cara ia menolong adalah memperoleh kehilangan warna pada bagian-bagian tubuhnya. Sudah bola matanya, rambutnya dan juga kulitnya. Pada akhirnya bagian-bagian dalam tubuhnya juga, seperti lidah dan rongga mulut. Dan akhir yang tidak diharapkan adalah ia akan memutih membeku, menjadi patung es, mirip dengan kedua orang yang ditolongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pesanku, bila aku harus menemani mereka 'membeku'..," ucap Rancana, "tolong katakan pada muridku, Lantang, bahwa aku belum menemukan cara melancarkan aliran hawa dalam tubuhnya." Lalu diceritakan perjalannya ke Rimba Hijau, bertemu dengan para Manusia Tiga Kaki dalam upaya mencari penyembuhan muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangguk-angguk Walinggih mendengar pesan tersebut. Ia melihat betapa besar kasih sayang Rancana kepada muridnya itu, yang ternyata tidak mampu menyalurkan tenaga dalamnya akibat sebab yang tidak diketahui pada susunan jalan darahnya. Walinggih pun menyanggupi permintaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping mengoper tenaga dalamnya kepada Ki dan Nyi Sura, Rancana pun menyempatkan diri untuk mengajari Sarini ilmu meringankan tubuhnya. Ia yang dikenal sebagai Bayangan Menangis Tertawa, memang memiliki ilmu simpanan dalam meringankan tubuh dan bergerak cepat ke sana-kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tentu yang merasa gembira pula selain Sarini adalah Walinggih, ia merasa senang bahwa muridnya mendapat tambahan ilmu dari seorang yang tokoh yang selama ini telah lama menghilang dari dunia persilatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari pun berlalu diisi dengan pengoperan tenagan kepada Ki dan Nyi Sura, latihan Sarini dan perbincangan antara Walinggih dan Rancana. Pengembaraan Rancana yang ke sana-ke mari ternyata telah membawa padanya juga kabar mengenai Hakim Haus Darah, julukan yang dulu dimiliki Walinggih. Julukan yang telah lama ditinggalkan dengan sifat-sifat jeleknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya tertawa karena mereka saat ini telah menjadi tua dan julukan-julukan kuno telah lama lewat. Yang mereka pikirkan sekarang adalah orang-orang yang menjadi murid-murid mereka. Suatu kesamaan dari orang-orang yang menjadi lebih bijaksana setelah diri mereka menjadi tua dan sadar hidup tidak lama lagi di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa telah berlalu hari-hari di mana Walinggih dan muridnya Sarini menetap di Pulau Tengah Danau, menemani Rancana yang terus menerus menyalurkan tenaga dalamnya ke Ki dan Nyi Sura yang telah membeku. Dengan cara yang diberikan oleh mereka berdua, mau tak mau Rancana pun berangsur-angsur akan menjadi seperti mereka. Menjadi sesuatu yang hanya memiliki hawa dingin dan pada akhirnya akan membeku menjadi sama seperti mereka. Pada tahap tersebut Ki dan Nyi Sura tidak lagi perlu diasup tenaga dalam karena kondisi mereka telah dapat menyerap sendiri aliran tenaga yang dibangkitkan oleh gua di mana mereka berada dan juga aliran sungai di atas gua tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rancana pada awalnya telah tahu resiko ini, dan kedua rekan yang akan ditolongnya telah mencoba mencegah, tetapi setelah mereka berdua tak sadar diri lagi, Rancana pun memaksa untuk menolong, dengan harapan ia dapat mengatasi hal tersebut dan tidak menjadi seperti mereka. Tapi rupanya tenaga yang ia miliki belum cukup kuat sehingga mau tak mau penyaluran tersebut merugikan dirinya. Suatu pengorbanan yang tidak disesalkan oleh Rancana sendiri, kecuali bahwa ia telah gagal mencari jalan keluar bagi kesembuhan murinya, Lantang. Bahkan kunjungannya ke Rimba Hijau, sempai bertemu dengan Hitam-Putih, pemimpin salah satu Kaum Manusia Tiga Kaki pun tidak membuahkan hasil yang berarti. Jika saja Ki Tapa masih hidup, mungkin ia masih dapat memberikan satu dua keterangan yang berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tergesa Rancana pun mengajarkan ilmu meringan tubuhnya kepada Sarini dan juga langkah ajaibnya, Langkah-langkah Kering di Bawah Hujan, suatu jurus yang dapat menyelamatkan diri dari terkena sengatan senjata tajam di dalam hujan serangan lawan. Jurus yang juga yang juga dimiliki oleh Kakek Gu. Entah apa hubungan antara keduanya. Jurus ini adalah jurus yang berasal dari ilmu dasar yang dimiliki oleh Rancana, yang mendasarkan gerakannya pada gerakan aliran, air atau angin. Membuat tubuh bergerak dengan lincah ke sana-kemari memanfaatkan aliran tenaga lawan. Dengan cara ini sebagai manapun lawan mendesak ia akan bisa menghindar. Mirip dengan upaya orang yang membelah udara atau air. Sia-sia. Sehabis serangan lewat, yang dibelah akan kembali mengisi ruang yang tadi kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika belum bisa menerapkan, hapalkan dulu gerakan dan teori-teorinya," ucap Rancana suatu saat demi melihat Sarini agak sulit untuk mencerna apa yang ia ucapkan. "Engkau juga dapat membicarakannya dengan gurumu, Walinggih. Walaupun ilmu kami berbeda, tapi setidaknya pengalamannya dalam bidang ilmu beladiri akan memudahkanmu untuk mencerna apa-apa yang aku ajarkan ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarini mendengarkan dengan tekun ucapan gurunya ini. Rancana walaupun tidak ingin disebut guru, telah menjadi guru ketiga dari Sarini. Guru pertama adalah ayahnya sendiri, Arasan. Lalu Walinggih dan sekarang Rancana. Beragam ilmu dari ilmu silat tangan kosong, menggunakan pedang dan sekarang meringangkan tubuh dan ilmu menghindar telah dipelajarinya. Hanya saja ilmu-ilmu tersebut belum cukup matang dan mengendap dalam pemahamannya. Perlu waktu memang, agar suatu ilmu dapat berjalan dengan otomatis dalam pemanfaatannya. Mirip seperti pohon yang dirawat, disiramai dan akhirnya berbuah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat itu Walinggih yang bertugas mencarikan mereka makan dan juga memantau kalau-kalau ada pendatang yang tidak diinginkan menganggu penyaluran tenaga dalam ke Ki dan Nyi Sura oleh Rancana. Tapi sepertinya orang-orang yang tinggal di pulau tersebut tidak memiliki musuh, sehingga tidak ada orang yang ingin mencari-cari masalah dengan mereka. Tidak mencari musuh adalah suatu sikap hidup yang baik dalam rimba persilatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tibalah hari yang telah lama diduga Rancana, ia merasa menggigil hebat dan badannya mulai sulit digerakkan. Walaupun demikian ia masih berusaha untuk menyalurkan tenaga terahir yang dapat dia bangkitkan untuk menyurup ke dalam tubuh Ki dan Nyi Sura. Ia telah berpesan kepada Walinggih dan Sarini, bahwa setelah ia "membeku" agar disandingkan dekat dengan kedua rekannya, membentuk posisi segitiga. Di luar itu juga ditarik geris antara mereka yang saling menghubungkan dan dipasang beberapa simbol dan batu untuk menjaga aliran hawa antara mereka dan juga gua tempat mereka tinggal. Tak lupa ia memesankan untuk menutup pintu gua itu agar tak ada orang yang tak dikenal datang dan mengganggu. Pesan untuk Telaga dan Lantang dituliskan di batu di luar gua tersebut. Pada suatu tempat yang hanya diketahui oleh penghuni tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walinggih dan Sarini tampak berdiri di muka gua yang dari dalamnya tampat sinar temaram memancar. Gundukan seperti pualam putih tampak bertambah satu jumlahnya sehingga menjadi tiga buah sekarang, Ki dan Nyi Sura serta Rancana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau sudah siap?" tanya Walinggih kepada muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarini mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gunakan tenagan gempuran yang kuat dengan pedang panjangnmu untuk meremukkan batu-batu besar di atas itu, lalu gempur dengan hentakan kasar sehingga mereka runtuh dan menimbuni mulut gua," perintah gurunya itu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu segera melaksanakan perintah gurunya, ia bergerak cepat meloncat dan menyabetkan pedang panjangnya berulang-ulang, beberapa batu tampak berderak-derak, tetapi masih lengket pada tempatnya. Kemudian setelah selesai ia menyerang lurus, menancapkan pedangnya dalam dan menghentakkan ke arah samping, memutar, menyebabkan batu-batu yang sudah retak tadi bergetar dan mulai berjatuhan menutupi mulut gua tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagus!! Sekarangn biarkan lubang yang di atas itu untuk sedikit pertukaran hawa, aku tak tahu apa mereka bertiga masih memerlukannya atau tidak," ucap gurunya. "Kita perlu berikan sedikit tanah dan rerumputan untuk kamuflase agar mulut gua ini tidak mudah ditemukan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu keduanya mencari-cari tanah dan juga rumput-rumputan dan mulai mendandani mulut gua, yang baru saja mereka tutup dengan batu-batu, dengan tanah dan rumput-rumputan. Tak lupa disirami pulau dengan air dari ceruk yang tak jauh dari sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama seminggu masih Sarini dan Walinggih menunggui gua tersebut, kalau-kalau ada perubahan atau sesuatu terjadi. Juga untuk meyakinkan kalau rumput-rumput yang dipindahkan telah tumbuh dan benar-benar menutupi gua tersebut, sehingga orang yang tidak kenal dengan tempat itu pasti tidak akan menyadari bahwa dulu di tempat itu pernah ada gua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah yakin bahwa semunya baik dan sesuia dengan kemamuan Rancana, Walinggih dan Sarini pun akhirnya meninggalkan tempat itu, menyeberang kembali ke pantai di pinggi danau dengan menggunakan perahu nelayan yang dulu mengantarkan mereka, dengan terlebih dahulu meninggalkan pesan bagi mereka. Kedua nelayan yang sama juga yang membawa mereka kembali ke pantai. Keduanya tidak banyak bertanya. Bukan orang usil mereka akan urusan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis mengucapkan terima kasih Walinggih dan Sarini pun mulai menuruni Gunung Berdanau Berpulau, kembali ke Padang Batu-Batu di mana rumah mereka berada. Selain itu juga memberi kabar ke pada ayah Sarini, Arasan tentang apa yang menimpa calon besanya. Sarini sendiri akan menanti kepulangan kembali Telaga di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akanamia, latih baik-baik rangkaian jurus pamungkas yang aku ajarkan tadi," ucap orang tua itu kepada cucunya dengan isyarat tangan yang ditanggapi dengan anggukan oleh cucunya. "Engkau tak lama lagi akan dijemput oleh calon suamimu. Kalian latih baik-baik ilmu tersebut dan turunkan kepada anak cucu kalian. Kakek akan sangat bangga kalau suatu saat masih dapat bersua dengan mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa air mata menetes pada pipi dara itu. Sudah lama sekali sejak ia ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya, kakeknya menjadi orang tua tunggal baginya. Tak dinyana akan datang suatu hari di mana mereka harus berpisah. Tanpa dapat menahan rasa sedihnya ia pun berlutut dan memeluk lutuh kakeknya sedang bersila di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita tidak berpisah selamanya, ada waktu berpisah, sudah tentu ada waktu berkumpul lagi," begitu kira-kira ucapan orang itu yang dilekukan dengan usapan-usapan pada rambut cucunya itu. Ucapan yang semakin memembuat mata Akanamia basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, kakek. Akan kuturuti kata-katamu," ucapnya sambil menunduk dan mencium tangan kakeknya yang dibalas dengan kembali usapan sayang tangan tua renta pada rambut dara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menari Bersama Air," begitu ucap tangan kakek itu kepada cucunya, "adalah nama jurus pamungkas yang aku ajarkan tadi. Gunakan hanya dalam kesempatan terdesak saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cucunya mengangguk mengiyakan pesan kakeknya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pun berlalu dengan cepat sampai kedatangan kembali Mayayo untuk meminang Akanamia, untuk itu turut bersamanya Pelaut Ompong kakeknya dan juga Wassa, calon iparnya. Dengan menerangkan bahwa adalah baik apabila kedua saudara itu, Mayiya dan Mayayo melangsungkan pernikahan pada hari yang sama, disetujuilan usulan itu. Kedua pasangan muda-muda yang memperoleh jodoh yang sama-sama gagah dan cantiknya, membuat para tamu yang menghadiri pesta sederhana itu pun merasa amat berbahagia dan bersyukur. Turut mendoakan hal-hal yang baik bagi keempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi engkau ingin ikut melaut?" tanya seorang pelaut tua kepada anak muda di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar, paman! Ingin menimba ilmu di kapal," jawab anak muda itu cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak mudah, lho! Beda di dengan di darat. Dan kamu bisa saja nanti kangen dengan darat. Bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan kami berada di atas air tanpa singgah sehari pun di mana-mana. Apa kamu mampu?" tanya pelaut tua itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya akan coba, paman. Saya berjanji untuk tidak mengeluh," ucap anak muda itu meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi melihat kesungguhan dalam mata pemuda itu, sang pelaut tua akhirnya mengijinkan ia untuk ikut sebagai anak buah kapal. Postur anak itu yang kuat dan sehat menyenangkan hatinya. Ia tidak ingin ada anak buah yang sakit-sakitan dan lemah. Kehidupan di atas laut adalah kehidupan yang keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik! Siapa namamu?" tanya pelaut itu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Telaga!" jawab pemuda itu mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pelaut tua itu mencatatkan nama pemuda itu di dalam buku lognya, buku yang mencatat nama-nama kelasi dan juga penumpang yang akan ikut berlayar dalam kapalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan telat hadir dua hari lagi di sini. Cari aku atau kapal yang kutulis di atas secarik kertas itu, mengerti!" ucapnya kemudian setelah meneliti beberapa tulisan dalam buku tebalnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, paman!" jawab pemuda itu dengan raut gembira yang tidak disembunyikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mereka berdua pun berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan di atas laut bagi Telaga pun dimulai. Ia benar-benar merasa senang karena ini merupakan perjalanan pertamanya di atas sebuah kapal laut. Sebuah kapal yang membawa penumpang dan juga barang-barang ke berbagai negara di penjuru dunia. Ia selain ingin mencari tahu mengenai Suku Pelaut juga ingin menambah pengetahuannya dengan mengenal tempat-tempat lain yang dipisahkan dengan air dari tanah kelahirannya. Tanah seberang, begitu kata orang-orang. Terdapat puluhan bahkan ratusan tanah seberang, yang orang-orangnya hidup dengan cara yang berbeda dengan orang-orang di Tlatah Nusantara. Beberapa yang pernah di dengarnya misalnya Tlatah Tengah, Tlatah Matahari Terbit, Tlatah Alemania dan masih banyak Tlatah-tlatah lainnya. Semuanya membuatnya amat bergairah dalam perjalanannya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya saat musim ini tidak banyak orang yang ingin bepergian dengan kapal. Selain sebuah keluarga yang terdiri dari ibu, bapak dan kedua anaknya, hanya terdapat lima orang yang menumpang kapal tersebut. Dilihat dari tongkrongan mereka, kelima orang tersebut adalah para pesilat walaupun tidak secara kentara senjata yang mereka bawa terlihat. Telaga dapat memahami itu dari cara mereka berjalan yang pasti dan seimbang dan juga sorot mata tajam serta waspada ciri dari orang-orang yang selalu siap akan pertarungan. Hal yang aneh dari mereka adalah corak dan ragam kulit dan bentuk tubuh mereka yang beraneka. Juga bahasa yang mereka gunakan. Masing-masing kelihatannya memiliki asal dan bahasa masing-masing, tapi dapat saling mengerti dengan baik. Telaga pun bertanya-tanya dalam hatinya, apa yang mengaitkan mereka berlima yang terlihat amat berbeda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa lama perjalan ini sampai ke sana?" tanya seorang bertubuh subur dan besar kepada seorang gadis manis yang berdiri di sisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Empat sampai lima minggu," jawab orang yang ditanya, "bila cuaca buruk dan ada perompak, mungkin malah lebih lama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perompak? Perampok maksudmu?" tanya orang pertama itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang pertama itu bekerja di laut, sedangkan yang kedua engkau sebutkan itu bekerja di darat," sela seorang dari mereka yang berkulit pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangguk-angguk orang yang mengajukan pertanyaan itu. Terlihat bahwa orang itu "baru" di antara mereka berlima. Masih banyak hal yang mungkin harus dipelajarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaga yang tidak sengaja menguping, entah bagaimana telah merasa akrab dengan pemuda berkulit coklat, bertubuh besar dan subur itu. Mungkin dari kesamaan fisik mereka yang sama-sama berasal dari Tlatah Nusantara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pernah bertukar pandang dengan pemuda itu dan saling tersenyum. Dengan keempat rekan pemuda itu, Telaga tak terlalu peduli karena mereka pun tidak mempedulikan dirinya, yang mungkin dianggapnya hanyalah seorang anak buah kapal yang tidak berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai, aku Telaga," ucapnya saat melihat pemuda itu tampak termangu sendiri menghadapi laut yang tenang hampir tanpa gelombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku Gentong," jawabnya ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teman-teman yang menarik," ucap Telaga sambil melirik ke arah rekan-rekan pemuda itu yang tampaknya sedang bermain kartu berempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He-eh!" jawab pemuda itu sekenanya. Kelihatannya ia tidak tahu harus berkomentar apa mengenai keempat rekannya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan putra-putrinya itu jarang terlihat di atas dek. Pelaut tua yang mengijinkan Telaga untuk ikut dengan pelayaran itu hanya mengatakan bahwa mereka tidak begitu tahan udara laut, sehingga lebih sering menghabiskan waktu di kamar mereka. Suatu yang aneh menurut pemuda itu, tidak tahan laut tapi kok berlayar? Pasti ada keperluan yang mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Telaga, bersihkan dek bagian bawah!" tiba-tiba teriakan perintah memanggilnya, membuyarkan lamunannya akan kemungkin-kemungkinan yang dimiliki oleh keluarga tersebut. Segera ia beranjak dengan tak lupa pamit pada Gentong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ia pergi, rekan pemuda itu tampak bangkit meninggalkan permaiannya dan berdiri dekat pemuda bertubuh subur dan besar itu, "Jangan terlalu banyak bercerita. Kita tidak tahu siapa pemuda itu. Bisa-bisa orang suruhan dari mereka-mereka yang menginginkan kepala kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, akan aku camkan itu, Dhoruba!" ucap Gentong sedikit jengkel. Ya, ia memang yang paling "muda" dari mereka berlima. Tapi kadang-kadang sikap mereka yang masih memperlakukannya sebagai anak kecil dengan larangan-larangan membuatnya tidak dapat menahan emosi. Perubahan hidupnya yang tiba-tiba dan banyaknya hal-hal yang ia tidak tahu membuatnya menjadi gampang tersinggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dipanggil Dhoruba itu segera kembali ke permainan yang sedang menunggu kedatangannya. Seorang berkulit merah dan berwajah keras tampak mengerlin kepada Gentong. Misun nama orang itu. Hanya dengan Misun Gentong merasa tenang. Ia tidak banyak mengatur akan tetapi menjelaskan hal-hal yang ingin diketahuinya dengan cara yang menyenangkan. Tidak menggurui. Cara yang mengingatkannya kepada mendiang gurunya, Ki Tapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kehidupan berjalan. Di dalamnya para pendekar-pendekar memilih jalannya masing-masing. Mengikut tuntunan dari Sang Pencipta untuk mengisi arah hidupnya sendiri-sendiri. Kisah yang masih akan panjang berlangsung dalam waktu dan ruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Turunkan layar!!" tiba-tiba terhembus perintah. Angin yang hampir tak ada tiba-tiba mengencang dengan wajah langit yang gelap tiba-tiba tampak di depan kapal, di kejauhan dekat horison. Wajah dari badai dasyat yang akan menjelang. Para anak buah kapal, termasuk Telaga pun bersiap. Kelima orang penumpang masih tampak tenang-tenang bermain permainan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan angin pun bertambah kencang bertiup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37308236-6859375987519981746?l=elemen-kekosongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elemen-kekosongan.blogspot.com/feeds/6859375987519981746/comments/default' title='Kommentare zum Post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37308236&amp;postID=6859375987519981746&amp;isPopup=true' title='0 Kommentare'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37308236/posts/default/6859375987519981746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37308236/posts/default/6859375987519981746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elemen-kekosongan.blogspot.com/2007/03/menari-bersama-air.html' title='Menari Bersama Air'/><author><name>Ayah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37308236.post-1621453393300405604</id><published>2007-02-20T18:02:00.000+01:00</published><updated>2007-04-18T16:03:04.200+01:00</updated><title type='text'>Orang-orang Abadi</title><content type='html'>"Misun, coba tengok apa makam yang kita cari sudah tidak lagi dijaga!" ucap seorang berkulit putih pucat kepada rekannya seorang berkulit merah. Orang yang dipanggil Misun, yang berarti "saudara muda" dalam bahasa Sioux Lakota, itu berbegas bangkit dari duduknya. Tak lupa ia menggapai kapaknya yang tadinya ditancapkan di dekat kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Misun, seorang berkata kepada yang tadi berbicara, "Angus, masih berapa lama kita perlu berada di tlatah ini. Selalu hujan dan basah. Membuatku selalu merasa kelembaban." Yang berbicara adalah seorang berkulit hitam legam dan berambut keriting, Dhoruba namanya. Nama yang dalam bahasa Swahili berarti "badai". Orang yang dipanggil Angus tampak sedikit berpikir sebelum menjawab. "Entahlah, Dhoruba. Aku tidak tahu. Lebih baik engkau tanyakan saja nona Siaw Liong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bertanya kepada si Sesat Naga Kecil? Mending aku menjadi lembab dan basah daripada mendengar penjelasannya yang mumet itu," ucap Dhoruba sambil menunjukkan muka bergidik, seakan-akan wanita yang dipanggilnya Sesat Naga Kecil benar-benar menggiriskan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Misun pun kembali. Seperti biasa sikapnya, ia tak banyak bicara. Ia hanya mengisyaratkan dengan tangan bahwa tempat yang mereka tuju telah tidak lagi dijaga. Hal ini berarti bahwa malam ini mereka dapat menuntaskan tugas mereka dan mungkin esok hari pergi dari tempat itu. Melanjutkan perjalanan mereka jauh ke barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam yang dinanti pun tak lama tiba. Dengan hanya diterangi oleh bulan yang tertutup awan, ketiga orang tersebut, Angus McLeod, Dhoruba dan Misun, berjalan perlahan menuju suatu lahan terbuka di dalam Rimba Hijau. Di suatu tempat di mana belum lama ini tak jauh dari sana terjadi pertempuran berdarah dan di atasnya kemudian dibuat beberapa buah makam. Lima makam tepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angus, sebagai seorang yang memegang pimpinan kala Shia Siaw Liong tidak ada, dengan hati-hati berdiri di depan sebuah makam. Berkonsentrasi dan bernapas dengan teratur. Ia mencoba merasakan apa-apa yang mungkin bisa dirasakannya dari dalam makam tersebut. Hal yang sama diulanginya sampai semua makam telah dicoba. Belum ada petunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari sebelumnya, dengan yakin Shia Siaw Liong mengatakan bahwa salah seorang dari yang terbunuh itu adalah salah seorang dari mereka. Oleh karena itu mereka harus membawanya dari sana. Melatihnya dan menjadikannya siap untuk menjadi seperti mereka. Setelelah memberikan tugas itu, sang nona pun pergi mencari sesuatu di kota Luar Rimba Hijau. Barang-barang yang ada hubungannya dengan tugas kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sulit.. Aku belum bisa merasakannya. Mungkin kuburnya terlalu padat sehingga ia tidak sempat terjaga," ucap Angus seakan pada dirinya sendiri. Tiba-tiba ada semacam getaran di udara menyerang otaknya. Membuat kepalanya berdenyut-denyut. Hal yang sama dirasakan pula oleh kedua rekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, ini dia. Tapi terlalu sulit untuk menemukan berasal dari makam yang mana," ucap Dhoruba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misun tampak berdiri di hadapan makam nomor dua dari tengah. Didekatkannya telinganya pada tanah. Wajahnya tampak berubah. Lalu dengan isyarat ia memberitahukan Angus dan Dhoruba apa yang didengarnya. Ketiganya kemudian langsung membongkar makam tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu hanya ingat saat sebuah sabit tajam dan panjang mengayun pelan dan menghujam punggungnya. Tembus sampai dada sehingga ia bisa melihat darahnya sendiri menghiasai senjata tersebut. Setelah itu dirasakannya dingin dan gelap. Lalu kesadarannya hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali ia seperti tersadar dari mimpi tapi kembali ia dihadapkan pada ruang yang sempit dan juga basah. Bau tanah yang lembab juga menyengat. Ia tidak ingat bagaimana bisa berada di tempat seperti itu. Dan juga apa hubungannya dengan pertempuran yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah matikah ia? Inikah dunia yang dikunjungi orang setelah mati? Atau ia hanya berada di dalam kubur, akan tetapi tidak mati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban tak kunjung datang, melainkan hanya kesadaran yang datang dan pergi. Setiap kali kesadaran muncul, rasa sakit yang menggila pun timbul menyertainya. Membuatnya ingin menjerit sekeras-kerasnya, tapi bagai tak ada suara yang keluar. Hal itu berlangsung berulang-ulang. Berkali-kali. Sampai akhirnya ia pun pasrah dan menjalaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu, Gentong, kembali tersadar dan menjerit tampa suara. Keringat deras mengalir dan juga kejangnya otot-otot. Kesadaran kembali datang. Sebentar lagi, ya sebentar lagi kesadaran ini akan hilang kembali seperti sebelumnya. Seperti itu, berulang-ulang sejak pertempuran yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba telinganya menangkap adanya suara-suara di atasnya. Suara-suara orang menggali-gali. Suara-suara yang mendatangkan harapan baginya. Coba digerakkan tubuhnya, tapi tidak dapat. Kain yang ditutupkan dimukanya hanya memberikan kegelapan. Himpitan tanah di atasnya membuat napas yang kadang-kadang datang menjadi sesak dan mulai menghilangkan kesadarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara-suara yang ada di atasnya membuatnya kembali terjaga. Ia berusaha sedapat mungkin untuk bernafas dengan rendah dan tidak sampai kehabisan napas seperti keadaan berulang-ulang sebelum kesadarannya hilang. Lambat-laun terdengar suara-suara tersebut semakin jelas dan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa yang tidak dimengertinya, terucap kata-kata yang menyatakan bahwa pengalian sebaiknya dihentikan. Mungkin karena sudah dekat dengan orang yang dikuburkan. Lebih baik dilakukan lanjut dengan tangan, agar tidak melukai orang yang dikubur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garukan-garukan tangan mulai terdengar. Perlahan tapi pasti membuat aliran darah Gentong semakin cepat, dan ini fatal akibatnya. Ia menjadi kembali sesak dan mulai kehilangan kesadaran. Gelap pun kembali menjelangnya. Kesadarannya pun hilang lagi. Tak dirasakannya saat ketiga orang yang menggali kuburnya, mengangkatnya dan memanggulnya pergi. Sambil tak lupa seorang dari mereka kembali merapikan kuburnya kembali, sehingga seakan-akan tidak ada apa-apa yang pernah terjadi di sana. Jejak-jejak akan segera menghilang ditelan hujan gerimis yang perlahan-lahan turun. Hujan yang seperti mengamini perbuatan ketiga orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesosok pasang mata tampak bersinar dalam kegelapan. Tinggi matanya tidak sampai sedada orang dewasa walaupun makhluk itu berdiri di balik semak-semak. Ia tidak berbuat apa-apa. Hanya memperhatikan apa yang baru saja terjadi di makam di lapangan rumput tersebut. Sejenak ia menunggu sampai langkah-langkah kaki ketiga orang tersebut tidak lagi terdengar, kemudian ia pun menghilang di balik rerimbunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga orang tampak berjalan beriringan. Seorang tua dan dua orang muda-mudi. Yang tua berbadan tegap dan berbusana kain bermotif kasar yang berwarna sebelah kanan biru muda dan sebelah kiri hijau muda. Kulitnya berwarna sedikit kebiruan, seperti warna urat-urat darah orang yang kebiruan. Sedangkan sang gadis yang jelas terlihat dari sisik biru kehijauan tubuhnya dan rambutnya yang hitam keemasan, bahwa ia adalah seorang Undinen. Roh Air, begitu sebutan orang-orang kepada jenis makhluk tersebut. Seorang yang terakhir, sang pemuda, tampak biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiganya tampak berjalan perlahan dan tampak tak ada tujuan. Sesekali mereka berhenti dan menikmati pemandangan alam yang ada di hadapannya. Memang hari itu matahari bersinar tampak ditutupi awan dan angin sepoi-sepoi bertiup, menciptakan hari yang indah dan cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paman Wananggo..," tiba-tiba Undinen yang bernama Xyra itu bertanya kepada orang yang tua, "ke mana kita akan mencari buah dan akar tersebut?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang ditanya tidak langsung menjawab melainkan hanya tersenyum-senyum saja. Geli ia melihat kekhawatiran sang gadis kepada pemuda temannya itu. Orang lain pun sudah dapat memperkirakan bahwa terdapat "apa-apa" di antara kedua muda-mudi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nak Xyra, sabarlah! Tak akan lari waktu dikejar. Kita masih punya waktu beberapa hari lagi, sebelum waktu bulan purnama tiba. Dan tempat yang kita tuju itu, besok siang akan kita capai," jawab orang tua itu sambil kembali tersenyum. Lalu tambahnya, "dan di sana kita butuh kemampuanmu sebagai seorang Undinen untuk menemukan buah dan akar dari tanaman tersebut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Undinen pun mengangguk mengiyakan. Menyatakan tanpa suara bahwa ia akan melakukan apa-apa yang perlu, asalkan orang yang dikasihinya itu dapat sembuh kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang mari kita nikmati dulu indahnya hari ini. Dan juga tidak lupa mengisi perut yang sudah berbunyi," ucap orang tua itu lagi. Biasanya Wananggo tidak banyak bicara, entah kenapa setelah bertemu dengan Xyra dan Lantang, ia merasa kerasan. Ia merasa kedua orang itu sebagai bagian dari dirinya. Sebagai keluarga. Ya, Wananggo tidak lagi memiliki keluarga. Istri dan anaknya telah meninggal karena sakit. Sejak saat itu ia menjadi murung dan tidak tentu hidupnya. Baru belakangan ini ia menyadari buat apa merusak dirinya sendiri dan pada saat itulah ia bertemu dengan Lantang dan Xyra, yang kebetulan juga memerlukan bantuan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar samar-samar suara deburan. Suara laksaan air yang dijatuhkan dari tempat yang tinggi. Air terjun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah itu tempat bermalam kita," ujar orang tua itu dengan gembira. Lalu diajaknya kedua orang itu untuk bergegas memacu langkahnya agar cepat mencapai tempat bermalam yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendaki sebuah bukit, tampak di baliknya sebuah pemandangan yang mengesankan. Sebuah sungai besar tampak mengalir menjauh dari arah mereka dan kemudian menghilang di horison. Jatuh ke bawah akibat tarikan bumi dan menimbulkan bunyi-bunyi deburan menggelegar. Sebuah air terjun yang megah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu namanya Air Jatuh," jelas Wananggo. "Dulu di sini terdapat banyak tempat pertapaan. Tapi semenjak Perguruan Atas Angin melebarkan kekuasaannya, para petapa tersebut disuruh pergi atau lebih tepat dipaksa pergi. Mereka menganggap daerah ini sebagai daerah kekuasaannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan kita akan menyusup ke sana?" tanya Lantang ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, tentu!" jawab Wananggo. "Tumbuhan yang aku ceritakan itu tumbuh di salah satu pulau di bawah sana. Untuk itu kita perlu menyusup ke dalam wilayah Perguruan Atas Angin. Mau tidak mau, demi kesembuhanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua muda-mudi itu hanya mengangguk mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan untuk itu, kita perlu tenaga dan konsentrasi. Sekarang lebih baik kita mencari tempat yang baik untuk bermalam. Isi perut dengan baik dan tidur," usulnya. "Besok pagi-pagi sekali kita mencari jalan masuk. Semoga kita mendapat kesempatan yang baik, besok siang telah tiba di pulau tersebut dan malamnya, saat bulan purnama, mengambil tumbuhan tersebut pada waktu khasiat akar dan buahnya sedang pada puncak-puncaknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kedua orang muda di hadapannya mengangguk setuju dan melakukan apa yang disarankan oleh orang tua tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana keadaannya?" tanya sebentuk suara merdu wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih 'mati', nona Siaw Liong," jawab seorang yang ada di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum 'hidup' dia?" tanya wanita itu kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum. Apa mau dipaksa?" kembali orang yang tadi menjawab, mengajukan usul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, biarkan saja. Dulu juga, engkau Angus, perlu waktu dua hari aku menungguimu sampai kau benar-benar hidup. Engkau sempat mati-hidup-mati-hidup karena saat itu belum bisa menguasai peredaran hawa yang beru engkau peroleh itu," ucap wanita itu sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang diingatkan akan hal tersebut hanya tersenyum saja. Ya, ia ingat saat itu. Hawa dalam tubuhnya sangat kacau bergerak, sehingga ia terluka dalam dan kembali "mati".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mana Dhoruba dan Misun?" tanya wanita itu kemudian setelah sunyi sejenak di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Misun seperti biasa sedang mengamati di atas pohon sana. Melihat ke segala arah. Dhoruba sedang mencari makan malam kita," jawab orang yang dipanggil Angus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita perlu bicara malam ini. Jumlah kita sudah cukup. Perjalan pulang bisa dilakukan..," katanya pelan. Ia menekankan nada suaranya pada kata-kata "perjalanan pulang", yang membuat Angus menjadi sedikit berdesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, perjalan pulang. Selama ini adalah hal itu yang mereka cari. Dan untuk itu perlu lima orang dari mereka-yang-tak-bisa-mati untuk melakukannya. Sulit. Umumnya salah seorang dari mereka-yang-tak-bisa-mati, saling baku-hantam satu sama lain, memperebutkan kepala lawannya, untuk memperoleh tenaga, hawa dan pengetahuan yang telah tercukupi. Hal-hal yang sebenarnya dapat diperoleh bersama-sama apabila mereka berhasil "pulang" ke tempat asal mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beritahu aku bila orang baru itu telah 'hidup'," berkata kembali sang wanita. Lalu ia pun berlalu dari sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angus hanya mengangguk tanpa menjawab. Pikirannya sedikit melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi..?" tanya seorang wanita pesolek yang berjalan mondar mandir dalam ruangan itu. Kecantikannya yang aneh dan hasil bantuan pupur dan bedak serta ilmu awet muda membuatnya sedikit aneh. Tapi pasti tiada orang di luar ruangan itu yang berani menggugahnya. Ya, karena ia adalah salah seorang dari pimpinan Perguruan Kapak Ganda, Cermin Maut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiknya kita matangkan saja rencana untuk menyerbu Air Jatuh itu," ucap seorang dari mereka yang tampak sedang memain-mainkan sejenis senjata yang merupakan alat untuk menuai padi. Sejenis sabit besar. Ia memutar-mutarkan senjata itu ke sana-ke mari. Beberapa pelayan yang berdiri di pinggir ruangan tampak ngeri, takut-takut kepala mereka menjadi sasaran dari sabit tersebut. Tapi tampaknya Sabit Kematian tak ambil pusing. Kadang malah ia sengaja memutar sabitnya satu dua jari di atas kepala beberapa orang pelayan. Sudah satu orang yang semaput dan kencing di celana saking takutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku setuju..," sahut sebuah suara lain. Seorang dari mereka. Seorang yang tampak sedang menimang-nimang kukunya yang semakin kuning gelap warnanya. Warna yang menunjukkan tingkat ganas racun yang terdapat dalam kuku-kuku tangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik jika begitu," jawab Cermin Maut kemudian, "kita hubungi anak-murid dari dua kota lainnya agar mereka dapat segera bersiap-siap."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang dari murid mereka yang ikut rapat tersebut segera mengambil sejumlah perkamen kosong untuk ditulisi. Cermin Maut sebagai pimpinan yang mengurusi hal-hal kepemimpinan, tidak seperti dua orang saudara seperguruannya yang malas untuk hal selain pertarungan, mulai menuliskan pesan kepada pimpinan perguruan cabang Perguruan Kapak Ganda yang berada di Kota Lembah Batu Langit dan Kota Pinggiran Sungai Merah. Telah terdapat tiga perguruan besar di tiga kota, termasuk di Kota Paparan Karang Utara. Tiga perguruan di tiga kota yang terletak mengapit Kota Air Jatuh. Tempat perguruan lawan mereka berada, Perguruan Atas Angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera setelah surat itu selesai dituliskan para murid yang bertugas membawa pesan itu segera berangkat ke kota tujuannya masing-masing. Sementara murid-murid Perguruan Kapak Ganda di Kota Paparan Karang Utara tampak bersiap-siap untuk mengumpulkan senjata dan perlengkapan untuk menyerang Perguruan Atas Angin di Air Jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran antara dua klan Orang-orang Dataran Tinggi di Skotlandia kerap terjadi. Antara yang jahat dan yang baik. Antara orang-orang petani yang hanya mempertahankan tanah pertanian mereka dan orang-orang yang gemar melakukan ekspansi, orang-orang yang malas untuk bercocok tanam dan lebih gemar mengucurkan darah untuk mengisi perut mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran kali ini pun amat serunya. Klan McLeod yang menjadi sasaran dari klan Darkyzp, suatu klan ekspansionis dan brutal. Sudah berpuluh-puluh tahun klan Darkyzp berusaha menundukkan klan McLeod tapi tak berhasil. Bukan hanya masalah perebutan wilayah dan juga hasil pertanian, akan tetapi lebih cenderung pada masalah politis. Jika saja klan Darkyzp dapat mengalahkan klan McLeod maka semangat klan-klan lain untuk melawan akan menjadi runtuh. Klan McLeod memang terkenal dengan semangatnya yang selalu memenangkan pertempuran dan tidak agresionis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi kali ini mungkin tidak seberuntung kali-kali lain. Dengan mengontak orang-orang barbar liar, klan Darkyzp telah menjanjikan orang-orang barbar atas budak-budak laki-laki dan wanita dari klan McLeod yang dikalahkan. Suatu imbalan menggiurkan bagi bangsa yang juga senang berperang itu. Walaupun tidak ada permusuhan pribadi antara orang-orang barbar liar dan klan McLeod, akan tetapi sebagai bangsa bayaran, mereka tidak pernah menampik tawaran yang berharga. Jadilah mereka sekutu dari klan Darkyzp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka datang!!" teriak seorang anak kecil dari atas pohon di sebuah bukit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan itu langsung disahut-sahutkan oleh rekan dewasanya yang berjarak beberapa tombak dari sana dan seterusnya. Menggaung-gaungkan teriakan-teriakan ke seluruh daerah itu. Menandakan agar semua bersiap untuk bertempur. Tua-muda, lelaki dan perempuan. Mereka semua harus berjuang, karena jika kalah tidak ada ampung bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang masuk ke dalam sebuah gubuk, "Angus, mereka datang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm, benar seperti informasi yang kita terima. Berapa banyak?" tanyanya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tiga ratus ratus sampai lima ratus orang, setengahnya berkuda," jawab pembawa informasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan orang-orang barbar liar ada di antara mereka?" tanya Angus kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ditanya hanya mengangguk saja. Cemas tampak dalam wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah, tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan. Apa boleh buat, kita harus berperang habis-habisan kali ini," ucapnya lelah. Ya, ia telah lelah beberapa pertempuran dalam beberapa bulan ini. Perlu ada pemerintahan yang sah di Skotlandia, atau bangsa lain akan masuk dan mengalahkan semua klan yang senang satu sama lain berperang sendiri-sendiri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angus bukan pemimpin klan McLeod. Ia hanya anak dari pemimpin yang lama. Ian McLeod, yang sedang terbaring sakit sejak pertempuran yang lalu. Mau tidak mau Angus harus sedikit berkontribusi akibat posisi ayahnya. Saudaranya Joseph lebih suka berperang di garis depan ketimbang memimpin dan berpikir strategi yang sulit-sulit. "Kamu saja yang memimpin," begitu katanya suatu saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah ia, Angus McLeod, pemimpin ad interim atau sementara, selama ayahnya belum sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segera mereka yang ada di sana mengangguk dan bergegas keluar. Mereka telah membicarakan strategi untuk berperang melawan klan Darkyzp kali ini. Strategi hantam kromo dan bergerilya berganti-ganti. Untuk itu tempat-tempat di bawah tanah telah dibuat agar mereka dapat sembunyi dan menyerang dengan cepat. Menjadikan desa mereka, tempat tinggal mereka sebagai medan perang sebenarnya. Tak ada jalan lain. Bangsa barbar liar amat tangguh dalam pertempuran satu lawan satu dan tempat terbuka. Panah klan Darkyzp juga amat berbahaya di lapangan. Lebih baik di desa mereka yang dilindungi oleh batu-batu dan pohon-pohon. Di sela-selanya mereka bisa bergerilya dan menyerang balik. Kondisi yang mirip dengan Padang Batu-batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terompet dari tanduk pun ditiupkan. Semua siaga mengambil tempatnya masing-masing. Dari anak kecil sampai orang tua. Dari yg sehat sampai yang cacat. Semuanya bersemangat untuk berperang demi kebebasan mereka. Kebebasan untuk tetap hidup dan merdeka. Ya, mereka telah mendengar bahwa lawan-lawan bangsa barbar liar yang kalah akan dijadikan budak atau dijual. Dan mereka tidak menginginkan hal itu. Tidak ingin kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran pun bergelora. Pertempuran yang tidak seimbang. Dua kelompok besar orang-orang haus darah, klan Darkyzp dan bangsa barbar liar, lawan klan McLeod yang walaupun memiliki semangat dan kemampuan individu tinggi, tapi kalah dalam jumlah. Beberapa orang klan McLeod yang berani memancing dan rela mati pertama-tama, tampak menghadang gelombang serangan kedua kelompok haus darah tersebut. Satu persatu dari mereka mencium tanah dengan bersimbah darah, darah mereka sendiri, setelah mengajak satu dua orang lawan mereka menuju alam lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pun berjalan. Jumlah yang jatuh terus bertambah. Dengan adanya isyarat terompet tanduk, barisan terdepan pun berlarian, masuk ke dalam desa. Pintu gerbang pun ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ghrrrrrg..!!" ucap seorang pempimpin barbar liar, yang dikepalanya mengenakan tengkorak beruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cepat, jalan biarkan mereka lari!!" ucap yang lain, yang dikedua pundaknya mengenakan hiasan dua buah tengkorak bayi manusia, satu di kiri dan satu di kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang penyerang pun beringsut maju. Tak terpikirkan oleh mereka adanya siasat dari klan McLeod yang menanti mereka. Dengan bekal pendobrak batang kayu, mereka memukul-mukulkan pintu gerbang. Memaksakannya untuk terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dukkkk!!!" gempuran pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang di belakang gerbang tersebut tampak menyusun-nyusun tombak-tombak berujung tajam yang diarahkan membentuk sudut. Sudut yang pas dengan dada kuda. Terlalu tinggi untuk dilompati akan tetapi terlalu rendah untuk dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dukkkk!!" gempuran kedua bergema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blokade tombak-tombak telah siap dipasang. Sebagian dari klan McLeod telah menyingkir. Hanya belasan yang tersisa untuk strategi ini. Pandangan penuh semangat dan kerelaan untuk mati tampak saling dilemparkan tanpa kata-kata. Kesetiaan dan penghormatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dukkkk!!! Kraakkkk!!" gempuran ketiga datang dan merupakan batas ketahanan dari pintu gerbang desa itu. Pintu pun terbuka dengan lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagai air bah kuda-kuda para penyerang mengalir masuk. Orang-orang klan McLeod yang berjaga lansung menyerang dengan tombak dan panah untuk mengalihkan perhatian para penyerang dari blokade tombak yang dipasang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya telah diduga, sebagian dari mereka langsung tersungkur lengkap dengan kudanya dan menemui ajal bersamaan dengan berdebamnya tubuh mereka di atas tanah. Suatu hasil yang dinanti-nantikan oleh strategi ini untuk mengurangi jumlah musuh. Dua puluhan orang berhasil ditanahkan. Cukup untuk baik untuk blokade sekecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela batu dan rumah setelah masuk ke dalam desa melewati blokade pintu gerbang, para penyerang mulai membantai siapa saja yang ditemui. Sayangnya tidak banyak orang-orang klan McLeod yang ada, telah banyak dari mereka bersembunyi. Menanti untuk menyerang balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada yang aneh," seru seorang dari klan Darkyzp. "Klan McLeod tidak sesedikit orang-orang yang telah mati tadi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang tahu, mungkin sudah semua," ucap rekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak mungkin. Bila sudah semua, tidak baik untuk perjanjian dengan mereka," katanya sambil melirik pada orang-orang barbar liar yang masih berkuda dan berlari kesana-kemari mencari-cari korban untuk ditangkap atau dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekannya mengangguk. Lalu ia berlalu dan memerintahkan untuk mulai mencari dipelosok-pelosok desa. Dibalik-balik jerami dan sebagainya. Semua dibolak-balik, tapi hasilnya nihil. Klan McLeod yang tersisa seakan-akan hilang dari pandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang barbar liar tampak gelisah dan marah dengan keadaan ini. Mereka mengharapkan hasil yang banyak dalam bentuk tawanan orang-orang McLeod yang kalah. Tapi apa yang mereka dapatkan. Tidak ada. Semua orang menghilang di dalam desa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana yang tidak nyaman itu berlangsung cukup lama, sampai beberapa orang dari mereka menjadi tidak sabar dan mulai melakukan pembakaran-pembakaran. Asap pun membumbung tinggi ke angkasa. Menghiasi hari yang cerah itu. Menorehkan kesedihan atas pembantaian yang sedang berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, "Ceppp!! Cappp!!" sejumlah panah-panah menghambur pada tubuh-tubuh sang penyerang. Panah-panah yang datang dari arah pohon-pohon dan bukit-bukit batu di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Grrrggghhh!! Di sana, di belakang desa!!" teriak seorang barbar liar. Ia yang luput dari serangan panah, tidak seperti rekannya yang telah hilang nyawanya, segera ia memacu kudanya. Kawan-kawannya yang lain segera mengikuti arah perginya orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana, di tempat yang telah dipersiapkan tampak sisa-sisa dari klan McLeod berdiri. Di sela-sela batu-batu tampak mereka bersiaga. Tua dan muda. Pria dan wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menunggu datangnya musuh yang berlari dan berkuda. Menunggu dengan harap-harap cemas, menunggu sampai saat-saat terakhir, agar musuh dapat kembali dikelabui sehingga masuk perangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kali ini pun kembali berhasil. Musuh yang tidak menyangka bahwa di hadapan mereka terdapat parit yang cukup lebar dan dalam, yang ditutupi oleh kayu-kayu dan ranting. Mereka tertipu dengan anggota klan McLeod yang berlari melewati perangkap tersebut. Ya, orang tersebut berlari di atas tongkat-tongkat kayu yang sengaja dibuat sehingg terlihat seolah-olah tidak terdapat perangkap di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya terjatuhlan sekitar belasan penunggang kuda dan penyerang yang berjalan kaki. Mati. Beberapa patah tulangnya dan lainnya terlempari tombak dan batu dari atas parit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah parit terkuak, mudah untuk dihindari. Sisa dari penyerang masih berjumlah cukup banyak. Dan sekarang pertempuran sebenarnya berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota klan McLeod berlari-lari di sela-sela batu-batu dan pohon. Menghindar dan menyerang balik. Cukup banyak jatuh korban di antara mereka dan juga penyerang. Darah pun mengalir deras memerahkan tanah-tanah di sekitar tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari pun tak tahan dan turun dari puncak tertingginya hari itu. Ia menangis melihat banyaknya darah yang tertumpah hanya akibat ambisi sedikit orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan-teriakan penambah semangat masih terdengar dari kedua belah pihak. Tapi bisa dipastikan bahwa klan McLeod tidak akan memperoleh kemenangan. Walaupun musuh sudah separuhnya habis, tapi mereka masih tiga kali lebih banyak dari anggota klan McLeod yang hidup. Jumlah yang tidak seimbang, ditambah dengan masih adanya kuda dan kekejaman mereka. Lain halnya dengan klan McLeod yang hanya mempertahankan hidup, walaupun mereka bersemangat tinggi, tapi lambat-laun dengan melihat semakin banyaknya keluarga mereka yang mati, semakin lemahlah semangat mereka. Tapi ada satu hal yang harus dihormati, bahwa mereka tidak rela ditangkap dan dijadikan budak. Mereka berjuang sampai titik darah penghabisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu menjadi hari yang paling gelap dalam sejarah klan McLeod.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda bertubuh subur dan besar itu akhirnya membuka matanya. Mula-mula apa yang tampak tidaklah terlalu jelas. Semua kabur dan berkabut. Lambat laun mulai jelas. Dan ia melihat kurang lebih beberapa orang yang sedang mengamati atau berada di sekelilingnya. Tiga-empat orang. Orang-orang yang berbeda satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang segera menggugahnya adalah rasa aneh dalam kepalanya, berdenyut-denyut tak beraturan. Berdenyut-denyut seakan-akan memberitahukan ada sesuatu yang baru, sesuatu yang kontak langsung dengan kepalanya. Perlahan-lahan ia memegangi kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lihat, ia mulai merasakan 'kontak' di antara kita," ucap seorang yang berkulit hitam legam dan berambut keriting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmmm," hanya itu jawab temannya yang berkulit kemerahan di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang berkulit putih pucat tampak mendatanginya, memperhatikannya dari dekat. Lalu ia mengulurkan tangannya dan membantunya bangun. Jauh beberapa kaki darinya tampak seorang wanita yang melihatnya dan tersenyum. Entah apa maksud dari senyum itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Well, what is your name?" tanya orang yang tadi membantunya bangun dalam suatu bahasa yang tidak dimengertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa? Apa maksudmu?" tanya pemuda itu. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh orang yang berada di hadapannya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I think he speaks with a local language here. Is there someone knows that language?" tanya orang itu kepada rekan-rekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I try with other language," sahut seorang dari mereka. "Kumpel, verstehst du, was ich sage? Kannst du Deutsch sprechen?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pemuda bertubuh subur dan besar itu menggeleng, menunjukkan bahwa ia tidak mengerti juga apa yang diucapkan oleh orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang giliran orang yang berkulit merah itu, "Watashi wa Misun desu. Anata wa donata desu ka?" Ia sambil berkata itu menunjuk pada dirinya sendiri dan kemudian pada pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mereka bertiga memandang kepada orang keempat yang tampak sedang memperhatikan kejadian itu. Ia, sang wanita, lalu beranjak mendekati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya, Shia Siaw Liong. Dia Dhoruba, Misun dan Angus McLeod," katanya sambil menunjuk pada dirinya sendiri, orang hitam berambut keriting, orang berkulit merah dan orang berkulit pucat tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya Gentong," jawab pemuda itu. Kali ini ia mengerti apa yang diucapkan oleh wanita itu, walaupun bagi kupingnya masih kedengaran kaku untuk seorang pembicara menggunakan bahasa dari Tlatah Tengah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dengan perlahan, gadis itu menjelaskan apa yang terjadi pada Gentong. Perlahan agar pemuda itu tidak kaget mengenai apa yang menantinya sekarang, setelah ia menjadi salah seorang dari mereka-yang-tak-bisa-mati. Penjelasan yang tenang dan pelan, serta dibawa oleh suara yang merdu itu, tak urung membuat warna wajah sang pemuda sempat berubah-ubah. Pucat, merah, lalu kembali pucat. Dan akhirnya tampak tegan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang, kami biarkan dulu engkau sendiri, perlahan-lahan untuk mencerna apa yang baru saja aku ceritakan," ucap wanita itu. Lalu ia memberi isyarat kepada ketiga rekannya untuk sedikit menjauh, memberikan kesempatan kepada pemuda yang baru saja "hidup kembali" itu waktu untuk merenung dan berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gentong, sang pemuda, tampak sekali 'shock' dengan berita yang didengarnya. Ia telah mati dan dikuburkan. Dan sekarang bangkit lagi sebagai seorang mereka-yang-tak-bisa-mati. Suatu hal yang baru kali ini didengarnya. Tanpa terasa ia meraba dadanya, mencari-cari lubang tempat sabit yang digunakan Sabit Kematian keluar membawa darah dan dagingnya setelah terlebih dahulu masuk dari punggungnya. Suatu bacokan yang mengantarnya ke liang kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesibukan-kesibukan tampak terlihat di suatu bagian dari Kota Lembah Batu Langit, Kota Pinggiran Sungai Merah dan Kota Paparan Karang Utara, tepatnya di bagian di mana cabang-cabang perguruan Kapak Ganda berada. Perlengkapan dan bahan-bahan tampak dikumpulkan di atas kereta-kereta yang ditarik oleh kuda. Bahan-bahan berupa makanan dan senjata. Perlengkapan seperti untuk melakukan perang. Ya, perang! Memang demikian halnya. Ketiga cabang perguruan silat tersebut, yang pusatnya berada di Kota Paparan Karang Utara memang sedang mengadakan persiapan untuk melakukan penyerbuan ke perguruan silat lawan mereka, Perguruan Atas Angin. Terdapat dendam kesumat antara kedua perguruan silat tersebut. Suatu hutang lama yang disebabkan oleh pertikaian sepele antar keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali terakhir Perguruan Atas Angin telah membantai habis Perguruan Kapak Ganda, yang saat itu baru memiliki satu cabang, yaitu di Kota Paparan Karang Utara. Hal yang tidak diketahui oleh Perguruan Atas Angin pada saat itu adalah kawan-kawan atau saudara perguruan ketua yang lama baru saja datang, selepas pembantaian terjadi. Mereka-mereka ini kemudian membangun kembali perguruan tersebut. Membuka cabang di dua kota lainnya, mengumpulkan banyak anak dan murid untuk membalaskan dendam rekan mereka yang dibunuh. Rekan mereka itu bernama Naga Geni, ketua Perguruan Kapak Ganda, yang dibunuh oleh Ki Jagad Hitam, yang saat itu adalah ketua Perguruan Atas Angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ketua Perguruan Atas Angin saat ini, yaitu Tapak Kelam, sudah mendengar akan adanya desas-desus penyerbuan ke perguruan silatnya oleh perguruan lawan, tapi seperti biasa, orang yang merasa kuat meremehkan apa-apa yang dianggapnya tidak memiliki kekuatan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah serangan Perguruan Kapak Ganda berhasil dengan baik. Mereka mengepung Perguruan Atas Angin dari tiga penjuru. Penjuru ke empat tidak perlu karena berbukit-bukit terjal dan tidak mungkin dilalui. Perguruan Atas Angin bagaikan mangsa yang tersudut di pinggir ruangan. Dari tiga arah telah datang penyerbu dan di belakangnya terdapat tembok tinggi yang menghalanginya untuk kabur. Tembok tinggi berupa bukit-bukit tinggi dihiasi air-air terjun. Air Jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi itu kisahmu, Gentong?" tanya Shia Siaw Liong pada pemuda subur dan besar itu, yang diiyakan dengan anggukan kepala oleh sang pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah jika begitu, kami akan menolongmu membalaskan dendam guru dan saudara-saudaramu," ucap gadis itu lagi, "dan setelah itu engkau membantu kami menuntaskan misi kami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pemuda mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu tiga orang yang lain tampak agak tegang. Ya, pertempuran. Mereka bukannya anti pertempuran. Pertempuran bisa dikatakan adalah sesuat yang telah ada dalam darah mereka. Mengalir bersama sari-sari makanan dan udara yang dibawa darah. Mengisi sela-sela kecil nadi dan urat dalam tubuh mereka. Menjadi mereka-yang-tak-bisa-mati adalah suatu keadaan yang senantiasa mendekatkan diri mereka pada pertentangan, bahkan pertempuran. Setidaknya pertentangan terhadap orang-orang yang menganggap mereka ini, orang-orang yang tak bisa mati, sebagai orang-orang yang tidak normal dan harus diajuhi. Harus disingkirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misun hanya menggumam pelan. Tandanya ia tidak keberatan. Dhoruba hanya tersenyum kecil. Sedangkan Angus McLeod tampak menghela napas, tapi tidak menyatakan keberatannya. Setelah melihat ini semua kemudian Shia Siaw Lion berkata, "Baiklah. Jika demikian telah diputuskan. Besok, pagi-pagi sekali, kita berangkat ke Kota Paparan Karang Utara. Kudengar-dengar di sanalah pusat Perguruan Kapak Ganda, tempat di mana orang yang membunuh guru dan saudara-saudara seperguruan Gentong berada."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu kelimanya kemudian bersiap-siap untuk beristirahat. Misun masih mendekati Gentong, menanyakan senjata apa yang akan digunakannnya nanti, saat menyerang Perguruan Kapak Ganda. Gentong hanya menggelengkan kepala, menyatakan bahwa ia tidak pernah sebelumnya menggunakan senjata. Hanya kepalan tangan dan kaki yang biasa digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak efektif untuk menghadapi banyak anak-murid perguruan itu, jika dengan tangan kosong. Lebih baik engkau kuajari menggunakan kapak dan panah," usulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, terima kasih!" ucap Gentong. Ya, ia sadar. Ia kemudian teringat pada pertempuran terakhir yang membawanya 'mati', bahwa dalam pertempuran, bukan pertandingan satu lawan satu, senjata memegang peranan penting. Dapat menghemat tenaga untuk mengurangi lawan dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam perjalanan ke sana, kira-kira kita butuh tiga hari, pasti engkau sudah bisa," kata Misun meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gentong mengangguk mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas isyarat dari Shia Siaw Liong, api pun dimatikan dan mereka pun mulai tidur, untuk besok pagi-pagi sekali bangun dan pergi ke Kota Paparan Karang Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paman Wananggo.., sudah pagi!" ucap Lantang sambil menggugah-gugah bahu seorang tua yang sedang tertidur meringkuk dengan enaknya. Dengkurnya yang teratur menunjukkan betapa pulas orang tua itu tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh.., ah.., apa? Sudah pagi?" jawabnya gelagapan. Tampak sebagian 'roh'-nya masih ada di alam mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, paman, lihat ke sana!" ucap Xyra sambil menunjuk ke arah timur. Langit sudah agak mulai terang di sana. Warna kuning keemasan dan sedikit merah agak mulai terlihat di ufuk tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cepat..!!" ucap orang tua itu. "Saat-saat ini biasanya penjagaan tidak ada. Orang-orang itu lengah pada saat-saat pagi seperti ini." Langsung segar orang tua itu. Bangkit dan bergeras membereskan perlengkapan tidur mereka yang tidak seberapa. Ia lalu mengajak muda-mudi yang menyertainya itu pergi ke suatu arah. Ke arah di mana air menghilang di pandangan mata, jatuh menjadi air terjun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pinggir sungai yang menghilang ke bawah itu Wananggo tampak berbaring melihat-lihat, ia tidak mau sosoknya terlihat dari bawah oleh para penjaga di sana. Matanya mncari-cari ke sana dan kemari, tapi tak dilihatnya seorang pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aneh!!" gumamnya. Dia mengharapkan melihat satu dua orang penjaga yang pergi meninggalkan tempatnya untuk sarapan, agar ia yakin bahwa mereka benar-benar pergi dan tidak sembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi apa boleh buat, kita coba saja turun sekarang," ucapnya kepada kedua orang di belakangnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perlahan-lahan ketiganya mencari-cari pijakan di pinggir air terjun, di antara batu-batu yang menonjol, untuk turun ke bawah. Turun ke arah curahan air terjun itu diterima oleh sebuah danau kecil yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pulau mungil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hati-hati," ucap orang tua itu kepada muda-mudi tersebut. Ia sendiri kadang-kadang kesulitan pula memperoleh pijakan. Namun tak lama biasanya, setelah biasa mudah mereka melanjutkan satu langkah, ke langkah berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tong!! Tong!!! Tong!!!" tiba-tiba terdengar gaung tabung logam besar dan berat yang dipukul berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, kita ketahuan...!!" ucap orang tua itu. Segera ia menggapai kedua muda-mudi itu untuk mengikutinya bergeser masuk ke dalam rongga di belakan air terjun. Di sana ternyata terdapat cukup ruang untuk berlindung. Tertutupi oleh tirai air yang mengalir turun, membuahkan pemandangan yang aneh dan indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil sesekali Wananggo melihat dari sudut tirai air itu, di mana ia menyaksikan beberapa orang dari pulau di tengah danau itu muncul dan menyeberangi pulau melalui jembatan kecil yang ada. Mereka tampak dipanggil oleh adanya isyarat itu menuju pusat perguruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aneh?" ucap orang tua itu lagi, "tadi kupikir kita ketahuan menyusup. Ternyata mereka ada masalah rupanya. Hehehehe, ini malah untung buat kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua anak muda itu hanya memandangnya tanpa suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cukup memperhatikan dan tidak lagi terlihat orang, Wananggo pun mengisyaratkan agar mereka melanjutkan perjalanan menuruni tebing di pinggir air terjun itu. Keluar dari ruang di belakang tirai air dan kembali merambah ke bawah. Perlahan-lahan dan lebih tenang karena diyakini bahwa para penjaga telah pergi semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan melewati berbagai jenis dinding dan lapisan tanah yang kadang telah berlumut subur atas percikan air dari air terjun, akhirnya sampailah mereka di bawah, di suatu ruang sempit berbatu di kaki air terjun. Di depan mereka membentang danau kecil yang ditengahnya terdapat sebuah pulau. Pulau yang mungil dengan sebuah bangunan terbuat dari batu berwarna kelabu. Di sekitar bangunan tersebut tumbuh pohon-pohon buah dan bunga berwarna-warni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wananggo pun memberi isyarat agar mereka mengikutinya, menyelam dan berenang menuju pulau yang terlihat tersebut. Keduanya mengangguk mengiyakan. Ketiganya pun kemudian telah berada di dalam air yang jernih dan segar itu, berenang menyelam menghampiri pulau yang menjadi tujuan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api tampak mengepul di belakang kelima orang yang berjalan dengan tenang tersebut. Di atas pintu gerbang suatu perguruan silat yang baru saja mereka tinggalkan itu terpampang sebuah nama, "Perguruan Kapak Ganda", yang papannya sudah miring, bekas digempur. Di belakang mereka tampak belasan orang terkapar tanpa napas dan denyut nadi. Mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhoruba tampak senang dengan penyerbuan itu. Senjatanya berupa parang yang membentuk sudut tumpul, mirip bumerang, tampak merah oleh darah. Misun seperti biasa tampak tanpa ekspresi, akan tetapi kapaknya yang juga berwarna merah dalam genggamannya telah bicara. Angus tampak agak menyesalkan peristiwa itu. Shia Siaw Liong yang ternyata bersenjatan sepasang pedang, yang diletakkan di punggungnya, tampak dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada yang sedih dan bersemangat, itulah Gentong. Pemuda itu merasa sedikit puas karena ia telah berhasil membalaskan sebagian kematian dari guru dan saudara-saudara perguruannya dari Rimba dan Gunung Hijau. Tapi itu belum semua. Dedengkot dari kejadian dulu belum mendapatkan hukumannya. Ada tiga orang yang dicarinya, Mayat Pucat, Cermin Maut dan Sabit Kematian. Ketiga orang inilah yang memimpin penyerbuat ke tempatnya, membunuh guru dan saudara-saudara seperguruannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya mereka tidak ada di tempat. Dari informasi yang bisa diberikan anggot perguruan silat tersebut, pada saat-saat akhir hidupnya, bahwa ketiga guru utama mereka sedang memimpin penyerbuan ke Perguruan Atas Angin yang terletak di kota Air jatuh. Mendengar itu, kelima orang itu segera berangkat pergi. Menuju ke arah yang sama untuk mencari ketiga orang guru tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka sudah pergi kemarin," ucap Misun, "kita tertinggal satu hari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum tentu," jawah Shia Siaw Liong, "perjalanan memang memakan waktu satu hari, tapi bisa saja penyerbuan itu tidak berhasil, sehingga mereka tidak langsung kembali. Menang atau kalah bisa berakibat lain. Masih ada kemungkinan kita bisa berjumpa dengan mereka di sana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada berapa jalan menuju ke Kota Air Jatuh dari kota ini?" tanya Dhoruba kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak banyak," jawab Gentong, "hanya dua, yang satu adalah jalan yang juga tadi kita lewati yang berlanjut memutar dan yang lain yang langsung menuju ke sana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mana yang terdekat?" tanya Shia Siaw Liong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang kedua," jawab Gentong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, kita ambil yang kedua," jawab Shia Siaw Liong memutuskan. "Semoga tidak berselisih jalan dengan mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lain hanya mengangguk dan kemudian berbegas memacu langkah mereka, berjalan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari.., mari, cepat-cepat," ucap orang tua itu kepada dua muda-mudi di belakangnya. Ketiganya bergegas berjalan mengendap-endap. Mereka berjalan memutar melewati beberapa pohon yang tumbuh di tepi pulau yang baru saja mereka capai melalui air itu. Baju mereka masih basah, tapi tidak terlalu mereka perhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Xyra yang Undinen, basah tidak merupakan masalah. Ia adalah roh air, makhluk yang memang dalam hidupnya, jika tidak di dalam air, memanfaatkan sifat-sifat air. Dingin adalah temannya dan juga kelembaban. Bagi kedua orang yang lain, kebiasaan mereka hidup dalam lingkungan yang dekat dengan air membuat mereka memiliki ketahanan lebih terhadap keadaan baju yang basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhati-hati mereka melihat ke kiri dan ke kanan, menghindari bila ada penjaga yang mungkin ada di tempat itu. Setelah memutari bangunan yang terbuat dari batu berwarna kelabu itu, di belakangnya terlihat terdapat sebuah pulau lain, yang tidak terlihat dari arah mereka tadi datang. Sebuah pulau yang lebih kecil, yang dihubungkan dengan pulau mereka sekarang oleh sebuah jembatan kecil. Jembatan berukiran unik berwarna hitam yang melengkung cembung di atas air danau yang memisahkan kedua pulau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei, ada sebuah pula lagi di sana!" ucap Xyra heran. Ia heran karena dari atas sana, dari air terjun yang baru mereka turuni itu, tidak terlihat adanya pulau lain kecuali pulau tempat mereka berada sekarang. Bagaimana ini bisa dijelaskan, di sini ternyata terdapat pulau lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan hanya satu, masih ada dua lagi," ucap Wananggo tersenyum. Ya, ia dulu juga begitu, takjub bahwa dari atas sana tidak terlihat jelas berapa jumlah pulau yang ada. Setelah di bawah, baru ditemuinya ternyata ada sampai tiga pulau lain di belakang pulau pertama yang paling besar. Pulau-pulau yang saling dihubungkan oleh jembatan unik cembung berwarna hitam tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pernah ada cerita, jauh sebelum tempat ini dikuasai oleh Perguruan Atas Angin, bahwa tempat ini dibangun oleh seorang yang amat ahli dalam bangunan, geometri dan ilusi. Dengan cara inilah ia membangun pulau-pulau di air jatuh ini sehingga dari jauh terlihat seperti satu. Setelah didekati ternyata ada dua. Semakin didekati ada tiga dan pada akhirnya empat. Mirip dengan prinsip satu bagian ilmu yang disebut fraktal," jelas Wananggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fraktal?" tanya Lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Jika ada waktu, sehabis kita pergi dari sini, bisa aku bawa kalian ke seorang pengujar yang ahli akan hal itu. Dengar-dengar ia ada hubungannya dengan perancang pulau di tengah danau ini," lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik," ucap kedua muda-mudi tersebut hampir bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang kita harus menyeberangi jembatan itu," ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbegas mereka menyeberangi jembatan tersebut setelah memeriksa bahwa tiada perangkap dan juga tiada penjaga yang menghalangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mereka telah ada di pulau kedua. Pulau yang ukurannya lebih kecil dari pulau pertama, akan tetapi dengan susunan yang hampir sama. Bangunan batu dengan warna kelabu yang sama dan pohon-pohon buah serta tumbuhan bunga warna-warni yang mengelilinginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita kitari seperti cara yang tadi," bisik Wananggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang diajak bicara mengangguk dan mereka pun berjalan mengitari, melakukan hal yang sama dan tiba di bagian belakangnya. Menemukan pemandangan yang sama dengan sebelumnya, akan tetapi dengan skala yang lebih kecil dari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih ingat tempat tadi? Apa yang berbeda?" tanya Wananggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua muda-mudi itu terdiam, lalu Lantang menjawab, "Sama persis, hanya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ukurannya lebih mungil!" selak Xyra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, benar. Lebih mungil," tegas Lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul, ini diatur sedemikian rupa, sehingga orang yang tidak waspada akan lupa dan tersesat. Padahal ada perbedaannya, yaitu ukuran yang mengecil," jelas Wananggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai berapa kali kita harus menyeberang?" tanya Xyra kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jumlah pulau yang sebenarnya aku tidak tahu," jawab Wananggo, "tapi kita butuhkan hanya empat. Maksudnya aku hanya pernah tiga kali menyeberang sampai pulau keempat. Dan di sanalah aku temukan pohon yang kita cari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa ada hanya di pulau keempat? Bukannya bila benar teori fraktal itu, seharusnya ada di setiap pulau?" tanya Xyra kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bila orang dapat merancang semua tumbuhan dan makhluk hidupnya, ya jawabnya. Tapi orang hanya dapat merancang letak benda-benda dan bangunan, tapi tidak makhluk hidup yang ada di sana," jawab Wananggo sambil tersenyum. Lalu lanjutnya, "dan kebetulan di pulau keempat inilah dulu kala tinggal seorang petapa yang ahli obat-obatan. Ia memiliki kebun tanaman-tanaman berkhasiat. Yang kita lakukan nanti adalah 'meminjam' salah satu buah tanamannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mencuri..," ucap Xyra agak tak senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, mencuri. Jika sang petapa itu masih hidup, kita bisa minta. Tapi ia sudah tiada dan meminta pada Perguruan Atas Angin..., lebih baik begini," ucap Wananggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagiku tidak apa-apa mencuri, asal tidak bilang bukan mencuri," kata Xyra polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantang dan Wananggo tersenyum mendengar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sampailah mereka di atas pulau keempat. Dan kali ini Wananggo tidak mengajak mereka untuk memutari bangunan batu berwarna kelabu itu, melainkan memutar ke arah yang berlawanan untuk mencari pintu masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapak Kelam benar-benar marah dan putus asa. Empat pilar yang diharapkannya telah tersungkur bersimbah darah. Anak muridnya telah habis dibunuh. Tinggal dirinya yang masih berdiri dengan sedikit luka-luka dengan tenaga yang hampir habis. Musuh-musuh yang datang ternyata tidak bisa dianggap remeh. Mereka telah melakukan strategi sedemikian rupa, sehingga berhasil masuk dengan cepat dan mengalahkan penjagaan di setiap lapisan. Benar-benar hari akhir bagi perguruan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapannya tampak tiga orang senyam-senyum. Tiga orang yang mengerikan, karena dari gayanya ia telah tahu siapa mereka. Tiga orang pimpinan dari Perguruan Kapak Ganda. Rekan-rekan seperguruan Naga Geni yang dulu dibunuh oleh gurunya Ki Jagad Hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengecewakan sekali!! Jauh-jauh diserang, ternyata Jagad Hitam sudah berkalang tanah," ucap seorang perempuan dengan suara merdu yang melengking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, betul!! Segitu takunya sampai mati lebih dulu, hehehehe," tambah seorang dengan mukanya yang pucat, rambut kusut dan kuku-kuku tangan panjang kuning menghitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah, sudah.., tidak usah kecewa. Di sini masih ada muridnya yang bisa kita apa-apakan," lanjut orang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merinding Tapak Kelam atas ucapan-ucapan mereka itu. Mungkin mati lebih baik bagi dirinya daripada terjatuh ke tangan ketiga orang itu. Ia tidak tahu apa rencana mereka selanjutnya terhadap dirinya. Berpikir itu ia segera mengayunkan tangannya membentuk pukulan untuk dihujamkan ke dalam lambungnya. Serangan bunuh diri dari Pukulan Perusak Perut, ilmu ampuh warisan gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, nanti dulu, cah bagus. Tidak segampang itu mati..," ucap sang wanita lawannya yang dengan sejata cermin yang dibawanya memantulkan sesuatu yang diikat dengan selendang sutra halus yang lemas dan panjang, melesat melibat tangan Tapak Kelam, mencegahnya memuntahkan pukulan pada lambungnya untuk membunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagus, Cermin Maut!!" sahut rekannya yang segera melayang mendekat dan menotok Tapak Kelam di beberapa tempat sehingga orang itu tak dapat lagi bergerak dan hanya berdiri kaku di hadapan ketiga lawannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah, kalau mau bunuh, bunuh saja!!" ucap Tapak Kelam lemas. Lebih baik mati pikirnya daripada jadi mainan ketiga orang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hehehe, tidak semudah itu," ucap seorang yang dipanggil Mayat Pucat oleh rekannya. Dari tampangnya yang pucat dan kuku-kukunya yang panjang dan kuning kehitaman, sudah dapat dikaitkan mengapa ia menggunakan julukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang katakan di mana kitab-kitab tersebut!" ucapnya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kitab-kitab apa?" jawab Tapak Kelam bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kitab-kitab yang ada di Air Jatuh, yang tersimpan di bawah prasasti!" serang Sabit Kematian tak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah dibawa oleh seseorang lama sekali dulu. Ki Makam namanya," jawab Tapak Kelam. Lalu ia menceritakan jalannya peristiwa yang dulu kala itu terjadi, saat Ki Jagad Hitam masih hidup dan dirinya masih muda. Saat itu ia masih menjadi salah satu dari enam belas orang Lingkaran Dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak mungkin," jawab Cermin Maut. "Kami sudah mengikuti petunjuk yang ada. Bahkan sampai ke Rimba dan Gunung Hijau," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rimba dan Gunung Hijau di timur? Ada apa di sana?" tanya Tapak Kelam tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begitulah petunjuk yang kami dapatkan dari prasasti yang kami curi?" jawab Sabit Kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Curi? Jangan bercanda. Prasasti itu masih ada di sana. Di Air Jatuh," ucap Tapak Kelam semakin bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu palsu," terkikik genit Cermin Maut. Senang ia melihat lawannya itu bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiganya kemudian terkekeh-kekeh, senang mereka melihat ketidaktahuan dari Tapak Kelam tentang apa yang sebenarnya terjadi. Lalu mereka menceritakan sedikit tentang penyerbuan mereka ke timur, ke Rimba dan Gunung Hijau. Juga tentang kitab-kitab yang sedikit ditemukan mereka, tapi tidak banyak berarti karena hanya berisikan cara-cara pengobatan dan latihan dasar kuda-kuda saja. Bidang-bidang yang tidak menarik bagi mereka. Ilmu-ilmu tinggi dan menggiriskan, itulah yang mereka cari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita bawa saja dia ke Air Jatuh, kita periksa sekali lagi di sana!" ucap Sabit Kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua rekannya mengangguk. Lalu Mayat Pucat menyambar Tapak Kelam dengan entengnya dan membawanya berlari cepat, menyusul kedua rekannya yang telah pergi terlebih dahulu. Sementara itu di luaran sana masih terdengar sisa-sisa murid-murid Perguruan Atas Angin yang meregang nyawa. Sisa-sisa terakhir yang dicabut kehidupannya oleh murid-murid Perguruan Kapak Ganda. Tak tersisa. Habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorak-sorai para pemenang tampak berkumandang di udara. Bergembira layaknya seorang pemenang. Kemenangan atas tumpahnya darah lawan. Kebuasan melebihi binatang liar. Memangsa tapi tidak untuk dimakan, hanya untuk kepuasan akan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu di sana!" ucap Misun sambil menunjuk asap kehitaman yang membumbung tinggi di udara. Kebakaran. Umumnya hanya kebakaran yang dapat menyebabkan asap demikian pekat dan gelap. Lima orang itu berbegas menuju ke suatu tempat di mana sumber asap itu berasal. Jauh sebelumnya, di kiri-kanan jalan, telah mereka lihat banyak sisa-sisa pertempuran. Rumah-rumah yang rusak, kereta kuda terbalik, mayat dan lain-lain. Hal-hal yang mungkin timbul akibat perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, benar. Kelihatannya sepenanak nasi lagi, sampailah kita di sana," ucap Gentong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lain hanya mengangguk dan lalu mempercepat langkah masing-masing. Sebagai mereka-yang-tak-bisa mati, orang-orang tersebut perlu pula asupan tenaga dan juga istrihat. Jika tidak mereka akan menjadi terlalu lelah dan tidak dapat berbuat apa-apa, walaupun tidak dapat mati tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Misun, benarkan kita itu tidak dapat mati? Bagaimanapun juga luka kita?" tanya Gentong suatu saat. Baginya keadaan dirinya yang baru ini masih diselimuti banyak misteri. Ia perlu mencari tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misun tidak langsung menjawab. Ia tampak berpikir apa yang sebaiknya dijelaskan. Lalu katanya, "sebenarnya tidak juga. Orang dapat dipastikan mati bila leher kepada terpisah dari tubuhnya. Dan itu yang biasanya dilakukan oleh sesama mereka-yang-tak-bisa-mati atau immortal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memenggal kepala?" berkata Gentong sambil tak terasa memegang lehernya, membayangkan apabila bagian tersebut dipotong oleh sebuah senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, dan itu kadang menjadi tujuan beberapa orang atau kelompok, untuk memperoleh ilmu pengetahuan, kekuatan dan menjadi yang terutama, the one," ucap Misun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The one?" tanya Gentong kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, the one. Itu hanya istilah, yang dituliskan dalam suatu ramalan, atau lebih tepatnya mirip peraturan bagi kita, kamum immortal, bahwa pada suatu saat lewat pertarungan di antara kita, akan tinggal satu orang. The one. Orang yang memiliki pengetahuan dari lawan-lawan yang dibunuhnya," jelas Misun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bingung aku..," ucap Gentong perlahan. Jelas tampak dalam wajahnya kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini.., jika dua orang kaum immortal bertempur dan satu berhasi dipenggal kepalanya, maka yang hidup akan menerima 'nyawa' yang kalah dan menjadi bagian dari dirinya, juga hal-hal yang telah dipelajarinya. Ilmu pengetahuan, bela diri, dan lain-lain yang ada dalam kepalanya. Beberapa orang memanfaatkan keadaan itu untuk mencari kekuatan. Dengan semakin banyak membunuh, mereka akan semakin kuat. Begitulah," ucap Misun sambil menuliskan sesuatu di atas tanah di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ini sudah membunuh belasan orang dari kaum kita, Dhoruba sudah puluhan. Angus dan Shia Siaw Liong bahkan sudah ratusan. Bukan jumlah yang banyak apabila dalam rentang dua ribu tahun," katanya pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita sudah sampai," ucap Dhoruba yang segera mencabut golok bumerangnya. Golok melenkung patah, mirip bumerang dangan satu sisinya berupa pegangan dan sisi lainnya bagian yang tajam. Golok tersebut dapat dilempar untuk memenggal kepala musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan kelima orang ini, yang sudah jelas-jelas terlihat membawa senjata, membuat anak-murid Perguruan Kapak Ganda yang baru saja menang perang langsung siaga. Mereka mengira bahwa kelima orang ini adalah bala bantuan untuk Perguruan Atas Angin yang baru saja mereka bantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Capp!! Heggg!!" alangkah terkejutnya mereka, yang sebenarnya disebabkan oleh kelengahan mereka sendiri yang jumawa sehabis menang dalam penyerbuan ini, sehingga tidak waspada saat Dhoruba menyerang tanpa ba-bi-bu lagi. Melompat dengan kaki-kakinya yang relatif panjang bagi orang-orang, merentangkan tangannya yang memang panjang dan menyabet-nyabetkan golok bumerangnya. Segera berjatuhan beberapa orang dengan luka di bagian leher, atau leher yang hampir putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Musuh datang!!!" teriak salah seorang dari mereka, berusaha mengabari rekan-rekan mereka yang masih ada di bagian dalam dari lingkungan bangunan Perguruan Atas Angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera berlompatan keluar rekan-rekan mereka yang telah siaga dengan senjata di tangan. Tapi hal tersebut tidak berarti banyak bagi Dhoruba yang segera bergerak ke sana kemari. Membacok dan menendang sana-sini. Mengucurkan darah pada anak murid Perguruan Kapak Ganda, menemani musuh-musuh mereka yang telah terlebih dahulu hilang nyawan-nyawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei, kenapa kalian diam saja? Ayo bantu aku!!" ucap Dhoruba sambil terus bertempur. Bajunya yang tak begitu panjang menutupi tubuhnya, sudah basah oleh darah lawan-lawannya. Hal ini membuatnya makin mengerikan. Hitam dengan baju merah berdarah, tinggi dan kurus, dan dengan golok bumerang yang menari-nari di atas urat dan darah lawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angus pun mulai turun ke dalam arena. Ia mencabut pedangnya. Pedang yang cukup panjang dan berat. Khas pedang Tlatah Skotlandia. Ia mengayunkan pedangnya sekali dua kali. Sekali tetak tak ada lawan yang dapat menahan tenaganya. Remuk dan hancur. Tenaga yang besar ditambah dengan bobot pedang yang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shia Siaw Liong bergerak cepat, mencabut kedua pedagnya dan memainkannya bak kupu-kupu menari, berseliweran ke sana-ke mari yang diikuti oleh percikan darah yang mengambang di udara. Tarian Kupu-kupu Penjemput Maut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misun mengangsurkan Gentong panah dan beberapa tombak. "Pakai senjata lebih efektif. Lawanmu yang sebenarnya bukan keroco-keroco ini. Simpan tenagamu," usulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gentong menangguk mengiyakan. Ia pun menerima senjata-senjata itu dan menggunakannya sebagaimana ia diajarkan oleh Misun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran itu tak berlangsung lama. Dua ratusan murid-murid Perguruan Kapak Ganda telah malang melintang di atas tanah. Putus napasnya. Kelima diam seribu bahasa. Masing-masing kemudian menyimpan kembali senjatanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mana dedengkotnya? Siapa namanya? Sabit Kematian?" ucap Dhoruba sambil matanya melihat ke sana-ke mari, melucu. Kali-kali saja yang namanya Sabit Kematian telah tak sengaja terbunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di sini," ucap Misun yang tadi meghilang dan sekarang muncul lagi. Ia menggapai rekan-rekannya untuk mengikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam suatu ruang terbuka dekat dengan bagian tengah perguruan tersebut, tampak tubuh-tubuh malang melintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lihat ini," tunjuk Misun, "cakaran beracun. Cocok dengan gambaran Gentong terhadap salah satu tokoh utama mereka, Mayat Pucat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana tergeletak pula empat orang yang dari busananya tampak sedikit berbeda dengan murid-murid Perguruan Atas Angin yang lain. Ya, mereka adalah Empat Pilar. Bawahan langsung dari Tapak Kelam, pempimpin Perguruan Atas Angin saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini mungkin murid-murid tingkat pertama," kata Shia Siaw Liong sambil menunjuk ke arah mayat Empat Pilar. "Bajunya berbeda dan juga otot-ototnya. Mungkin wakil-wakil ketua."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kelihatannya ketuanya belum mati dan dedengkok dari Perguruan Kapak Ganda pun tidak ada di sini. Di mana mereka?" celingak-celinguk Dhoruba sambil mengayun-ayunkan golok bumerangnya yang sudah mengering merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini ada jejak darah yang seperti terseret," kembali Misun kembali dari suatu ruang di sebelah, menunjukkan jelas garis-garis yang dibentuk oleh darah manusia yang terluka dan diseret-seret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari kita ikut," usul Angus kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun pergi ke bagian belakang dari bangunan Perguruan Atas Angin yang tampak sunyi itu. Sunyi karena hampir seluruh penghuninya telah berkalang tanah, begitupula dengan hampir seluruh musuh yang menyerbunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu, di sana pintu masuknya," tunjuk Wananggo pada suatu rongga pada bangunan batu berwarna kelabu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rongga itu tidak terlalu besar, sehingga orang dewasa harus agak membungkukkan dirinya untuk memasukinya, agar tidak tarantuk pada langit-langit rongga tersebut. Mereka kemudian satu per satu memasuki ruangan itu, Wananggo, Lantang dan kemudian akhirnya diikuti oleh Xyra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan dalam, di mana ketiga orang itu berada sekarang, terlihat cukup luas, lebih luas dari yang dibayangkan saat orang melihatnya dari bangunan batu berwarna kelabu dari luar sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Luas juga, tidak seperti yang aku pikir," ucap Xyra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar," berkata Lantang membenarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu juga salah satu kelebihan tempat ini. Dengan permainan warna, bentuk dan komposisi tumbuh-tumbuhan serta cahaya, perancang tempat ini membuat atau ingin menimbulkan kesan, bahwa bangunan-bangunan di setiap pulau tidaklah besar ruangan di dalamnya, tidak seperti keadaan sebenarnya," jelas Wananggo kemudian. Ia mencari-cari dengan matanya sampai pada suatu tulisan di dinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mana tanaman yang dimaksud, kebunnya pun aku tidak lihat?" tanya Xyra, karena ia hanya melihat ruangan yang hampir kosong tersebut. Hanya beberapa rak terbuat dari batu, yang dipahat dalam dinding, yang tampak di sana-sini. Rak-rak yang di langit-langitnya tampak sinar kemerah-merahan, seperti dihiasi batuan atau jamur yang dapat berpendar dalam gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inilah kebun itu!" ucap Wananggo puas. Ia senang melihat ketidakpercayaan pada mata kedua muda-mudi yang menyertainya itu. "Aku tidak pernah bilang bahwa kebun tersebut adalah kebun seperti kebun-kebun tanaman pada umumnya. Dan aku juga tidak pernah bilang seperti apa tanamannya atau bentuk pohonnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua muda-mudi itu masih saja bingung dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Wananggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat tanda tanya besar seolah-olah terpampang di benar mereka, Wananggo pun mengajak mereka ke sudut ruangan itu. Ke suatu tempat yang difungsikan sebagai meja dan kursi, walaupun kesemuanya itu terbuat dari batu. Batu yang dipotong sedemikian rupa, sehingga dapat digunakan sebagai meja dan kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya pun menurut dan duduk berhadapan dengan Wananggo, yang seperti diduga, akan menceritakan apa-apa yang membingunkan mereka tadi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pondok ini adalah milik seorang petapa yang ahli obat-obatan, sahabat dari pemiliki tempat ini. Ia ahli segama macam tumbuhan dan khasiat-khasiat yang terkandung di dalamnya," jelas Wananggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paman pernah bertemu dengannya?" tanya Xyra menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pernah, sekali waktu," jawab Wananggo sambil berpikir sedikit, "waktu itu aku sedang mencari obat untuk anak dan istriku yang sakit. Suatu penyakit yang aneh. Saat itulah aku bertemu dengan petapa itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa nama petapa itu, paman?" tanya Lantang ingin tahu. Ya, ingin tahu siapa orang yang kemungkinan bisa memiliki obat untuk kesembuhannya. Menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Suatu penyakit yang juga tidak jelas asal-usulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nama petapa itu sendiri aku tidak tahu. Yang kutahu ia sering membawa-bawa sebuah buku tempat ia menuliskan obat-obatannya. Pernah aku diberitahu judul buku tulisannya itu. Seribu Ramuan namanya," jawab Wananggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seribu Ramuan?" ujar Xyra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wananggo menangguk mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin itu untuk menunjukkan betapa banyaknya ramuan obat-obatan yang tertulis dalam buku itu," tebak Lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin," ucap Wananggo pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paman, tapi paman belum menceritakan mana kebun dan tanam-tanaman obat yang akan kita curi. Di sini tidak ada kebun apalagi tanam-tanaman," tanya Xyra, yang mengingatkan kembali orang tua itu akan tujuannya semula mengajak muda-mudi itu ke tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, itu!" jawabnya tersenyum. Alih-alih menjawab, ia malah mengajukan pertanyaan, "Xyra dan Lantang, apa sebenarnya tumbuhan dan hewan? Maksudnya, apa bedanya mereka berdua dan apa hubungannya dengan makhluk hidup lain seperti kita, manusia dan Undinen?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang tersebut, yang satu Undinen dan yang lain manusia, tampak kaget dengan pertanyaan yang tidak diduga-duga itu. Mereka tidak dapat langsung menjawab melainkan memikirkannya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tumbuhan tidak bertelur atau beranak?" tebak Lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu apa yang namanya buah dan umbi? Bukan itu telur dan anaknya, yang mirip dengan yang dimiliki hewan?" tanya Wananggo, menanggapi jawaban tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantang hanya cengengesan mendengar pertanyaan balik itu. Lalu ia kembali terdiam. Berpikir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini paman, aku tahu," ucap Xyra, "tumbuhan tidak berpindah tempat. Hewan selalu berpindah tempat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hampir benar," jawab Wananggo. "Tepatnya tumbuhan tidak berpindah tempat akibat kemauannya melainkan akibat rangsangan dari lingkugan. Lain dengan hewan dan juga kita manusia dan Undinen, yang berpindah tempat akibat kemauan kita sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masak ada sih tumbuhan yang bisa berpindah tempat, paman?" tanya Lantang tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebenarnya tidak terlalu tepat apabila dikatakan mereka berpindah tempat. Lebih tepat bila dikatakan keturunannya atau bagian dari tubuhnya, yang akan menjadi tumbuhan baru, berpindah tempat," jelas Wananggo kemudian. Lalu ia menjelaskan bahwa ada tumbuhan-tumbuhan yang memanfaatkan angin dan air untuk menyebarkan bagian tubuhnya atau keturunannya. Ada pula yang tersebar akibat adanya bencana alam seperti tanah longsor, banjir dan sebagainya. Manusia dan hewan juga berperan dalam penyebaran itu, sengaja atau tidak sengaja. Yang sengaja misalnya dengan memindahkan tanaman dan ditanam di tempat lain, sedangkan yang tidak sengaja misalnya adalah biji-biji yang tersangkut di sepatu, baju atau tidak hancur dalam lambung sehingga kembali keluar saat mereka membuang hajat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begitulah alam ini, suatu kreasi yang mengagumkan dari Sang Pencipta," ujar Wananggo yang menutup jawaban dari pertanyaannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paman, paman kembali membuat bingung. Menjelaskan suatu hal tapi hal yang pertama belum jugaa terjelaskan," ucap Xyra kembali. "Mana tumbuhan obat untuk Lantang, yang menjadi tujuan kita semua ke tempat ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersenyum Wananggo melihat pertanyaan yang diajukan dengan semangat oleh Xyra. Terlihat jelas kekuatiran dan kasih sayang Undinen wanita tersebut kepada Lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebenarnya aku sudah menjawab secara tidak langsung hal itu," ucap Wananggo, "hanya saja belum benar-benar menjelaskan apa yang kumaksud."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua anak muda itu diam, menantikan penjelasan yang akan muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Wananggo pun menjelaskan, bahwa tumbuhan dan juga hewan, tidak saja apa-apa yang diketahui oleh kedua orang muda tersebut. Banyak hewan dan tumbuhan yang berukuran jauh lebih kecil dari mereka. Bahkan ada yang tidak bisa dilihat oleh mata. Organisme mikro namanya. Ukurannya sangat kecil. Mereka-mereka ini kadang dapat membuat hewan dan tumbuhan yang lebih besar menjadi sehat atau pun sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tidak percaya kedua anak muda itu menunjukkan muka yang semakin bingung dan tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu kala ada seorang pengujar yang bernama Lui Pastur (Louis Pasteur) yang menemukan bahwa bahan makanan yang dipanaskan sampai suhu tertentu, kemudian dikenal sebagai pasturisasi, dapat membuat makanan tersebut tidak cepat membusuk dan lebih sehat untuk dimakan. Hal ini karena renik-renik dari tumbuhan dan hewan yang hidup dalam bahan makanan mati karena pemanasan tersebut. Inilah yang disebut sebagai organisme mikro. Amat kecil," jelas Wananggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang yang dijelaskan hal baru itu tampak mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu sebabnya kita perlu memasak makanan yang kita makan, selain lezat, juga lebih sehat," ucap Wananggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi katanya, lalapan itu juga sehat, lho!" kata Lantang. Ia mendengar hal itu dari mendiang ibu dan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar, benar begitu. Umumnya harus dimasak adalah makanan yang mengandung atau kemungkinan besar mengandung organisme mikro yang berbahaya bagi tubuh, atau disebut juga bibit penyakit. Dan itu terutama daging. Ikan laut masih baik dimakan mentah. Umbi-umbi yang keras sebaiknya dimasaka agar mudah dicerna oleh lambung," jelas Wananggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua muda-mudi yang diberi penjelasan itu kembali mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi paman, itu semua belum menjelaskan letak kebun dan tanaman yang dimaksud?" protes Xyra kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wananggo tersenyum masih, lalu katanya, "Tenang Xyra, kebingunganmu itu juga sama dengan kebingunganku dulu, saat bertemu dengan sang petapa penulis kitab Seribu Ramuan." Lalu ia bangkit dari tempat duduknya dan mengajak keduanya menuju ke rak-rak yang terbuat dari batu, yang di dalam ceruknya terdapat langit-langit yang langit-langitnya berpendar kemerahan. "Ini kebun yang kumaksud!" katanya sambil menunjukk rak-rak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah sinar berpendar merah dari setiap langit-langit dalam ceruk tersebut, terhampar semacam tempat yang di atasnya diberi tanah halus berwarna coklat kehitaman dan di atasnya tumbuh tanaman-tanaman kecil dan mungil, hanya setinggi beberapa jari saja. Beberapa tampak berkilauan perak. Yang lain tampak berwarna lembut dan buram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini kebun yang dimaksud?" tanya Lantang dan Xyra hampir bersamaan. Baru kali ini mereka melihat kebun yang berukuran "mini" tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya!" jawab Wananggo sambil tersenyum. Senang ia melihat ketertarikan kedua muda-mudi itu, juga keheranannya. Sama seperti yang terjadi dulu pada dirinya saat petapa, sang penanam tumbuh-tumbuhan itu, menerangkan pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari kita ambil dan kita gunakan untuk mengobatimu, Lantang," ucap Xyra seraya tangannya mengapai ke salah satu tanaman mini tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai, hati-hati!" cegah Wananggo. "Jangan sembarangan menyentuhnya. Ada beberapa yang amat beracun, sekali sentuh dapat seorang manusia mati. Aku tidak tahu efeknya terhadap Undinen."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu segera Xyra menarik tangannya kembali dan tidak jadi memetik tanaman yang menarik, yang ada dihadapannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paman, lalu mana yang akan digunakan sebagai obat untuk mengobati Lantang? Bukan yang tadi?" tanya Xyra kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan," jawab Wananggo pendek. Tampak ia berpikir-pikir agak keras. "Dulu petapa tersebut pernah bilang kepadaku bahwa saat malam bulan purnama tanaman itu akan berbunga dan tak lama, dalam hitungan menit akan berbuah. Saat itulah ia harus dipetik buahnya dan juga diambil akarnya. Tapi jangan sampai mati. Jika mati, khasiatnya akan berkurang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kalau kita tidak tahu tanaman yang mana...?" ucap Lantang menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, untuk itu kita butuh kemampuan Xyra sebagai seorang Undinen," jawab Wananggo sambil tersenyum. "Dari cerita kalian, ingatkah bila Xyra pertama kali bertemu dan tertarik kepadamu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang di hadapan Wananggo mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, tumbuhan ini juga akan mengeluarkan semacam aura yang mirip seperti yang dikeluarkan Lantang pada saat itu, dan di antara kita bertiga, hanya engkau Xyra yang dapat merasakannya," ucap Wananggo sambil memandang dara Undinen tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Xyra mengangguk, "akan aku coba, apapun, demi kesembuhan Lantang." Ucapannya itu diakhiri dengan nada yang pasti. Menunjukkan niatan yang teguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantang menjadi terharu mendengar hal itu. Tak terasa jemarinya menggenggam erat jejari Xyra. Hal ini pun tak luput dari perhatian Wananggo sehingga membuat wajah keduanya merona merah. Malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita masih ada sedikit waktu. Lebih baik kita mengheningkan cipta, meditasi, agar hawa kita murni, sehingga nanti dapat dengan mudah melakukan pengobatan kepadamu, Lantang. Setelah, tentu saja Xyra mencarikan tanaman yang tepat, yang hawanya mirip dengan hawa yang engkau pancarkan," usul Wananggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya mengangguk mengiyakan. Segera mereka mencari tempat di salah satu ujung ruangan, di mana di sana tidak terdapat rak-rak berupa ceruk dalam dinding itu. Hening pun menggapai mereka bertiga yang tenggelam dalam pengaturan napas dan pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hehehehe, bagus juga tempat ini?" kekekeh Mayat Pucat saat mereka berempat tiba di Air Jatuh. "Boleh juga bila kita pindah kemari." Ucapannya itu dibalas oleh dengusan marah, tapi tanda daya, dari Tapak Kelam yang sedang dibawa-bawanya. Lunglai bagaikan boneka saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisa nanti itu kita bicarakan," ucap Cermin Maut. Mau tak mau ia mengagumi hal itu pula. Belum pernah ia menemui tempat yang indah seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabit Kematian hanya diam saja. Tapi matanya tampak juga mengiyakan. Kagum akan keindahan tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang tunjukkan di mana tempat prasasti tersebut berada," ucap Mayat Pucat sambil menggoyang-goyangkan Tapak Kelam yang baru saja dipijit uratnya dan ditotok, sehingga tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya dapat berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di sana, di tengah pulau. Kita harus menyeberang," ucap Tapak Kelam sambil menggerakan dagunya, mengoyang-goyangkan ke arah pulau di tengah danau tersebut. Tangannya telah luluh lemas dikerjai oleh Mayat Pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo jika begitu," ucap Cermin Maut yang segera melayang disusul oleh kedua saudara seperguruannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera mereka berada di atas pulau pertama, di hadapan bangunan berwarna kelabu yang terbuat dari batu. Lalu Tapak Kelam mengisyaratkan untuk memutari bangunan itu sehingga sampailah di belakangnya. Di tempat di mana terdapat pemandangan yang sama dengan pemandangan di tempat sebelum mereka tiba di pulau tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ha? Bukannya tadi...," ucap Sabit Kematian sedikit bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cermin Maut yang paling cerdik dari mereka segera tahu apa yang dihadapinya. "Benar-benar seni tata bangunan yang tinggi," ucapnya. Lalu ia segera memandang kepada Tapak Kelam, "ada berapa lipat bentuk yang sama ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapak Kelam yang tadinya berhadap tipuan akibat kesamaan geometri ini dapat membingungkan ketiganya sehingga ia dapat mencari-cari kesempatan untuk melarikan diri, tampak lemas. Dengan lunglai ia berkata, "kira-kira sepuluh. Aku hanya pernah sepuluh kali lewat dan tidak melihat belakang dari yang kesepuluh itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangguk-angguk Cermin Maut mendengar hal itu. Keunikan ini menambah rasa sayangnya untuk memiliki tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan di pulau keberapa prasasti itu berada?" tanyanya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kelima," jawab Tapak Kelam pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu mari kita segera pergi!" ucap Sabit Kematian yang segera berlari cepat menyeberang jembatan melengkung cembung berwarna hitam yang ada di hadapan mereka itu. Yang lain segera menyusulnya. Begitulah mereka berlari cepat, sampai akhirnya tiba di pulau kelima. Tak sadar mereka saat melewati pulau keempat bahwa ada tiga orang dalam bangunan di tengah pulau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tempat yang menarik," ucap Shia Siaw Liong saat mereka berlima tiba di Air Jatuh. Di pinggir danau, di mana di hadapan mereka terdapat sebuah pulau yang dihubungkan dengan sebuah jembatan melengkung cembung berwarna hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menyeberang kita?" tanya Gentong karena ia tidak melihat alternatif tempat lain yang mungkin menjadi tujuan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, ini sedikit tetetasan darah yang tadi," jawab Misun sambil mencium-cium darah tersebut. Setelah ia bertarung dengan seorang Manusia Serigala yang juga seorang dari mereka-yang-tak-bisa-mati dan berhasil memenggal kepalanya, ia mendapatkan kemampuan untuk membaui seperti halnya serigala. Kemampuan yang dulunya dimiliki oleh lawannya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika demikian, mari kita menyeberang," ucap Dhoruba yang segera meloncat dengan kaki-kakinya yang jenjang, mendahului keempat orang rekannya, menyeberang ke arah pulau menggunakan jembatan hitam melengkung cembung tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di seberang segera Misun mulai lagi mencari-cari jejak dan tanda-tanda orang-orang yang baru lewat. Setelah menemukannya ia segera menggapai teman-temannya untuk mengikuti. Begitulah mereka terus berpindah dari satu pulau ke pulau lain sampai ke pulau yang keempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aneh.., di sini ada dua jejak menuju arah yang berlawanan. Jejak yang dari tadi kita telusuri dan yang baru," ucapnya sambil berjongkok mengamati percabangan dari jejak-jejak yang ada di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita ikuti saja yang pertama, itu yang sedari dari ruang perguruan kita ikuti," usul Shia Siaw Liong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik jika begitu," lalu ia berdiri dan segera mengikuti rangkaian jejak-jejak pertama tadi. Rangkaian jejak-jejak yang membawa mereka menuju pulau berikutnya. Pulau kelima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam pun menjelang tiba. Hampir tanpa awan dan diterangi oleh rembulan, yang hari itu membulat sempurna, menyajikan malam yang tidak segelap biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari kita mulai," ucap Wananggo hampir berbisik, menggugah Xyra dan Lantang dari duduk semadi mereka. "Sudah hampir tengah malam saat ini. Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk merasakan energi dari tumbuhan yang akan digunakan untuk menyembuhkan Lantang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua muda-mudi itu pun mengangguk dan meninggalkan posisi duduk mereka, yang tadi dalam postur Duduk Teratai, dengan lima titik menghadap ke langit. Kedua telapak tangan dan kaki, ditambah dengan ubun-ubun kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang aku dan Lantang akan berdiri dekat pintu masuk, karena itu adalah posisi yang paling jauh dari rak-rak dalam ceruk batu itu. Kami harus agak jauh agar tidak hawa kami mengganggu konsentrasimu," jelas Wananggo pada Xyra dan juga Lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selanjutnya, bayangkan engkau hendak mencari Lantang. Rasakan hawa yang dikeluarkannya. Telusuri isyarat yang ada, yang datang kecuali dari arah pintu masuk. Mau tak mau engkau pasti akan merasakan hawa dari Lantang. Upayakan untuk mencari hawa lain yang mirip di antara tumbuhan-tumbuhan mini tersebut," kata Wananggo kemudian menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Xyra, sang Undinen, mengangguk mengiyakan petunjuk itu dan mulai berkonsentrasi dengan menutup matanya dan mulai hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ruangan yang sudah tentu lebih gelap dari keadaan di luar, di mana hanya seberkas sinar rembulan menerobos masuk dan miring menerangi lantai seluas dua tiga telapak tangan. Putih cemerlang. Sisa dalam ruangan itu boleh dikatakan hampir gelap. Hanya pendar kemerahan tampak dari langit-langit rak-rak dalam ceruk batu yang berjajar di sisi lain dari sisi tempat pintu masuk berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlawan-lahan mulai tampak kabut tipis dari kepala Xyra. Kabut yang bersinar kebiruan dalam gelap. Mirip kilauan kunang-kunang, halus dan bersambung-sambung. Bergerak liar ke sana-kemari seperti cabang-cabang percikan api yang kemudian berubah menjadi tenang dan mulai membentuk seperti suatu lidah masih berwarna biru temaram dan bependar. Jika suasana terang, mungkin kabut tersebut tidak akan jelas terlihat seperti saat ini dalam ruang yang gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan lidah cahaya bependar itu bergerak-gerak memanjang dan memendek, terlihat seperti mencari-cari seuatu. Lalu ia menipis dan bergerak menuju ke arah pintu keluar. Tepatnya menuju ke arah di mana Lantang berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Arahkan ke tempat lain, jangan ke sini," bisik Wananggo perlahan. Ia lihat bahwa Xyra telah berhasil membangkitkan indera pencarinya, untuk mencari hawa dari Lantang, dengan membayangkan pemuda itu. "Bayangkan Lantang ada di sisi lain ruangan ini," ucap Wananggo memberi petunjuk lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah cahaya itu berhenti memanjang, memutar dan mencari-cari dalam arah yang berlawanan. Ia bergerak perlahan, kembali memanjang dan seperti mencium-cium pada setiap isi dari rak-rak dalam ceruk-ceruk batu. Ceruk di mana langit-langitnya masih berpendar kemerahan. Pendaran yang bercampur dengan pendaran lidah cahaya Xyra, menghasilkan nuansa warna yang indah dan mempesona dalam kegelapan ruangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari satu rak batu lidah cahaya itu perpindah, kadang ke rak yang sebelah atas, kadang ke rak yang sebelah bawah. Berpindah perlahan seperti memindai satu per satu, sampai akhirnya tiba pada suatu rak yang berada cukup tinggi. Ketinggian yang mendekati langit-langit ruangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana lidah cahaya itu tampak berhenti. Diam seperti mematung. Cahayanya bertambah terang dan cemerlang, yang kemudian disusul oleh lidah atau kabut cahaya lembut, juga berwarna biru tembus pandang, yang perlahan merebak dari rak dihadapan nya. Kedua lidah cahaya tersebut bergumul, melingkar, saling merengkuh. Menampilkan nuansa indah pancaran foton-foton dinamik, yang lalu tiba-tiba hilang, melebur dalam kegelapan semula ruangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hehhhh!" tampak Xyra menarik napas panjang. Peluh tampak berjatuhan dari pelipis dahinya. Tampak banyak energi telah dikeluarkannya untuk menentukan tumbuhan obat yang tepat untuk Lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesemuanya itu disaksikan dengan hampir menahan napas oleh Lantang dan Wananggo. Keduanya segera menandai dekat mana peristiwa itu terjadi. Rak tersebutlah yang mereka cari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Atuh napasmu perlahan, kembalikan peredaran hawa dalammu," ucap Wananggo perlahan. Ia mengisyaratkan agar Lantang tidak menyentuh Xyra, agar hawa yang kacau tidak menular pada pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat hening, Xyra pun membuka matanya. Tampak ada sedikit perbedaan dalam sorot matanya. Lebih bercahaya dan kemilau. Mungkin akibat kontak dengan hawa tumbuhan obat tersebut tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana keadaanmu sekarang," tanya Wananggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik..., sudah baik kembali," jawab Xyra pendek. Masih terasa pautan hawa yang tadi dialaminya. Suatu perasaan nyaman luar biasa. Suatu perasaan nyaman yang dirasakannya dengan membayangkan sedang bersama Lantang. Pemuda yang dikasihinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah itu tadi?" tanya Lantang yang terlihat kuatir dengan keadaan sang Undinen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pautan hawa, suatu hubungan hawa antara dua entitas," jelas Wananggo. "kecocokan dua buah hawa akan membawa pada peningkatan energi dari kedua entitas yang berinteraksi. Itu pula yang aku harapkan, yang dapat membantu menyembuhkanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayang engkau belum dapat menggunakan Tenaga Air yang engkau latih dan simpan selama ini," ucap Wananggo, "jika tidak. Kita tidak perlu melakukan pengobatan dengan meminumkan ramuan dari tumbuhan tersebut pada dirimu, melainkan cukup dengan kontak hawa seperti yang dilakukan oleh Xyra tadi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Wananggo mencari dudukan untuk dinaiki, membantunya melihat dan mengambil tumbuhan yang tadi telah ditemukan oleh Xyra melalui kontak hawa. Saat di atas dekat dengan rak yang hampir menyentuh langit-langit ruangan itu, Wananggo melihat bahwa di samping tumbuhan-tumbuhan mini tersebut tergeletak juga sebuah kitab kecil. Entah apa. Dengan reflek diambilnya kitab itu dan juga beberapa jumput dari tumbuhan yang ada. Tidak semuanya. Ia ingin masih menyisakan beberapa agar dapat tumbuh kembali. Untuk orang lain, jika suatu saat ada yang membutuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini simpan beberapa pucuk dalam kantongmu dan juga kitab ini," ucapnya kemudian. Ia mengambil dua pucuk kecil yang akan diolahnya untuk diberikan kepada lantang. Ia bergegas menuju meja terbuat dari batu yang ada dalam ruangan itu. Dibukanya suatu kertas berisi bubuk keabuan. Dicampurkannya tumbuhan tadi dan dilumatkan pelan-pelan dengan ujung jarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantang yang tidak mengerti segera menyimpan pucuk-pucuk tumbuhan mini yang diberikan, berikut kitabnya tersebut. Ia masih ingin bertanya mengenai kitab apa itu, tapi mimik serius dari Wananggo menandakan ia tidak ingin diganggu dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di sana, di dalam bangunan itu..," ujar Tapak Kelam sambil menunjuk ke suatu bangunan berwarna kelabu yang terbuat dari batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbegas Sabit Kematian, Mayat Pucat dan Cermin Maut memasuki tempat tersebut. Tak lupa Mayat Pucat masih "menenteng" Tapak Kelam yang belum dilepaskannya dari totokannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas mereka tiba dalam ruangan dalam bangunan tersebut, berdiri di hadapan mereke prasasti yang dicari-cari. Prasasti sebesar kerbau bunting, yang di atasnya menggambarkan keadaan kota atau desa pada saat itu, bagaimana perbedaannya sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan. Seseorang mungkin dapat menafsirkan bahwa isi sebenarnya dari prasasti itu adalah untuk mengejek keberadaan Perguruan Atas Angin yang meruntuhkan Perguruan Embun dan Angin sebagai pewaris ilmu-ilmu Petapa Seberang serta memporak-porandakan tatanan yang telah dibentuk. Sayangnya, Ki Jagad hitam, pemimpin Perguruan Atas Angin pada saat itu, tidak tahu sejarah prasasti itu tetap membiarkan prasasti tersebut berada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari sana terdapat prasasti lain yang menggambarkan tengan Ki Jagad Hitam sendiri dan enam belas murid utamanya, Lingkaran Dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi melihat prasasti kedua, bertanya Cermin Maut dengan nada menyindir kepada Tapak Kelam, "Mana prasasti saat engkau menjabat jadi ketua?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapak Kelam tidak menjawab. Ia hanya tersenyum getir saja. Ya, ia tidak mendapatkan waktu cukup lama untuk membuat suatu prasasti agar namanya dapat dikenang sebagai salah satu yang pernah memimpin perguruan ini. Perguruan yang hari ini hancur oleh ketiga orang yang berdiri di hadapannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa banyak berbicara, Mayat Pucat setelah terlebih dahulu meletakkan Tapak Kelam di suatu sudut ruangan, mulai mengamat-amati prasasti pertama. Prasasti Ki Jagad Hitam dan Lingkaran Dalam tidak menarik hatinya. Ia hanya tertarik pada prasasti warisan Petapa Seberang, walaupun ia tahu prasasti tersebut adalah palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicobanya untuk menggeser-geser prasast tersebut. "Rrrrrrrgggghhh!" dengan suara berat bergumam, prasasti sebesar kerbau bunting itu tergeser dengan mudah. Hal ini menandakan betapa besarnya tenaga yang dapat dikeluarkan oleh Mayat Pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah lubang sedalam dengkul tanpak menganga di atas lantai yang terbuat dari batu. Di dalam lubang tersebut tidak terdapat apa-apa kecuali empat buah liang yang juga kosong yang terpahat pada keempat sisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kosong, guru Jagad Hitam dulu sudah menemukan tempat itu, dan tidak ada apa-apa di sana," ucap Tapak Kelam. Entah bagaimana ia merasa sedikit puas karena ketiga orang musuhnya itu tidak memperoleh apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum tentu," ucap Mayat Pucat yang masih memperhatikan lubang tersebut. Mengetuk-ketuk di sana sini dan juga di dasar lubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyi agak memendam terdengar yang lain dengan ketukan pada permukaan batu di sekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita coba saja, siapa tahu tipuan mirip yang digunakan Murid Rahasia digunakan pula di sini," ucap Cermin Maut yang telah berada di sisi Mayat Pucat, yang juga memperhatikan dasar lubang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biar sabitku yang bekerja," kata Sabit Kematian sambil mengayunkan sabit panjangnya, untuk mencongkel lapisan di bawah lubang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hati-hati, kakak Sabit Kematian," ucap Cermin Maut memperingatkan, "kita tentu tidak ingin bila ada sesuatu di sana, rusak oleh sabitmu itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Huh!! Jangan kuatir, sabit ini bisa kukendalikan sehalus rambut atau sekeras batu karang," ujarnya menanggapi ucapan adik seperguruannya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dengan cara yang mengagumkan Sabit Kematian pun memainkan sabitnya itu. Mencongkel perlahan, bergaris-garis, sampai tercoak lapisan di bawah lubang itu sedalam satu kuku. Rata dan berbentuk kotak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hati-hati, mungkin tidak lama lagi!" ucap Mayat Pucat yang melihat bahwa lapisan yang dicungkil tersebut tida terbuat dari bahan yang sama dengan lantai batu di sekelilingnya. Mungkin mereka mendapat kesempatan untuk mendapatkan sesuatu di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga orang tersebut sedemikian berkonsentrasi sehingga tidak menyadari bahwa Tapak Kelam telah dapat membebaskan dirinya dari totokan Mayat Pucat. Dengan mengatur nafas dan mengalirkan hawa pada jalan darah-jalan darah yang macet, Tapak Kelam perlahan-lahan mulai dapat menggerakkan dirinya kembali. Setelah yakin bahwa ia dapat menggunakan tenaga dalamnya lagi, ia bersiap-siap untuk bergerak cepat dan keluar dari bangunan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya.., itu mungkin kain pembungkus sesuatu," ujar Sabit Kematian saat sabitnya yang terlihat mengerikan tersebut menyentuh sesuatu. Dengan perasa ia menghentikan gerak sabitnya dan mempersilakan kedua saudara seperguruannya untuk melonggok. Setelah meletakkan sabit tersebut di sisi lubang, ia pun bergabung dengan dua saudara seperguruannya untuk mulai menggali-gali menggunakan tangan. Takut merusak apa-apa yang mungkin terkubur di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan ini tak lama disia-siakan oleh Tapak Kelam. Ia segera bangkit dan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang masih tersisa, yang masih dapat dibangkitkan oleh tenaganya, ia bergegas menyelinap keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cermin Maut yang membelakanginya mendengar kesiuran angin menjauh. Segera ia bangkit dan melihat detik terakhir saat sosok Tapak Kelam telah hilang dari pintu ruangan tersebut. "Keparat, ia melarikan diri. Akan aku tangkap dia!" Segera Cermin Maut berkelebat melompat pergi mengejar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Mayat Pucat dan Sabit Kematian yang masih sibuk menggali hanya sekali melirik untuk kemudian melanjutkan pengerjaan menggali dasar lubang tersebut, yang di dalamnya telah dijumpai sejumput kain penutup sesuatu. Mereka tidak terlalu mempedulikan Tapak Kelam yang kabur. Bagi mereka orang itu sudah tidak dibutuhkan lagi. Sudah selesai tugasnya, dan mereka pikir Cermin Maut dapat menyelesaikan persoalan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapak Kelam yang sedang berpacu dalam langkah dan juga deguban jantungnya, dapat merasakan kesiuran angin di belakangnya. Suatu pukulan jarak jauh. Dengan sigap ia bergerak ke samping, membiarkan angin pukulan tersebut lewat di sisinya. Ia lalu mengambil arah lain untuk berlari. Tadinya ia ingin pergi ke pulau keenam dan seterusnya, karena di sana lebih banyak tempat untuk bersembunyi. Tapi mengingat Cermin Maut telah menghadang di jalan menuju ke tempat itu, Tapak Kelam akhirnya membatalkan niatnya itu. Sekarang ia menuju ke arah jembatang cembung melengkung yang lain, yang akan membawanya ke pulau keempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahnya berhenti di tengah jalan melihat apa yang ada di hadapannya. Di depannya sekarang telah berdiri lima orang, yang terlihat dari cara berjalannya bukanlah orang-orang biasa. Seorang wanita dengan gagang pedang kembar menyembul di punggungnya. Seorang berkulit putih pucat dengan pedangnya yang besar dan telah kering oleh darah di tangannya. Seorang berkulit hitam dengan lengan dan kaki yang lebih panjang dari orang kebanyakan, yang di tangannya terdapat golok yang melengkung patah, golok bumerang. Dan masih terdapat dua orang lain yang warna kulitnya mirip dengan warna kulit orang-orang di tanah ini. Seorang bertubuh subur dan besar dan seorang berwajah dingin dengan kapak di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa.... kalian...!!" ujarnya tersendat. Ia tidak mengharapkan muncul lebih banyak musuh dan terlebih di depan jalannya untuk melarikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu..., orang Perguruan Atas Angin-kan?" ujar wanita berpedang kembar tersebut dengan logat yang agak kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, saya...," tak jadi Tapak Kelam memperkenalkan dirinya sebagai ketua Perguruan Atas Angin. Ia belum tahu siapa kelima orang yang menghadangnya ini. Kawan atau lawan. Itu belum jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau lari kemana engkau, Tapak Kelam!!" sebuah suara merdu wanita segera sampai ke tempat itu, yang diikuti dengan tubuhnya. Ia juga tampak tertegun dengan munculnya kelima orang di hadapan Tapak Kelam tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika engkau Tapak Kelam, dan orang ini hendak mengejarmu..., pastilah anda adalah Cermin Maut, bukan begitu?" ucap gadis itu sambil memandang wanita yang baru datang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cermin Maut tidak segera menjawab. Seperti halnya Tapak Kelam ia belum bisa memutuskan apakah kelima orang di hadapannya itu adalah lawan atau kawan. Dan mereka saat ini sedang dalam waktu yang genting, waktu di mana hampir saja memperoleh sesuatu di bawah prasasti batu di dalam bangunan batu berwarna kelabu di belakangnya. Ia segera memutar otak untuk mencari-cari akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, saya Cermin Maut, ada perlu apa dan siapa kalian?" katanya akhirnya sambil menanti respon dari kelima orang tersebut. Entah bagaimana Tapak Kelam tampak berdiri di sampingnya, seakan-akan mereka berdua berasal dari kelompok yang sama. Memang lucu, orang yang berseteru, apabila menghadapi kelompok lain yang dianggap musuh bersama, dapat saling mendekat. Tapak Kelam telah memutuskan untuk bergabung dengan Cermin Maut yang telah ia tahu misinya dan juga kawan-kawannya. Kelima orang ini belum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami mencari Sabit Kematian," ucap wanita berpedang kembar tadi pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk apa?" tanya Cermin Maut. Ia merasa tidak pernah bertemu dengan kelima orang tersebut, kecuali satu orang yang bertubuh subur dan besar paling pinggir. Orang tersebut rasa-rasanya pernah dilihatnya di suatu tempat, pada suatu saat yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk dibunuh!! Untuk membalaskan kematianku!" ucap orang bertubuh besar dan subur yang tadi sempat dilirik oleh Cermin Maut. "Dan engkau juga, serta Mayat Pucat. Kalian telah membunuh kami, orang-orang Rimba dan Gunung Hijau!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh.., kamu!!" ucap Cermin Maut kaget. Sekarang disadarinya di mana ia pernah melihat pemuda tersebut. Ya, itu adalah salah seorang murid-murid, dari empat murid Ki Tapa dari Rimba dan Gunung Hijau. "Engkau sudah mati!!" ucap Cermin Maut. Ia ingat bagaimana Sabit Kematian membunuh pemuda itu dengan menembuskan sabitnya dari belakangn ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan sekarang giliran kalian," kata pemuda tersebut yang segera menggunakan kepalan tangannya menyerang lurus. Deras dan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cermin Maut tidak mau meremehkan pukulan yang menimbulkan angin kesiuran tersebut. Dulu sewaktu di Rimba Hijau anak-anak muda itu telah menunjukkan kebolehan sebagai pendekar. Serangan mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. Hanya saja mereka masih lugu dan miskin pengalaman sehingga tidak terlalu sulit untuk dijatuhkan dengan jurus-jurus yang penuh tipuan dan serangan kosong. Sekarang, setelah salah seorang dari mereka muncul kembali dari "kematian" Cermin Maut merasa perlu untuk lebih hati-hati. Orang yang dapat sembuh dari suatu luka atau bangkit dari kematian, yang kedua ini dia tidak yakin, umumnya memiliki ketahanan yang lebih berlipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cermin Maut lebih memilih untuk menghindar dan memapaki pukulan pemuda tersebut dari samping ketimbang menghadapi langsung dari depan. Ia belum dapat mengukur seberapa keras laju pukulan yang dilepas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa gebrakan Cermin Maut merasa bahwa pemuda itu lebih tangguh dari pertemuan sebelumnya. Selain itu ia juga belum tahu bagaimana kekuatan dari keempat teman sang pemuda. Lebih baik ia segera kembali ke tempat kedua rekannya, di dalam sana. Sambil melirik ke arah Tapak Kelam ia berbalik. Tapak Kelam pun mengikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei...!!! Mau kemana kalian!!" ucap Gentong yang sedari tadi belum sempat menyentuh Cermin Maut karena kelincahannya bergerak di sela-sela hawa pukulan yang dilontarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari kita kejar," ucap Angus yang segera bergegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misun menepuk pundak Gentong, "Mari, masih ada kesempatan engkau membalas pada mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Mayat Pucat dan Sabit Kematian telah selesai menggali dasar lubang yang ditemukan di bawah prasasti. Tampak sebungkusan kain dikepit oleh Mayat Pucat yang sedang berdiri di pintu bangunan kelabu terbuat dari batu bersama dengan Sabit Kematian. Demi melihat Cermin Maut datang diikuti oleh Tapak Kelam, agak bingung mereka. Namun segera menjadi jelas saat telah melihat lima orang yang mengejar di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa mereka?" tanya Mayat Pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak tahu," jawab Cermin Maut, "seorang dari yang pernah kita bunuh. Tepatnya oleh kakak Sabit Maut. Dan ia mencarimu. Orang dari Rimba dan Gunung Hijau....!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu kenapa kita lari?" tanya Sabit Kematian yang juga telah berlari mengikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi aku pikir kalian belum sempat mengambil barang itu, jadi lebih baik jika kita mengulur waktu," jawab Cermin Maut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan sekarang??" tanya Mayat Pucat kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ikuti aku!" ucap Tapak Kelam yang sedari tadi hanya diam dan berlari bersama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, kamu. Kenapa membantu kami sekarang?" tanya Sabit Kematian heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bantu kalian lolos dari sini, tapi bagi aku tahu apa yang tersimpan dalam bungkusan itu," ucapnya cerdik. Tapak Kelam telah berpikir bahwa bekerja sama dengan ketiga orang ini bukanlah suatu hal yang buruk, apalagi bila bisa mendapatkan ilmu silat tinggi, yang diduganya tertulis dalam kitab yang dibungkus oleh kain tersebut. Bungkusan yang dikepit oleh Mayat pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum tentuk kita kalah sama mereka," ucap Sabit Kematian jengkel. Tidak biasanya mereka berlari-lari dikejar orang. Biasanya mereka yang dikejar orang. "Kita hadapi saja!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu mereka telah tiba di pinggir suatu sumur yang terletak di belakang bangunan tadi. "Mari masuk," ucap Tapak Kelam yang segera melompat turun. Ia segera menggunakan ilmu meringankan tubuhnya sehingga tidak mendarat di atas air melainkan bergeser beberapa telapak tangan ke pinggir. Di bawah sana ternyata terdapat rongga yang cukup besar. Sumur itu hanya terlihat kecil dari atas saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berturut-turut Cermin Maut, Mayat Pucat dan disusul oleh Sabit Kematian meloncat turun dan sekarang telah berada dalam lorong yang terdapat di pinggir dinding sumur tersebut. Jauh di bawah sana terdapat air yang merupakan dasar sumur sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, tempat apa ini?" ucap Cermin Maut takjub. Ia senang melihat banyaknya tempat-tempat rahasia di Air Jatuh. Membuatnya semakin jatuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini jalan rahasia, dengan lewat di bawah tanah dan juga di bawah air, kita bisa ke pulau berikutnya. Pulau keempat. Dan dari sana melarikan diri keluar," jawab Tapak Kelam menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bergegas mereka berlalu melewati lorong tesebut. Tampak Sabit Kematian masih menggerutu karena harus lewat lorong-lorong seperti itu. Ia lebih memilih untuk bertempur langsung saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka menghilang," tunjuk Misun pada sumur yang ada di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan semua masuk," ucap Shia Siaw Liong, "jika ada jalan rahasia, pastilah ini menuju ke tempat lain. Sebagian turun, sebagian cari jalan keluar lain dari jalan rahasia ini." Berdasarkan pengalamannya setelah beberapa ratus tahun, Shia Siaw Lion dengan sekali melihat tahu bahwa di bawah sana pasti ada suatu jalan rahasia yang akan membawa orang-orang itu ke suatu tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku menduga menuju pulau sebelumnya, kembali menuju perguruan," duga Dhoruba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan yang lain mengangguk. Akhirnya diputuskan bahwa Dhoruba dan Misun akan turun ke dalam sumur, sedangkan Gentong, Shia Siaw Liong dan Angus segera menuju ke pulau keempat untuk mencari jalan keluar orang-orang itu dan menunggu mereka di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Minumlah ini," ucap Wananggo sambil mengangsurkan ramuan yang telah diraciknya itu, yang terbuat dari pucuk-pucuk tumbuhan mini dicampur dengan berbagai serbuk lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantang pun menenggak ramuan itu yang disusul dengan air yang telah diambilkan Xyra untuk membasuh kerongkongannya yang terasa pahit dan terbakar oleh ramuan yang lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang coba alirkan hawa, perlahan-lahan. Semoga ramuan itu bisa membuka simpul-simpul jalan darahmu yang tersumbat," ucap Wananggo. Tampak dalam wajahnya harapan akan keberhasilan dari ramuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perlu dibantu dengan Tenaga Air-ku, Paman Wananggo?" usul Xyra kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku belum tahu, sementara biarkan saja dulu ramuan tersebut bekerja dengan sendirinya. Kelak mungkin perlu dibantu untuk menjaga khasiatnya," jawab Wananggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hening beberapa saat, Lantang yang tadi sedang berkonsentrasi mengendalikan hawanya, tampak membuka matanya. Wajahnya tampak lebih bersinar dan cerah. Dan katanya, "Aku merasa lebih sehat dan segar, paman. Ada hawa yang terasa bergerak-gerak di bawah sini," sambil ia menunjuk titik dua jari di bawah pusarnya. "Tapi aku belum dapat mengalirkannnya ke mana-mana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aneh...!!" jawab Wananggo sambil menggaruk-garukkan kepalanya. "Padahal menurut petapa tersebut..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paman, tak usahlah sedih begitu," ucap Lantang yang merasa tak enak atas kekecewaan Wananggo, "yang penting kita sudah berusaha. Apa-apa yang akan terjadi dan tidak terjadi, semuanya kehendak Sang Pencipta." Lantang sudah seringkali dihadapkan pada upaya penyembuhan aliran hawa dalam dirinya. Dulu oleh gurunya Rancana, si Bayangan Menangis dan Tertawa, juga oleh Ki Sura dan Nyi Sura. Saat ini oleh Wananggo. Ia amat berterima kasih atas upaya orang-orang yang ingin menyembuhkan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebabanya..., sebabnya hawamu tersumbat itu yang kita tidak tahu," kata Wananggo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari, paman! Mari kita pergi dari ini. Yang punya tempat pasti tidak suka kita terlalu lama di sini," berkata Lantang setelah ia merasa tak ada lagi yang bisa mereka lakukan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wananggo dan Xyra pun mengangguk setuju. Bergegas mereka keluar dari bangunan batu berwarna kelabu tersebut. Mencari jalan keluar menuju air terjun di Air Jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rupanya malam itu belum berakhir bagi mereka di Air Jatuh. Saat lewat di sebuah sumur yang tidak terlalu diperhatikan oleh ketiganya, tiba-tiba meloncat sesosok bayangan keluar. Akibat meloncat dengan tiba-tiba tersebut, hampir saja ia bertubrukan dengan Lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah sinar rembulan tersebut tampak jelas wajah pemuda tersebut dan juga orang yang hampir menubruknya. "Engkau...!!" tiba-tiba kenangan lama Lantang menyeruak kembali jauh ke belakang, ke masa di mana kejadian tersebut terjadi. Kedua orang tuanya dan orang-orang yang dikenalnya semua dibunuh, dihancurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masih ingat bahwa orang itu, yang ada di hadapannya sekarang, memerintahkan agar ia dan teman-temannya mengenakan pakaian rombeng, dikotori dengan disuruh berguling-guling di atas tanah berdebu dan penuh kotoran hewan. Juga diingatnya bahwa ia dan teman-temannya satu per satu ditohok punggungnya oleh orang itu. Tidak terlalu sakit, tapi bagi anak kecil seusianya saat itu... Dan sekarang orang tersebut ada di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Minggir!!" jawab orang tersebut, yang adalah Tapak Kelam. Ia tidak mempedulikan Lantang, tidak dalam keadaan segenting saat itu. Ia segera menanti kemunculan dari ketiga rekan barunya, Cermin Maut, Sabit Kematian dan Mayat Pucat. Ketiga orang yang ditunggunya tak lama segera meloncat keluar dari sumur tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Xyra yang secara alamiah dapat membedakan orang yang baik dan jahat dari pancaran hawa atau auranya, segera menampakkan wajah tidak bersahabat terhadap empat orang yang baru saja keluar dari sumur tersebut. Wananggo yang entah kenapa juga merasa tidak sreg dengan kehadiran mereka. Segera ia mengajak Lantang untu menjauh dari sumur tersebut dan mencari jalan untuk pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu di sana!!" tiba-tiba terdengar suara orang, yang dilanjutkan dengan datangnya tiga orang, seorang wanita dan dua orang laki-laki. Mereka setelah tiba segera berhadapan dengan empat orang yang baru saja keluar dari sumur tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka segera berhadapan, siap untuk saling serang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wananggo segera menggapai Lantang dan Xyra, "Mari kita pergi! Ini bukan urusan kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paman..," ucap Lantang bergetar, "orang itu..., orang itu...!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wananggo dan Xyra memandang lekat pada Lantang. Tidak biasanya pemuda itu tampak sedemikian gugup dan teganng. Mungkin efek samping dari ramuan yang baru saja dimakannya, begitu pikir mereka. Namun kata-kata selanjutnya yang membuat mereka mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang itu yang membunuh kedua orang tuaku dan juga orang tua-orang tua teman-teman mainku," katanya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya terdiam. Wananggo tidak lagi berusaha membawa keduanya pergi dari situ. Tapi ia mengisyaratkan agar mereka tidak lebih dulu turut campur. Biarkan dulu apa yang akan terjadi di antara ketujuh orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan tepatnya sekarang. Dua orang lain nampak baru muncul dari sumur yang tadi. Sekarang empat orang yang pertama berhadapan dengan lima orang yang lain. Bersiap hendak saling serang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapakah kalian ini?" ucap Sabit Kematian jumawa. Ia tidak biasa bertemu lawan yang seimbang. Dan saat ini kelima orang di hadapannya pun bukan musuh yang cukup tangguh menurut penglihatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan logat yang kaku akan tetapi ucapannya jelas, berkata salah seorang dari mereka, yang wanita, "saya Shia Siaw Lion, ini Dhoruba, Angus, Misun dan Gentong. Anda sekalian adalah Sabit Kematian, Cermin Maut, Mayat Pucat dan Tapak Kelam, bukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, ini kami. Jika sudah kenal, kenapa tidak cepat menggelinding dari sini?" ejek Sabit Kematian jumawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amarah atau ejekan yang diharapkan oleh Sabit Kematian dapat dilihatnya dari kelima orang lawannya itu tak kunjung tiba, malah salah seorang dari mereka berkata, "orang sudah hampir mati kok ya, masih banyak cakap?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa itu yang omong?" ucap Sabit Kematian yang malah terbakar emosinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku! Masih ingat?" ucap seorang pemuda bertubuh besar dan subur yang segera berangsur maju. Memainkan kepalan tangannya sehingga jari-jarinya berbunyi "pletak-peletok" gesekan antar tulang-tulangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa kamu?" katanya penuh selidik. Tak pernah ia rasanya bertemu dengan orang yang perawakannya seperti itu. Ya, Sabit Kematian telah terlalu banyak membunuh orang sehingga lupa orang-orang yang telah ia cabut nyawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perlahan Gentong membuka bajunya, sehingga punggung dan dadanya terpampang lebar. "Sekarang ingat ini? Yang engkau tembusi dari belakang ke muka?" katanya sambi menunjukkan bekas luka di dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan berubah wajah Sabit Kematian, ya ia mulai ingat. Tidak banyak orang yang sempat bertarung jarak dekat dengannya sehingga ia harus menembusi tubuhnya. Umumnya dengan jarak jauh, menebas kepala sudahlah cukup. Dan satu yang belum lama ini memaksanya bertempur jarak dekat adalah seorang pemuda bertubuh besar di Rimba dan Gunung Hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu adalah... pemuda yang berada di depannya sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak!!! Engkau sudah mati!" ucapnya cepat. Sama seperti keterkejutan Cermin Maut saat mengenali Gentong beberapa saat yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang sesat seperti Cermin Maut, Sabit Kematian dan Mayat Pucat bukanlah orang-orang yang takut pada yang lain. Tapi orang yang bisa hidup lagi setelah tubuhnya ditembusi sabit sedemikian rupa, mau tak mau membuat mereka merinding. Bukan hal yang normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening sesaat. Orang-orang dari mereka-yang-tak-bisa-mati tampak menikmati keheningan itu. Keheningan orang-orang yang gemetar akan keanehan kaum mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba hening itu dipecah oleh desis lirih Wananggo, "Kaum Abadi, mereka-yang-tak-bisa-mati..., mereka benar-benar nyata adanya...," yang ucapannya hampir tak terdengar apabila keadaan tidak benar-benar sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Omong kosong!! Engkau pasti saat belum mati dan sekarang sudah sembuh," ucap Sabit Kematian sambil menenangkan dirinya. Ia lalu mulai mengambil sikap untuk menyerang. "Tak ada orang yang tak bisa mati!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesukamulah, toh tak ada bedanya engaku percaya atau tidak," ucap Gentong yang segera bergerak menyerang. Pukulan keras dan lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabit Kematian dapat dengan segera mengubah gerakannya menghindar dan mengayunkan sabitnya yang dielakkan dengan indah oleh Gentong. Walau tubuhnya terlihat besar dan berat, lincah masih geraknya. Meloncat ke sana kemari sambil tak lupa melepaskan satu dua pukulan lurus dan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Duggg!!!" sekali waktu telat Sabit Kematian menghindar, akibatnya pinggiran pinggangnya sempat dilabuhi kepalan Gentong. Keras cukup sehingga menggetarkan sedikit isi perutnya. Untung saja hawa tenaganya cukup sehingga masih bisa mengusir hawa pukulan tersebut keluar. Jika saja tidak, sudah hancur mungkin organ-organ di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapak Kelam tampaknya tidak berapa minat untuk melangsungkan pertempuran itu. Ia malah celingak-celinguk mencari-cari jalan rahasia lain yang dapat membawanya lari dari sana. Sambil tak lupa diliriknya bungkusan yang masih dikepit oleh Mayat Pucat. Jika ia harus pergi dari sana, kitab tersebut harus ikut. Dengan atau tanpa ketiga orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayat Pucat dan Cermin Maut belum tampak mengambil tindakan. Mereka belum menemukan alasan untuk menyerang teman-teman Gentong. Jika bisa mereka tak perlu bertempur. Sudah cukup energi mereka habis dalam penyerbuan ini dan apa yang mereka cari sudah diperoleh, mungkin. Sekarang minat mereka lebih ke arah pergi dari tempat itu dan mempelajari kitab yang baru saja mereka peroleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bugg!!"" kembali Sabit Kematian terpukul tubuhnya, kali ini di bagian tengkuk. Pusing sesaat dirasakannya. Segera ia melompat mundur menjauh. Dalam jarak dekat, senjatana tidak begitu berfungsi baik. Itulah yang sedari tadi dilakukan Gentong, bertempur jarak dekat. Untung bagi kepalannya akan tetapi tidak bagi sabit sang lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jarak yang sekarang agak jauh, Sabit Kematian lebih leluasa menggerak-gerakkan sabitnya. Mengayun dari atas ke bawah secara serong dan sebaliknya. Sekarang giliran gentong yang seperti tertutup ruang geraknya. Di mana-mana, di sekelilingnya tampak kesiuran sabit mengayun berkelebat sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantang yang berada di pinggir arena pertarungan itu bersama dengan Wananggod dan Xyra tampak berusaha menahan emosinya. Campur baur antara sedih dan marah. Juga sekelebat ingatan yang tidak pernah dilupakannya, saat Tapak Kelam mengusir anak-anak yang telah dihinakannya untuk terlunta-lunta, mengemis dan kelaparan di jalan. Untung saja ia bertemu dengan gurunya, Rancana, jika tidak mungkin ia masih di jalanan sana. Bisa jadi telah menjadi makanan burung dan anjing liar, atau berkalang tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabit Kematian tampak telah mendapatkan kembali kesigapannya. Setelah ia mengambil jarak tempur jauh, sekarang ia berani kembali mengambil jarak tempur dekat. Tapi kali ini cara menggunakan sabitnya lain, dipegang di tengah, pinggir berganti-ganti. Cara serang yang baru ini, walaupun dalam jangkauan tangan Gentong, membuatnya sedikit kewalahan. Ia belum terbiasa dengan cara serang baru Sabit Kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara kedua orang saudara seperguruannya, Sabit Kematian hampir tidak pernah bertempur tanpa menggunakan senjata. Baru saat ini ia menggunakan kepalannya juga. Kedua saudaranya tahu bahwa kepalan tangannya tidaklah terlalu berbahaya dibandingkan dengan sabitnya, tapi Gentong tidak tahu. Gentong menjadi kalang kabut saat Sabit Kematian mencengkeram sana-sini dan juga memukul di sela-sela sabitnya yang berayun-ayun serong ke atas ke bawah. Berkali-kali ia terpaksa mundur dan maju. Mundur kena sabit jangkauan panjang. Maju kena cengkeraman. Coba saja ia tahu bahwa lebih tidak berbahaya saat maju, mungkin dapat ia memasukkan satu dua pukulan ke tubuh Sabit Kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dua orang tersebut bertarung mati-matian, rekan-rekan Gentong tampak duduk-duduk tenang, seakan-akan menikmati pertarungan tersebut. Lain dengan rekan-rekan Sabit Kematian yang tampak sedang memikirkan sesuatu cara untuk berlalu dari sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nak Lantang, baiknya kita segera berlalu dari sini," ajak Wananggo. "Kaum Abadi, mereka itu, aku tidak tahu apa mereka ada urusan apa dengan mereka berempat. Kita sebaiknya tidak mencampuri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku masih ingin mencari tahu apa alasan orang-orang itu melakukan kekejaman dulu, paman," ucapnya sambil menggerakkan dagunya mengarah ke Tapak Kelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mengerti, Lantang," jawab Wananggo. "Hal itu bisa kita bicarakan lain kali, sekarang yang penting adalah kesehatanmu dulu. Lain waktu kita cari lagi orang itu. Siapa namanya? Tapak Kelam?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantang mengangguk. Lalu katanya, "baiklah paman. Memang untuk keselamatan kita juga. Kita tidak tahu apakah Kaum Abadi nanti setelah selesai urusannya dengan mereka berempat akan mencari masalah dengan kita. Memang sebaiknya kita pergi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dengan perlahan mereka bertiga bergegas berangsur meninggalkan tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Misun yang menyadari kepergian ketiga orang tersebut. Ia pun tidak ada urusan dengan mereka bertiga. Keperluan ia dan saudara-saudaranya dari mereka-yang-tak-bisa-mati adalah hanya untuk membantu Gentong membalaskan kematiannya pada Sabit Kematian. Tapi ada sesuatu yang menarik baginya dari ketiga orang itu. Entah apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misun pun bergegas menyusul ketiga orang tersebut yang telah berada di pulau lain, pulau ketiga. Saat ia berlari cepat, kedatangannya telah dinanti oleh ketiga orang tersebut di tepi pulau. Tampak ketegangan pada ketiga wajah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Howgh! Aku Misun, tak perlu kalian takut. Aku tak ada maksud jahat," katanya seraya mengangkat telapak tangannya, bagian dalam menghadap ketiga orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wananggo yang segera menyadari bahwa itu mungkin sejenis salam dari Misun, segera mengangkat tangan pula, menirukan, "Aku Wananggo, dan ini Xyra dan Lantang, ada perlu apa anda mengejar kami?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Avanyu, Caiman!!" katanya sambil menunjuk pada Xyra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Xyra tampak terkejut. Apa yang diucapkan oleh Misun adalah berarti roh air dalam bahasa Garifuna dan Montana. Suatu ucapan yang pernah diceritakan oleh ayahnya mengenai leluhur mereka yang berada di sana. Suatu tlatah jauh di balik planet ini, di tempat yang selalu berlawanan dengan di sini. Di sini siang di sana malam dan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misun lalu membuka baju luarnya, menampakkan segenap kalung yang digunakannya. Terdapat banyak untaian. Salah satunya berbentuk segitiga menghadap ke bawah dengan gambar riak-riak gelombang pada tengahnya, "Maya, air!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Xyra yang entah bagaiman begitu melihat simbol tersebut tampak tersentuh sehingga secara tak sadar air danau yang berada di sekitar mereka tampak merebak, berbulir-bulir mengambang di udara, yang kemilau diterangi sinar bulan purnama. Mengelilingi sekitar mereka dan kemudian pecah menjadi semacam uap dan kembali jatuh. Menjadikan udara tiba-tiba menjadi segar dan lembab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Avanyu!!" ucap Misun kembali yang segera berlutut hormat kepada Xyra. Lalu ia melepaskan untaian berbentuk lambang air itu dari kalungnya dan menyerahkannya kepada Xyra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantang yang takut bila hal itu adalah tipu muslihat bergegas menghalangi. Tapi dengan lembut Xyra menghentikan tangannya. Tatapannya yang seakan mengatakan, "Tidak apa-apa!" menenangkan Lantang. Lalu Lantang membiarkan Misun menyerahkan untaian atau medali tersebut ke tangan Xyra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Howgh!! Tugasku telah selesai, terima kasih!!" lalu tanpa memberi penjelasan ia segera kembali menaiki jembatan cembung hitam melengkung untuk kembali ke pulau keempat, kembali menemui rekan-rekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas kepergian Misun tak ada yang berbicara sampai Wananggo menggugah lamunan mereka dan mengajak keduanya pergi dari sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untung ada engkau, Tapak Kelam," ujar Mayat Pucat, "jika tidak mungkin kita sudah menemani Sabit Kematian di pulau itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul!!" ucap Cermin Maut kemudian, "Kaum Abadi itu tak bisa dianggap remeh. Lemparan senjata rahasiaku yang jelas-jelas melukai mereka tak terasa apa-apa. Bahkan kita lihat sendiri luka mereka berangsur mengering dan sembuh dalam waktu cepat. Betul-betul lawan yang tangguh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapak Kelam yang dipuji hanya tersenyum tipis. Ia juga beruntung masih ingat jalan-jalan liang tikus dari pulau keempat itu untuk keluar dari Air Jatuh. Jika harus lewat jalan biasa, pasti mereka dapat dikejar dan ditangkap oleh mereka-yang-tak-bisa-mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang-orang seperti Cermin Maut, Mayat Pucat dan Tapak Kelam, kehilangan seorang rekannya, Sabit Kematian, adalah tidak terlalu berat. Selama keuntungan masih berada di pihat mereka, sah-sah saja. Dan saat itu kitab yang berada dalam bungkusan yang dikepit Mayat Pucatlah yang utama. Untuk dipelajari sehingga mereka bertiga bisa menjadi lebih tinggi ilmunya untuk malang-melintang dalam dunia persilatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kata-kata, ketiganya seakan-akan merupakan tiga sekawan baru. Melupakan dengan mudah rekan mereka yang baru saja mangkat, yang mungkin belum dingin tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"So, our problem in this land is alreay finished, isn't it?" ucap Angus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yeah, right!" sambut Dhoruba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah saatnya kita pergi," sambung Shia Siaw Liong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gentong masih tampak termenung. Ia masih menatapi sosok Sabit Kematian yang telah hancur isi dadanya akibat pukulannya. Pada suatu gerakan tipuan, Sabit Kematian menjatuhkan sabitnya dan berharap Gentong segera masuk melancarkan pukulan. Ia telah mempersiapakn sebuah pisau kecil untuk menyerang dari belakang. Yang dilupakan oleh Sabit Kematian adalah bahwa tusukan pada mereka-yang-tak-bisa-mati tidaklah terlalu berpengaruh sejauh tidak melukai mereka secara parah. Tusukan kecil dekat jantung tidak mengurangi laju pukulan Gentong, yang terus tiba dan melumatkan tulang dada dan organ-organ di dalamnya. Sabit Kematian pun melepaskan napasnya dengan keadaan tak puas. Ia tak terima bahwa serangannya gagal dan nyawanya sebagai imbalan. Terlihat jelas hal ini dari wajahnya yang penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gentong, mari!" ucap Misun yang saat itu berada di sampingnya. Menepuk bahunya, mengajaknya berlalu dari situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gentong masih terdiam sesaat untuk kemudian bangkit, sejenak dipikirnya sesuatu. Akhirnya dipungutnya sabit milik Sabit Kematian. Ditimang-timangnya dan akhirnya diputuskannya bahwa itu akan menjadi senjatanya. Juga untuk menjadi peringatan dari kematiannya sendiri dan kematian sang pembunuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat itu, Dhoruba terkekeh-kekeh, "Pilihan yang bagus. Senjata yang sudah 'tua'. Banyak sudah darah yang dimininumnya. Bagus, bagus!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misun, Angus dan Shia Siaw Liong tidak berkomentar. Mereka segera berlalu dari sana. Meninggalkan Air Jatuh dan kemudian pula Perguruan Atas Angin. Melangkah menuju ke suatu tempat untuk menunaikan misi mereka sendiri, terutama bagi kaum mereka, -- mereka-yang-tak-bisa-mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang tampak berdiri mengitari batu-batu yang ditumpuk rapi, persegi, membentuk semakam bekas candi atau kuil. Undakan batu. Berbentuk bujur sangkar dengan ketinggian sedengkul dari rerumputan yang mengelilinya yang tumbuh di tanah lapang itu. Panjang dan lebarnya seukuran dua tombak lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini harusnya tempatnya, portal!" ucap orang itu. "Aku harus memberi tanda di sni, dan mereka akan datang..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah dicoba-cobanya membaca apa-apa yang ada di sana-sini, di keempat sisi dari undakan batu atau pelataran batu tersebut, tapi ia tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahasa apa ini? Tak bisa kau pahami!" ujarnya jengkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga jengkel karena petunjuk yang pernah diterimanya telah ia lupakan. Tahu begitu dicatatnya saat itu sehingga bisa digunakannya kembali pada saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah seharian dan kemudian dilanjutkan dengan malam ia tak berhasil pula memecahkan kode-kode itu. Ia, orang tua itu, akhirnya memutuskan untuk tidur dulu. Siapa tahu orang atau pihak yang ingin ditemuinya ada singgah di tempat itu sehingga ia bisa bersua tanpa harus memberi tanda-tanda, yang umumnya harus lebih dahulu dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu ia tidur dengan nyenyaknya sehingga tak tahu apa yang akan dihadapinya esok pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat orang itu bangun, hal pertama yang membingungkannya adalah ia tidak lagi berada di lapangan rumput yang di tengahnya ada pelataran batu. Melainkan ia telah tidur di atas sebuah alas tidur terbuat dari daun-daun dianyam dan berada dalam sebuah rumah bambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hahh!! Di mana aku?" tanyanya pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegas ia bangun dan menjadi semakin terkejut setelah merasa bahwa lantai ruangan yang di mana ia berada tidaklah terlalu keras, melainkan agak lentur dan mengayun sejalan dengan langkahnya. Perlahan dengan agak takut-takut orang tua itu menghampiri jendela yang ada dan mencoba melihat keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini...., di atas pohon!!" ucapnya kagum. Ya, ia telah berada di dalam sebuah rumah bambu yang dibangun di atas sebuah pohon yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kriettt!!" tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan masuklah sesosok makhluk mirip manusia.  Yang membedakan mereka adalah tingginya. Tinggi makhluk itu tidak sampai ke pinggang orang dewasa. Manusia Tiga Kaki. Tiga kaki tingginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat datang di tempat kami!" ucap makhluk itu ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu membalas dengan senyum walau agak sedikit bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maafkan bila tadi malam, kami 'menculik' anda dari portal, pelataran batu tempat anda tidur," ucapnya perlahan. "Kami lihat anda tidak mengenal cara berkomunikasi, jadi kami menunggu sampai anda terlelap dan melihat apa maksud anda. Setelah kami yakin anda tidak bermaksud jahat, kami kemudian membawa anda ke sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangguk-angguk orang tua itu mendengar penjelasan sang Makhluk Tiga Kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, saya Rancana.... Anda siapa?" tanya orang itu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya Coreng..," jawab makhluk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, saya bermaksud untuk bertemu dengan Ki Tapa," jawab orang yang mengaku bernama Rancana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejurus tak ada jawaban. Makhluk itu tampak sedih dan muram. Lalu  katanya, "Ya, kami tahu. Nanti, biar ketua kami Hitam-Putih yang menjelaskan. Sekarang makanlah dulu!" Ia kemudian menunjuk pada bungkusan yang sejak tadi telah ada di sudut ruangan. Rupanya itu adalah makanan yang telah disiapkan untuk disantap Rancana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berkata demikian, Coreng pun berlalu dengan terlebih dahulu meminta diri, membiarkan Rancana menikmati makan paginya dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih penuh pertanyaan di benak Rancana. Dari mimik wajah Coreng yang berubah saat ia mengungkapkan ingin bertemu dengan Ki Tapa dan juga perihal Manusia Tiga Kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia ini luas rupanya. Di Pulau Tengah Danau di puncak Gunung Berdanau Berpulau ia telah pernah bertemu dengan Undinen. Dan di sini, di Rimba Hijau, ia bertemu dengan Manusia Tiga Kaki. Makhluk-makhluk yang dulunya hanya pernah ia dengar ada dalam cerita, telah ditemuinya. Entah jenis makhluk apa lagi yang kelak akan dihadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rancana sejenak terkenang akan muridnya, Lantang. Juga karena Lantang ia berkunjung ke Rimba dan Gunung Hijau ini, untuk mencari tahu dari Ki Tapa, kemungkinan untuk mengobati tersumbatnya aliran hawa dari muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku telah tiba di sini, itu yang penting. Berikutnya minta pertolongan mereka," gumamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian beranjak menghampiri penganan yang tadi ditunjuk Coreng, membuka bungkusnya dan mulai menyantapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau yakin, Moreng?" tanya Coreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar, Coreng! Aku lihat sendiri mereka membongkar kuburan Gentong dan mengambil mayatnya," ucap Moreng meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk apa ya?" tanya rekannya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Entah!" yang dijawab sang kawan dengan mengangkat bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiknya kita beritahu saja ketua Hitam-Putih. Pasti ada apa-apanya!" usul kawannya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang diajak berbicara menangguk setuju atas usul itu. Bergegas kemudian keduanya bergerak lincah, menyelinap di antara dedaunan dan pohon-pohon yang tumbuh rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ceng Siang, lihat ini! Hanya manusia yang dapat melakukan kekejaman seperti ini..," ucap seorang tua kepada dara muda yang ada di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, ayah. Hanya manusia," jawab sang dara. Ia merasa merinding demi melihat mayat di mana-mana. Sebagian telah membusuk dan dimakan binatang buas. Sebagian masih utuh akan tetapi telah ditutupi ulat dan lalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perguruan Atas Angin" begitu yang tertulis di pintu gerbang perguruan silat itu. Akan tetapi lebih cocok dibilang suatu kuburan, karena selain orang mati, tidak ada manusia yang masih bernafas di dalam sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceng Liok dan anaknya Ceng Siang kebetulan saja lewat dan tertarik atas lolongan anjing-anjing liar yang jarang didengar siang hari. Lolongan yang seakan-akan menceritakan bahwa mereka sedang berpesta-pora. Berpesta santap daging manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari kita bersihkan! Manusia sebagaimana jahatnya pun, jika juga sudah menjadi mayat, berhak atas persemayaman yang layak," ujar ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dara tersebut hanya menangguk, tampak agak bingung demi menghadapi demikian banyak mayat yang harus dikuburkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hati-hati, jangan dipegang!!" ucap ayahnya. "Ini gunakan penutup hidung dan balut tanganmu dengan kain dan lumuri dengan ramuan ini dulu." Lalu dijelaskannya bahwa mayat yang sudah lama dapat melepaskan racun dan bibit penyakit bagi yang menyentuhkan. Oleh karena itu harus segera dikuburkan. Pekerjaan mereka menjadi lebih sulit karena tak boleh langsung menyentuh mayat-mayat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cukup engkau dorong dengan tonkat ke sudut sana, nanti aku gali sebuah lubang besar. Hati-hati dengan bagian tubuh yang lepas dan cairan yang berceceran!" pesan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dara itu kembali mengangguk. Sambil menutup hidung, menghindari bau mayat yang membusuk dan juga jerih melihat pemandangan yang kejam dan mengerikan itu, sang dara mulai melakukan apa-apa yang diperintahkan oleh ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perlahan-lahan mereka mulai menguburkan mayat-mayat dalam perguruan tersebut. Perguruan Atas Angin. Perguruan yang telah tumbang dan tidak menyisakan seorang pun hidup-hidup di tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dua tiga hari akhirnya pekerjaan itu pun selesai. Keduanya tampak puas. Di beberapa ruang halaman, tampak di ujung-ujungnya gundukan-gundukan besar. Suatu kuburan masal dari orang-orang yang terbunuh. Entah dari pihak mana. Yang penting semuanya telah dikuburkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagus juga tempat ini. Bagaimana jika kita tinggal di sini saja?" ucap ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bekas orang mati itu?" jawab anaknya sambil masih membayangkan puluhan mayat yang telah mereka kuburkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka toh telah mati," balas ayahnya, "dan tempat ini, terutama air terjun di belakang amatlah indah. Sayang untuk ditinggalkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, di belakang itu amatlah indah. Lalu apa yang kita lakukan untuk hidup?" tanya anaknya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bercocok tanam, membuka perguruan silat, berdagang... Atau apa usulmu?" tanya ayahnya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Membuka kedai saja, aku ada banyak pengalaman," usul anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, benar, tapi dari tanam-tanaman kita sendiri, bagaimana?" ucap ayahnya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setuju! Jadi bumbu-bumu kita tidak mudah ditebak orang. Pintar!!" kata anaknya antusias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi omong-omong apa ada yang mau datang ya? Di sekitar sini terlihat sepi-sepi saja," tanya anaknya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buat apa dipikirkan, yang penting kita coba. Toh tanpa ada yang beli kita juga dapat hidup," jawab ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya kemudian tertawa berbarengan. Begitulah pandangan hidup orang yang sederhana, tidak terlalu takut tidak dapat hidup. Selama berusaha, pastilah ada jalan dari Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih jauh, paman Walinggih?" tanya seorang dara kepada orang tua di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita masih harus mendaki gunung ini, Sarini!" ucap orang tua itu sambil menunjuk gunung tinggi dan megah di hadapannya. Di belakang mereka tampak hutan batu-batu membentang. Padang Batu-batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah kedua orang tua Telaga masih ada di tempatnya?" tanya Sarini kemudian. Dari Telaga ia mendengar bahwa mereka juga suka berkelana ke sana ke mari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita tidak tahu itu, semoga saja. Bila tidak, kita berdiam diri saja beberapa waktu menunggu mereka. Atau kemungkinan paling jelek kita tinggalkan pesan," ucap Walinggih sambi memandang dengan sayang Sarini, dara yang akan ditunangkan dengan muridnya Telaga. Telaga adalah anak dari Ki dan Nyi Sura, kedua orang yang akan mereka kunjungi saat ini di atas sana, di gunung. Gunung Berdanau Berpulau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari kita mulai mendaki, supaya tidak keburu malam sudah sampai kita di tengah danau di atas sana. Masih dapat engkau berlari cepat?" tanyanya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih, paman. Masih ada tenaga sejak pertempuran terakhir itu," jawab sang dara ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walinggih tampak geleng-geleng kepala atas sikap itu. Dalam hatinya ia berkata, "Anak wanita kok senangnya bertempur..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kencangkan perbekalan dan kainmu, kita akan berlari cepat sekarang. Jangan sampai ada barang-barang yang tercecer atau lepas," sarannya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dara itu mengangguk. Walinggih sendiri juga memeriksa perbekalannya dan mengencangkan sana-sini dari kain dan jubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu keduanya mulai beranjak dari situ, mengeluarkan ilmu berlari cepat dan mulai menaiki gunung tinggi itu. Berlari melalui jalan-jalan menanjak dan curam. Meloncat di sana-sini. Terus semakin tinggi dan menuju ke atas. Menuju suatu tempat di atas sana. Tempat di mana terdapat dua orang tua berdiam diri menanti waktu mereka tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan kedua orang tua tersebut tampak sesosok makhluk berdiri tanpa senyum. Sedih bahkan. Memandangi kedua orang tua yang berada dalam posisi duduk bersila di hadapannya, yang mengangguk perlahan kepadanya. Lalu ia pun menggerakkan tangannya perlahan dan kemudian bertambah cepat, cepat hampir tak terlihat. Lalu udara di sekitarnya berubah menjadi dingin, kering. Dan es pun mulai bermunculan menutupi kedua orang tersebut. Memutih dan mengeras. Membeku. Sekujur tubuh keduanya tampak tertutup lapisan es, bagai dua buah patung pualam putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/37308236-1621453393300405604?l=elemen-kekosongan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elemen-kekosongan.blogspot.com/feeds/1621453393300405604/comments/default' title='Kommentare zum Post'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=37308236&amp;postID=1621453393300405604&amp;isPopup=true' title='0 Kommentare'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37308236/posts/default/1621453393300405604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/37308236/posts/default/1621453393300405604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elemen-kekosongan.blogspot.com/2007/02/orang-orang-abadi.html' title='Orang-orang Abadi'/><author><name>Ayah</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-37308236.post-5391537802708759441</id><published>2007-01-29T11:16:00.000+01:00</published><updated>2007-04-18T16:03:04.201+01:00</updated><title type='text'>Tato</title><content type='html'>"Deru pun perlahan melembut.&lt;br /&gt;Menghilang.&lt;br /&gt;Sunyi dan sepi.&lt;br /&gt;Dan jiwa pun tenteram kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghela napas.&lt;br /&gt;Menghirup keheningan.&lt;br /&gt;Mengekang nafsu.&lt;br /&gt;Senyap.&lt;br /&gt;Lepas.&lt;br /&gt;Lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semuanya berakhir.&lt;br /&gt;Secarik kulit dicabik halus.&lt;br /&gt;Darah menetes lembut.&lt;br /&gt;Menegaskan guratan-guratan mistis.&lt;br /&gt;Guratan di atas kulit nan indah.&lt;br /&gt;Tato."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak di atas berjudul "Pembicaraan Angin" hasil karya seorang Eremit (petapa) tak dikenal, Unbekanteeremit. Bergetar hati seorang pemuda saat membaca sajak dalam kitab itu, salah satu kitab yang harus dicari keturunan dari pemiliknya semula. Kitab yang dicuri oleh guru pemuda itu dan disembunyikannya, untuk disalin dan dikumpulkan. Sekarang jauh masa setelah kematian sang pencuri, ia menugaskan muridnya, sang pemuda melalui para saudaranya para Troll, agar sang murid mengembalikan kitab tersebut kepada yang berhak. Keturunan orang dari mana kitab tersebut semua diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sekarang bernama Gu Yo, keponakan jauh dari Gu Ming, seorang kakek yang menyelamatkan nyawanya dan membawanya ke rumah nenek Po untuk diobati. Dari perkenalannya yang singkat dengan kakek Gu dan nenek Po, pemuda itu mendapat banyak cerita mengenai situasi dunia persilatan dalam puluhan tahun terakhir ini dan juga orang-orang yang muncul dan menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi engkau mencari keturunan seseorang yang senang mengumpulkan koleksi tato dari tubuh manusia?" tanya kakek Gu saat itu hampir tidak percaya. Kakek Gu tidak percaya bahwa ada orang yang punya kegemaran mengumpulkan bagian tubuh manusia. Kulit yang bertato, yang disayat dari tubuh empunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, kekek Gu. Saya mencari keturunan dari orang itu," jawab pemuda itu hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk apa mencari orang atau keturunan orang gila seperti itu?" tanya nenek Po menyelak. Penasaran juga ia mendengar keperluan pemuda yang baru disembuhkannya itu untuk mencari seseorang yang dalam pandangannya cukup sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdiam sebentar pemuda itu. Ia bimbang apakah ia harus menceritakan apa sebenarnya tujuan ia mencari keturunan dari orang yang dimaksud atau tidak. Kedua orang tua dihadapannya nampak memperhatikannya saat ia berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bila ada rahasia yang enggan engkau ceritakan, tak usalah," ujar nenek Po ramah. Ia dapat melihat kebimbangan pada wajah pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebenarnya...," bingung pula pemuda itu. Ia merasa tak enak hati dengan pertolongan kedua orang yang telah menyelamatkannya itu. Tapi apabila ia menceritakan hal yang sebenarnya, bisa pula mendatangkan masalah baru bagi misinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini saja," ucap kakek Gu kemudian menengahi, "cukup kamu katakan bahwa tidak ada sama sekali niat untuk berseteru dengan keturunan orang ini, dan kamipun akan merasa lega."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu pun mengangguk, "Tidak sama sekali. Saya tidak berpikir untuk berseteru dengan keturunan orang ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang tua yang berada di hadapannya pun menggangguk lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu, ada seorang berjulukan Ceng-Liong Hui-To (Naga Hijau Pisau Terbang) yang memiliki kegemaran untuk mengeletek kulit tubuh musuh-musuhnya meniru legenda tradisi suatu suku bangsa yang mengambil kulit kepala musuh yang dikalahkannya. Akan tetapi ia tidak sembarangan mencari musuh. Musuh yang dicari umumnya adalah para golongan orang-orang jahat yang memiliki tato pada bagian tubuhnya," cerita kakek Gu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar..," lanjut nenek Po, "orang-orang jahat pada masa itu berkumpul dan membentuk suatu kumpulan yang dicirikan dengan adanya tato pada tubuh mereka. Semacam kejahatan yang diatur oleh para pemimpinnya. Jika suatu suku bangsa di suatu tempat dicirikan oleh corak sarung yang dipakainya (Skotlandia), maka para begal ini dicirikan oleh tato yang dikenakannya. Beda kelompok, beda ciri khas tato yang digunakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan corak yang semakin rumit menunjukkan ketinggian kedudukan atau pengalaman yang telah dimiliki seorang anggota kelompok kejahatan ini," tambah kakek Gu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana kakek Gu dan nenek Po bisa tahu banyak tentang soal ini?" tanya pemuda itu ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya saling berpandangan satu sama lain dan kemudian meledaklah tawa di antara mereka. Pemuda itu hanya dapat menatap bingung pada kelakukan dua orang tua dihadapannya, yang dianggapnya benar-benar membingungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tawa berderai keduanya usai, kakek Gu dengan masih mengapus air mata yang meleleh pada matanya berkata, "Sebenarnya, kami berdua pernah juga ikut pada kelompok semacam itu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh..!," pemuda itu tampak kaget mendengar jawaban kakek Gu, "tapi berarti, kakek dan nenek..." tak diselesaikannya ucapan itu. Sungkan ia melanjutkannya. Apalagi terhadap orang yang baru saja beberapa hari ini menolongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan, kami bukan menjadi begal atau mungkin belum," ucap nenek Po. "Pada jaman itu, sebelum orang-orang bertato itu dipandang sebagai penjahat, budaya tato itu sebenarnya telah ada jauh sebelumnya. Dan budaya itu dianggap sebagai suatu tanda kematangan. Orang yang sudah dewasa, dianggap lengkap bila telah memiliki tato."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berkata demikian nenek Gu menggulung salah satu lengannya ke atas. Di atas lengan yang kepucatan itu tampak dua ekor naga yang saling berbelit. Satu berwarna merah dan satu berwarna biru. "Ini kelompok Naga Merah Naga Biru," jelasnya. "Kelompok yang hanya terdiri dari para wanita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, begitu!" jawab pemuda itu. Lalu sambungnya, "Dan kakek Gu punya.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek Gu tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. Dibukanya bajunya sambil berbalik membelakangi. Tampak di punggungnya gambar sebuah naga hitam dan lingkaran di tengah yang dicengkeramnya. "Itu kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara," jelas nenek Po, "bagian yang bulat ini adalah mutiara yang dijaga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itulah sebabnya kakek dan nenek bertanya apa saya bermaksud berseteru dengan keturunan Ceng-Liong Hui-To?" tanya pemuda itu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ceng-Liong Hui-To, boleh dikatakan adalah pahlawan pada saat itu. Ialah yang membantu penduduk menghalau para begal bertato." kali ini kakek Gu yang menjawab, "dan pertanyaanmu itu sama sekali salah. Jika Ceng-Liong Hui-To adalah musuh dari penjahat bertato, maka kami yang juga bertato bisa saja salah sasaran dan menjadi musuhnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untunglah Ceng-Liong Hui-To bukan seorang gelap mata yang main bunuh saja seorang yang bertato tanpa tahu terlebih dahulu asal-usul dan kesalahannya," lanjut nenek Po, "malah ia adalah orang yang yang amat terpelajar, dan boleh dikatakan menawan." Dari tekanannya pada kata terakhir yang diucapkannya, nenek Po terlihat bahwa ia amat mengagumi sosok Ceng-Liong Hui-To tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mereka berdua menceritakan bahwa Ceng-Liong Hui-To menasehati para pemuda dan pemudi tidak lagi menato dirinya, karena hal itu dianggapnya tidak baik. Merusak tubuh yang telah diberikan oleh Sang Pencipta dengan gambar-gambar yang kadang tak jelas artinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang menuruti anjuran tersebut, akan tetapi sebagian lain tidak. Bagian yang tidak ini yang kemudian menjadi lepas kendali. Mereka malah menuduh Ceng-Liong Hui-To mengekang kebebasan berekspresi orang-orang, padahal itu adalah tubuhnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas bumbu-bumbu hasutan para begal, orang-orang yang mendukung 'kebebasan bertato' ini kemudian membentuk kelompok yang anti keteraturan, anti kemapanan. Mereka melakukan apa-apa yang dilarang. Apa-apa yang tidak dianjurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa kebersamaan yang tumbuh di antar orang-orang yang tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas, membuat orang-orang tersebut benar-benar merasa di rumah, di antara orang-orang senasib. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka hanyalah dimanfaatkan oleh sedikit begal demi keuntungan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat pesatnya pertumbuhan orang-orang yang mendukung kebebasan bertato ini, pemerintah menjadi kalang-kabut. Kerusuhan-kerusuhan pun terjadi di mana-mana. Dengan dalih kebebasan mereka menyiarkan ketakukan dan rasa tidak aman di antara orang-orang yang berseberangan dengan mereka. Merampas 'kebebebasan' orang yang tidak sepaham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceng-Liong Hui-To pernah suatu kali menyatakan pendapatnya kepada beberapa rekannya yang duduk di pemerintah bahwa budaya tato yang telah turun-temurun dilakukan orang di kota itu, agar dihapuskan. Ia pernah mendengar bahwa budaya itu cenderung membuat orang-orang menjadi kasar dan tak tentu arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih mendengarkan, para rekannya itu malah menenangkan dirinya, dan berujar bahwa ketakutannya yang masih saja terbawa dari jaman perang dulu, dan selalu saja berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Ceng-Liong Hui-To terbukti tidak sampai setahun kemudian. Kelompok pemuda dan pemudi bertato tumbuh dengan pesat. Bersamaan dengan itu terjadi pula perampokkan, pencurian dan lain-lain oleh orang-orang bertopeng dan bertato. Sengaja mereja menggunakan topeng, akan tetapi memperlihatkan tato di tangan dan punggung mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya jelas, pemerintah yang tidak memiliki bukti keterlibatan begal-begal yang seakan-akan merupakan kelompok pemuda anti kemapanan itu, main tangkap saja orang-orang yang bertato. Dengan jumlah yang banyak mulai timbullah perlawanan. Suatu pertentangan yang bukan disebabkan oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah Ceng-Liong Hui-To turun tangan. Dengan hati-hati ia menyelediki kelompok-kelompok bertato, menyelinan sana dan sini dan mendengarkan percakapan-percakapan. Akhirnya ia bisa menemukan orang-orang atau begal-begal yang bertanggung jawab atas kejahatan-kejahatan yang menyebabkan pemerintah bersiteru dengan para pemuda bertato secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan membawa beberapa saksi dan bukti, para pemuda dan juga pemerintah disadarkan. Organisasi-organisasi kepemudaan bertato pun dibubarkan oleh para massanya sendiri. Mereka merasa telah diperalat oleh para begal. Walaupun telah salah tangkap, tapi pemerintah masih berdalih bahwa itu untuk kepentingan umum. Sebuah luka yang kelak akan kembali bernanah. Luka antara penguasa dan rakyat yang seharusnya diayominya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek kata kerusuhan dan ketegangan akibat tato pun menghilang. Suasana kembali seperti semula. Tenang dan damai. Roda perekonomian kembali bergulir normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi ada yang hilang di akhir pergolakkan itu, yaitu Ceng-Liong Hui-To sendiri. Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Pemerintah sebenarnya ingin mengangkatnya sebagai perwira kerajaan untuk menangani masalah-masalah kerusuhan, informasi rahasia dan keamanan. Akan tetapi dengan hilangnya, tidaklah jadi hal itu dilakukan. Untuk mengenangnya, kantor polisi di kota itu dinamakan Rumah Jaga Ceng-Liong Hui-To.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kota Siaw Tionggoan" begitulah yang tertulis di atas sebuah gerbang batu setinggi pohon kelapa dan selebar empat kalinya. Gerbang yang menandakan awal kota tersebut. Kota Siaw Tionggoan terletak di tepi suatu sungai kecil pecahan dari sungai Merah yang mengarah jauh ke timur laut meninggalkan pantai selatan dan padang Batu-batu. Kota yang banyak dihuni oleh perantau dari Tlatah Tiongkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berseri wajah pemuda itu melihat gerbang batu yang megah itu. Walaupun terlihat sederhana dengan sedikit ukir-ukiran, akan tetapi komposisinya yang bernuansakan warna yang teduh keabuan, mendatangkan kesan masif dan keren. Besar dan gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak tahu bahwa gerbang sebelah timur itu memang dibuat sedemikian rupa dengan warna keabuan. Warna udara dan asap. Oleh karena memang gerbang tersebut bernama Gerbang Udara atau Angin. Terdapat lambang besar segitiga dengan puncaknya menghadap ke atas, dan tengahnya dicoret garis mendatar, terpahat pada tengah batang melintang. Kepala dari gerbang itu. Lambang elemen kuno udara. Sesuatu yang diapungkan atau diresapi oleh api, yang dilambangkan dengan segitiga puncak ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kekagumannya atas gerbang sebelah timur itu, Gerbang Udara, terpenuhi mulailah ia melihat-lihat hal-hal lain. Di sepanjang jalan yang lurus dan panjang itu, yang ujungnya hampir-hampir tak bisa diperkirakan, ia melihat berbagai aneka toko-toko. Belum pernah ia melihat kota yang seramai ini. Tidak juga kota tempat asalnya, kota Luar Rimba Hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan-jalan yang sudah dipadatkan dan dilapisi batu-batu persegi di atasnya, membuat jalan orang dan juga pedati yang lewat menjadi lebih mudah. Saat hari hujan, tidak ada lagi lumpur atau genangan air yang mengganggu. Jalan batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebingungan pemuda itu akhirnya berdiri pada suatu persimpangan jalan. Jalan di depannya masih lurus jauh, bagai tanpa akhir. Jalan di belakangnya mengarah kembali ke Gerbang Udara. Kedua jalan kiri dan kanan sama-sama menarik, tapi tidak ada yang memberatkannya, sehingga ia tak dapat dengan segera memilih salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba matanya tertarik pada gerakan seseorang yang membelok pada suatu jalan kecil di sisi kanan jalan yang berarah ke kiri. Suatu sosok yang menghentakkan kenangan lama, Citra Wangi. Bergegas pemuda itu mengikuti nalurinya membuntuti sosok bayangan yang memincut rasanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia merasa yakin bahwa sosok itu adalah orang yang ada dalam kenangannya. Sosok tubuhnya yang langsing dan cukup tinggi. Gerakan langkahnya yang mengalir dan mantap. Lenggak-lenggoknya yang secukupnya dan tidak berlebihan. Pastilah itu dia. Tak terpikirkan lagi oleh Gu Yo bagaimana sosok yang disangkanya sang kekasih bisa berada di kota Siaw Tionggoan dan bukan di Kota Pinggiran Sungai Merah seperti diberitakan oleh Nyi Antini, istri mendiang Ki Baja dari Kota Luar Rimba Hijau. Nalarnya telah ditundukkan oleh kenangan yang menggelora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegas dipacu langkahnya. Tak dihiraukannya saat ia tak sengaja berpapasan dengan beberap orang yang hampir saja ditabraknya. Beberapa dari mereka sempat mengumpat-umpat dengan bahasa yang kurang dimengertinya, karena dialek mereka yang cukup kental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya ia di jalan kecil di sebelah kanan dari jalan besar yang mengarah ke kiri, dilihatnya sosok gadis yang diikutinya tersebut berada pada jarak belasan tombak di depannya. Bergegas ia kembali menaikkan laju langkahnya, agar dapat cepat dicapainya orang yang diharapkan sebagai kekasihnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kebetulan atau memang sang gadis memang sedang juga dalam kegergesaan, ia pun memacu langkahnya. Cepat. Akibatnya jarak ia dan Gu Yo masih tetap belasan tombak lebarnya. Tak lama ia membelok ke kiri satu dua gang kecil dan akhirnya kembali mengambil jalan kecil di kanan, yang kemudian membawa sang penguntit dan yang dikuntit kembali ke suatu jalan besar. Jalan yang sejajar dengan jalan besar sebelah kiri yang pertama-tama diambil Gu Yo sejak di persimpangan, saat ia bingung tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang dengan banyak berlalu-lalangnya kereta kuda, pedati dan juga kereta tanpa kuda, yang digerakkan oleh orang atau mesin bersuara ribut, jarak antara Gu Yo dan sang gadis semakin lebar. Gu Yo yang tidak terbiasa berjalan di suatu tempat dengan banyak kendaraan dan orang, berkali-kali hampir tertabrat, dan sudah tentu kaya dengan umpatan dan makian, seperti "Pake matamu!", atau "Matamu kemana?" dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya perburuan itu pun berakhir, dengan sampainya sang gadis di suatu rumah atau toko yang cukup besar. Besar dan mewah menurut Gu Yo, dilihat dari papan namanya yang lebar dan berwarna cerah di atas wuwungan depannya. "Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lagi-lagi Ceng-Liong Hui-To..," bergumam Gu Yo dan teringat pada cerita kakek Gu dan nenek Po. Tapi rasanya bukan ini, pikirnya. Lamunannya pun terhenti saat seorang penjaga menegurnya. Seorang pemuda berbadan tegap yang terlihat ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tahan dulu, anak muda!" katanya bersahabat, "Apa keperluanmu? Apa sudah ada janji?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Janji?" bengong Gu Yo mendapati pertanyaan itu diajukan padanya. Ia tidak tahu bahwa di kota-kota besar seperti kota Siaw Tionggoan ini, orang sedemikian sibuknya, sehingga untuk bertemu, mereka terlebih dahulu harus membuat janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, itu.., anu..!" katanya gagap sambil menunjuk kepada bayangan gadis yang diikutinya tadi. Bayangan yang sudah lenyap di balik pintu bangunan itu. Bayangan yang tadi sempat bertegur sapa dengan penjaga yang menyapanya, dan disapa balik dengan, "Nona Lin!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hah? Apa maksudmu dengan eh, itu.., anu..?" tanya sang penjaga kembali, yang merasa tak mengerti dengan ucapan yang dikeluarkan oleh sang pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, maksud saya, saya ingin bertemu dengan nona tadi. Nona yang baru saja masuk itu!" jawabnya kemudian setelah dapat menenangkan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, maksudmu nona Lin?" tanya penjaga itu kembali untuk menegaskan. Lalu lanjutnya, "dan apa urusannya? Sudah ada janji atau belum?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, harus sudah ada janji ya?" tanya Gu Yo kembali. Janji, sesuatu yang tidak ia temui di kotanya. Orang-orang di sana bila ingin berkunjung, dapat langsung datang kapan saja. Tak perlu ada janji-janjian segala. Mungkin lain kota, lain tata cara-nya. Demikian pikirannya menyimpulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjaga itu melihat kebingungan sang pemuda, akhirnya menggapainya untuk ikut. Lalu ditunjukkannya seorang gadis yang sedang duduk di meja dekat tempat penjaga tadi berdiri. Seorang gadis yang juga terlihat manis seperti sang nona Lin. Posisi gadis yang tersembunyi di balik tembok setinggi dada orang dewasa berdiri itu, sempat tidak terlihat dari luar apabila tidak benar-benar diperhatikan dan diketahui keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya itu tempat untuk membuat perjanjian untuk bertemu dengan penghuni gedung itu, entah toko atau apalah, Gu Yo tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dijelaskan oleh sang penjaga bahwa pemuda itu ingin bertemu dengan nona Lin akan tetapi belum membuat janji, lalu sang gadis membuka bukunya dan melirik pada kolom-kolom yang di atasnya tertuliskan "Swee Sian Lin", nama sebenarnya dari nona Lin. Akhirnya sampailah ia pada suatu kolom, dan bertanyalah ia pada Gu Yo, "nanti sore, antara pukul empat dan setengah lima nona Lin belum ada janji, anda bisa berkunjung pada saat itu? Apakah anda bisa dan mau?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangguk saja Gu Yo atas usulan itu. Persoalan membuat janji masih asing baginya. Kemudia saat ditanya namanya, ia menyebutkan "Gu Yo", yang kemudian dituliskan oleh gadis itu. Untuk keperluannya, ia hanya membubuhkan "ingin bertemu" tanpa bertanya dulu kembali kepada Gu Yo, sebagaimana disampaikan oleh penjaga tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anda bisa berjalan-jalan dulu, melihat-lihat kota Siaw Tionggoan untuk membunuh waktu. Masih sekitar empat jam untuk bertemu dengan nona Lin," saran sang gadis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gu Yo pun mengangguk mengiyakan. Saat itu dilihatnya beberapa orang masuk, memberi salam kepada penjaga dan menuju tempat sang gadis, gadis yang mencatatkan janji-janji untuk bertemu dengan para penghui gedung itu. Beberapa di antaranya menyebutkan nama yang akan dikunjungi, keperluannya dan waktunya. Dua orang dari mereka rupanya telah membuat janjinya kemarin. Setelah diakurkan dengan apa yang tertera dalam buku janji tersebut mereka dipersilakan untuk masuk. Seorang pelayan mengantarkan mereka, menunjukkan jalan ke bagian ke mana mereka akan menuju. Sedangkan sisanya baru akan membuat janji untuk bertemu dengan penghuni gedung itu sore ini atau keesokan harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangguk-angguk Gu Yo melihat hal yang baru itu. Rupanya ia harus membuat janji dulu untuk bertemu orang-orang yang tinggal dalam rumah itu. Suatu pengalaman yang baru dialaminya di sini, di kota Siaw Tionggoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cukup memperhatikan dan merasa mengerti, Gu Yo pun keluar untuk menghabiskan waktu, sebelum bertemu dengan nona Lin. Sosok gadis yang dipikirnya adalah Citra Wangi, kekasihnya dulu. Orang yang telah ditunangkan dengan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tepi jalan besar di muka Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tampak Gu Yo celingak-celinguk kebingungan. Ia tidak tahu harus kemana untuk membunuh waktu sebelum jam empat nanti. Saat ia sedang memandang ke kiri dan ke kanan, suatu suara dalam lambungnya merekah, membujuknya untuk pergi ke suatu arah di mana aroma lezat hidangan mengambang di udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjalan beberapa saat, ditemukannya sumber kelezatan yang seakan-akan mengundangnya ke tempat itu. Sebuah kedai yang menyajikan berbagai masakan yang dipanggang atau dibakar. Kedai Daging Bakar namanya. Berbagai jenis daging dapat ditemui di sana, dari ayam, sapi, kerbau, kambing sampai ular dan kelinci. Berbagai jenis-jenis daging yang telah kering dan diasap, dipajang di suatu bagian depan kedai dan diberi nama. Takjub juga Gu Yo melihat model iklan dari kedai tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia sedang melihat-lihat "hiasan" berupa daging yang sudah dikeringkan itu, berwarna merah dan masih menyajikan bau sedap khasnya masing-masing, seorang tua menyapanya, "Ayo jangan malu-malu, mari masuk mencicipi!" ajaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, tapi..," Gu Yo tak bisa melanjutkan ucapannya. Ia tak tahu harus berucap bagaimana. Sebagaimana diketahui tidak banyak Tigaan yang dibekalinya sedari keluar dari Rimba Hijau dan juga sehabis bertemu kakek Gu dan nenek Po. Dan ia memang telah berniat untuk mencari pekerjaan di kota ini, sembari menunaikan misinya mencari keturunan dari Ceng-Liong Hui-To.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, pasti kau tidak cukup punya uang, 'kan? Ayo anak muda, masuk saja. Aku pemilik kedai ini. Kamu boleh makan sepuasmu, tapi setelah itu bantu-bantu, bagaimana?" jawabnya ramah. Yok Seng, orang tua itu memang pemilik kedai itu. Ia baru saja berjalan ke bagian lain kota untuk mencari tenaga tambahan. Rencananya beberapa hari lagi akan ada perayaan menyambut tamu dari pemerintah pusat. Biasanya pada hari-hari "besar" seperti itu pengunjung akam membeludak. Untuk itu ia perlu tenaga segar agar bisnisnya dapat tetap berjalan dengan baik. Sukur-sukur pemasukannya bisa berlipat-lipat pada saat-saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia telah berusaha menuju ke suatu bagian kota di mana di sana terdapat suatu semacam agen yang menyalurkan tenaga-tenaga kerja paruh waktu. Tapi berhubung suatu peristiwa kunjungan oleh pemerintah pusat ke kota Siaw Tionggoan adalah suatu peristiwa yang jarang terjadi, toko-toko dan kedai-kedai lain pun sudah memborong tenaga kerja. Habis. Tiada yang tersisia. Bahkan ia hanya menemui tulisan "tutup" di sana. Mungkin sang penyalur tenaga kerja bahkan ikut "bekerja" sebagai tenaga paruh waktu, mengingat permintaan yang banyak, sudah bisa dipastikan gajinya pun akan lumayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi melihat seorang pemuda di depan kedainya yang sedang termangu menatap daging-daging keringnya, langsung saja Yok Seng menawarkannya pekerjaan. Dari perawakannya yang tegap dan berisi, sudah pasti pemuda itu kuat untuk bekerja keras. Sosok yang dibutuhkannya untuk saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, benar paman? Saya boleh bekerja di sini?" tanya Gu Yo tak percaya. Ini adalah betul-betul suatu kesempatan yang tidak disangka-sangkanya. Ia tidak harus sulit-sulit mencari pekerjaan, akan tetapi dapat dengan mudah memperolehnya. Orang bilang itu memang sudah rejekinya atau suratan langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yok Seng yang ditanya hanya mengangguk. Ia melihat bahwa pemuda itu, Gu Yo, masih baru dan belum ada pengalaman sama sekali. Kejujuran pun tampak dari wajahnya. Jujur itu adalah sifat yang dibutuhkan untuk dapat bekerja dengan langgeng. Yok Seng yang telah berpuluh tahun mengelola kedai itu dapat dengan segera melihat sifat seseorang dari percakapan singkat saja, hasil asahan pengalaman yang menahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, tapi.. saya..," ucap Gu Yo bingung dan ia pun lalu menceritakan keperluannya ke kota itu yang memang ingin mencari kerja, tapi telah membuat janji dengan nona Lin, Swee Sian Lin di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau tidak akan bekerja di sana, bukan?" tanya Yok Seng penuh selidik. Entah bagaimana ia tak rela calon tenaga kerjanya akan diambil oleh orang lain. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To adalah suatu galeri seni tato yang cukup beken di kota itu. Suatu saingan dalam mempekerjakan orang pada saat hari-hari "besar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, paman! Saya hanya ingin bertemu dengan nona Lin saja. Tidak ingin bekerja di sana," jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagus kalau begitu! Ayo kita makan dulu, sudah terdengar ususmu itu belingsatan," kelakar Yok Seng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memerah wajah Gu Yo itu. Malu ia akan ususnya yang tidak sungkan-sungkan untuk menyuarakan isi hatinya. Lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yok Seng tidak menyuruhnya duduk di depan, tempat orang-orang yang sedang menjadi pelanggan kedai itu makan, melainkan mengajaknya terus ke belakang, ke suatu ruangan besar yang berfungsi sebagai dapur dan juga tempat orang-orang pekerja kedai itu berkumpul. Di sana ada sebuah meja besar dan panjang yang dipenuhi berbagai macam benda. Di keempat sisi meja tersebut terdapat kursi panjang tanpa sandaran. Entah berapa jumlahnya. Satu kursi bisa muat empat sampai lima orang kiranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini Ma She," ucap Yok Seng kepada Gu Yo, "kepala koki di sini. Dan juga yang bertanggung jawab jika aku tidak ada."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ma She, pemuda ini akan kerja sini mulai hari ini. Kasih dia makan terus atur tugasnya. Oh, ya untuk hari ini kasih dia waktu nanti jam empat untuk keluar sampai jam lima. Ada keperluan dia di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To," sambil tak lupa Yok Seng memberi tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma She hanya mengangguk. Orangnya tak banyak senyum. Tapi wajahnya ramah. Mukanya lebar dan besar. Tubuhnya tak terlalu tinggi. Tulang tangan dan kakinya lebar-lebar, sehingga tampak gemuk padahal tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa namamu?" tanyanya singkat kepada Gu Yo setelah Yok Seng meninggalkan mereka untuk memeriksa pekerjaan lain-lain yang dilakukan lain orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gu Yo!" jawab pemuda itu pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Duduk di sini dan makan semampumu," katanya kemudian sambil mengangsurkan piring kosong lebar. Piring paling lebar yang pernah dilihat Gu Yo. Hampir sebesar nampan bundar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Gu Yo terlihat agak ragu-ragu mengisikan lauk dan juga nasi ke dalam piringnya, Ma She dengan cekatan mengambil sejumput besar nasi dengan sendok besar dan dua kerat daging seukuran dua kepalan tangan dan meletakkan di piring Gu Yo. Tak lupa diambilnya dengan sumpit sejumput sayur-sayuran dan terkahir dituangkannya saus merah harum di atas dua kerat daging tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takjub Gu Yo melihat hidangan yang harus disantapnya itu. Dan semakin takjud saat masih Ma She berkata, "kalau kurang, tambah lagi!" Ia juga tak lupa meletakkan sendok, garpu, pisau, sumpit. Ia tidak menanyakan alat makan apa yang biasa digunakan oleh Gu Yo, hanya meletakkan semua yang biasa digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Ma She berlalu dari sana, mulailah Gu Yo menyantap hidangan yang ada dalam piring jumbonya itu. Mula-mula dicobanya daging keratan pertama yang berwarna lebih gelap dari keratan kedua. Dengan sumpit gumpalan daging keras itu tak bisa diceraikan. Lalu dicobanya dengan menggunakan sendok. Juga tidak bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu lewatlah seorang gadis. Melihat kesulitan Gu Yo dalam menyantap penganannya, ia pun berkata, "Bisa? Perlu dibantu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gu Yo hanya menggangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa dipersilakan gadis itu dengan duduk di samping Gu Yo. Begitu dekat sehingga hidungnya bisa mencium keharuman keringatnya yang tercampur dengan semerbak masakan-masakan. Suatu sensasi yang belum pernah ditemuinya. Lain dengan semerbak wangi tunangannya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan sang gadis membuyarkan lamunan sesaat itu, "Begini caranya: tangan kanan memegang pisau, tangan kiri memegang garpu." Lalu diperagakannya cara memantapkan daging agar tidak bergulir untuk kemudian dipotong dengan pisau. Satu bagian Potongan telah lepas dan sisanya masih tertancap pada garpu. Dipotongnya lagi potongan yang masih tertancap berulang kali sehingga tersisa seukuran setengah telur ayam. Lalu dengan jenaka gadis itu mengucapkan, "jika sudah cukup kecil, langsung dimakan." Dan "Hap!!" daging tersebut lenyap di mulut mungilnya yang menawan. Gu Yo hanya dapat melongo melihat hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, terus nasi ini gimana?" masih bingung dirinya bagaimana bisa makan nasi menggunakan garpu dan pisau tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih menjawab, si gadis menyisir nasi dalam piring besar itu ke arah garpunya menggunakan pisau, memadatkan sedikit di atasnya dan menggerakkan garpu yang sudah berisi nasi itu ke arah mulutnya. Dan kembali "happ!" lenyap di balik mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, begitu!" sahut Gu Yo menggangguk-angguk. "Bisa juga iisau digunakan seperti itu." Suatu pengalaman baru lagi yang didapatnya di tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ma Siang!" tiba-tiba terdengar suara mengguntur di belakang mereka. Si gadis dengan cepat bangkit dan bergegas pergi. Sambil tak lupa berucap, "selamat makan!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma She yang tiba-tiba berada di sana, tampak menggeleng-gelengkan kepala. Ia kebetulan saja melihat gadis itu bersama dengan Gu Yo. Dan seperti yang diduganya, sedang mengerjai Gu Yo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah habis makanmu?" tanyanya setelah sampai di samping pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, belum, paman!" jawabnya. "Masih belum bisa pakai garpu dan pisau ini. Untung ada gadis itu tadi yang mengajari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ma Siang? Mengajari?" tersenyum Ma She mendengar itu, walaupun ia tahu bahwa gadis itu mungkin memang mengajari Gu Yo, tapi pasti ada sesuatu yang dinakalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, paman!" jawab Gu Yo sambil memperagakan cara makan yang diajari oleh Ma Siang. Bagaimana ia memotong daging, menyuapnya dengan garpu di tangan kiri dan memadatkan nasi pada garpu dengan pisau di tangan kanan dan menyantapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagus kalau begitu. Ayo, habiskan makananmu! Kerjaan sudah menunggu," ucapnya kemudian. Ma She masih berpikir-pikir apa yang telah dikerjakan oleh Ma Siang. Masak cuma itu, benar-benar mengajari. Tapi saat ini bukan waktunya. Ia pun kembali membiarkan pemuda itu menyantap makan siangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diajari oleh Ma Siang, Gu Yo dapat dengan mudah menyantap hidangannya. Kuah atau saus merah harum yang tergenang pun dapat dengan mudah disisirnya, atau sayur yang harus dipotong dulu, ke atas daging atau nasi yang telah siap untuk untuk diangkat oleh garpu. Gu Yo pun mulai dapat menikmati makan siangnya dengan cara itu. Cara makan yang baru, menggunakan alat makan yang belum pernah dialaminya. Biasanya ia hanya makan menggunakan tangan kosong saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah habis ia pun sedikit mengelus perutnya yang telah terisikan. Kenyang dan tenang. Dibawanya piring bekas santapannya itu ke suatu sudut, di mana ia melihat beberapa orang sedang mencuci alat-alat makan. Saat seorang menunjukkan padanya tempat untuk meletakkan piring kotor beserta garpu, sendok, sumpit dan pisaunya, Gu Yo pun mengikuti dan meletakkannya di sana. Terpisah, masing-masing ada wadahnya sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia bingung tentang apa yang harus dikerjakannya, seorang menggapai bahunya. "Ikut aku!" katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang tua tampak sedang duduk-duduk di depan sebuah gubuk di tengah hutan. Seorang wanita tua dan lainnya lelakit tua. Nenek Po dan kakek Gu, kedua orang yang sebelumnya telah merawat luka Gu Yo atau Paras Tampan akibat merapal ilmu Jarum Terbang Debu Pasir yang belum dikuasainya dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Heh, kakek Gu! Apa yang kamu pikirkan? Sedari Gu Yo pergi ke kota Siaw Tiong Goan, kau banyak sekali berdiam," ucap nenek Po terhadap orang sedang duduk tak jauh darinya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmmm...," jawap kakek Gu pendek. Ucapan yang kiranya menandakan bahwa pikirannya masih mengembara ke sana kemari dalam alam khayalannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, sudah! Aku mau masak dulu, sebentar lagi kita makan bareng," ucap nenek Po kembali sambil bangkit dan berbalik masuk ke dalam pondoknya. Sibuk ia kemudian mengaduk-aduk kuali besar yang menebarkan di udara suatu keharuman menggoda lambung. Keharuman akan kelezatan yang tidak akan didiamkan begitu saja oleh cacing-cacing penghuni perut. Segera mereka akan berontak minta diasup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek Gu, sepeninggal nenek Po, masih saja tenggelam dalam lamunannya. Dan benar seperti perkataan nenek tersebut, bahwa ia terlamun-lamun ada kaitannya dengan pemuda yang disebut-sebut itu. Gu Yo. Ia terpikir akan pemuda itu. Entah bagaimana, ada hal yang menarik dari pemuda itu, sehingga tetap lekat pada ingatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masih teringat bagaimana ia yang saat itu sedang bertarung sengit dengan Su-Mo ditolong oleh pemuda itu. Tetapi akibat ilmu mujijat yang dirapalnya yaitu Jarum Terbang Debu Pasir, suatu ilmu dasyat yang dapat mengubah butir-butir debu di sekeliling perapalnya menjadi padat dan berbentuk jarum untuk diterbangkan menyerang sang lawan, yang melukai sang pemuda sendiri karena belum benar-benar menguasainya. Di situlah perkenalan antar keduanya dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dibantu nenek Po, kakek Gu mencarikan daun-daun obat untuk ramuan kesembuhan pemuda itu, yang kerap dipanggil "anak Yo" oleh kakek Gu. Sampai akhirnya ia diberi nama dengan she kakek Gu, menjadi Gu Yo. Nama yang juga memudahkan perjalanan anak tersebut di kota Siaw Tiong Goan, suatu kota di mana penduduknya kerap berasal dari Tlatah Tengah (Tionggoan) yang kadang sulit untuk melafalkan nama dari tempat lain, dalam rangka mencari keturunan dari Ceng-Liong Hui-To.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunan kakek Gu terhenti saat beberapa orang memasuki halaman rumah nenek Po. Orang-orang dengan tubuh-tubuh kekar dan kasar. Diantara mereka terdapat empat orang yang sekilas terlihat berbeda karena langkahnya yang lebih ringan dan berisi. Orang berilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Zahnloserbauer (Petani Ompong), saatnya kita putuskan perhitungan kita! Utangmu padaku harus lunas hari ini," ucap seorang dari mereka, yang berwajah agak gelap. Hek-Mo, salah seorang dari Su-Mo (Empat Setan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek Gu yang saat itu sedang menerawang pada sosok Gu Yo, sontak terkoyak, ia pun menoleh, memperhatikan benar-benar kedelapan orang yang ada di hadapannya sekarang. Empat orang Su-Mo dan empat orang baru yang belum pernah ditemuinya. Akan tetapi melihat dari tongkrongan dan busana yang dikenakan, ilmu keempat orang yang baru dilihatnya ini tidak lebih tinggi dari Su-Mo. Meskipun demikian jumlah yang berlipat dua ini pasti akan menjadi masalah baginya, karena dulu dengan hanya berempat, jika tidak dibantu oleh Gu Yo, ia tidak mungkin memang. Apalagi sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek Gu bukanlah takut untuk mati. Konsekuensi perbuatannya yang membela para petani yang diharuskan membayar "pajak" kepada Su-Mo dan kaki-tangannya, akan dihadapinya dengan jantan. Tapi adanya suatu rahasia yang mesti disampaikannya kepada Gu Yo, yang merisaukan hatinya. Ia menyesal kenapa tidak dulu-dulu hari ia ceritakan hal tersebut kepada pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Su-Mo, bagaimana keadaan kalian? Sudah baikan?" tanyanya menggoda sambil mengulur-ulur waktu untuk memikirkan suatu siasat agar dapat meninggalkan pesan pada Gu Yo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang ditanya sudah tentu memerah wajahnya. Itu bukan pertanyaan yang menandakan keingintahuan mencari kabar, tetapi lebih merupakan ejekan karena dilontarkan oleh orang yang menjadi lawan dan penyebab keadaan mereka "tidak baik" yang ditekankan dengan "sudah baikan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hek-Mo, seorang dari Su-Mo yang terkenal dengan keberangasannya, tidak biasanya berdiam diri. Rupanya hampir remuknya telapak kakinya akibat tendangan cangkul kakek Gu, si Petani Ompong, membuatnya lebih mawas diri akan siapa yang dihadapinya saat ini. Hanya napasnya saja yang berderu-deru, menunjukkan emosi yang telah meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih Su-Mo yang menjawab, keempat orang yang baru hari itu dilihat kakek Gu yang mengambil pembicaraan, kata seorang dari mereka, "Salam, orang tua yang bergelar Petani Ompong. Kami Empat Begal Hutan datang untuk mencoba-coba kemampuanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm," jawab kakek Gu pendek, "apa hubungan kalian dengan Su-Mo?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Su-Mo menjanjikan pekerjaan penarikan pajak di daerah ini bagi kami, bila kami bisa menundukkan dirimu, wahai orang tua!" jawab yang ditanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangguk-angguk kakek Gu mendengar penjelasan itu, "baiklah, sudah jelas kedudukan kita masing-masing. Aku berada pada pihat petani yang keberatan akan pajak yang berlebihan besarnya, dan kalian berada pada pihak Su-Mo yang berlaku sebagai penarik pajak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba percakapan itu terhenti oleh terbukanya pintu pondok dan keluarnya nenek Po. "Ah, banyak tamu ternyata! Mari-mari, sebelum 'berdiskusi', kita isikan dulu perut yang meronta-ronta!" Entah bagaimana, nenek Po seakan-akan tahu akan kedatangan kedelapan orang itu, sehingga ia telah membawa sebuah nampan besar berisikan sepuluh buah mangkok besar. Setengah semangka ukurannya. Bisa dibayangkan adanya suatu "keahlian" karena ia membawa nampan yang panjangnya seukuran peti mati dan di atasnya terdapat sepuluh mangkok besar-besar berisi sup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamu-tamu tak diundang yang datang untuk menagih "utang" dengan kakek Gu, entah bagaimana hanya bisa menurut dan bersama-sama menuju sebuah meja panjang yang terletak di depan pondok nenek Po. Semuah meja kayu besar bundar yang dilengkapi dengan enam belas kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nenek Po selesai melempar-lemparkan mangkok-mangkok yang "terbang" dan mendarat dengan sunyi di kesepuluh tempat dari enambelas tempat yang ada, orang-orang itu duduk pada tempatnya masing-masing. Delapan buah tempat duduk pada sebelah sisi telah terisi. Dua buah pada sisi yang berlawanan ditempati oleh nenek Po dan kakek Gu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka pun mulailah makan. Sunyi. Hanya suara-suara menyeruput yang terdengar sesekali dan juga kunyahan ringan serta telanan sepi bahan-bahan dalam sup nenek Po.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan semuanya duduk lemas, kenyang dengan apa-apa yang ada dalam sup nenek Po. Setelah semua perabotan makan dibereskan dan meja kembali kosong seperti semula, kakek Gu mulai angkat bicara, "Ah, enaknya perut telah kenyang, Su-Mo dan kalian Empat Begal Hutan, mari kita bicarakan 'urusan kita' sekarang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok lawan bicaranya yang duduk di separuh meja sana mengangguk-angguk. Hek-Mo yang biasanya berangasan tampak agak terkantuk-kantuk. Puas rupanya ia telah terisi perutnya, sehingga napsu membalas dendamnya agak berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang dari Empat Begal Hutan berkata, "Wahai orang tua, terima kasih atas jamuanmu. Benar seperti yang diberitakan di tanah Alemania, bahwa Zahnloserbauer tidak membeda-bedakan kalangan. Semua dijamu baik, dengan makanan maupun dengan pedang dan tendangan serta pukulan. Kami merasa tersanjung atas kehormatan ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, tidak..," kata kakek Gu sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya, "tidak perlu sungkan-sungkan. 'Jamuan' selalu siap tersedia bagi tamu-tamu kami. Mari kita langsung pada permasalahannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, keempat orang Empat Begal Hutan diikuti oleh Su-Mo berdiri dan mengambil tempat di suatu tempat terbuka tidak jauh dari sana. Mengikuti dari belakang kakek Gu dan nenek Po. Keduanya tampak senyam-senyum di antara mereka, menganggap 'urusan' seperti ini adalah suatu yang 'biasa'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat orang Empat Begal Hutan lalu mengambil posisi mengepung kakek Gu saat ia berdiri di tengah tempat terbuka tersebut. Su-Mo hanya tampak memperhatikan dari pinggir. Ya, Su-Mo ingin terlebih dahulu melihat kemampuan orang-orang yang menawarkan diri untuk menjadi penarik pajak bagi mereka. Jika tidak mampu menundukkan kakek Gu, apalah gunanya Empat Begal Hutan ini, pikir mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai orang tua, bukannya kami tidak sopan, tapi kami biasa bertempur berempat. Bila engkau keberatan, katakan saja," ucap seorang dari Empat Begal Hutan tersebut pada kakek Gu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek Gu hanya menggeleng ramah, lalu ia pun menggerakkan tangannya sedikit, seperti mengucapkan, "silakan mulai!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelimanya pun mulai berlaga. Pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan mulai dilemparkan oleh yang punya. Tulang beradu tulang. Empat Begal Hutan, sebagaimana kakek Gu adalah orang-orang yang ahli menyerang dengan tangan kosong. Tenaga kasar dan otot. Walaupun demikian, gerakan-gerakan mereka cukup bagus dan kompak. Mengejar setiap ruan kosong yang akan dimasuki oleh kakek Gu. Dalam sepeminum teh, terlihat bahwa kakek Gu hampir-hampir tidak memperoleh ruang untuk bernapas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Su-Mo tampak senyam-senyum melihat ketangguhan Empat Begal Hutan yang akan menjadi penarik pajak bagi mereka. Serangan keempatnya cukup bagus, bahkan cenderung bagus. Dengan hanya pukulan dan tendangan mereka dapat mendesak kakek Gu sedemikian rupa apalagi bila menggunakan senjata. Sebenarnya tingkatan Su-Mo dan Empat Begal Hutan tidaklah berbeda jauh. Perbedaan ini hanyalah karena Su-Mo seringkali menggunakan senjata tajam golok, sedangkan Empat Begal Hutan hanya kepalan dan tendangan. Kelebihan tipis yang tidak terlalu berarti bagi orang-orang yang telah tinggi ilmu silatnya. Selain itu Empat Begal Hutan masih terhitung belia, baru belasan tahun apabila dibandingkan dengan Su-Mo yang telah tiga puluhan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Su-Mo sebenarnya sudah agak gatal pula untuk turun tangan melihat pertarungan yang seimbang itu, tapi mereka masih menanti-nanti kemunculan pemuda yang dulu melukai Hek-Mo dan Pek-Mo. Mereka perlu berhati-hati bila orang yang diwaspadai itu terlihat batang hidungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul empat kurang sepuluh menit saat itu. Gu Yo telah berada kembali di jalan raya. Ia telah meminta ijin kepada Ma She yang telah diberitahu sebelumnya oleh Yok Seng, sang pemilik Kedai Daging Bakar, bahwa ia diberikan waktu luang antara jam empat dan jam lima untuk keperluan memenuhi janjinya. Janji untuk menemui nona Sian Lin di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedai Daging Bakar dan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To terletak pada jalan besar yang sama. Akan tetapi tidak terlalu berdekatan. Ada persimpangan jalan yang memisahkan keduanya. Selain itu keduanya berada pada sisi jalan yang berseberangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ia telah cukup memperhatikan jalan yang dilalui tadi dari Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To sampai tiba ke Kedai Daing Bakar, Gu Yo dapat dengan mudah menemukan tempat itu kembali, tanpa perlu bertanya-tanya kepada orang-orang yang berpapasannya di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tampak lebih sepi dari pada tadi siang saat ia pertama kali dalam hidupnya membuat janji. Penjaga yang tadi menyapanya pun sudah tidak kelihatan juga gadis yang tadi menuliskan janjinya. Sekarang seorang pemuda juga berbadan tegap dan gadis lain yang juga manis untuk dilihat tampak menggantikan tempat mereka bertugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan meniru pada cara satu dua orang yang datang, menegur sapa terlebih dahulu sang penjaga untuk kemudian mencocokkan janji, nama pengunjung dan nama yang dikunjungi atau membuat janji baru, Gu Yo pun melakukannya. Karena sikapnya yang baik dan mirip orang-orang tersebut, kedua petugas itu, sang penjaga dan gadis pencatat janji, tidak menyadari bahwa Gu Yo tadi pagi adalah orang yang sama sekali belum mengetahui tata cara mengunjungi penghuni Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan itu lebar dan terang. Di sana-sini tampak sekat-sekat ruangan sehingga ruangan yang berlangit-langit lebar itu menjadi bersegmen-segmen terkotak-kotakkan secara acak oleh sekat-sekat tadi. "Mungkin ini yang disebut labyrinth," pikir Gu Yo. Ia tadi dibawa ke ruang ini oleh seorang gadis penunjuk jalan, selepas janjinya untuk bertemu nona Sian Lin dicocokkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masing-masing panel baik langsung pada dinding maupun sekat tampak semacam obyek mirip lukisan atau ukiran pada alas dua dimensi yang berlatar belakang warna kecoklatan, kadang kekuningan atau agak gelap. Gambar yang terlihat kadang berupa naga, tulisan kaligrafi ataupun obyek-obyek lain. Kadang sederhana berwarna satu atau pun berwarna banyak. Di bawah benda-benda tersebut selalu diawali dengan kata "Tato".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana, apakah anda menyukainya?" ucap sebuah suara merdu yang memecahkan lamunan Gu Yo yang sedang menikmati atau sekedar melihat-lihat obyek-obyek pada panel-panel tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, anu..," jawab Gu Yo gugup. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ini merupakan pengalaman pertamanya berada dalam suatu ruang dengan dihiasi banyak benda-benda yang memberikan nuansa tersendiri. Benda seni menurut beberapa orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo, saya Swee Sian Lin, ada urusan apa anda ingin bertemu dengan saya?" tanyanya sambil mengangsurkan tangannya. Gu Yo yang bingung hanya menjura. Ia tidak tahu bahwa di beberapa tempat, orang kadang bersalaman saat pertama kali berkenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat itu sang gadis hanya tersenyum. Lalu katanya, "Ah, anda pasti dari kalangan pesilat, melihat cara anda memberi salam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gu Yo hanya mengangguk saja. Bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari silakan melihat-lihat!" ucap gadis itu kemudian saat melihat bahwa Gu Yo masih kikuk dengan pertemuan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dengan lugas dan menawan gadis itu menerangkan bahwa obyek-obyek yang dilihat Gu Yo adalah tato atau rajah. Lukisan yang digambarkan di atas tubuh orang. Digambar dengan menggunakan jarum yang dibubuhi ramuan dan ditorehkan di atas kulit sang pemiliki. Suatu proses yang menyakitkan tapi menurut mereka tak sebanding dengan keindahan serta kepuasan yang diperoleh kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Gu Yo memastikan bahwa apa yang disajikan sebagai obyek seni tersebut adalah benar-benar kulit manusia, dengan ringan gadis itu mengiyakan dan menambahkan bahwa dulu lukisan-lukisan ini merupakan koleksi seorang penjahat yang gemar mengoleksi tato. Tato dari seorang korban yang hidup. Bisa dibayangkan bagaimana menderitanya sang korban saat kulitnya dilepas atau dikletek untuk diambil tatonya. Tapi itu masa lalu. Saat ini sudah tidak ada lagi hal-hal semacam itu. Dilarang oleh hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manggut-manggut Gu Yo mendengarkan penjelasan tersebut. Baginya seni bukan merupakan sesuatu yang benar-benar penting. Keindahan yang terpancar dari sang gadis lebih menarik untuk dinikmati. Tapi ia tahu diri dan tidak memandang terus-menerus terlalu lekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, apa sebenarnya maksud kedatangan anda ke mari, menemui saya?" tanya gadis itu lagi setelah ia menjelaskan panjang lebar mengenai apa-apa yang umumnya diceritakan oleh seorang pemandu dalam suatu galeri atau musium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu, sebenarnya.., agak memalukan untuk diceritakan," jawab Gu Yo sambil tak bisa ditahan wajahnya pun sedikit memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swee Sian Lin benar-benar baru menemui seorang seperti Gu Yo hari ini. Sopan, sederhana dan kikuk akan tetapi tampan dengan perawakan yang bagus. Biasanya orang-orang yang datang menemuinya adalah tipe-tipe pesolek dan manis mulut. Memuji-muji akan tetapi tidak tahu apa yang dipuji, karena sebenarnya tujuannya adalah mencari nona Swee Sian Lin sendiri. Pemuda ini lain, walaupun ia tidak mengerti mengenai tato, tapi ia menyimak dan tidak berpura-pura mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu pun menyadari bahwa Gu Yo juga memandang kagum pada kecantikannya. Sebagai seorang gadis yang sudah sering dipuji orang, ia bisa mengerti dari cara pandangannya. Walaupun demikian ia menyukai cara pemuda itu memandangnya, hanya kagum tetapi tidak kurang ajar. Pandangan kurang ajar adalah pendangan menjelajah yang seakan-akan mengerayangi seluruh tubuhnya, memandanginya seakan-akan membayangkan dirinya tanpa busana. Berdasarkan pengalaman Sian Lin dapat membedakan cara pandang seorang pemuda kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, anu.., saya saat tadi pagi menjelang siang melihat orang yang sosoknya mengingatkan saya pada seseorang sehingga saya pun kemudian mengikutinya. Akan tetapi ternyata sosok itu bukan orang yang saya perkirakan, melainkan nona Sian Lin," jelas Gu Yo dengan wajah yang agak kemerahan. Jengah ia mengatakan hal yang sebenarnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa orang yang anda maksud itu?" tanya gadis itu ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunangan saya," jawab Gu Yo pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, saya mengerti sekarang. Jadi anda salah lihat orang," mengangguk-angguk gadis itu mendengar penjelasan sang pemuda. Rupanya hanya masalah salah lihat saja, sehingga pemuda itu sampai membuat janji untuk bertemu dengannya. Hanya untuk memastikan apakah dirinya adalah tunangan sang pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena anda telah di sini, dan saya juga telah meluangkan waktu bagi anda, marilah kita tuntaskan melihat-lihat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To ini," usul sang gadis. Baginya tak jadi soal bahwa ternyata pemuda itu tidak memiliki keperluan sebenar-benarnya dengan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gu Yo hanya mengangguk mengiyakan. Ia sengan bahwa gadis itu tidak marah karena waktunya terbuang percuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mereka pun berkeliling lagi dalam galeri itu, meninjau ruangan-ruangan yang terbentuk oleh panel-panel sekat yang tadi belum dirampungkan. Saat ini Gu Yo benar-benar menyimak apa-apa yang dijelaskan oleh gadis itu. Entah bagaimana, mungkin karena suara yang merdu dan juga caranya menjelaskan, dirinya menjadi lebih tertarik pada kisah-kisah di balik tato-tato tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini tato seorang gadis panggilan, Bunga Merah. Ia dipesan oleh sang penjahat pengumpul tato. Kemudian ia dibunuh di ruangan tempat seyogyanya orang pelesir dalam rumah bordil dan ditinggalkan di sana mayatnya.. dan juga bayarannya plus bonus..," begitu salah satu dari cerita-cerita seram di balik pengumpulan bagian tubuh manusia yang berlukiskan macam-macam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar teriakan histeris seorang wanita, "Ahhhhhh!!! Ada darahhh!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegas Sian Lin diikuti oleh Gu Yo menuju sumber suara tersebut. Berbelok ke kiri dan ke kanan di antara panel-panel yang ada sampai mereka tiba di suatu lorong panjang yang tidak lagi menjadi bagian ruangan besar tadi, melainkan suatu bagian lain ruangan yang merupakan koridor dari dua ruang besar. Salah satunya ruangan tempat ia dan Sian Lin tadi berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah koridor itu tampak seorang gadis yang terduduk di salah satu dinding dan memandang dinding lain dihadapannya. Di sininya telah ada seorang pemuda, pemuda  yang tadi pagi bertugas menjaga dan membantu Gu Yo membuat janji. Di hadapan gadis itu tampak sehelai tato segar, baru dan berdarah-darah pada panel diding. Ditempelkan sedemikian rupa sehingga melengkapi tato yang telah ada sebelumnya. Keduanya saat itu menjadi tato pasangan burung merak hitam dan putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nona Sian Lin, itu...!" tunjuknya dengan muka pucat. Dan tidak hanya ia, sang pemuda yang berusaha membantunya bangkit juga terlihat pasi saat melihat tato tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak luput dari pengamatan Gu Yo bahwa wajah Swee Sian Lin pun berubah, akan tetapi tidak sepucat kedua karyawannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia datang kembali...!" ucap sang pemuda tak selesai karena lirikan mata Swee Sian Lin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hidup membujang ada enak dan tidaknya, memang...," guman seorang pemuda yang tampaknya sedang memasak sesuatu di atas kompor. Badannya tegap, perawakannya tidak terlalu tinggi, dengan wajah bulat dan selalu diselipi senyum yang ramah, membuatnya menarik untuk dilihat. San Cek Kong nama pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan tempat San Cek Kong berada tidak terlalu besar, hanya dua tombak kali dua tombak ukurannya. Di salah satu sudut ada tempat tidurnya yang ditemani dengan sebuah lemari kayu besar. Di sudut lain ada kotak kecil yang berfungsi sebagai jamban dan juga tempat mandi menggunakan pancuran. Tak jauh dari kotak mandi tersebut adalah tempat ia berdiri sekarang, dapur kecil. Tempat ia memasak masakan sehari-harinya. Ia biasa pulang saat waktu makan dan masak serta makan sendiri di rumah. Tidak seperti teman-temannya yang biasanya diberi bekal oleh istri-istrinya dan memakan bekalnya di tempat mereka bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia sedang menjerang sayur-sayuran untuk ditumis. Tiba-tiba berdering dan berderu selang besi yang ada di depan meja kerjanya. Atau tepatnya meja serba-serbi. Ia makan, bekerja dan juga membaca-baca di atas meja tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang besi yang dikenal orang sebagai Selang Surat. Suatu selang atau pipa tepatnya yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain, yang di dalamnya dengan menggunakan tekanan udara dari suatu mesin, dapat mengantarkan surat yang terlebih dahulu dimasukkan dalam suatu tabung dari kayu. Tabung ringan dan kuat, yang akan terhembus dengan cepat oleh udara bertekanan tinggi, dan dialirkan ke tempat tujuan. Sebuah teknologi surat mekanik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegas ia beranjak ke meja tersebut, dicari-carinya di mana ujung selang atau pipa besi yang berada di atas meja, yang telah tertutup oleh timbunan kertas-kertas dan buku-buku itu. Akhirnya berhasil didapatkannya. Di ujung selang tersebut tersembul sebuah gulungan kecil surat. Lubang gulungan surat itu pas dengan ukuran ibu jari orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna penanda gulungan surat itu hitam. Kematian. Warna yang dilukiskan pada sisi gulungan sehingga berlaku seolah-olah pita pengikat gulungan itu. Pengikatnya sendiri adalah seutas benang berwarna sembarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pembunuhan atau bunuh diri, ya?" gumam San Cek Kong, sambil ia menggigit sendok pencicip makanan yang saat itu sedang dipegangnya dan membuka surat itu dengan tangannya yang lain. Berubah matanya saat membaca isi dari surat itu. Bukan karena kasus itu sendiri melainkan lokasi tempat kasus itu terjadi. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarang-jarang terjadi kasus pada suatu tempat seterkenal Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Di sana umumnya hanya dipamerkan lukisan berupa tato-tato pada kulit manusia yang langka dan mahal. Suatu koleksi yang saat ini telah dilarang karena berkaitan dengan rasa kemanusiaan. Ya, siapa orang yang rela kulitnya ditato untuk kemudian dikletek dan dijadikan pajanganan. Sudah tentu dulunya koleksi-koleksi itu didapatkan dengan cara yang tidak manusiawi dan legal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam surat itu tertera bahwa suatu "koleksi baru" telah dipasang orang di dekat sebuah tato. Sebuah kulit yang masih segar dan mengeluarkan darah. Suatu cara yang tak lazim untuk menandakan adanya suatu kasus pembunuhan. Dengan kata lain, belum tentu terjadi pembunuhan, bisa saja korbannya, sang pemilik tato masih hidup, walau dalam keadaan kritis. Untuk itu kasus ini memang memerlukan penanganan sesegera mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tatapan sedik San Cek Kong memandang sayuran yang baru dimasaknya. Makan siang yang sudah jauh telat dari waktu seharusnya pun tak bisa dinikmatinya. Tak ada lagi waktu untuk makan sekarang. Ia hanya mengambil sepotong daging setengah kepal dari sayur telah masak itu, menjejalkannya ke dalam mulut dan bergegas memakai seragam dinasnya. Seragam seorang Paturan (penegak aturan atau polisi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan langkah ringan karena rapalan gerak Terbang Menyentuh Ujung Rumput, San Cek Kong segera sampai pada tempat kejadian. Ia tidak terlebih dahulu ke kantornya, Rumah Jaga Ceng-Liong Hui-To, melainkan langsung ke tempat kejadian. Dari surat yang diterimanya, dikatakan bahwa para rekannya telah dalam perjalanan ke tempat peristiwa tersebut terjadi. Jadi tidak ada gunanya ia pergi terlebih dahulu kembali ke kantor, meskipun buku catatan yang biasa digunakannya ada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai Inspektur San Cek Kong, cepat sekali anda datang!" sapa seorang pegawai Paturan kota Siaw Tionggoan, Ang Tiong namanya. "Rasanya baru saja saya kirimkan anda surat mekanik. Saya perkirakan anda seharunya masih dalam perjalanan," lanjutnya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;San Cek Kong atau tepatnya Inspektur San Cek Kong tidak terlalu menghiraukan ucapan itu melainkan langsung meminta catatan situasi di lapangan yang telah dirangkum oleh Ang Tiong. Dengan sigap pegawai Paturan tersebut menyerahkan sebundel kertas-kertas bertuliskan tangan berbeda-beda. Hasil catatan beberapa orang mengenai peristiwa yang terjadi. Orang-orang yang bekerja dalam tim forensik pimpinan Ang Tiong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari catatan para rekannya yang bertugas pertama-tama mengumpulkan bukti-bukti forensik di lapangan, tidak banyak informasi yang bisa diserap San Cek Kong, kecuali posisi tempat terdapatnya tato segar yang masih berdarah, saksi-saksi dan waktu kejadian. Korbannya sendiri, bila memang ada, belum ditemukan atau bisa diindikasikan. Pada jaman itu, tato tidak lagi menjadi tren, sehingga sulit untuk mencari keterangan mengenai hal itu secara cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu ada hal lain pula yang membuat San Cek Kong tertarik untuk menuntaskan masalah ini, yaitu siapa lagi jika bukan nona Swee Sian Lin, pemilik Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To, tempat kejadian itu berlangsung. Antara keduanya tidak terdapat hubungan khusus kecuali bahwa keduanya dulu pernah bersekolah bersama-sama di suatu perguruan silat yang kebetulan juga tempat seorang yang namanya digunakan pada kedua tempat mereka bekerja sekarang, Ceng-Liong Hui-To. Perguruan silat tanpa nama itu terletak di sebuah bukit di luaran kota Siaw Tionggoan. Agak desa suasananya, jauh di arah barat dari kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cek Kong-koko!" sapa Sian Lin saat melihat San Cek Kong masuk ke dalam ruangan tempat ia sedang menenangkan pegawainya yang menjadi saksi ditemukannya tato burung merak hitam yang masih segar, yang melengkapi tato burung merak putih yang telah ada sebelumnya. Gu Yo saat itu telah kembali ke Kedai Daging Bakar karena waktunya untuk rehat di sela-sela pekerjaannya telah habis. Tapi ia telah dipesankan oleh seorang paturan bahwa sekali-kali ia akan dipanggil untuk diminta keterangan, karena ia pada saat tersebut berada di tempat kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sian Lin-moymoy, engkau baik-baik saja?" tanya Cek Kong kepada gadis itu. Gadis itu mengangguk mengiyakan sambil menunjuk pada pegawainya yang kelihatannya masih dalam keadaan stres akibat penemuan tato segar tersebut. Ya, tidak setiap orang siap dengan keadaan tersebut, apalagi bila yang ditemui dalah mayat korbannya dan bukan hanya kletekan kulitnya yang bertato.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak informasi tambahan yang diperoleh San Cek Kong, tim forensik pimpinan Ang Tiong telah bekerja sangat baik. Semua pihak, kecuali gadis yang sedang stres dan masih sesengukan itu, telah ditanyai. Dan saat ditanya ulang oleh San Cek Kong, keterangan mereka tidak banyak berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, katamu tadi engkau mendapat tamu?" tanya Cek Kong kemudian pada Sian Lin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, ada seorang pemuda, Gu Yo namanya. Ia bekerja di Kedai Daging Bakar paman Yok Seng di seberang simpang jalan sana, masih jalan yang sama," jelas gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tentu saja aku kenal Kedai Daging Bakar paman Yok Seng, sering kami makan-makan di sana. Selain lezat, harganya juga agak terjangkau bagi kantung kami-kami ini, pegawai paturan," senyum Cek Kong. "Bagaimana bila kita makan malam di sana, kebetulan aku belum sempat makan siang, dan eh -- sekalian berbicara dengan pemuda itu, Gu Yo 'kan namanya?" usul pemuda itu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu menggangguk mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sedikit melihat-lihat tempat kejadian tersebut, mencatat hal-hal yang dipikirkan agak janggal di tempat kejadian, Cek Kong pun pamit pada rekannya sesama paturan. Ia kemudian berjalan bersama nona Sian Lin menuju Kedai Daging Bakar, tempat di mana Gu Yo bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan usia dalam suatu pertempuran akan menampakkan hasilnya apabila telah berjalan cukup lama. Dulu waktu kakek Gu bertarung dengan Su-Mo setelah lama berlangsung, mulailah kakek Gu terlihat terdesak karena perbedaan usia. Tapi saat itu perlu beberapa saat mengingat usia Su-Mo yang kira-kira telah setengah usia kakek Gu. Saat ini dengan Empat Begal Hutan yang usianya baru kira-kira seperempat usia kakek Gu, lebih cepat kakek Gu mengalami kelelahan. Ia mencoba untuk tidak terlalu menggunakan kecepatan dan tenaga. Bergerak hanya saat-saat diperlukan saja. Untung keempat orang lawannya itu hanya menggunakan tendangan dan pukulan, sehingga ia tidak terlalu terancam bahaya seperti saat dulu bertarung langsung dengan Su-Mo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukkk!" sebuah tendangan mendarat pada punggunggnya, yang membuat kakek Gu terdorong maju selangkah. Akibat ketidakwasapadaannya itu ia harus kehilangan beberapa saat yang menguntungkan. Dalam pertempuran dengan banyak lawan, satu langkah yang salah, harus dibayar dengan tiga sampai empat pukulan. Dan benar saja, "Desss!!" sebuah pukulan pun masuk ke dalam perutnya, ini akibat langkah maju yang seharusnya tidak dilakukannya tadi. Dan kemudian masih, "plakk!!" sebuah tamparan mengenai pinggang kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengakhiri kedudukannya yang tidak menguntungkan itu kakek Gu pun merendahkan dirinya, memasang kuda-kuda dengan kaki lebar terpentang. Ia akan menyerang kaki-kaki para lawannya itu dengan tumitnya, seperti dulu saat ia gunakan jurus itu untuk menyerang Hek-Mo, yang hampir meretakkan tulang atas telapak kaki dari Hek-Mo tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hati-hati tendangan pacul rendahnya!" tiba-tiba Hek-Mo berucap. Ia yang pernah mengalami sendiri keampuhan jurus itu tanpa sadar berucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kata-kata tersebut keempat orang Empat Begal Hutan melambatkan geraknya, berhati-hati terhadap serangan mendadak kakek Gu. Akan tetapi sayang ucapan itu telat, belum sempat mereka berempat sadar apa yang akan dikeluarkan oleh kakek Gu, sang penyerang telah bergerak. Cepat. Kiranya dengan sisa-sisa tenaganya kakek Gu mengharapkan setidaknya ada satu dua kaki yang bisa remuk oleh tumitnya. Tumit si Zahnloserbauer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hiaatt!!" serangan kakek Gu ke arah kepala dan pundak beberapa orang dielakkan dengan mudah dan tipis dengan hanya menarik kepala ke belakang dan memindahkan sedikit titik berat tubuh. Setelah dua orang lolos, kakek Gu masih berusaha untuk menyerang orang ketiga dan keempat. Kedua orang terakhir inilah yang sebenarnya merupakan tujuan kakek Gu. Seketika mereka melihat bahwa rekannya dengan cara sebegitu saja dapat mengelak, mereka menjadi tidak berwaspada, dan hal itu yang diharapkan oleh kakek Gu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hanya memindahkan sedikit titik berat dan menarik kepala, membiarkan kaki depan mereka tidak berpindah, membiarkannya dalam jangkauan tumit cankul kakek Gu, si Zahnloserbauer. Dan "takk!!" serta "krakkk!!" dua buah kaki dari dua orang yang berbeda terkena tendangan cankul bergantian kanan dan kiri dan kakek Gu. Tendangan yang awalnya ditipukan untuk menyerang kepala dan pudak kedua orang tersebut, suatu tipuan yang telah dipertontonkan sebelumnya kepada kedua orang rekan mereka. Tipuan manis yang menghanyutkan. Tipuan yang meraih korbannya dengen telak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seruan Hek-Mo pun datang terlambat, "itu kaki.., awas....!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang yang menjadi korban tampak sesegera mungkin bersalto ke belakang, menghindari adanya kemungkinan mendapat serangan dadakan susulan. Kedua rekan yang masih sehat pun tampak terkejut. Suatu serangan di luar perkiraan mereka. Serangan seorang pakar pertempuran, yang telah banyak mengalami pertarungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napas memburu tampak pada wajah kakek Gu. Empat serangan dengan delapan variasi telah dilakukannya untuk menyerang Empat Begal Hutan. Dua untuk mengelabui dan dua untuk benar-benar menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpaku pada sesuatu yang telah "lazim" berlangsung merupakan salah satu kelemahan manusia. Dan hal-hal ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengetahui dan mengerti untuk menciptkan dinamika. Menghidari kebosanan. Dari sini bisa banyak yang dituai atau ditarik keuntungan. Dalam pertarungan juga demikian. Apabila musuh terus-menerus mengeluarkan jurus-jurus yang sama, kita akan terlena dan menjadi yakin bahwa musuh hanya memiliki gerakan-gerakan ini dan tidak lainnya. Demikian pula dengan Empat Begal Hutan yang dari segi umur masih belia apabila dibandingkan dengan kakek Gu atau pun dengan Su-Mo. Keterlenaan mereka harus dibayar dengan remuknya dua telapak kaki dari dua orang dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana, Empat Begal Hutan? Masih ingin dilanjutkan?" tanya kakek Gu keren, tanpa ada nada sombong di suaranya yang sudah kembang-kempis. Ia tidak berusaha menutup-nutupi keuzuran usianya yang berarti staminanya juga telah turun jauh, terutama untuk pertarungan jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat Begal Hutan tidak menjawab. Sebenarnya di dasar hati mereka, telah tumbuhi rasa malu bahwa mereka yang masih muda dan berempat tidak bisa menghadapi seorang yang telah tua. Seorang yang kelihatannya rapuh, bagai akan terbang ditiup angin belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum satu dari empat orang itu menjawab, telah turun kata dari seorang Su-Mo, Hek-Mo, "Kakek Gu, cepat suruh pemuda itu keluar. Kami masih ingin menjajal ilmu iblisnya itu." Saat berkata masih bergidik Hek-Mo sesaat membayangkan saat Gu Yo atau Paras Tampan merapalkan ilmu "Jarum Terbang Debu Pasir" yang menyerangnya dan juga Pek-Mo. Keduanya mengalami luka yang cukup parah. Bagian tubuh pinggang ke bawah diterjang jarum-jarum halus yang terbuat dari debu dan pasir yang direkatkan oleh Tenaga Tanah dan dikirimkan dengan pukulan atau hempasan. Masih untung pemuda itu belum begitu berpengalaman, sehingga bagian tubuh mereka yang luka bukannlah bagian-bagian penting dari jalan darah yang ada. Jika tidak, sudah berada satu dua meter mereka di dalam tanah, bersemayam di sana selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan inilah yang tidak diharapkan oleh kakek Gu. Ia tahu atau dapat memperkirakan mengapa sedari tadi Su-Mo belum turun tangan. Mereka masih jerih akan adanya Gu Yo, dan menunggu terlebih dahulu sampai pemuda itu muncul. Mendengar pertanyaan itu, berputar keras otak kakek Gu. Ia harus mencari siasat untuk itu. Bukan hanya untuk menyelamatkan dirinya, tapi juga menyampaikan pesan yang tadinya masih ragu untuk dikatakan kepada Gu Yo. Tapi setelah lama berdiskusi dengan nenek Po, akhirnya diputuskan bahwa hal itu haruslah disampaikan. Untuk kebaikan Gu Yo sendiri, dalam rangka misinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu kakek Gu berniat untuk mengadu jiwa, sementara ia melihat bahwa nenek Po tampak telah siap sedari tadi berkemak-kemik merapalkan sesuatu. Kakek Gu pun memantapkan niatnya. Ia menegakkan tubuhnya dan mengatur nafas lambat sampai tak terdengar. Lalu katanya keren, "Bagaimana jika kalian semua berdelapan sekarang maju serentak? Biar tak habis waktu kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda dan pemudi itu tampak lahap menyantap daging bakar yang disajikan dengan saus kacang dan kecap manis pekat. Sesekali terdengar suara dari dalam perut melalui leher sang pemuda. Menandakan bahwa makanan yang disantapnya membuat sang perut kenyang. Si pemudi tampak lebih santai dalam menyantap, tidak sepesat dan segarang sang pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya makan malam itu pun usai. Keduanya tampak terduduk agak lemas. Lemas setelah perut diisi penuh. Juga lemas akibat hal-hal yang baru saja berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kedai Daging Bakar pamam Yok Seng ini memang tiada tandingannya di kota Siaw Tionggoan," ucap pemuda itu sambil menyeka mulutnya dengan semacam kertas atau kain yang disediakan untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, memang benar," sahut si gadis pendek mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya kemudian terdiam, masih terbayang peristiwa yang baru-baru saja terjadi di suatu tempat. Tempat kerja si gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana bila pemuda itu kita tanyai sekarang?" usul sang pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boleh juga, tapi apa tidak mengganggu kerjanya?" balik tanya si gadis atas usul rekannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seharusnya sih jam-jam segini mereka telah beristirahat, akan tetapi lebih baik bila kutanyakan saja pada kepala pelayan di sana," katanya sambil bangkit dan menuju kepada seorang pelayan yang sedang bertugas mengawasi jalannya kegiatan di Kedai Daging Bakar pada hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pemuda itu bertanya, sang pelayan kepala yang sedang duduk itu segera berdiri saat melihat pemuda itu menghampirinya, lalu sapanya, "Selamat malam, Inspektur San Cek Kong! Apa anda ingin memesan lagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, tidak paman. Tadi sudah cukup. Lebih dari cukup. Sudah penuh lambung kami berdua," jawabnya ramah. "Saya hanya ingin bertanya, apa kami -- saya dan nona Sian Lin, boleh berbicang-bicang sedikit dengan Gu Yo, seorang yang bekerja di sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksud inspektur, Gu Yo yang baru mulai bekerja hari ini?" tanyanya. Gu Yo mendadak hari itu menjadi terkenal karena ia membawa suatu cerita menghebohkan saat ia kembali ke Kedang Daging Bakar, selepas kunjungannya ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tadi sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu, yang dipanggil inspektur San Cek Kong mengangguk. Tapi kemudian ia menambahkan, "bila tidak mengganggu kerjanya, tentu saja. Atau perlu saya membawa surat resmi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, tidak perlu inspektur. Gu Yo dan yang lainnya pasti sedang beristirahat saat ini. Jam-jam segini sudah tidak ada lagi kegiatan yang kerap di dapur," jawab sang pelayan kepada sambil menggerak-gerakkan tangannya. "Sebentar akan saya panggilkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian pemuda yang ingin ditanyai oleh San Cek Kong dan Swee Sian Lin pun tiba di meja tempat kedua orang itu duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ji-wi berdua memanggil saya?" tanyanya sopan. Ia telah mengenap nona Sian Lin, akan tetapi pemuda yang bersamanya baru dilihat saat itu. Ia tidak tahu bahwa ia dan San Cek Kong tadi berselisih jalan di dekat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Karena keduanya tidak saling mengenal, maka saling tidak memperhatikan bahwa masing-masing sempat hampir bertubrukan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Duduklah, Gu Yo!" sahut Sian Lin ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara San Cek Kong hanya menggangguk sambil tersenyum. Sebagai seorang paturan yang telah lama bertugas, ia memanfaatkan saat pertama bertemu dengan orang baru untuk menilainya. Membiarkan naluri alamiah seorang manusia untuk merasakan apa-apa yang bisa ditangkap. Hal ini perlu. Berdasarkan pengalamannya, bila orang telah kenal lama, naluri ini kadang-kadang menjadi tumpul karena teralihkan oleh kesan-kesan yang timbul dari cerita atau perkataan orang. Dan juga dari kesan yang ingin ditampilkan oleh orang itu sendiri. Atas dasar ini banyak kejahatan yang muncul dari teman dekat, saudara atau lainnya. Naluri mereka telah tertindas oleh kebiasaan bahwa orang-orang yang dekat dengan mereka adalah orang-orang "baik" yang tidak mungkin melakukan kejahatan. Padahal kadang sebaliknya. Orang yang paling baik, kadangkala memiliki kesempatan untuk melakukan kejahatan juga yang paling sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas menilai dan mengira-ngira San Cek Kong pun kemudian memperkenalkan dirinya sebagai inspektur yang ingin berbincang-bincang dengan Gu Yo perihat peristiwa tadi siang yang terjadi di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gu Yu pun hanya mengangguk dan ia berdiam menunggu pertanyaan yang akan diajukan oleh inspektur San Cek Kong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hek-Mo, engkau baik-baik saja?" tanya Huang-Mo atau si Setan Kuning kepada rekannya si Setan Hitam, yang baru saja dipeluk erat kepalanya dengan kedua telapak tangan kakek Gu yang meregang nyawa atas bacokan Hek-Mo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, aku... tidak apa-apa..!" katanya agak tak yakin. Dicarinya dengan padangan mata di mana rekan kakek Gu, nenek Po, berada. Tampak bahwa yang dicari lagi terduduk tenang akan tetapi tanpa tanda-tanda kehidupan. Melepas nyawa bersamaan dengan terbangnya nyawa kakek Gu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan kakek Gu yang bagaikan menyiramkan minyak tanah kepada api kecil itu membuat Su-Mo bak kebakaran jenggot jadinya. Tanpa dikomando keempatnya turunkan tangan dan kakinya melengkapi barisan empat pengeroyok kakek Gu sebelumnya, Empat Begal Hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Runyam jadinya. Melawan empat orang saja dari mereka kedudukan sudah seri bagi kakek Gu. Apalagi sekarang melawan delapan orang sekaligus. Akan tetapi niatan untuk menyampaikan pesan kepada Gu Yo membuatnya tenang. Alih-alih cemas, malah wajah kakek Gu menjadi lebih sumringah. Tersenyum-senyum dan tampak seakan-akan siap menerima apa-apa yang akan terjadi pada dirinya kelak, bahkan yang terburuk sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran mati-matian mempertahankan nyawa tak dapat dihindari. Kakek Gu harus bergerak ke sana dan kemari untuk menyelamatkan nyawanya yang tinggal selembar itu. Belum saatnya terbacok golok atau terpukul kepalan Su-Mo, atapun kena gebug pukulan dan tendangan Empat Begal Hutan. Ia masih perlu waktu untuk sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu. Satu hal itu yang kiranya agak sulit diharapnya sekarang, demi melihat kelebatan pukulan dan bacokan silih berganti di sekelilingnya. Hampir membuatnya tak bisa bernapas sebelum bergerak ke sana-ke sini, di antara hujan serangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba tampak sekelebat bayangan nenek Po. Samar seperti asap. Ia menunjuk-nunjuk kepada Hek-Mo, anggota Su-Mo yang paling berangasan dan beremosi. Kakek Gu pun mengangguk. Ia mengerti bahwa pesan itu harus dialamatkan pada orang itu. Orang yang paling membencinya. Paling kesal padanya, sehingga paling mudah dirasuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpe membuang waktu, kakek Gu mengempos tenaganya. Ia berusaha menghalau hujan pedang dan pukulan ke sana kemari, sehingga jalannya ke arah Hek-Mo terbuka. Lalu sebagai siasatnya agar Hek-Mo emosi, ia harus berkata-kata yang pedas. Untuk membuat lawannya itu tidak lagi waspada memelihara batinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei, Hek-Mo! Hanya sampai sini saja kepandaianmu?" ucap kakek Gu merendahkan. Walau ia sendiri sadar, berbicara sambil bertempur itu akan membahayakan dirinya sendiri. Tapi misinya harus dituntaskan, dan kelihatannya harus ditebus dengan nyawanya. Dan mungkin pula dengan nyawa nenek Po.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu, sontak Hek-Mo mendelikkan matanya dan mulutnya menggereng-gereng. Sudah tidak tahan lagi ia untuk berkata-kata. Gerengannya itu sudah melambangkan kekesalan hatinya akan kakek Gu. Dulu sekali dikalahkan dan saat ini pula kakek Gu masih tampak berdiri dengan gagah di tengah-tengah kepungan kedelapan orang itu. Hek-Mo menjadi marah. Adanya ketujuh rekannya membuat nyalinya sedikit berkembang. Ia pun maju mendekat sambil membantu rekan-rekannya menyerang kakek Gu semakin gencar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hehehe, bagus datanglah Hek-Mo, biar kakiku bisa mampir lagi ditubuhmu!" ejek kakek Gu yang sudah kepayahan terpukul beberapa kali. Untuk saja belum ada bacokan golok yang bersarang di tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Grrrrggghh!!" mengerang Hek-Mo sambil melompat membacok dua kali dengan dua goloknya. Umumnya ia tidak menggunakan dua golok, tapi hari ini entah kenapa ia mencoba menggunakan ilmu baru yang menggunakan satu golok di tangan kanan dan satu di tangan kiri dengan arah pegang yang berbeda. Satu ke atas satu ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu serangan yang  berbahaya, tapi kakek Gu seakan-akan tidak memperhatikannya. Matanya tampak tertuju pada sebuah titik di antara kedua mata Hek-Mo. Dan ia pun melihat bahwa bayangan samar nenek Po juga telah siap di belakang Hek-Mo. Sekali lagi mengangguk kakek Gu pun bagai menyongsong sabetan atas ke bawah dan bawah ke atas dari Hek-Mo. Matanya tetap lekat ke titik yang tadi diperhatikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cakkk!!! Crakkk!!" kedua golok itu mendarat dengan ganas di tubuh kakek Gu. Satu di pundah menuju dada dan satu di bawah ketiak menuju leher. Sabetan menyilang. Sabetan Serong Atas Bawah Dua Golok. Suatu jurus dari Hek-Mo, anggota paling berangasan dari Empat Setan (Su-Mo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Hek-Mo berpuas diri melihat darah yang mengalir pelan dari kedua tempat di mana kedua senjatanya bersarang, tiba-tiba ia menjerit ngeri. Bukan saja karena ternyata kakek Gu belum mati, selain kedua goloknya yang seakan-akan terjebit oleh dagingn dan tulang yang dibelahnya, tapi juga kedua tangan kakek Gu yang memegang kepalanya. Menyentuhkan kedua ibu jarinya pada titik di atas hidungnya. Suatu titik di atanara kedua mata. Serunpun energi hangat terasa mengalir masuk menggelapkan pandangannya. Telinganya bagai mendengar kakek Gu dan juga nenek Po bercakap-cakap kepadanya. Menceritakan banyak hal dari suatu jaman ke jaman lain. Dan bukan hanya itu, ia juga seakan-akan dapat melihat semua yang diceritakan kedua orang itu. Bermacam-macam keterangan masuk ke dalam kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama semua itu dirasakan oleh Hek-Mo berlangsung, walaupun rekan-rekannya hanya melihat kurang dari sejurus dua, bahwa ia tampak termangu-mangu atas tekanan kedua jari jempol kakek Gu yang sudah bersimbah darah pada tengah-tengah kedua matanya, yang kemudian disusul dengan runtuhnya tubuh kakek Gu ke atas tanah setelah tak bernyawa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu kembalilah kesadaran Hek-Mo, sehingga ia bisa menjawab pertanyaan Huang-Mo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mari kita pergi!" ajak Huang-Mo kepada rekan-rekannya. Ia sendiri tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Tapi ia gembira bahwa Hek-Mo tidak tinggal nyawa di tangan kakek Gu. Walaupun berangasan Hek-Mo adalah sosok seorang yang setia. Dan itu amat disayangkan oleh Huang-Mo apabila rekannya itu sampai tewas dalam pertempuran yang baru saja berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tak berkata-kata kedelapan orang itu pun pergi meninggalkan tempat itu. Membiarkan saja kedua orang tua yang telah menjadi jenasah tergeletak di sana. Satu tersungkur bersimbah darah dan satu terduduk damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sunyi dan tiada orang lagi di sana, tampak sekelebat bayangan putih tiba di sana. Seorang tua dengan pakaian berwarna putih yang sederhana, yang dihiasi dengan ramput putih panjang yang dibiarkannya tergerai. Setelah memandang sebentar dengan sorot mata yang sedih akan tetapi tenang, ia bergerak ringan bagaikan tak menapak, menggapai kedua sosok yang telah tiada bernyawa itu. Menentengnya dengan ringan dan membawanya pergi dari sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa sudah seminggu Gu Yo bekerja di Kedai Daging Bakar milik Yok Seng. Kerjanya yang ulet dan rajin membuatnya disukai banyak orang. Ma She yang biasanya jarang berbicara, tampak banyak berbicara dan sering menyuruh-nyuruh Gu Yo serta juga mengajari berbagai hal. Ini mungkin karena pemuda itu mudah mudah diajari dan langsung bertanya apabila penjelasan yang diberikan Ma She tidak dimengertinya. Pada kebanyakan orang, biasanya hanya mengangguk-angguk walaupun sebenarnya tidak seratus persen mengerti. Barulah umumnya belakangan diketahui dari hasil kerjanya, bahwa sang pelaku tidak benar-benar mengerti apa yang ditugaskan. Tidak dengan Gu Yo, ia tidak mau melakukan pekerjaannya sebelum benar-benar mengerti. Dan sikap ini cocok dengan Ma She, sang kepala koki di tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gu Yo...! Dimana kamu...?" tiba-tiba terdengar panggilan orang. Orang yang dicari tampak sedang menimba air dari sumur yang berada di belakang bangunan utama Kedai Dagin Bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, engkau Ma Siang... Ada apa?" sapa Gu Yo saat melihat bahwa pemilik suara yang mencari-cari dirinya adalah Ma Siang, keponakan dari Ma She.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu tahu tidak, bahwa ada kasus baru lagi?" tanya Ma Siang dengan jenaka. Bukan buru-buru memberikan penjelasan, ia malah ingin membuat Gu Yo semakin penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak. Eh, kasus apa maksudmu?" tanya Gu Yo balik. Ia sebenarnya tidak terlalu berminat dengan gosip-gosip yang sering beredar di tengah-tengah para pegawai di tempatnya bekerja. Gosip-gosip yang kadang tidak jelas sumbernya. Tapi untuk sama sekali tidak tertarik, juga sulit. Paling tidak, cukuplah mendengar dan tidak menyebarkan lebih lanjut. Itung-itung sebagai hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu kasus yang mirip kasus yang terjadi di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To..," jawab Ma Siang pendek sambil senyum-senyum saat melihat Gu Yo telah tumbuh minatnya untuk tahu lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa memangnya? Ceritakanlah Ma Siang..!" pinta Gu Yo. Tidak biasanya ia tertarik pada cerita-cerita yang beredar. Untuk kasus yang satu ini, tak dapat disangkal bahwa ia amat tertarik. Selain karena ada urusannya dengan nona Swee Sian Lin dan inspektur San Cek Kong, juga karena ada kaitannya dengan tujuannya datang ke kota Siaw Tionggoan ini. Tugas titipan mendiang gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gembira Ma Siang melihat bahwa Gu Yo tertarik dengan kisahnya. Biasanya pemuda itu tampak tak acuh dan mendengar ceritanya sambil lalu saja. Kala ini berbunga-bunga hati dara itu, bahwa orang yang dikaguminya ingin mendengar ceritanya dengan antusias. Dengan gayanya yang khas kemudian Ma Siang pun menceritakan peristiwa yang terjadi di bagian lain kota Siaw Tionggoan itu, di mana orang menemukan tato segar lain yang masih meneteskan darah. Dan sama dengan keadaan sebelumnya, bahwa tidak diketahui apakah terdapat korban ataukah tidak, orang dari mana tato segar itu dikeletek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai mendengar cerita Ma Siang, Gu Yo pun bergegas pergi. Ia merasa ada hal yang harus ditanyakannya kepada nona Siaw Sian Lin. Hal yang berkaitan dengan misinya dan juga kemunculan kembali tato-tato segar tersebut. Entah apa ada hubungan antara keduanya. Panggilan Ma Siang tidak dihiraukannya, yang tampak jengkel dan menjejak-jejakkan kakinya karena ditinggal begitu saja sehabis bercerita panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Manusia, sampai akhir pun tidak dapat melepaskan ketergantungannya. Jika tidak terhadap dua masalah utama: harta dan kekuasaan, pastilah pada janji-janji dan rahasia masa lalu," ucap seorang tua berambut panjang putih yang tampak baru saja membuat dua buah kuburan baru. Dua buah gundukan tanah baru tampak di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bagai tanpa tenaga ia mengambil dua buah batu sebesar kerbau dewasa, yang dicungkilnya dengan tongkat yang baru saja digunakannya untuk menggali dua buah kuburan itu. Dua buah batu besar tersebut terungkit dan kemudian terlempar, mendarat dengan debam berat pada suatu tempat di ujung masing-masing makam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia dengan masih menggunakan tongkat yang sama menggerak-gerakkan tongkatnya, dan angin bercuitan terdengar bersamaan dengan debu yang mengepul di sekitar salah satu batu penanda makam. Sederetan huruf yang membentuk kalimat telah dipahatkan di sana. Dari jarak dua tombak lebih. Tak menunggu lama kemudian ia "menulis" lagi untuk batu penanda makam satunya. Setelah selesai, bagaikan memang telah datang waktunya, tongkat yang digunakan itu pun meluruh menjadi serbuk-serbuk halus dari tangan orang itu. Menyebar ditiup angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gu Ming, Po Ting Hwa, semoga Sang Pencipta menerima jiwa kalian berdua dan tenteram di alam sana. Aku bakal menyusul tak lama lagi," ucapnya kepada kedua makam tersebut. Usai perkataan itu, orang tua berbusana putih berambut putih tergerai itu bergerak dengan ringan dan hilang menuju barat, ke arah di mana kota Siaw Tionggoan berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nona Sian Lin, ada seorang pemuda bernama Gu Yo yang mendesak ingin bertemu. Saya sudah bilang bahwa ia harus buat janji terlebih dahulu. Tapi katanya penting," ucap seorang pelayan wanita kepada seorang dara yang sedang bekerja di mejanya. Membalik-balik beberapa buah buku dan menuliskan sesuatu pada kertas-kertas di atas meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gu Yo? Baiklah, suruh saja ia masuk. Aku akan menemuinya. Antar ia ke Ruang Hijau!" ucap gadis itu saat mengenali nama yang disebutkan oleh pelayannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, nona!" ucap sang pelayan yang segera mohon diri untuk menjemput sang tamu dan mengantarkannya ke Ruang Hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang Hijau adalah ruang yang berada tidak di tengah-tengah Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To melainkan jauh di balakang. Sebuah ruang yang diperuntukkan bagi karya-karya yang berkaitan dengan orang yang namanya digunakan bagi rumah tato itu. Siapa lagi jika bukan Ceng-Liong Hui-To sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceng-Liong Hui-To sempat juga menjadi kejam dengan mengumpulkan tato-tato dari musuh-musuhnya para penjahat. Tato-tato itu disimpannya karena ia merasa sayang karya seni yang indah harus hilang dengan terbunuhnya sang penjahat. Akan tetapi lama kelamaan ia menyadari bahwa sesuatu yang indah akan tetapi bersumber dari hal atau orang yang tidak baik, tidaklah dapat dikatakan indah. Ketidakbaikan sumber suatu benda yang dikumpulkan kadang dapat menular kepada sang pengumpul. Dalam hal ini Ceng-Liong Hui-To menjadi tertulari untuk kerap mengumpulkan tato, membuatnya ketagihan untuk membunuh penjahat bertato. Baik yang kesalahannya sudah banyak dan menjadi buronan paturan, ataupun penjahat-penjahat muda, yang baru mulai meniti karir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaannya ini pun berlanjut, sampai suatu waktu seorang Eremit (petapa) menasehatinya, dan menyarankan untuk menghentikan hobinya itu. Jika ingin menegakkan keadilan, tegakkan saja tanpa ada embel-embel sesuatu yang akan diterima. Suatu tato dari sang penjahat dalam kasus ini. Di saat itulah Ceng-Liong Hui-To memutuskan untuk menghilang. Menyepi dan menyucikan hati dan pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumahnya itulah koleksi tato-tatonya ditemukan, yang kemudian oleh penjabat kota Siaw Tionggoan dijadikan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Untuk mengenang sang pahlawan. Sang pahlawan yang gundah hatinya karena dinodai oleh napsu mengumpulkan sesuatu. Sang pahlawan yang kemudian menghilang tak diketahui rimbanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa hari itu Sian Lin ingin melihat lagi koleksi-koleksi tato-tato kumpulan atau tepatnya kletekan Ceng-Liong Hui-To. Koleksi langka yang oleh sebagian orang dianggap bersejarah dan berharga. Koleksi yang yang salah satunya merupakan pasangan tato segar yang ditemukan di rumah itu beberapa hari yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunan gadis itu terhenti saat sebuah ketukan lembut terdengar pada pintu Ruang Hijau. Di sana tampak seorang pemuda. Gu Yo. Orang yang ingin menemuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masuklah!" ucap sang dara pendek. Lalu ia kembali mengalihkan pandangannya kepada dua buah tato yang tampak terbingkai dengan indah di dinding di hadapannya. Tato sepadang burung merak, putih dan hitam. Disusun sedemikian rupa sehingga kedua burung tampak saling berhadapan satu sama lain. Dari kulit yang melatar belakangi kedua tato tersebut dapat disimpulkan bahwa keduanya berasal dari dua orang yang berbeda. Suatu kontras telah direncanakan. Tato burung merak berwarna hitam digoreskan di atas kulit manusia berwarna cerah, putih atau kuning. Sedang tato burung merak berwarna putih digoreskan di atas kulit manusia berwarna gelap, hitam atau coklat tua. Suatu estetika berdarah yang padu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukankah saat itu tato burung merak hitamnya berbeda?" tanya Gu Yo saat melihat kedua tato yang sedang dipandangi oleh gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul, saat itu kami hanya menampilkan separuh saja, agar cocok dengan tema di kanan dan kiri tato burung merak putih. Tak disangka bahwa ada orang yang menempelkan pasangannya yang masih berdarah," ucap gadis itu menghela napas. Menyesalkan insiden yang terjadi di tempat kerjanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, begitu!" sahut pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tahukah kamu, Gu Yo, bahwa syair mengenai kedua tato ini?" tanya sang gadis tiba-tiba, setelah kesunyian lama mengisi jeda antara perkataan keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Syair untuk kedua tato ini?" tanya sang pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang gadis tidak menjawab melainkan melantunkan sebuah syair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Deru pun perlahan melembut.&lt;br /&gt;Menghilang.&lt;br /&gt;Sunyi dan sepi.&lt;br /&gt;Dan jiwa pun tenteram kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghela napas.&lt;br /&gt;Menghirup keheningan.&lt;br /&gt;Mengekang nafsu.&lt;br /&gt;Senyap.&lt;br /&gt;Lepas.&lt;br /&gt;Lega."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dilanjutkan oleh sang pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah semuanya berakhir.&lt;br /&gt;Secarik kulit dicabik halus.&lt;br /&gt;Darah menetes lembut.&lt;br /&gt;Menegaskan guratan-guratan mistis.&lt;br /&gt;Guratan di atas kulit nan indah.&lt;br /&gt;Tato."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei, dari mana engkau tahu syair itu?" tanya Sian Lin kaget, melihat bahwa Gu Yo telah mengetahui akhir dari syair yang dilantunkannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari buku-buku," jawab Gu Yo sederhana. "Di sana disebut memiliki judul 'Pembicaraan Angin'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang gadis mengangguk membenarkan. "Betul, memang itu judulnya. Ternyata engkau memiliki juga pengetahuan di bidang ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak rona malu merekah di wajah sang pemuda begitu mendengar pujian sang dara. "Tidak..., aku hanya senang membaca saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begitulah orang berilmu, merendahkan diri selalu," ucap gadis itu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana hening pun mengisi ruang di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tok-tok-tok!!" tiba-tiba suara ketukan cukup keras mengagetkan keduanya yang sedang dalam alam pikirannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu yang tidak tertutup menampilkan sosok inspektur San Cek Kong di tengah-tengahnya. Ia tampak tersenyum saat melihat Gu Yo dan Swee Sian Lin berada di tempat itu. Ucapnya lugas, "kebetulan Gu Yo juga ada di sini. Tak perlu aku repot-repot mengajak Sian Lin mencarimu di kedai paman Yok Seng di sana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, ada apakah Cek Kong-koko? Ada perlu apa kita dengan Gu Yo sampai mencarinya?" tanya dara itu seusai mendengar ucapan inspektur Sang Cek Kong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti kujelaskan, pertama-tama aku ingin dulu bertanya pada Gu Yo," ucapnya. "Apakah maksud kedatanganmu di sini adalah untuk menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan peristiwa yang baru saja terjadi di bagian lain kota?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gu Yo hanya mengangguk mengiyakan, yang sudah tentu membuat wajah bingung Sian Lin semakin kentara terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;San Cek Kong tampak puas mendengar jawaban itu. Lalu katanya, "jika demikian, marilah kalian ikut aku ke bagian selatan kota. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuh tanda tanya, terutama Sian Lin, keduanya pun mengikuti inspektur San Cek Kong ke suatu tempat di bagian selatan kota Siaw Tionggoan. Ke suatu tempat di mana suatu peristiwa baru saja terjadi hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cepat gali!" seru seseorang pada rekannya yang tampak sedang mencangkul-cangkul sesuatu dengan tangannya di dalam lubang di mana mereka berdua berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sabar!! Ini sudah cukup dalam, kita toh tidak mau merusah barang yang kita cari bukan?" jawab rekannya. Ia sedang meraba-raba apakah lubang yang mereka buat itu sudah cukup dalam sehingga hampir menyentuh barang yang terkuburkan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aha!!" seru orang kedua kemudian setelah hening beberapa saat dan hanya terdengar garukan-garukan pada tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dapat?" tanya orang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, agak liat. Pasti kain pembungkusnya..," jawab rekannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita congkel saja.., atau potong...," usul temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu keduanya mulai membersihkan tanah di bawah lubang di mana mereka berada dan mulai mencongkel-congkel kain liat yang melandasinya. Tak lama kemudian setelah mendapatkan pijakan, tongkat kayu yang mereka bawa diungkit sehingga lipatan-lipatan kain di bawahnya dapat terangkat. Bau busuk pun segera menyerbak memenuhi udara malam itu. Malam yang diterangi bulan purnama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dibuka peti yang berada di bawah kaki mereka, sebuah peti mati yang belum lama ditanam, tampak di dalamnya sesosok tubuh seorang perempuan tua. Ia tampak tertidur dengan damai. Kedua tangannya dilipatkan di depan dadanya. Wajah seorang yang seakan-akan telah siap menerima hari kematiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cepat cari bagian itu..!! Kita tak punya banyak waktu..," ucap salah seorang dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setalah memeriksa di bagian kedua tangan jasad itu, akhirnya mereka menemukan di salah satu lengan bagian atasnya sebuah tato. Tato dua buah naga yang sedang saling berbelit. Satu berwarna meran dan satu berwarna biru. Keduanya tampak jelas diukirkan di atas kulit pucat sang empunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tato kelompok Naga Merah dan Naga Biru...," terdengar ucapan salah seorang dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekannya hanya mengiyakan mengangguk. Lalu tanpa menunggu perkataan, ia mengeluarkan pisau dari sakunya. Suatu pisau yang tajam. Sinar bulan yang memantul dari padanya mengisyaratkan kira-kira sudah berapa banyak darah atau sosok manusia yang disentuhnya. Dengan santai, seperti telah biasa, orang itu menyayat kulit di mana terdapat tato tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada darah tertumpah karena sang empunya tato telah lama bepulang. Tak lama selesailah pekerjaan itu. Sang penyayat mengangsurkan hasil kerjanya kepada rekannya, yang segera menyimpannya dalam lipatan sebuah kain yang telah dibubuhi bubuk dan cairan tertentu, agar kulit bertato itu awet dan tahan tidak membusuk. Untuk dioleh lebih lanjut tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cepat, masih ada satu lagi yang harus diselesaikan..," ucap rekannya sambil menyelipkan bungkusan kain tato tadi ke dalam tas di punggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekannya mengangguk. Tanpa menimbun kembali kubur yang telah dibuka itu, keduanya pun kembali sibuk bekerja menggali lubang lain di sebelahnya. Suatu makam baru pula, yang di dalamnya terdapat seseorang. Seseorang dengan tato sebuah naga hitam yang sedang menjaga mutiara. Tato dari kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara. Suatu tato yang umumnya diukirkan di punggung yang empunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inspektur San Cek Kong, ada laporan mengenai makam tanpa nama yang dibongkar!" ucap seorang paturan kepada paturan lain yang sedang tampak bekerja di mejanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm, di mana dan mengapa engkau beritakan kepadaku? Bukankah itu kerja dari bagian lain? Bagian ketertiban fasilitas umum?" tanya sang inspektur yang sedang menuliskan sesuatu pada buku di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul, inspektur! Tapi bagian ketertiban fasilitas umum meminta saya untuk menyampaikan salinan dari kejadian itu kepada anda. Berkaitan dengan dugaan bahwa bagian jasad yang dirusak kemungkinan besar merupakan tato," jelas sang paturan pembawa berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kata "tato", sontak San Cek Kong menjadi tertarik karena hal itulah yang sedang menjadi pikirannya sekarang. Kasus yang sedang ditanganinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih!" katanya sambil menerima salinan laporan tersebut. Dibolak-baliknya kumpulan kertas-kertas yang baru diperolehnya itu. Dibacanya dari depan ke belakang dan diulangnya lagi. Sambil tak lupa membuat di sana-sini catatan-catatan kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmmm, perlu ketemu Sian Lin lagi kiranya.., dia adalah pakar dalam bidang ini," gumamnya hampir tak terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ma Siang, kemarilah!" ucap seorang pada seorang dara yang tampak sedang mencuci sesuatu pada pancuran dekat sungai kecil di belakang bangunan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, Gu Yo! Ada apa?" jawab gadis itu sambil segera meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri pemuda yang memanggilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, temani aku ya ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To! Tapi engkau yang mintakan ijin ke pada paman Ma She..," ucap pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, kalau apa urusannya sama aku?" tanya Ma Siang pura-pura tak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tolong ya...!" mohon Gu Yo. Ia tahu jika ia minta ijin langsung, kemungkinan besar tidak diberikan tanpa alasan yang jelas. Lain halnya jika Ma Siang. Ini disebabkan Ma Siang adalah keponakan dari Ma She, yang bahkan telah dianggap anak karena Ma She sendiri tidak berketurunan. Selain itu juga karena orang tua Ma Siang telah tiada. Begitu yang diceritakan orang-orang kepada Gu Yo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tap
